*SULTHONUL AULIYA' AL IMAM ALQUTHBUL GHOUTS SAYYIDUNA ASY SYEKH IBROHIM AD-DASUQI*
رضي الله عنه وأعاد علينا من بركاته ونفعنا بعلومه وأمدنا بمدده
*KEMULIAAN DAN KAROMAH SYEKH IBRAHIM AD-DASUQI RA.*
Dalam manuskrip Taufiqiyah ada keterangan, bahwa pada abad ketiga Hijriyah di Dasuk ada tiga buah istana, pertama milik Sayid Abd Ali, yang kedua milik Imam Qashabi guru di Masjid Sayid Ahmad Badawi dan yang ketiga milik Sayyid Basuni Far, semua bangunan istana ini disediakan untuk menyambut para tamu yang datang ke Dasuk sewaktu peringatan Maulid Sayyid Ibrahim Ad Dasuki di samping juga menyediakan makanan bagi fakir miskin yang ikut datang ke perayaan itu.
Di antara tokoh-tokoh terkenal dari daerah ini adalah Syekh Ibrahim Dasuki bin Abd Aziz Abu al-Majd yang nasabnya berujung ke Imam Husain bin Ali bin Abi Thalib. Ibu Syekh Ibrahim Dasuki ini adalah Fatimah binti Abdullah bin Abd Jabar, saudari sekandung tokoh sufi terkenal Al Quthb Syekh Abu Hasan Syadzili. Syekh Ibrahim Ad Dasuki ini juga masih punya silsilah satu nasab dengan Wali Qutb kota Thanta Syekh Ahmad Al Badawi pada kakek kesepuluh Sayyid Ja’far al-Turki bin Ali al-Hadi.
Beliau juga mengikuti jejak pamannya dari ibu, Syekh Abu Hasan Ali Syadzili pendiri Thoriqoh Syadziliyah. Beliau belajar ilmu bahasa dan agama juga menghafal Al Qur’an dan hadits juga ushul fiqh berdasarkan madzhab Syafii sementara ia masih kecil. Ada suatu keterangan yang mengatakan beliau mulai ber-khalwat sejak usia lima tahun. Dan sewaktu memasuki usia remaja dan semakin rajin ber-khalwat (kontemplasi) maka kemudian mulailah datang kepada beliau beberapa orang untuk belajar thoriqah, di antara mereka yang ternama adalah Sayyid Abu Nasr yang makamnya dikenal dengan namanya di Dasuk.
Syekh Ibrahim Ad Dasuki ini selalu berada di tempat khalwat-nya sampai ayahnya meninggal, kemudian turunlah beliau dari tempatnya itu, yang saat itu beliau masih berusia 23 tahun, murid-muridnya mengharapkan supaya beliau meninggalkan tempat khalwat-nya itu, sehingga bisa konsentrasi mengajar mereka, kemudian dibuatkanlah suatu tempat di samping tempat khalwat beliau.
Thoriqah beliau ini dikenal dengan nama Thoriqah Burhaniyah, yang diambil dari namanya atau Tariqah Dasuqiyah, diambil dari nama daerahnya. Syekh Ibrahim Ad Dasuki dan para pengikutnya ini memakai sorban warna hijau sementara sorban yang dipakai oleh Sayid Ahmad Al Badawi dan para pengikutnya berwarna merah, sedangkan para pengikut Thoriqah Rifaiyah berwarna hitam.
Sewaktu Sultan Dhahir mendengar tentang keilmuan Syekh Ibrahim Ad Dasuqi juga banyak pengikut yang dipimpinnya, segera dia mengeluarkan maklumat yang mengangkatnya sebagai Syekhul Islam, maka beliau pun menerima jabatan itu dan melaksanakan tugasnya tanpa mengambil gajinya, tapi membagikan gaji dari jabatan ini kepada pada fakir miskin dari kalangan muslimin. Sultan kemudian juga membangun sebuah tempat pertemuan untuk Syekh dan para muridnya dalam belajar memahami agama, jabatan ini tetap dipegang oleh Syekh Ibrahim sampai meninggalnya Sultan kemudian setelah sultan meninggal, beliau mengundurkan diri, meluangkan waktunya bagi para muridnya.
Syekh Ibrahim Ad Dasuki ini adalah seorang yang pemberani tidak mendekat kepada penguasa dan tidak takut akan celaan orang-orang yang mencela di dalam menyebarkan agama Allah. Syekh Jalaludin Karki bercerita; bahwasannya Syekh Ibrahim Dasuki ini pernah berkirim surat kepada Sultan Asyraf Khalil bin Qalawun yang berisi kritikan pedas padanya, karena perbuatan dhalim yang dilakukan kepada rakyat. Maka Sultan pun murka dan memanggil Syekh, tapi Syekh Ibrahim Ad Dasuki ini menolak untuk mendatangi panggilan ini dan berkata: ”Aku tetap di sini, siapa yang ingin bertemu saya, maka dialah yang harus menemuiku”. Dan Sultan pun tidak bisa berbuat banyak terhadap Syekh karena dia tahu posisinya di mata masyarakat, maka diapun datang kepadanya dan minta maaf. Dan Syekh pun menyambutnya dengan baik dan memberi kabar gembira akan kemenangannya dalam peperangan melawan tentara salib, dan memang terbuktilah kemudian kemenangan itu.
Syekh Ibrahim Ad Dasuki ini adalah seorang perjaka yang tidak kimpoi, beliau mencurahkan semua waktunya untuk tasawuf, ibadah dan meditasi. Perlu dicatat di sini bahwa Syekh Idris yang dimakamkan di samping Sayidah Zaenab di Kairo adalah saudara dari Syekh Dasuki. Syekh Dasuki ini di samping menguasai bahasa Arab juga menguasai bahasa asing lain seperti bahasa Suryaniyah dan Ibriyah, karena beliau telah menulis sejumlah buku dan risalah dalam bahasa Suryaniyah. Syekh Ibrahim Ad Dasuki meninggalkan banyak kitab dalam bidang fiqih, tauhid, dan tafsir. yang paling terkenal adalah kitab yang masyhur di sebut “Al-Jawahir” atau “Al-Haqaiq”, beliau juga punya Qasidah-qasidah dan Mauidzoh-mauidhoh.
Diantara Karomah Syekh Imam Ibrahim Ad Dasuqi ra adalah :
Berkata Imam al-Munawi : Seekor buaya telah menelan seorang anak di sungai nil, maka ibu sang anak mendatangi Syeikh Imam Ibrahim Dasuqi dengan menangis tersedu-sedu, maka Syeikh meyuruh muridnya untuk memanggil buaya yang memakan anak ibu tersebut, maka datang muridnya dan berseru di tepi sungai Nil : ” Wahai sekalian buaya , siapa diantara kalian yang memakan seorang anak maka hendaklah dia timbul dan menghadap Syeikh “. maka timbullah buaya dan berjalan beserta murid sehingga sampai kehadapan Syeikh Ibrahim ad-Dusuqi, maka Syeikh menyuruh buayaitu untuk mengeluarkan anak itu, maka buaya itu mengeluarkan anak itu dalam keadaan hidup, kemudian SYeikh Ibrahim berkata : Matilah kamu dengan keizinan Allah “, maka dengan segara buaya pun mati.
Kehidupan beliau penuh dengan ibadah dan perjuangan melawan hawa nafsu dan syahwat, membantu umat dan berbuat kebaikkan, beliau hidup hanya empat puluh tiga tahun saja, tetapi mampu mengisi kehidupannya dengan hal-hal yang bermanfa`at untuk dirinya dan umat islam sekaliannya.
والله أعلم بالصواب
رب فانفعنا ببركته
واهدنا الحسنى بحرمته
وأمتنا في طريقته
ومعافاة من الفتن
_Insyaallah bersambung_
Semoga bermanfaat..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar