*A L H I K A M*
Karya Syekh Ibnu Athoillah As Sakandary
رضي الله عنه وأعاد علينا من بركاته ونفعنا بعلومه وأمدنا بمدده
Hikmah 253- 256
TAWADHU' (2)*
(Lanjutan)
٭ ﻻَﻳُﺨﺮِﺟﻚَ ﻋﻦٍ ﺍﻟﻮَﺻﻒِ ﺍﻻَ ﺷُﻬﻮﺩُ ﺍﻟﻮَﺻﻒِ ٭
253. “ Tidak ada sesuatu yang bisa mengeluarkan /melepaskan dari sifat-sifat (nafsu)mu, kecuali jika kamu melihat sifat-sifat Alloh.”
Tidak ada yang bisa mengeluarkan /melepaskan dari sifat-sifatmu yang tercela, kecuali jika kamu melihat kemuliaan Alloh, Tidak ada yang bisa mengeluarkan /melepaskan kamu dari melihat sifat-sifatmu yang baru(sifat makhluk/hadits), kecuali jika kamu melihat sifat Tuhanmu yang qodim (dahulu), Tidak ada yang bisa mengeluarkan /melepaskan kamu dari melihat perbuatanmu, kecuali jika kamu melihat perbuatan Alloh (Fi’lu-lloh), dan dari melihat sifat-sifatmu dengan cara melihat sifat-sifat Alloh, dari melihat dzatmu dengan cara menyaksikan Dzat Alloh.
Al-hasil : Selama engkau tidak melihat/memperhatikan sifat-sifat ketuhanan, kebesaran, kekuasaan dan keagungan
Alloh, maka selama itu juga engkau akan merasa besar, kuasa dan sombong. Dan selama engkau tidak melihat sifat kesempurnaan Alloh, maka selama itu juga engkau tidak merasa dan mengakui sifat kurang, hina dan kehambaan dirimu terhadap
Alloh.
٭ المُوءمن ُ يُشغِلُهُ الثناءُ على اللهِ تعالىعن ان يكونَ لنفسه شاكراً وَتُشغِلُهُ حقوقُ اللهِ عن ان يكونَ لِحُظوظهِ ذكِراً ٭
254. “ Orang mukmin yang sempurna ituselalu sibuk memuji syukur kepada Alloh,sehingga lupa dan tidak sempat memujidiri sendiri, dan mereka sibuk menunaikan kewajiban-kewajiban yang menjadi hak Alloh, sehingga lupa akan kepentingannya sendiri.”
Memuji diri itu berarti merasa telah berbuat amal kebaikan. Karena seorang mukmin yang sejati itu, ia tidak merasa mempunyai kebaikan sendiri,ia sadar semua itu semata-mata anugerah dan pemberian dari Alloh, sehingga apabila ada orang yang memuji dia atau berterima kasih pada dia atas perbuatan yang telah ia lakukan, ia langsung mengembalikan pujian itu kepada Alloh pemilik pujian yang hakiki.Orang mukmin yang sejati itu selalu sibuk dengan kewajiban yang menjadi hak Alloh, sehingga ia tidak ingat dengan kepentingannya sendiri, dan kepentingan nafsunya, karena ibadahnya hanya karena mengagungkan dan memuji pada Alloh, tidak karena balasan atau ingin surga dan takut neraka.
٭ ليس المحبُّالذي يرجُون من مَحْْبُوبه عواضاً او يطلُبُ منهُ غرضاً فاِنَّ المحبُّ من يَبْذلُ لك ليسَ المحبُّمن تَبْذ ُلُ لهُ ٭
255. “ Orang yang cinta sejati itu bukanlah orang yang mengharapkan balasan dari yang dicintai atau berhasilnya apa yang dimaksud, tetapi sesungguhnya orang yang cinta sejati itu orang yang memberi kepadamu bukan orang yang mengharap pemberianmu kepadanya.”
Alloh benar-benar mencintai hambanya, dengan bukti Alloh telah memberikan kepada hambanya Nikmatnya, yang pertama nikmat Ijad (dijadikan) dan yang kedua nikmat Imdad (kelanjutannya), dan memberikan semua yang menjadi kebutuhan hambanya. Firman Alloh:
وأتىكم من كل ما سألتموه
"Dan Aku berikan kepadamu semua apa yang menjadi permintaanmu.”
Dan firman Allohl agi :
خلق لكم ما فى الأرض جميعا
“(Alloh) telah menciptakan untuk kamu semua apa-apa yang ada dibumi semuanya.”
Dan Alloh sama sekali tidak mengharap balasan/ imbalan dari hambanya sama sekali.Sebaliknya bila kamu mengaku cinta kepada Alloh haruslah sanggup menyerahkan semuanya termasuk ibadah dan amal sholihmu kepada Allohyang tanpa mengharap imbalan apa saja dari Alloh.
Syeikh Abu Abdulloh Al-Qurasyi berkata: Hakikat cinta itu, bila engkau telah dapat memberikan keseluruhanmu kepada yang engkau cintai, sehingga tidak ada sisa apa-apa bagimu.Alloh telah mewahyukan kepada Nabi Isa as. : Apabila aku melihat hati hambaKu, tidak ada padanya cinta duniadan Akhirat, niscaya aku penuhi hati itu dengan dengan cinta kepadaku.
Wahyu Alloh kepada Nabi Dawud as. : Hai Dawud, sungguh Aku telah mengharamkan cinta-Kuuntuk masuk kedalam hati dimana hati itu ada cinta selain Aku.
٭ لَولا ميادينُ النُّفوسِ ما تحقق سيرُ الساءرين اذلا مسافةَ بينكَ وبينهُ تطْوِيهاَ رِحلتـُكَ ولا قطَعةَ بينكَ وبينهُ حتىَّ تمحُو ها وصلتـَكَ ٭
256. “Andaikan tidak ada lapangan(medan) perjuangan melawan hawa nafsu, pasti tidak dapat terbukti perjalanan suluk menujuAlloh,sebab tidak ada jarak antaramu dengan Alloh sehingga harus ditempuh dengan perjalanan, dan tidak pernah putus antara dirimu dengan Alloh sehingga harus disambung dengan wushulmu.”
Syeikh Ibnu Atoillah ra. berkata : manusia itu dibagi menjadi dua bagian :
1.Manusia yang tidak punya perjalanan, yakni tidak berjalan menuju Alloh. Yaitu orang-orang yang berhenti pada lahirnya syariat, dan semua yang diperbolehkan oleh syariat, baik berat ataupun ringan menurut hawa nafsunya, tetapi mereka hanya memilih yang ringan saja, karena mengharap rukhshoh keringanan dan kemudahan syariat, dan yang demikian itu tidak bisa merubah kebiasaan nafsu dan syahwatnya.
2.Manusia yang selalu mengarahkankan hawa nafsunya kepada Alloh yang maha raja, dan mengalahkan hawa nafsunya, mereka selalu menghadap ke-Hadhrotulloh, selalu sibuk memerangi dan meneliti hawa nafsunya, mereka selalu mengerjakan perintah/ perkara yang berat, dan menjauhi memilih perkarayang ringan, dan selalu mendawamkannya sehingga nafsunya ridho dan lembut.
Syeikh Abu Usman al-Hairy berkata : seseorang itu tidak sempurna kecuali hatinya condong pada empat perkara :
1. Penolakan(tidak diberi).
2. Pemberian.
3. Kemulyaan.
4. Kehinaan.
Yakni : ia dalam kondisi hina tapi merasakan kemulyaan, dan ia tidak diberi (ditolak) tapi ia merasakan pemberian.Hakikat hilagnya hawa nafsu dari hati yaitu: setiap saat/nafasnya selalu cinta/ rindu bertemu denganAlloh, tanpa memilih keadaan yang ada padanya, apabila murid ada tanda-tanda seperti itu dalam nafsunya benar-benar ia telah keluar dari alam jinisnya (hawa nafsu), dan sudah wushul kepada Alloh. Dan apabila tanda itu belum ada pada murid maka ia harus menetapi perjalanannya.
Syeikh Abul qosim Al-Qusyaery berkata : Hakikat membunuh hawa nafsu itu ialah lepas bebas dari tipudayanya, dan tidak memperhatikan sesuatu yang timbul dari padanya, dan menolak segala pengakuan-pengakuannya, dan tidak sibuk untuk mengaturnya, dan tetap menyerahkan segala urusannya kepada Alloh. Dengan melepaskan ikhtiar/usaha dan kehendak sendiri, sehingga lenyap dan terhapus semua pengaruhhawa nafsu itu terhadap kemanusiaannya. Adapun sisa-sisa yang berupa gambaran dan keraangka (hawa nafsu) itu tidak berbahaya. Demikianlah jalan untuk membunuh/mengalahkan hawa nafsu, yang dapat segera dapat mencapai Hadhrotal Qudsy.sebab tidak ada jarak antaramu dengan Alloh sehingga harus ditempuh dengan perjalanan, dan tidak pernah putus antara dirimu dengan Alloh sehingga harus disambung dengan wushulmu, kecuali sebah hijab/ tutup berupa hawa nafsu.
والله أعلم بالصواب
والله ولي التوفيق والهداية
ولاحول ولاقوة إلابالله العلي العظيم
Semoga bermanfaat..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar