السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
==========================(Al Habib Quraisy Baharun).
*Tawadhulah* kalian terhadap orang yang mengajari kalian
Sejak dahulu para generasi terbaik umat ini telah mendidik kita bagaimana *beradab* kepada gurunya, cara memberikan penghormatan dan menghargainya yang patut kita contoh
Sahabat Abu Sa’id Al-Khudri Radhiallahu ‘anhu berkata:
كنا جلوساً في المسجد إذ خرج رسول الله فجلس إلينا فكأن على رؤوسنا الطير لا يتكلم أحد منا
“Saat kami sedang duduk-duduk di masjid, maka keluarlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian duduk di hadapan kami. Maka seakan-akan di atas kepala kami terdapat burung. Tak satu pun dari kami yang berbicara” (HR. Bukhari).
Dan dalam sebuah riwayat diceritakan bagaimana seorang sahabat mulia bernama Ibnu 'Abbas yang alim menguasai berbagai bidang ilmu dan juga dikenal sebagai mufassir (ahli ilmu tafsir) Al-Qur'an, pernah suatu hari beliau menuntun tali kendaraan Zaid bin Tsabit al-Anshari (r.a) ada seseorang bertanya dan beliau menjawab :
هكذا أمرنا أن نفعل بعلمائنا
“Seperti inilah kami diperintahkan untuk memperlakukan para ulama kami”.
Dan Imam Ar-Rabi’ bin Sulaiman (salah satu murid Imam As-syafi'i) berkata:
مَا وَاللَّهِ اجْتَرَأْتُ أَنْ أَشْرَبَ الْمَاءَ وَالشَّافِعِيُّ يَنْظُرُ إِلَيَّ هَيْبَةً لَهُ
Hingga Al Imam As Syafi’i pun dulu saat menceritakan ketika beliau belajar, mengatakan :
كنت أصفح الورقة بين يدي مالك صفحًا رفيقًا هيبة له لئلا يسمع وقعها
“Dulu aku membolak balikkan kertas di depan Imam Malik dengan sangat lembut karena segan padanya dan supaya dia tak mendengarnya”.
Begitulah mereka para Aslafuna sholeh (orang-orang sholeh terdahulu) *beradab* kepada gurunya, hingga membalikkan kertas saja Imam As-syafi'i dihadapan gurunya beliau sangat menjaga jangan sampai terganggu.
Dan begitu juga Ibnu Abbas (r,a) beliau tidak merasa hina berkhidmat menyenangkan gurunya, walaupun saat itu beliau sangat di kenal keilmuannya.
Mungkin beda zaman sekarang!
Kebanyakan saat ini bukannya khidmat, menghormati "ta'dzhim" kepada orang yang pernah mengajari kita yang sudah selayaknya ia lakukan, namun sebaliknya menyakiti dan beradab buruk, padahal kelakuan seperti itu akan berimbas juga pada manfaatnya ilmu mereka yang belajar lagi padanya.
Umar bin Khattab berpesan :
تواضعوا لمن تعلمون منه
“ *Tawadhulah kalian terhadap orang yang mengajari kalian* ”.
Jika kita tawadhu' rendah diri,patuh dan taat pada guru yang telah mengajarkan kita, otomatis keberkahan murid kita pun nantinya juga seperti itu. Dan ilmu yang banyak, akan sia-sia jika tidak menghormati guru. Hingga sangat seriusnya hal itu, Imam Ali bin Abi Thalib menyatakan "aku menjadi budak pada orang yang telah mengajarkanku meski satu huruf, jika ia mau ia boleh menjualku."
" *Semoga Allah memberi kita ilmu yang bermanfaat dunia dan akhirat..agar ilmu itu bisa bermanfaat juga pada mereka yang belajar* "
استغفر الله من قول بلا عمل..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar