Kamis, 30 November 2017

* DETIK² KELAHIRAN NABI MUHAMMAD SAW*

Telah disebutkan bahwa sesungguhnya pada bulan ke sembilan kehamilan Sayyidah Aminah (Robi'ul-Awwal) saat hari-hari kelahiran Nabi Muhammad saw sudah semakin dekat, Alloh swt semakin melimpahkan bermacam anugerah-Nya kepada Sayyidah Aminah mulai tanggal 1 hingga malam tanggal 12 Robiul-Awwal malam kelahiran Al-Musthofa Muhammad saw.

Pada Malam Pertama (ke 1) :

Alloh swt melimpahkan segala kedamaian dan ketentraman yang luar biasa sehingga Sayyidah Aminah merasakan ketenangan dan kesejukan jiwa yang belum pernah dirasakan sebelumnya.

Pada malam ke 2 :

Datang seruan berita gembira kepada ibunda Nabi Muhammad saw yang menyatakan dirinya akan mendapati anugerah yang luar biasa dari Alloh swt.

Pada malam ke 3 :

Datang seruan memanggil :
“Wahai Aminah … sudah dekat saat engkau melahirkan Nabi yang agung dan mulia, Muhammad Rosululloh saw yang senantiasa memuji dan bersyukur kepada Alloh swt.”

Pada malam ke 4 :

Sayyidah Aminah mendengar seruan beraneka ragam tasbih para malaikat secara nyata dan jelas.

Pada malam ke 5 :

Sayyidah Aminah mimpi bertemu dengan Nabi Alloh Ibrohim as.

Pada malam ke 6 :

Sayyidah Aminah melihat cahaya Nabi Muhammad saw memenuhi alam semesta.

Pada malam ke 7 :

Sayyidah Aminah melihat para malaikat silih berganti saling berdatangan mengunjungi kediamannya membawa kabar gembira sehingga kebahagiaan dan kedamaian semakin memuncak.

Pada malam ke 8 :

Sayyidah Aminah mendengar seruan memanggil dimana-mana, suara tersebut terdengar dengan jelas mengumandangkan :
“Berbahagialah wahai seluruh penghuni alam semesta, telah dekat kelahiran Nabi agung, Kekasih Alloh swt Pencipta Alam Semesta.”

Pada malam ke 9 :

Alloh swt semakin mencurahkan rohmat kasih sayang kepada Sayyidah Aminah sehingga tidak ada sedikitpun rasa sakit, sedih, susah, dalam jiwa Sayyidah Aminah.

Pada malam ke 10 :

Sayyidah Aminah melihat tanah Tho’if dan Mina ikut bergembira menyambut akan kelahiran Nabi Muhammad saw.

Pada malam ke 11 :

Sayyidah Aminah melihat seluruh penghuni langit dan bumi ikut bersuka cita menyongsong kelahiran Sayyidina Muhammad saw.

Malam detik-detik kelahiran Nabi Muhammad saw, tepat tanggal 12 Robi’ul-Awwal di sepertiga malam. Di malam ke 12 ini langit dalam keadaan cerah tanpa ada mendung sedikitpun. Saat itu Sayyid Abdul Mutholib (kakek Nabi Muhammad saw) sedang bermunajat kepada Alloh swt di sekitar Ka’bah. Sedangkan Sayyidah Aminah sendiri di rumah tanpa ada seorang pun yang menemaninya.

Tiba-tiba Sayyidah Aminah melihat tiang rumahnya terbelah dan perlahan-lahan muncul 4 wanita yang sangat masing² sangat jelita, anggun dan cantik, diliputi dengan cahaya kemilau yang memancar serta semerbak harum memenuhi seluruh ruangan.

Wanita pertama datang berkata :
”Sungguh berbahagialah engkau wahai Aminah, sebentar lagi engkau akan melahirkan Nabi yang agung, junjungan semesta alam. Beliaulah Nabi Muhammad saw. Kenalilah aku, bahwa aku adalah istri Nabi Alloh Adam as, ibunda seluruh ummat manusia, aku diperintahakan Alloh untuk menemanimu.”

Kemudian datanglah wanita kedua yang menyampaiakan kabar gembira :
“Aku adalah istri Nabi Alloh Ibrohim as  yang diperintahkan Alloh swt untuk menemanimu.”

Begitu pula menghampiri wanita yang ketiga :
”Aku adalah Asiyah binti Muzahim yang diperintahkan Alloh untuk menemanimu.”

Datanglah wanita ke empat :
”Aku adalah Maryam, ibunda Isa as datang untuk menyambut kehadiran putramu Muhammad Rosululloh.”

Sehingga semakin memuncak rasa kedamaian dan kebahagiaan ibunda Nabi Muhammad saw yang tidak bisa terlukiskan dengan kata-kata.

Keajaiban berikutnya Sayyidah Aminah melihat sekelompok demi sekelompok manusia bercahaya berdatangan silih berganti memasuki ruangannya dan mereka memanjatkan puji-pujian kepada Alloh swt dengan berbagai macam bahasa yang berbeda.

Detik berikutnya Sayyidah Aminah melihat atap rumahnya terbuka dan terlihat oleh beliau bermacam-macam bintang di angkasa beterbangan yang sangat indah berkilau cahayanya.

Detik berikutnya Alloh swt memerintahkan kepada Malaikat Ridhwan agar mengomandokan seluruh bidadari sorga agar berdandan cantik dan rapi, memakai kain sutra dan segala macam bentuk perhiasan dengan bermahkotan emas, intan permata yang bergemerlapan, dan menebarkan wangi-wangian sorga yang harum semerbak ke segala penjuru, lalu beribu ribu bidadari² itu dibawa ke alam dunia oleh Malaikat Ridhwan, terlihat wajah bidadari² itu gembira.

Lalu Alloh swt memanggil :
“Yaa Jibril … serukanlah kepada seluruh arwah para Nabi, para Rosul, para wali agar berkumpul, berbaris rapi, bahwa sesungguhnya Kekasih-Ku cahaya di atas cahaya, agar disambut dengan baik dan suruhlah mereka mnyambut kedatangan Nabi Muhammad saw.

Yaa Jibril … perintahkanlah kepada Malaikat Malik agar menutup pintu-pintu neraka dan perintahakan kepada Malaikat Ridhwan untuk membuka pintu-pintu sorga dan bersoleklah engkau dengan sebaik-baiknya keindahan demi menyambut kekasih-Ku Nabi Muhammad saw.

Yaa Jibril… bawalah beribu ribu malaikat yang ada di langit, turunlah ke bumi, ketahuilah Kekasih-Ku Muhammad saw telah siap untuk dilahirkan dan sekarang tiba saatnya Nabi Akhiruzzaman.”

Dan turunlah semua malaikat, maka penuhlah isi bumi ini dengan beribu ribu malaikat. Sayyidah Aminah melihat malaikat itupun berdatangan membawa kayu-kayu gahru yang wangi dan memenuhi seluruh jagat raya. Pada saat itu pula mereka semua berdzikir, bertasbih, bertahmid, dan pada saat itu pula datanglah burung putih yang berkilau cahayanya mendekati Sayyidah Aminah dan mengusapkan sayapnya pada Sayyidah Aminah, maka pada saat itu pula lahirlah Nabi Muhammad Rosululloh saw dan tidaklah Sayyidah Aminah melihat kecuali cahaya, tak lama kemudian terlihatlah jari-jari Nabi Muhammad saw bersujud kepada Alloh seraya mengucapkan :
“Allohu Akbar ... Allkhu Akbar ... Wal-Hamdulillahi katsiro, wasubhanallohi bukrotan wa ashila...”

Kegembiraan memancar dari setiap sudut alam raya, gemuruh sholawat memenuhi semesta dengan bahasa yang berbeda beda dan dengan cara yang bermacam macam pula.

“Yaa Nabi Salam Alaika … Yaa Rosul Salam Alaika … Yaa Habib Salam Alaika … Sholawatulloh Alaika ... ”

(Diriwayatkan dari Imam Syihabuddin Ahmad bin Hajar Al-Haitami Asy-syafi’i. Dalam kitabnya “Anni’matul-Kubro ’alal-alam).

Contoh akhlak Nabi Muhammad


40 pelajaran dari AHLAK nabi Muhammad S.A.W.
------------------------------
01. Jangan tidur antara fajr dan Ishraq (saat ☀ muncul), Asr dan Maghrib, Maghrib dan Isha.
------------------------------
02.hindarkan duduk dengan orang yg bau badan. Contoh bawang putih atau merah ๐Ÿ˜ท
------------------------------
03. Jangan tidur dekat orang yg berbicara buruk sebelum tidur.
------------------------------
04. jangan makan dan minum dengan tangan kiri.
------------------------------
05. Jangan makan makanan yg dikeluarkan dr gigimu ( Ceuhil ).
------------------------------
06. Jangan membunyikan sendi2 jari tangan maupun kaki.
------------------------------
07. periksa dulu sepatumu sebelum memakainya.
------------------------------
08. Jangan memandang ke langit ketika shalat.
------------------------------
09. Jangan meludah dalam toilet.
------------------------------
10. jangan bersihkan gigi dengan arang.
------------------------------
11. Duduk/jongkok baru kenakan celana.
------------------------------
12.  jangan patahkan benda keras dengan gigimu.
------------------------------
13. Jangan meniup makananmu ketika masih panas, tapi kamu boleh mengipasinya.
------------------------------
14. Jangan melihat/menghitung kesalahan orang lain.
------------------------------
15. jangan berbicara antara iqamah dan adhan.
------------------------------
16. Jangan berbicara dalam toilet.
------------------------------
17. jangan membicarakan keburukan temanmu / orang lain.
------------------------------
18. Jangan membuat temanmu marah
------------------------------
19. Jgn sering melihat ke belakang ketika berjalan.
------------------------------
20. Jgn hentakkan kakimu saat berjalan.
------------------------------
21. Jgn terlalu curigaan  pada temanmu / orang lain.
------------------------------
22. Jgn pernah / suka berdusta.
------------------------------
23. jgn membaui makanan saat memakannya.
------------------------------
24. bicara yg jelas agar org lain bisa memahami.
------------------------------
25. Hindari bepergian sendirian.
------------------------------
26. Jgn memutuskan sendiri namun berkonsultasilah dengan orang yg tahu.
------------------------------
27. Jangan terlalu membanggakan  diri.
------------------------------
28. Jgn sedih dgn makananmu.
------------------------------
29. Jgn besar mulut.
------------------------------
30. Jgn mengusir pengemis.
------------------------------
31. Layani tamumu dengan baik dengan sepenuh hati.
------------------------------
32. Sabar Dan tawakal ketika dalam kemiskinan.
------------------------------
33. Bantulah dalam perkara kebaikan.
------------------------------
34. Pikirkanlah kesalahanmu dan bertaubatlah segera.
------------------------------
35.  Berbuat baiklah kepada orang yg berlaku jahat padamu.
------------------------------
36. Qana'ah (hidup apa adanya)
------------------------------
37. Jgn terlalu sering Tidur ,menyebabkan pikun.
------------------------------
38. Bertaubatlah minimal 100 kali sehari Dengan mengucapkan (Istighfaar).
------------------------------
39. Jgn makan dalam keadaan gelap.
------------------------------
40. jgn makan sepenuh-penuh mulut.
---------------------------------------

Sejarah singkat Nabi Muhammad SAW

MENGENAL SANG KEKASIH LEBIH DEKAT

ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠูƒู… ูˆุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆุจุฑูƒุงุชู‡
Pada hari Senin, 12 Rab. Awal Tahun Fiil (gajah) bertepatan 21 April 571M,
lahirlah manusia agung
- manusia pilihan
- manunusia termulia di muka bumi
- seorang kekasih Alloh
- nabi akhir zaman
- menjadi rahmat bagi seluruh alam
- pemberi syafa'at di hari qiyamat

BELIAU ADALAH:
BAGINDA ROSULULLOH MUHAMMAD SAW.

Bin Abdulloh
Bin Abdul Mutholib
Bin Hasyim
Bin Abdi Manaf
Bin Qoshoyyi
Bin Kilab
Bin Murrah
Bin Ka'ab
Bin Lu'ayyi
Bin Gholib
Bin Fihir
Bin Malik
Bin Nazar
Bin Kinanah
Bin Khuzaimah
Bin Mudrikah
Bin Ilyas
Bin Mudhor
Bin Nizar
Bin ADNAN.

Dari seorang IBUNDA YG MULIA,
AMINAH
Binti Wahab
Bin Abdi Manaf
Bin Zuhro
Bin Kilab.

Beliau, Rosululloh saw, terlahir dalam keadaan:
- BERSUJUD
- JARINYA MENUNJUK
- TELAH BERKHITAN
- BERCELAT MATA.

Alloh berfirman dalam Hadits Qudsi:

ู„ูˆ ู„ุงูƒ ู„ู…ุง ุฎู„ู‚ุช ุงู„ุฃูู„ุงูƒ
" KALAU BUKAN KARENA ENGKAU (Muhammad), PASTI TIDAK AKAN AKU CIPTAKAN JAGAT RAYA BESERTA ISINYA."

Pada usia 40 th belia diangkat menjadi Rosul.

ูˆูƒุงู† ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุงุญุณู† ุงู„ู†ุงุณ ุฎู„ู‚ุงูˆุฎู„ู‚ุง
Dan adalah Rosululloh saw, sebaik" manusia dalam penciptaan dan budi kehertinya.

Alloh menyanjungnya:
ูˆุงู†ูƒ ู„ุนู„ู‰ ุฎู„ู‚ ุนุธูŠู…
"Dan engkaulah manusia yang memiliki akhlak yg agung."

- ketika jubahnya robek, dijahitnya sendiri dg tangannya yg mulia.
- beliau tidak pernah berkata KASAR kepada orang lain.
- tidak MALU berkumpul dg orang” miskin.
- menyayangi Anak Yatim.
- belas kasih kepada Janda dan orang tua.

- Seorang Rosul yg alas tidurnya berupa PELEPAH KURMA.
- seorang pernah tidak makan dalam tiga hari.

- meski dicaci maki seorang pengemis tua tiap hari, beliau tetap datang menyuapinya.

- meski tahu ada seseorang yang hendak membunuhnya mengejar, namun ketika ia jatuh tersungkur, beliau menolongnya.

- ketika datang seseorang yg akan membunuhnya dan para sahabat berhasil meringkusnya, malah diberinya makan dan dibebaskannya.

- meski setiap ke masjid diludai dan dilempar kotoran oleh seseorang, namun ketika ia sakit, beliau orang yg pertama kali menjenguknya.

SUBHANALLOH.........

Sungguh kami tak mampu menggambarkan keagungan akhlak beliau.

Alloh SWT, berfirman:
ู„ู‚ุฏูƒุงู† ู„ูƒู… ูู‰ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุฃุณูˆุฉ ุญุณู†ุฉ
“ Sungguh telah ada pada diri Rosululloh itu SURI TELADAN yang baik bagimu.”
…………………
Ya Rosululloh
Engkaulah kekasihku
Engkaulah Idolaku
Salam Sejahtera bagimu

ุงู„ู„ู‡ู… ุตู„ู‰ ุนู„ู‰ ุณูŠุฏู†ุงู…ุญู…ุฏ ูˆุนู„ู‰ ุงู„ ุณูŠุฏู†ุงู…ุญู…ุฏ

Kamis, 23 November 2017

Hormati guru

ุงู„ุณَّู„ุงَู…ُ ุนَู„َูŠْูƒُู…ْ ูˆَุฑَุญْู…َุฉُ ุงู„ู„ู‡ِ ูˆَุจَุฑَูƒَุงุชُู‡ُ.    
==========================
(Al Habib Quraisy Baharun).

*Tawadhulah* kalian terhadap orang yang mengajari kalian
Sejak dahulu para generasi terbaik umat ini telah mendidik kita bagaimana *beradab* kepada gurunya, cara memberikan penghormatan dan menghargainya yang patut kita contoh
Sahabat Abu Sa’id Al-Khudri Radhiallahu ‘anhu berkata:

ูƒู†ุง ุฌู„ูˆุณุงً ููŠ ุงู„ู…ุณุฌุฏ ุฅุฐ ุฎุฑุฌ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ูุฌู„ุณ ุฅู„ูŠู†ุง ููƒุฃู† ุนู„ู‰ ุฑุคูˆุณู†ุง ุงู„ุทูŠุฑ ู„ุง ูŠุชูƒู„ู… ุฃุญุฏ ู…ู†ุง

“Saat kami sedang duduk-duduk di masjid, maka keluarlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian duduk di hadapan kami. Maka seakan-akan di atas kepala kami terdapat burung. Tak satu pun dari kami yang berbicara” (HR. Bukhari).

Dan dalam sebuah riwayat diceritakan bagaimana seorang sahabat mulia bernama Ibnu 'Abbas yang alim menguasai berbagai bidang ilmu dan juga dikenal sebagai mufassir (ahli ilmu tafsir) Al-Qur'an, pernah suatu hari beliau menuntun tali kendaraan Zaid bin Tsabit al-Anshari (r.a) ada seseorang bertanya dan beliau menjawab :

ู‡ูƒุฐุง ุฃู…ุฑู†ุง ุฃู† ู†ูุนู„ ุจุนู„ู…ุงุฆู†ุง

“Seperti inilah kami diperintahkan untuk memperlakukan para ulama kami”.
Dan Imam Ar-Rabi’ bin Sulaiman (salah satu murid Imam As-syafi'i) berkata:

ู…َุง ูˆَุงู„ู„َّู‡ِ ุงุฌْุชَุฑَุฃْุชُ ุฃَู†ْ ุฃَุดْุฑَุจَ ุงู„ْู…َุงุกَ ูˆَุงู„ุดَّุงูِุนِูŠُّ ูŠَู†ْุธُุฑُ ุฅِู„َูŠَّ ู‡َูŠْุจَุฉً ู„َู‡ُ

“Demi Allah, aku tidak berani meminum air dalam keadaan Asy-Syafi’i melihatku karena segan kepadanya”.
Hingga Al Imam As Syafi’i pun dulu saat menceritakan ketika beliau belajar, mengatakan :

ูƒู†ุช ุฃุตูุญ ุงู„ูˆุฑู‚ุฉ ุจูŠู† ูŠุฏูŠ ู…ุงู„ูƒ ุตูุญًุง ุฑููŠู‚ًุง ู‡ูŠุจุฉ ู„ู‡ ู„ุฆู„ุง ูŠุณู…ุน ูˆู‚ุนู‡ุง

“Dulu aku membolak balikkan kertas di depan Imam Malik dengan sangat lembut karena segan padanya dan supaya dia tak mendengarnya”.
Begitulah mereka para Aslafuna sholeh (orang-orang sholeh terdahulu) *beradab* kepada gurunya, hingga membalikkan kertas saja Imam As-syafi'i dihadapan gurunya beliau sangat menjaga jangan sampai terganggu.
Dan begitu juga Ibnu Abbas (r,a) beliau tidak merasa hina berkhidmat menyenangkan gurunya, walaupun saat itu beliau sangat di kenal keilmuannya.
Mungkin beda zaman sekarang!
Kebanyakan saat ini bukannya khidmat, menghormati "ta'dzhim" kepada orang yang pernah mengajari kita yang sudah selayaknya ia lakukan, namun sebaliknya menyakiti dan beradab buruk, padahal kelakuan seperti itu akan berimbas juga pada manfaatnya ilmu mereka yang belajar lagi padanya.
Umar bin Khattab berpesan :

ุชูˆุงุถุนูˆุง ู„ู…ู† ุชุนู„ู…ูˆู† ู…ู†ู‡



“ *Tawadhulah kalian terhadap orang yang mengajari kalian* ”.
Jika kita tawadhu' rendah diri,patuh dan taat pada guru yang telah mengajarkan kita, otomatis keberkahan murid kita pun nantinya juga seperti itu. Dan ilmu yang banyak, akan sia-sia jika tidak menghormati guru. Hingga sangat seriusnya hal itu, Imam Ali bin Abi Thalib menyatakan "aku menjadi budak pada orang yang telah mengajarkanku meski satu huruf, jika ia mau ia boleh menjualku."
" *Semoga Allah memberi kita ilmu yang bermanfaat dunia dan akhirat..agar ilmu itu bisa bermanfaat juga pada mereka yang belajar* "

ุงุณุชุบูุฑ ุงู„ู„ู‡ ู…ู† ู‚ูˆู„ ุจู„ุง ุนู…ู„..

©#PecintaRiyaadhulJannah.                           *Pembelajaran Diri* ๐Ÿ™๐Ÿป

Selasa, 21 November 2017

Ulama nusantara yg berpengaruh di Mekkah

Kitab “Imta’ Ulin-Nazhar bi Ba’dhi A’yanil-Qarn ar-Rabi’ ‘Asyar(Tasynif al-Asma bi Syuyukh al-Ijazah was-Sama’, terdiri dari 2 jilid) ini terhitung penting, karena memuat biografi, silsilah-sanad (mata rantai keilmuan), sekaligus jaringan ulama di Mekkah pada abad ke-14 H (awal abad ke-20 M). Kitab ini disunting oleh Dr. Mahmud Sa’id Mamduh (Mesir) dan dicetak di Beirut (2012 M).

Lebih menarik lagi, di dalam kitab ini disebutkan banyak ulama Nusantara yang berkiprah dan berpengaruh besar di Mekkah pada masa itu. Terdapat 26 ulama Nusantara (bisa jadi lebih jika ada yang terlewat). Berikut urutan nama-nama ulama tersebut sesuai urutan aksara hijai Arab.

- Dalam juz I:

1. Ibrahim ibn Dawud al-Fathani al-Makki (1320-1413 H), dari Patani, Thailand.
2. Ahmad Marzuki ibn Ahmad Mirshad al-Batawi (1293-1353 H), dari Batavia (Jakarta).
3. Baqir ibn Nur al-Jukjawi al-Makki (1306-1367 H), dari Jogja.
4. Bidhawi ibn Abdul Aziz al-Lasami (?-1390 H), dari Lasem, Jawa Tengah.
5. Jami’ ibn Abdul Rasyid al-Rifa’i al-Buqisi (1255-1361 H), dari Bugis.
6. Jamaluddin ibn Abdul Khaliq al-Fathani (1278-1355 H), dari Patani, Thailand.
7. Sulaiman ibn Muhammad Husain al-Falambani (1295-1376 H), dari Palembang.
8. Shalih ibn Muhammad ibn Abdillah al-Kalantani al-Makki (1315-1379 H), dari Kelantan, Malaysia.
9. Shalih ibn Mujian al-Batawi al-Tanqarani (1297-1353 H), dari Betawi-Tangerang.
10. Abdul Rasyid ibn Aslam al-Buqisi (?-1356 H), dari Bugis.
11. Abdul Karim ibn Ahmad al-Khatib al-Minankabawi al-Makki (1301-1357 H), dari Minang.
12. Abdullah ibn Azhuri al-Falambani al-Makki (1279-1357 H), dari Palembang.
13. Abdullah ibn Hasan Bella al-Andunisi al-Makki (1296-1357), dari ?.
14. Abdul Muhith ibn Ya’qub ibn Panji al-Surabawi (1311-1388 H), dari Surabaya, Jawa Timur.
15. Abdul Muhaimin al-Lasami (1313-1365 H), dari Lasem, Jawa Tengah.

- Dalam juz II:

16. Alawi ibn Thahir al-Haddad Mufti Johor (1301-1382 H).
17. Ali ibn Abdul Hamid Qudus al-Samarani (1310-1363 H), dari Semarang, Jawa Tengah.
18. Muhsin ibn Muhammad ibn Hasan al-Surabawi (1316-1366 H), dari Surabaya, Jawa Timur.
19. Muhsin ibn Muhammad ibn Abdillah al-Sairani al-Bantani (1277-1359 H), dari Serang, Banten.
20. Muhammad Ahid ibn Idris al-Buquri al-Makki (1302-1372 H), dari Bogor, Jawa Barat.
21. Muhammad Mukhtar ibn Atharid al-Buquri al-Jawi (1287-1349 H), dari Bogor, Jawa Barat.
22. Muhammad Manshur ibn Abdul Hamid al-Falaki al-Batawi (1290-1387 H), dari Batavia (Jakarta).
23. Ma’shum ibn Ahmad ibn Abdul Karim al-Lasami al-Jawi (1290-1392 H), dari Lasem, Jawa Tengah.
24. Manhsur ibn Mujahid Basyaiban al-Surabawi (1302-1360 H), dari Surabaya, Jawa Timur.
25. Hasyim Asy’ari al-Jaumbanji al-Jawi (1282-1366 H), dari Jombang, Jawa Timur.
26. Wahyuddin ibn Abdul Ghani al-Falambani (1288-1360 H), dari Palembang.

Para ulama di atas mayoritas memiliki karya tulis dalam pelbagai disiplin ilmu keislaman. Hanya saja, kitab di atas hanya mendata sekitar 7 ulama Nusantara saja yang tercatat memiliki beberapa karya, yaitu:

1. Ibrahim ibn Dawud al-Fathani, menulis (1) Nahj al-Burdah, (2) al-Futuhat ar-Ramadhaniyyah, Diwan Syi’r, (3) Tafsir al-‘Asyr al-Akhir minal-Qur’an al-Karim, (4) Manzhumat Isthilahat al-Minhaj [lin-Nawawi], (5) Syarh Riyadhus-Shalihin.

2. Baqir ibn Nur al-Jukjawi, menulis kitab biografi ulama Nusantara berjudul “Tarajim ‘Ulama Jawah”.

3. Shalih ibn Muhammad ibn Abdillah al-Kalantani, menulis (1)Nuzhum Tahdzib al-Manthiq, (2) Risalah fin-Nahw.

4. Shalih ibn Mujian al-Batawi, menulis (1) Adab al-‘Alim wal-Muta’allim, (2) Adab al-Qadhi, (3) Risalah fil-Ankihah, (4) Risalah fil-Falak.

5. Alawi ibn Thahir al-Haddad Mufti Johor, menulis (1) Iqamah ad-Dalil ‘ala Istijabah at-Taqbil, (2) as-Sirah an-Nabawiyyah as-Syarifah, (3) I’anah an-Nahidh fi ‘Ilm al-Faraidh, (4) Majmu’ fi ‘Ilm al-Falak, (5) Madkhal fi Tarikh al-Islam fis-Syarq al-Aqsha.

6. Muhammad Mukhtar ibn Atharid al-Buquri, menulis (1) Hasyiah ‘ala ‘Umdah al-Abrar fi Manasik al-Hajj wal-I’timar, (2) Ta’liqat ‘ala Jami’ at-Tirmidzi, (3) Ta’liqat ‘ala Nuzhum al-Qawaid al-Fiqhiyyah.

7. Muhammad Manshur ibn Abdul Hamid al-Falaki al-Batawi, menulis (1) Sullam al-Nairain, (2) Khullashah aJ-Jadwal, (3) Risalah fi Shalah al-KusyUf wal-Khusuf, (4) Mizan al-I’tidal, (5) Washilah at-Thullab, (6) Jadwal al-Faraidh, (7) al-Lu’lu’ al-ManzhUm fi Mabahits Sittah al-‘UlUm, (8) I’rab al-Ajurumiyyah lil-Mubtadi’

KH Hasyim Asy’ari tidak disebutkan karya-karyanya dalam kitab bibliografi di atas, padahal beliau termasuk sebagai ulama sentral yang prolifik. Karya-karya KH. Hasyim Asy’ari disunting oleh cucu beliau, KH Isham Hadziq, antara lain (1) Adabul-‘Alim wal-Muta’allim, (2) Risalah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah, (3) al-Tibyan fi Nahy Muqatha’ah al-Arham, (4) an-Nurul-Mubin fi Mahabbati Sayyidil-Mursalin, (5) Ziyadah at-Ta’liqat, (6) at-Tanbihat al-Wajibat li Man Yashna’ al-Maulid bil-Munkarat.

Tentu, masih ada beberapa ulama Nusantara lainnya yang memiliki kiprah cemerlang di Mekkah pada masa itu namun tidak termasukkan dalam biografi, termasuk karya-karya mereka. Atau ada yang disebutkan namun karya-karya mereka tidak terlacak. Sangat besar kemungkinan manuskrip-karya-karya ulama Nusantara itu berserak dan tercecer di beberapa perpustakaan di Saudi Arabia saat ini, yang menunggu untuk digali dan diteliti lebih lanjut oleh para “santri-filolog” muda dari Nusantara. (A. Ginanjar Sya’ban)

 sumber; nu online

Amalan malam jum'at

MALAM JUM'AT 10 KALI
ูŠุง ุฏุงุฆู… ุงู„ูุถู„ ุนู„ู‰ ุงู„ุจุฑูŠุฉ ูŠุง ุจุงุณุท ุงู„ูŠุฏูŠู† ุจุงู„ุนุทูŠุฉ ูŠุง ุตุงุญุจ ุงู„ู…ูˆุงู‡ุจ ุงู„ุณู†ูŠุฉ ุตู„ ุนู„ู‰ ู…ุญู…ุฏ ูˆ ุขู„ู‡ ุฎูŠุฑ ุงู„ุจุฑูŠุฉ ูˆุงุบูุฑ ู„ู†ุง ูŠุง ุฐุง ุงู„ุนู„ู‰ ููŠ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุนุดูŠุฉ
[Ya daimal fadli alal bariyyah
Ya bashithol yadaeniy bil atiyyah
Ya shohibal mawahibi saniyyah
Shalli ‘ala Muhammadin wa alihi khoeril bariyyah
Waghfir lanaa ya Dzal ‘ula fi hadzihil ['asyiyyah].
Jika mlm diganti [lailah]
Wahai Yang Selalu Memberi karunia pada makhluk-Nya.
Wahai yang tangan-Nya terbuka dengan pemberian-Nya.
Wahai Pemilik karunia yang mulia.
Sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya.
(Beliau) adalah manusia yang terbaik.
Ampuni kami pada malam ini wahai Yang Maha Mulia.
KETERANGAN DALIL
ูุงุฆุฏุฉ : ุนู† ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…، ู‚ุงู„ : ู…ู† ู‚ุงู„ ู„ูŠู„ุฉ ุงู„ุฌู…ุนุฉ ุนุดุฑ ู…ุฑุงุช "ูŠุง ุฏุงุฆู… ุงู„ูุถู„ ุนู„ู‰ ุงู„ุจุฑูŠุฉ ูŠุง ุจุงุณุท ุงู„ูŠุฏูŠู† ุจุงู„ุนุทูŠุฉ ูŠุง ุตุงุญุจ ุงู„ู…ูˆุงู‡ุจ ุงู„ุณู†ูŠุฉ ุตู„ ุนู„ู‰ ู…ุญู…ุฏ ูˆ ุขู„ู‡ ุฎูŠุฑ ุงู„ุจุฑูŠุฉ ูˆุงุบูุฑ ู„ู†ุง ูŠุง ุฐุง ุงู„ุนู„ู‰ ููŠ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุนุดูŠุฉ" ، ูƒุชุจ ุงู„ู„ู‡ ู„ู‡ ู…ุงุฆุฉ ุงู„ู ุงู„ู ุญุณู†ุฉ، ูˆู…ุญุง ุนู†ู‡ ุงู„ู ุงู„ู ุณูŠุฆุฉ، ูˆุฑูุน ู„ู‡ ุงู„ู ุงู„ู ุฏุฑุฌุฉ، ูˆุฒุงุญู… ุงุจุฑุงู‡ูŠู… ุงู„ุฎู„ูŠู„ ูŠูˆู… ุงู„ู‚ูŠุงู…ุฉ ูู‰ ู‚ุจุชู‡.
ุงู„ู†ูˆุงุฏุฑ : ูกูฉูฅ
Sebuah Faidah : dari Rosulillah shollallahu 'alaihi wasallama : "barang siapa yang membacanya 10 kali, maka Allah mencatatkan baginya seratus juta kebaikan, dilebur darinya sejuta keburukan, diangkat baginya sejuta derajat, dan pada hari qiyamat berada dalam naungan kubah Nabi Ibrahim 'alaihis salam".
#Kitab_AlNawadir195

KEUTAMAAN MAULID NABI MUHAMMAD SAW

Di dalam kitab “An-Ni’matul Kubra ‘alal ‘Alami fi Maulidi Sayyidi Waladi Adam” halaman 5-7, karya Imam Ibnu Hajar al-Haitami (909-974 H. / 1503-1566 M.), cetakan “Maktabah al-Haqiqat” Istambul Turki, diterangkan tentang keutamaan-keutamaan memperingati maulid Nabi Muhammad SAW.

1. Sayyidina Abu Bakar RA. berkata:
๏ปฃ๏ปฆ ๏บƒ๏ปง๏ป”๏ป– ๏บฉ๏บญ๏ปซ๏ปค๏บŽ ๏ป‹๏ป ๏ปฐ ๏ป—๏บฎ๏บ๏บ€๏บ“ ๏ปฃ๏ปฎ๏ปŸ๏บช ๏บ๏ปŸ๏ปจ๏บ’๏ปฒ ๏บป๏ป ๏ปฐ ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปช ๏ป‹๏ป ๏ปด๏ปช ๏ปญ๏บณ๏ป ๏ปข ๏ป›๏บŽ๏ปฅ ๏บญ๏ป“๏ปด๏ป˜๏ปฒ ๏ป“๏ปฒ ๏บ๏ปŸ๏บ ๏ปจ๏บ”
Barangsiapa membelanjakan satu dirham untuk mengadakan pembacaan Maulid Nabi SAW, maka ia akan menjadi temanku di surga

2. Berkata Sayyidina Umar RA.
๏ปฃ๏ปฆ ๏ป‹๏ปˆ๏ปข ๏ปฃ๏ปฎ๏ปŸ๏บช ๏บ๏ปŸ๏ปจ๏บ’๏ปฒ ๏บป๏ป ๏ปฐ ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปช ๏ป‹๏ป ๏ปด๏ปช ๏ปญ๏บณ๏ป ๏ปข ๏ป“๏ป˜๏บช ๏บƒ๏บฃ๏ปด๏บŽ ๏บ๏ปน๏บณ๏ปผ๏ปก
“Barangsiapa mengagungkan Maulid Nabi SAW, maka sesungguhnya ia telah menghidupkan Islam.”

3. Berkata Sayyidina Utsman RA.:
๏ปฃ๏ปฆ ๏บƒ๏ปง๏ป”๏ป– ๏บฉ๏บญ๏ปซ๏ปค๏บŽ ๏ป‹๏ป ๏ปฐ ๏ป—๏บฎ๏บ๏บ€๏บ“ ๏ปฃ๏ปฎ๏ปŸ๏บช ๏บ๏ปŸ๏ปจ๏บ’๏ปฒ ๏บป๏ป ๏ปฐ ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปช ๏ป‹๏ป ๏ปด๏ปช ๏ปญ๏บณ๏ป ๏ปข ๏ป“๏ปœ๏บ„๏ปง๏ปค๏บŽ ๏บท๏ปฌ๏บช ๏ป๏บฐ๏ปญ๏บ“ ๏บ‘๏บช๏บญ ๏ปญ๏บฃ๏ปจ๏ปด๏ปฆ
“Barangsiapa membelanjakan satu dirham untuk mengadakan pembacaan Maulid Nabi SAW, maka seakan-akan ia ikut-serta menyaksikan perang Badar dan Hunain.”

4. Sayyidina Ali RA. berkata:
๏ปฃ๏ปฆ ๏ป‹๏ปˆ๏ปข ๏ปฃ๏ปฎ๏ปŸ๏บช ๏บ๏ปŸ๏ปจ๏บ’๏ปฒ ๏บป๏ป ๏ปฐ ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปช ๏ป‹๏ป ๏ปด๏ปช ๏ปญ๏บณ๏ป ๏ปข ๏ปญ๏ป›๏บŽ๏ปฅ ๏บณ๏บ’๏บ’๏บŽ ๏ปŸ๏ป˜๏บฎ๏บ๏บ€๏บ—๏ปช ๏ปป ๏ปณ๏บจ๏บฎ๏บ ๏ปฃ๏ปฆ ๏บ๏ปŸ๏บช๏ปง๏ปด๏บŽ ๏บ‡๏ปป ๏บ‘๏บŽ๏ปน๏ปณ๏ปค๏บŽ๏ปฅ ๏ปญ๏ปณ๏บช๏บง๏ปž ๏บ๏ปŸ๏บ ๏ปจ๏บ” ๏บ‘๏ป๏ปด๏บฎ ๏บฃ๏บด๏บŽ๏บ
“Barangsiapa mengagungkan Maulid Nabi SAW, dan ia menjadi sebab dilaksanakannya pembacaan maulid Nabi, maka tidaklah ia keluar dari dunia melainkan dengan keimanan dan akan dimasukkan ke dalam surga tanpa hisab.”

5. Imam Hasan Bashri RA. berkata:
๏ปญ๏บฉ๏บฉ๏บ• ๏ปŸ๏ปฎ ๏ป›๏บŽ๏ปฅ ๏ปŸ๏ปฒ ๏ปฃ๏บœ๏ปž ๏บŸ๏บ’๏ปž ๏บƒ๏บฃ๏บช ๏บซ๏ปซ๏บ’๏บŽ ๏ป“๏บ„๏ปง๏ป”๏ป˜๏บ˜๏ปช ๏ป‹๏ป ๏ปฐ ๏ป—๏บฎ๏บ๏บ€๏บ“ ๏ปฃ๏ปฎ๏ปŸ๏บช ๏บ๏ปŸ๏ปจ๏บ’๏ปฒ ๏บป๏ป ๏ปฐ ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปช ๏ป‹๏ป ๏ปด๏ปช ๏ปญ๏บณ๏ป ๏ปข
“Aku senang sekali seandainya aku memiliki emas sebesar gunung Uhud, maka aku akan membelanjakannya untuk kepentingan memperingati maulid Nabi SAW.”

6. Imam Junaed al-Baghdadi, semoga Allah membersihkan sir (rahasia)-nya, berkata:
๏ปฃ๏ปฆ ๏บฃ๏ป€๏บฎ ๏ปฃ๏ปฎ๏ปŸ๏บช ๏บ๏ปŸ๏ปจ๏บ’๏ปฒ ๏บป๏ป ๏ปฐ ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปช ๏ป‹๏ป ๏ปด๏ปช ๏ปญ๏บณ๏ป ๏ปข ๏ปญ๏ป‹๏ปˆ๏ปข ๏ป—๏บช๏บญ๏ปฉ ๏ป“๏ป˜๏บช ๏ป“๏บŽ๏บฏ ๏บ‘๏บŽ๏ปน๏ปณ๏ปค๏บŽ๏ปฅ
“Barangsiapa menghadiri peringatan Maulid Nabi SAW dan mengagungkan derajat beliau, maka sesungguhnya ia akan memperoleh kebahagian dengan penuh keimanan.”

7. Imam Ma’ruf al-Karkhi, semoga Allah membersihkan sir (rahasia)-nya:
๏ปฃ๏ปฆ ๏ปซ๏ปด๏บ„ ๏ปƒ๏ปŒ๏บŽ๏ปฃ๏บŽ ๏ปท๏บŸ๏ปž ๏ป—๏บฎ๏บ๏บ€๏บ“ ๏ปฃ๏ปฎ๏ปŸ๏บช ๏บ๏ปŸ๏ปจ๏บ’๏ปฒ ๏บป๏ป ๏ปฐ ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปช ๏ป‹๏ป ๏ปด๏ปช ๏ปญ ๏บณ๏ป ๏ปข ๏ปญ ๏บŸ๏ปค๏ปŠ ๏บ๏บง๏ปฎ๏บ๏ปง๏บŽ ๏ปญ ๏บƒ๏ปญ๏ป—๏บช ๏บณ๏บฎ๏บ๏บŸ๏บŽ ๏ปญ ๏ปŸ๏บ’๏บฒ ๏บŸ๏บช๏ปณ๏บช๏บ ๏ปญ ๏บ—๏บ’๏บจ๏บฎ ๏ปญ ๏บ—๏ปŒ๏ป„๏บฎ ๏บ—๏ปŒ๏ปฃ๏ปฆ ๏บฃ๏ป€๏บฎ ๏ปฃ๏ปฎ๏ปŸ๏บช ๏บ๏ปŸ๏ปจ๏บ’๏ปฒ ๏บป๏ป ๏ปฐ ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปช ๏ป‹๏ป ๏ปด๏ปช ๏ปญ๏บณ๏ป ๏ปข ๏ปญ๏ป‹๏ปˆ๏ปข ๏ป—๏บช๏บญ๏ปฉ ๏ป“๏ป˜๏บช ๏ป“๏บŽ๏บฏ ๏บ‘๏บŽ๏ปน๏ปณ๏ปค๏บŽ๏ปฅ๏ปˆ๏ปด๏ปค๏บŽ ๏ปŸ๏ปค๏ปฎ๏ปŸ๏บช ๏บ๏ปŸ๏ปจ๏บ’๏ปฒ ๏บป๏ป ๏ปฐ ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปช ๏ป‹๏ป ๏ปด๏ปช ๏ปญ ๏บณ๏ป ๏ปข ๏บฃ๏บธ๏บฎ๏ปฉ ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปช ๏ปณ๏ปฎ๏ปก ๏บ๏ปŸ๏ป˜๏ปด๏บŽ๏ปฃ๏บ” ๏ปฃ๏ปŠ ๏บ๏ปŸ๏ป”๏บฎ๏ป—๏บ” ๏บ๏ปท๏ปญ๏ปŸ๏ปฐ ๏ปฃ๏ปฆ ๏บ๏ปŸ๏ปจ๏บ’๏ปด๏ปด๏ปฆ ๏ปญ ๏ป›๏บŽ๏ปฅ ๏ป“๏ปฐ ๏บƒ๏ป‹๏ป ๏ปฐ ๏ป‹๏ป ๏ปด๏ปด๏ปฆ
“Barangsiapa menyediakan makanan untuk pembacaan Maulid Nabi SAW, mengumpulkan saudara-saudaranya, menyalakan lampu, memakai pakaian yang baru, memasang harum-haruman dan memakai wangi-wangian karena mengagungkan kelahiran Nabi SAW, niscaya Allah akan mengumpulkannya pada hari kiamat bersama golongan orang-orang yang pertama di kalangan para nabi dan dia akan ditempatkan di syurga yang paling atas (‘Illiyyin).”

8. Imam Fakhruddin ar-Razi berkata:
: ๏ปฃ๏บŽ ๏ปฃ๏ปฆ ๏บท๏บจ๏บบ ๏ป—๏บฎ๏บƒ ๏ปฃ๏ปฎ๏ปŸ๏บช ๏บ๏ปŸ๏ปจ๏บ’๏ปฒ ๏บป๏ป ๏ปฐ ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปช ๏ป‹๏ป ๏ปด๏ปช ๏ปญ๏บณ๏ป ๏ปข ๏ป‹๏ป ๏ปฐ ๏ปฃ๏ป ๏บข ๏บƒ๏ปญ ๏บ‘๏บฎ ๏บƒ๏ปญ ๏บท๏ปด๏บŠ ๏บƒ๏บง๏บฎ ๏ปฃ๏ปฆ ๏บ๏ปŸ๏ปค๏บ„๏ป›๏ปฎ๏ปป๏บ• ๏บ๏ปป ๏ป‡๏ปฌ๏บฎ๏บ• ๏ป“๏ปด๏ปช ๏บ๏ปŸ๏บ’๏บฎ๏ป›๏บ” ๏ปญ ๏ป“๏ปฐ ๏ป›๏ปž ๏บท๏ปด๏บŠ ๏ปญ๏บป๏ปž ๏บ๏ปŸ๏ปด๏ปช ๏ปฃ๏ปฆ ๏บซ๏ปŸ๏ปš ๏บ๏ปŸ๏ปค๏บ„๏ป›๏ปฎ๏ป ๏ป“๏บŽ๏ปง๏ปช ๏ปณ๏ป€๏ป„๏บฎ๏บ ๏ปญ ๏ปป ๏ปณ๏บด๏บ˜๏ป˜๏บฎ ๏บฃ๏บ˜๏ปฐ ๏ปณ๏ป๏ป”๏บฎ ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปช ๏ปท๏ป›๏ป ๏ปช ๏ปญ๏บ๏ปฅ ๏ป—๏บฎ๏บ‰ ๏ปฃ๏ปฎ๏ปŸ๏บช ๏บ๏ปŸ๏ปจ๏บ’๏ปฒ ๏บป๏ป ๏ปฐ ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปช ๏ป‹๏ป ๏ปด๏ปช ๏ปญ๏บณ๏ป ๏ปข ๏ป‹๏ป ๏ปฐ ๏ปฃ๏บŽ๏บ€ ๏ป“๏ปค๏ปฆ ๏บท๏บฎ๏บ ๏ปฃ๏ปฆ ๏บซ๏ปŸ๏ปš ๏บ๏ปŸ๏ปค๏บŽ๏บ€ ๏บฉ๏บง๏ปž ๏ป—๏ป ๏บ’๏ปช ๏บƒ๏ปŸ๏ป’ ๏ปง๏ปฎ๏บญ ๏ปญ ๏บญ๏บฃ๏ปค๏บ” ๏ปญ ๏บง๏บฎ๏บ ๏ปฃ๏ปจ๏ปช ๏บƒ๏ปŸ๏ป’ ๏ป๏ปž ๏ปญ ๏ป‹๏ป ๏บ” ๏ปญ ๏ปป ๏ปณ๏ปค๏ปฎ๏บ• ๏บซ๏ปŸ๏ปš ๏บ๏ปŸ๏ป˜๏ป ๏บ ๏ปณ๏ปฎ๏ปก ๏บ—๏ปค๏ปฎ๏บ• ๏บ๏ปŸ๏ป˜๏ป ๏ปฎ๏บ . ๏ปญ ๏ปฃ๏ปฆ ๏ป—๏บฎ๏บƒ ๏ปฃ๏ปฎ๏ปŸ๏บช ๏บ๏ปŸ๏ปจ๏บ’๏ปฒ ๏บป๏ป ๏ปฐ ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปช ๏ป‹๏ป ๏ปด๏ปช ๏ปญ๏บณ๏ป ๏ปข ๏ป‹๏ป ๏ปฐ ๏บฉ๏บญ๏บ๏ปซ๏ปข ๏ปฃ๏บด๏ปœ๏ปฎ๏ป›๏บ” ๏ป“๏ป€๏บ” ๏ป›๏บŽ๏ปง๏บ– ๏บƒ๏ปญ ๏บซ๏ปซ๏บ’๏บŽ ๏ปญ ๏บง๏ป ๏ป‚ ๏บ—๏ป ๏ปš ๏บ๏ปŸ๏บช๏บญ๏บ๏ปซ๏ปข ๏บ‘๏ป๏ปด๏บฎ๏ปซ๏บŽ ๏ปญ ๏ป—๏ปŒ๏บ– ๏ป“๏ปด๏ปฌ๏บŽ ๏บ๏ปŸ๏บ’๏บฎ๏ป›๏บ” ๏ปญ ๏ปป ๏ปณ๏ป”๏บ˜๏ป˜๏บฎ ๏บป๏บŽ๏บฃ๏บ’๏ปฌ๏บŽ ๏ปญ ๏ปป ๏บ—๏ป”๏บฎ๏ป ๏ปณ๏บช๏ปฉ ๏บ‘๏บ’๏บฎ๏ป›๏บ” ๏บ๏ปŸ๏ปจ๏บ’๏ปฒ ๏บป๏ป ๏ปฐ ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปช ๏ป‹๏ป ๏ปด๏ปช ๏ปญ ๏บณ๏ป ๏ปข
“Tidaklah seseorang yang membaca maulid Nabi saw. ke atas garam atau gandum atau makanan yang lain, melainkan akan tampak keberkatan padanya, dan setiap sesuatu yang sampai kepadanya (dimasuki) dari makanan tersebut, maka akan bergoncang dan tidak akan tetap sehingga Allah akan mengampuni orang yang memakannya.
Dan sekirannya dibacakan maulid Nabi saw. ke atas air, maka orang yang meminum seteguk dari air tersebut akan masuk ke dalam hatinya seribu cahaya dan rahmat, akan keluar daripadanya seribu sifat dengki dan penyakit dan tidak akan mati hati tersebut pada hari dimatikannya hati-hati itu.
Dan barangsiapa yang membaca maulid Nabi saw. pada suatu dirham yang ditempa dengan perak atau emas dan dicampurkan dirham tersebut dengan yang lainnya, maka akan jatuh ke atas dirham tersebut keberkahan dan pemiliknya tidak akan fakir serta tidak akan kosong tangannya dengan keberkahan Nabi saw.”

9. Imam Syafi’i, semoga Allah merahmatinya, berkata:
๏ปฃ๏ปฆ ๏บŸ๏ปค๏ปŠ ๏ปŸ๏ปค๏ปฎ๏ปŸ๏บช ๏บ๏ปŸ๏ปจ๏บ’๏ปฒ ๏บป๏ป ๏ปฐ ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปช ๏ป‹๏ป ๏ปด๏ปช ๏ปญ๏บณ๏ป ๏ปข ๏บ‡๏บง๏ปฎ๏บ๏ปง๏บŽ ๏ปญ๏ปซ๏ปด๏บ„ ๏ปƒ๏ปŒ๏บŽ๏ปฃ๏บŽ ๏ปญ๏บƒ๏บง๏ป ๏ปฐ ๏ปฃ๏ปœ๏บŽ๏ปง๏บŽ ๏ปญ๏ป‹๏ปค๏ปž ๏บ‡๏บฃ๏บด๏บŽ๏ปง๏บŽ ๏ปญ๏บป๏บŽ๏บญ ๏บณ๏บ’๏บ’๏บŽ ๏ปŸ๏ป˜๏บฎ๏บ๏บ€๏บ—๏ปช ๏บ‘๏ปŒ๏บœ๏ปช ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปช ๏ปณ๏ปฎ๏ปก ๏บ๏ปŸ๏ป˜๏ปด๏บŽ๏ปฃ๏บ” ๏ปฃ๏ปŠ ๏บ๏ปŸ๏บผ๏บŽ๏บฉ๏ป—๏ปด๏ปฆ ๏ปญ๏บ๏ปŸ๏บธ๏ปฌ๏บช๏บ๏บ€ ๏ปญ๏บ๏ปŸ๏บผ๏บŽ๏ปŸ๏บค๏ปด๏ปฆ ๏ปญ๏ปณ๏ปœ๏ปฎ๏ปฅ ๏ป“๏ปฒ ๏บŸ๏ปจ๏บŽ๏บ• ๏บ๏ปŸ๏ปจ๏ปŒ๏ปด๏ปข
“Barangsiapa mengumpulkan saudara-saudaranya untuk mengadakan Maulid Nabi, kemudian menyediakan makanan dan tempat serta melakukan kebaikan untuk mereka, dan dia menjadi sebab atas dibacakannya Maulid Nabi SAW, maka Allah akan membangkitkan dia bersama-sama golongan shiddiqin (orang-orang yang benar), syuhada (orang-orang yang mati syahid), dan shalihin (orang-orang yang shaleh) dan dia akan dimasukkan ke dalam surga-surga Na’im.”

10. Imam Sirri Saqathi, semoga Allah membersihkan sir (bathin)-nya:
๏ปฃ๏ปฆ ๏ป—๏บผ๏บช ๏ปฃ๏ปฎ๏บฟ๏ปŒ๏บŽ ๏ปณ๏ป˜๏บฎ๏บƒ ๏ป“๏ปด๏ปช ๏ปฃ๏ปฎ๏ปŸ๏บช ๏บ๏ปŸ๏ปจ๏บ’๏ปฒ ๏บป๏ป ๏ปฐ ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปช ๏ป‹๏ป ๏ปด๏ปช ๏ปญ๏บณ๏ป ๏ปข ๏ป“๏ป˜๏บช ๏ป—๏บผ๏บช ๏บญ๏ปญ๏บฟ๏บ” ๏ปฃ๏ปฆ ๏บญ๏ปณ๏บŽ๏บฝ ๏บ๏ปŸ๏บ ๏ปจ๏บ” ๏ปท๏ปง๏ปช ๏ปฃ๏บŽ ๏ป—๏บผ๏บช ๏บซ๏ปŸ๏ปš ๏บ๏ปŸ๏ปค๏ปฎ๏บฟ๏ปŠ ๏บ๏ปป ๏ปŸ๏ปค๏บค๏บ’๏บ” ๏บ๏ปŸ๏ปจ๏บ’๏ปฒ ๏บป๏ป ๏ปฐ ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปช ๏ป‹๏ป ๏ปด๏ปช ๏ปญ ๏บณ๏ป ๏ปข . ๏ปญ๏ป—๏บช ๏ป—๏บŽ๏ป ๏บป๏ป ๏ปฐ ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปช ๏ป‹๏ป ๏ปด๏ปช ๏ปญ ๏บณ๏ป ๏ปข : ๏ปฃ๏ปฆ ๏บƒ๏บฃ๏บ’๏ปจ๏ปฒ ๏ป›๏บŽ๏ปฅ ๏ปฃ๏ปŒ๏ปฒ ๏ป“๏ปฐ ๏บ๏ปŸ๏บ ๏ปจ๏บ”
“Barangsiapa pergi ke suatu tempat yang dibacakan di dalamnya maulid Nabi saw, maka sesungguhnya ia telah pergi ke sebuah taman dari taman-taman syurga, karena tidaklah ia menuju ke tempat-tempat tersebut melainkan karena cintanya kepada Nabi saw. Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa mencintaiku, maka ia akan bersamaku di dalam syurga.”

11. Imam Jalaluddin as-Suyuthi berkata:
๏ปฃ๏บŽ๏ปฃ๏ปฆ ๏บ‘๏ปด๏บ– ๏บƒ๏ปญ ๏ปฃ๏บด๏บ ๏บช ๏บƒ๏ปญ ๏ปฃ๏บค๏ป ๏บ” ๏ป—๏บฎ๏บ‰ ๏ป“๏ปด๏ปช ๏ปฃ๏ปฎ๏ปŸ๏บช ๏บ๏ปŸ๏ปจ๏บ’๏ปฒ ๏บป๏ป ๏ปฐ ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปช ๏ป‹๏ป ๏ปด๏ปช ๏ปญ๏บณ๏ป ๏ปข ๏บ‡๏ปป ๏บฃ๏ป”๏บ– ๏บ๏ปŸ๏ปค๏ปผ๏บ‹๏ปœ๏บ” ๏บซ๏ปŸ๏ปš ๏บ๏ปŸ๏บ’๏ปด๏บ– ๏บƒ๏ปญ ๏บ๏ปŸ๏ปค๏บด๏บ ๏บช ๏บƒ๏ปญ ๏บ๏ปŸ๏ปค๏บค๏ป ๏บ” ๏ปญ๏บป๏ป ๏บ– ๏บ๏ปŸ๏ปค๏ปผ๏บ‹๏ปœ๏บ” ๏ป‹๏ป ๏ปฐ ๏บƒ๏ปซ๏ปž ๏บซ๏ปŸ๏ปš ๏บ๏ปŸ๏ปค๏ปœ๏บŽ๏ปฅ ๏ปญ๏ป‹๏ปค๏ปฌ๏ปข ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปช ๏บ—๏ปŒ๏บŽ๏ปŸ๏ปฐ ๏บ‘๏บŽ๏ปŸ๏บฎ๏บฃ๏ปค๏บ” ๏ปญ๏บ๏ปŸ๏บฎ๏บฟ๏ปฎ๏บ๏ปฅ .
๏ปญ๏บƒ๏ปฃ๏บŽ ๏บ๏ปŸ๏ปค๏ป„๏ปฎ๏ป“๏ปฎ๏ปฅ ๏บ‘๏บŽ๏ปŸ๏ปจ๏ปฎ๏บญ ๏ปณ๏ปŒ๏ปจ๏ปฐ ๏บŸ๏บ’๏บฎ๏ปณ๏ปž ๏ปญ ๏ปฃ๏ปด๏ปœ๏บŽ๏บ‹๏ปด๏ปž ๏ปญ ๏บ๏บณ๏บฎ๏บ๏ป“๏ปด๏ปž ๏ปญ ๏ป‹๏บฐ๏บญ๏บ๏บ‹๏ปด๏ปž ๏ป‹๏ป ๏ปด๏ปฌ๏ปข ๏บ๏ปŸ๏บผ๏ปผ๏บ“ ๏ปญ ๏บ๏ปŸ๏บด๏ปผ๏ปก ๏ป“๏บŽ๏ปง๏ปฌ๏ปข ๏ปณ๏บผ๏ป ๏ปฎ๏ปฅ ๏ป‹๏ป ๏ปฐ ๏ปฃ๏ปฆ ๏ป›๏บŽ๏ปฅ ๏บณ๏บ’๏บ’๏บŽ ๏ปŸ๏ป˜๏บฎ๏บ๏บ€๏บ“ ๏บ๏ปŸ๏ปจ๏บ’๏ปฒ ๏บป๏ป ๏ปฐ ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปช ๏ป‹๏ป ๏ปด๏ปช ๏ปญ ๏บณ๏ป ๏ปข . ๏ปญ ๏ป—๏บŽ๏ป ๏บƒ๏ปณ๏ป€๏บŽ : ๏ปฃ๏บŽ ๏ปฃ๏ปฆ ๏ปฃ๏บด๏ป ๏ปข ๏ป—๏บฎ๏บƒ ๏ป“๏ปฐ ๏บ‘๏ปด๏บ˜๏ปช ๏ปฃ๏ปฎ๏ปŸ๏บช ๏บ๏ปŸ๏ปจ๏บ’๏ปฒ ๏บป๏ป ๏ปฐ ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปช ๏ป‹๏ป ๏ปด๏ปช ๏ปญ ๏บณ๏ป ๏ปข ๏บ๏ปป ๏บญ๏ป“๏ปŠ ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปช ๏บณ๏บ’๏บค๏บŽ๏ปง๏ปช ๏ปญ ๏บ—๏ปŒ๏บŽ๏ปŸ๏ปฐ ๏บ๏ปŸ๏ป˜๏บค๏ป‚ ๏ปญ๏บ๏ปŸ๏ปฎ๏บ‘๏บŽ๏บ€ ๏ปญ๏บ๏ปŸ๏บค๏บฎ๏ป• ๏ปญ๏บ๏ปŸ๏ป๏บฎ๏ป• ๏ปญ๏บ๏ปท๏ป“๏บŽ๏บ• ๏ปญ๏บ๏ปŸ๏บ’๏ป ๏ปด๏บŽ๏บ• ๏ปญ๏บ๏ปŸ๏บ’๏ป๏บพ ๏ปญ๏บ๏ปŸ๏บค๏บด๏บช ๏ปญ๏ป‹๏ปด๏ปฆ ๏บ๏ปŸ๏บด๏ปฎ๏บ€ ๏ปญ๏บ๏ปŸ๏ป ๏บผ๏ปฎ๏บน ๏ปฃ๏ปฆ ๏บƒ๏ปซ๏ปž ๏บซ๏ปŸ๏ปš ๏บ๏ปŸ๏บ’๏ปด๏บ– ๏ป“๏บŽ๏บซ๏บ ๏ปฃ๏บŽ๏บ• ๏ปซ๏ปฎ๏ปฅ ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปช ๏ป‹๏ป ๏ปด๏ปช ๏บŸ๏ปฎ๏บ๏บ ๏ปฃ๏ปจ๏ปœ๏บฎ ๏ปญ๏ปง๏ปœ๏ปด๏บฎ ๏ปญ๏ปณ๏ปœ๏ปฎ๏ปฅ ๏ป“๏ปฐ ๏ปฃ๏ป˜๏ปŒ๏บช ๏บป๏บช๏ป• ๏ป‹๏ปจ๏บช ๏ปฃ๏ป ๏ปด๏ปš ๏ปฃ๏ป˜๏บ˜๏บช๏บญ . ๏ป“๏ปค๏ปฆ ๏บƒ๏บญ๏บ๏บฉ ๏บ—๏ปŒ๏ปˆ๏ปด๏ปข ๏ปฃ๏ปฎ๏ปŸ๏บช ๏บ๏ปŸ๏ปจ๏บ’๏ปฒ ๏บป๏ป ๏ปฐ ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปช ๏ป‹๏ป ๏ปด๏ปช ๏ปญ๏บณ๏ป ๏ปข ๏ปณ๏ปœ๏ป”๏ปด๏ปช ๏ปซ๏บฌ๏บ ๏บ๏ปŸ๏ป˜๏บช๏บญ . ๏ปญ๏ปฃ๏ปฆ ๏ปŸ๏ปข ๏ปณ๏ปœ๏ปฆ ๏ป‹๏ปจ๏บช๏ปฉ ๏บ—๏ปŒ๏ปˆ๏ปด๏ปข ๏ปฃ๏ปฎ๏ปŸ๏บช ๏บ๏ปŸ๏ปจ๏บ’๏ปฒ ๏บป๏ป ๏ปฐ ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปช ๏ป‹๏ป ๏ปด๏ปช ๏ปญ๏บณ๏ป ๏ปข ๏ปŸ๏ปฎ ๏ปฃ๏ปธ๏บ• ๏ปŸ๏ปช ๏บ๏ปŸ๏บช๏ปง๏ปด๏บŽ ๏ป“๏ปฐ ๏ปฃ๏บช๏บฃ๏ปช ๏ปŸ๏ปข ๏ปณ๏บค๏บฎ๏ป™ ๏ป—๏ป ๏บ’๏ปช ๏ป“๏ปฐ ๏บ๏ปŸ๏ปค๏บค๏บ’๏บ” ๏ปŸ๏ปช ๏บป๏ป ๏ปฐ ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปช ๏ป‹๏ป ๏ปด๏ปช ๏ปญ๏บณ๏ป ๏ปข .
“Tidak ada rumah atau masjid atau tempat yg di dalamnya dibacakan maulid Nabi SAW melainkan malaikat akan mengelilingi rumah atau masjid atau tempat itu, mereka akan memintakan ampunan untuk penghuni tempat itu, dan Allah akan melimpahkan rahmat dan keridhaan-Nya kepada mereka.”
Adapun para malaikat yang dikelilingi dengan cahaya adalah malaikat Jibril, Mika’il, Israfil, dan Izra’il as. Karena, sesungguhnya mereka memintakan ampunan kepada Allah swt untuk mereka yang menjadi sebab dibacakannya pembacaan maulid Nabi saw. Dan, dia berkata pula: Tidak ada seorang muslimpun yang dibacakan di dalam rumahnya pembacaan maulid Nabi saw melainkan Allah swt menghilangkan kelaparan, wabah penyakit, kebakaran, tenggelam, bencana, malapetaka, kebencian, hasud, keburukan makhluk, dan pencuri dari penghuni rumah itu. Dan, apabila ia meninggal, maka Allah akan memudahkan jawabannya dari pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir dan dia akan berada di tempat duduknya yang benar di sisi penguasa yang berkuasa. Dan, barangsiapa ingin mengagungkan maulid Nabi saw, maka Allah akan mencukupkan derajat ini kepadanya. Dan, barangsiapa di sisinya tidak ada pengagungan terhadap maulid Nabi saw, seandainya penuh baginya dunia di dalam memuji kepadanya, maka Allah tidak akan menggerakkan hatinya di dalam kecintaannya terhadap Nabi saw.

Smg cinta kita kpd Nabi tetap terjaga amin...

Kisah para Wali

*SULTHONUL AULIYA' AL IMAM ALQUTHBUL GHOUTS SAYYIDUNA ASY SYEKH IBROHIM AD-DASUQI*
ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ูˆุฃุนุงุฏ ุนู„ูŠู†ุง ู…ู† ุจุฑูƒุงุชู‡ ูˆู†ูุนู†ุง ุจุนู„ูˆู…ู‡ ูˆุฃู…ุฏู†ุง ุจู…ุฏุฏู‡

*KEMULIAAN DAN KAROMAH SYEKH IBRAHIM AD-DASUQI RA.*

Dalam manuskrip Taufiqiyah ada keterangan, bahwa pada abad ketiga Hijriyah di Dasuk ada tiga buah istana, pertama milik Sayid Abd Ali, yang kedua milik Imam Qashabi guru di Masjid Sayid Ahmad Badawi dan yang ketiga milik Sayyid Basuni Far, semua bangunan istana ini disediakan untuk menyambut para tamu yang datang ke Dasuk sewaktu peringatan Maulid Sayyid Ibrahim Ad Dasuki di samping juga menyediakan makanan bagi fakir miskin yang ikut datang ke perayaan itu.
Di antara tokoh-tokoh terkenal dari daerah ini adalah Syekh Ibrahim Dasuki bin Abd Aziz Abu al-Majd yang nasabnya berujung ke Imam Husain bin Ali bin Abi Thalib. Ibu Syekh Ibrahim Dasuki ini adalah Fatimah binti Abdullah bin Abd Jabar, saudari sekandung tokoh sufi terkenal Al Quthb Syekh Abu Hasan Syadzili. Syekh Ibrahim Ad Dasuki ini juga masih punya silsilah satu nasab dengan Wali Qutb kota Thanta Syekh Ahmad Al Badawi pada kakek kesepuluh Sayyid Ja’far al-Turki bin Ali al-Hadi.
Beliau juga mengikuti jejak pamannya dari ibu, Syekh Abu Hasan Ali Syadzili pendiri Thoriqoh Syadziliyah. Beliau belajar ilmu bahasa dan agama juga menghafal Al Qur’an dan hadits juga ushul fiqh berdasarkan madzhab Syafii sementara ia masih kecil. Ada suatu keterangan yang mengatakan beliau mulai ber-khalwat sejak usia lima tahun. Dan sewaktu memasuki usia remaja dan semakin rajin ber-khalwat (kontemplasi) maka kemudian mulailah datang kepada beliau beberapa orang untuk belajar thoriqah, di antara mereka yang ternama adalah Sayyid Abu Nasr yang makamnya dikenal dengan namanya di Dasuk.
Syekh Ibrahim Ad Dasuki ini selalu berada di tempat khalwat-nya sampai ayahnya meninggal, kemudian turunlah beliau dari tempatnya itu, yang saat itu beliau masih berusia 23 tahun, murid-muridnya mengharapkan supaya beliau meninggalkan tempat khalwat-nya itu, sehingga bisa konsentrasi mengajar mereka, kemudian dibuatkanlah suatu tempat di samping tempat khalwat beliau.
Thoriqah beliau ini dikenal dengan nama Thoriqah Burhaniyah, yang diambil dari namanya atau Tariqah Dasuqiyah, diambil dari nama daerahnya. Syekh Ibrahim Ad Dasuki dan para pengikutnya ini memakai sorban warna hijau sementara sorban yang dipakai oleh Sayid Ahmad Al Badawi dan para pengikutnya berwarna merah, sedangkan para pengikut Thoriqah Rifaiyah berwarna hitam.
Sewaktu Sultan Dhahir mendengar tentang keilmuan Syekh Ibrahim Ad Dasuqi juga banyak pengikut yang dipimpinnya, segera dia mengeluarkan maklumat yang mengangkatnya sebagai Syekhul Islam, maka beliau pun menerima jabatan itu dan melaksanakan tugasnya tanpa mengambil gajinya, tapi membagikan gaji dari jabatan ini kepada pada fakir miskin dari kalangan muslimin. Sultan kemudian juga membangun sebuah tempat pertemuan untuk Syekh dan para muridnya dalam belajar memahami agama, jabatan ini tetap dipegang oleh Syekh Ibrahim sampai meninggalnya Sultan kemudian setelah sultan meninggal, beliau mengundurkan diri, meluangkan waktunya bagi para muridnya.
Syekh Ibrahim Ad Dasuki ini adalah seorang yang pemberani tidak mendekat kepada penguasa dan tidak takut akan celaan orang-orang yang mencela di dalam menyebarkan agama Allah. Syekh Jalaludin Karki bercerita; bahwasannya Syekh Ibrahim Dasuki ini pernah berkirim surat kepada Sultan Asyraf Khalil bin Qalawun yang berisi kritikan pedas padanya, karena perbuatan dhalim yang dilakukan kepada rakyat. Maka Sultan pun murka dan memanggil Syekh, tapi Syekh Ibrahim Ad Dasuki ini menolak untuk mendatangi panggilan ini dan berkata: ”Aku tetap di sini, siapa yang ingin bertemu saya, maka dialah yang harus menemuiku”. Dan Sultan pun tidak bisa berbuat banyak terhadap Syekh karena dia tahu posisinya di mata masyarakat, maka diapun datang kepadanya dan minta maaf. Dan Syekh pun menyambutnya dengan baik dan memberi kabar gembira akan kemenangannya dalam peperangan melawan tentara salib, dan memang terbuktilah kemudian kemenangan itu.
Syekh Ibrahim Ad Dasuki ini adalah seorang perjaka yang tidak kimpoi, beliau mencurahkan semua waktunya untuk tasawuf, ibadah dan meditasi. Perlu dicatat di sini bahwa Syekh Idris yang dimakamkan di samping Sayidah Zaenab di Kairo adalah saudara dari Syekh Dasuki. Syekh Dasuki ini di samping menguasai bahasa Arab juga menguasai bahasa asing lain seperti bahasa Suryaniyah dan Ibriyah, karena beliau telah menulis sejumlah buku dan risalah dalam bahasa Suryaniyah. Syekh Ibrahim Ad Dasuki meninggalkan banyak kitab dalam bidang fiqih, tauhid, dan tafsir. yang paling terkenal adalah kitab yang masyhur di sebut “Al-Jawahir” atau “Al-Haqaiq”, beliau juga punya Qasidah-qasidah dan Mauidzoh-mauidhoh.

Diantara Karomah Syekh Imam Ibrahim Ad Dasuqi ra adalah :

Berkata Imam al-Munawi : Seekor buaya telah menelan seorang anak di sungai nil, maka ibu sang anak mendatangi Syeikh Imam Ibrahim Dasuqi dengan menangis tersedu-sedu, maka Syeikh meyuruh muridnya untuk memanggil buaya yang memakan anak ibu tersebut, maka datang muridnya dan berseru di tepi sungai Nil : ” Wahai sekalian buaya , siapa diantara kalian yang memakan seorang anak maka hendaklah dia timbul dan menghadap Syeikh “. maka timbullah buaya dan berjalan beserta murid sehingga sampai kehadapan Syeikh Ibrahim ad-Dusuqi, maka Syeikh menyuruh buayaitu untuk mengeluarkan anak itu, maka buaya itu mengeluarkan anak itu dalam keadaan hidup, kemudian SYeikh Ibrahim berkata : Matilah kamu dengan keizinan Allah “, maka dengan segara buaya pun mati.
Kehidupan beliau penuh dengan ibadah dan perjuangan melawan hawa nafsu dan syahwat, membantu umat dan berbuat kebaikkan, beliau hidup hanya empat puluh tiga tahun saja, tetapi mampu mengisi kehidupannya dengan hal-hal yang bermanfa`at untuk dirinya dan umat islam sekaliannya.
           
ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ

ุฑุจ ูุงู†ูุนู†ุง ุจุจุฑูƒุชู‡
ูˆุงู‡ุฏู†ุง ุงู„ุญุณู†ู‰ ุจุญุฑู…ุชู‡
ูˆุฃู…ุชู†ุง ููŠ ุทุฑูŠู‚ุชู‡
ูˆู…ุนุงูุงุฉ ู…ู† ุงู„ูุชู†
_Insyaallah bersambung_
Semoga bermanfaat..

Selasa, 14 November 2017

3 tiga

3 Macam Zuhud

Zuhud ada tiga macam; zuhud orang awam yaitu dengan meninggalkan yang haram, zuhud orang khosh dengan meninggalkan berlebih-lebihan dalam perkara halal, dan zuhud orang akhosh yaitu dengan meninggalkan segala sesuatu yang menyibukkan (memalingkan) dirinya dari Allah. (Jami’ al-Ushul fi al-Auliya’, hlm. 76)

ูˆَุงู„ุฒُّู‡ْุฏُ ูˆَู‡ُูˆَ ุนَู„ู‰َ ุซَู„ุงَุซَุฉِ ุฃَู‚ْุณَุงู…ٍ: ูَุฒُู‡ْุฏُ ุงู„ْุนَุงู…ِّ ุชَุฑْูƒُ ุงู„ْุญَุฑَุงู…ِ، ูˆَุฒُู‡ْุฏُ
ุงู„ْุฎَุงุตِّ ุชَุฑْูƒُ ุงู„ْูُุถُูˆْู„ِ ู…ِู†َ ุงู„ْุญَู„ุงَู„ِ، ูˆَุฒُู‡ْุฏُ ุงْู„ุฃَุฎَุตِّ ุชَุฑْูƒُ ู…َุง ูŠُุดْุบِู„ُู‡ُ ุนَู†ِ ุงู„ู„ู‡ِ ุชَุนَุงู„َู‰
 (ุฌุงู…ุน ุงู„ุฃุตูˆู„ ููŠ ุงู„ุฃูˆู„ูŠุงุก، ุต 76)

3 Macam Wara’

Wara’ ada tiga macam; wara’ orang awam yaitu tidak berbicara kecuali dengan Allah, baik dalam keadaan senang atau tidak. Wara’ orang khosh adalah dengan menjaga semua anggota tubuh dari kemurkaan Allah. Wara’ orang akhosh yaitu dengan (menjaga) semua kesibukannya agar diridhai oleh Allah. (Jami’ al-Ushul fi al-Auliya’, hlm. 76)

ูˆَุงู„ْูˆَุฑَุนُ ูˆَู‡ُูˆَ ุนَู„َู‰ ุซَู„ุงَุซَุฉِ ุฃَู‚ْุณَุงู…ٍ: ูˆَุฑَุนُ ุงْู„ุนَุงู…ِّ ูˆَู‡ُูˆَ ุฃَู†ْ ู„ุงَูŠَุชَูƒَّู„َู…َ ุฅِู„ุงَّ ุจِุงู„ู„ู‡ِ ุณَุงุฎِุทًุง ุฃَูˆْ ุฑَุงุถِูŠًุง، ูˆَูˆَุฑَุนُ ุงู„ْุฎَุงุตِّ ูˆَู‡ُูˆَ ุฃَู†ْ ูŠَุญْูَุธَ ูƒُู„َّ ุฌَุงุฑِุญَุฉٍ ุนَู†ْ ุณُุฎْุทِ ุงู„ู„ู‡ِ، ูˆَูˆَุฑَุนُ ุงْู„ุฃَุฎَุตِّ ูˆَู‡ُูˆَ ุฃَู†ْ ูŠَูƒُูˆْู†َ ุฌَู…ِูŠْุนُ ุดُุบْู„ِู‡ِ ูŠَุฑْุถَู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุจِู‡ِ.
(ุฌุงู…ุน ุงู„ุฃุตูˆู„ ููŠ ุงู„ุฃูˆู„ูŠุงุก، ุต 76)

3 Macam Ubudiyah

Ubudiyah ada tiga macam; ubudiyah orang awam yaitu melaksanakan ketaatan, ubudiyah orang khosh adalah ikhlas dalam ketaatan, dan ubudiyah orang akhoshsul khosh adalah meniadakan pandangan dari ikhlas dalam ketaatan. (Jami’ al-Ushul fi al-Auliya’, hlm. 76)

ูˆَุงู„ْุนُุจُูˆْุฏِูŠَّุฉُ ูˆَู‡ِูŠَ ุนَู„ู‰َ ุซَู„ุงَุซَุฉِ ุฃَู‚ْุณَุงู…ٍ: ุนُุจُูˆْุฏِูŠَّุฉُ ุงู„ْุนَุงู…ِّ ูˆَู‡ِูŠَ ุงْู„ุฅِุชْูŠَุงู†ِ ุจِุงู„ุทَّุงุนَุฉِ، ูˆَุนُุจُูˆْุฏِูŠَّุฉُ ุงู„ْุฎَุงุตِّ ูˆَู‡ِูŠَ ุงْู„ุฅِุฎْู„ุงَุตُ ูِู‰ ุงู„ุทَّุงุนَุฉِ، ูˆَุนُุจُูˆْุฏِูŠَّุฉُ ุฃَุฎَุตِّ ุงู„ْุฎَุงุตِّ ูˆَู‡ِูŠَ ุงู„ْุบَูŠْุจَุฉُ ุนَู†ْ ุฑُุคْูŠَุฉِ ุงْู„ุฅِุฎْู„ุงَุตِ ูِู‰ ุงู„ุทَّุงุนَุฉِ.
 (ุฌุงู…ุน ุงู„ุฃุตูˆู„ ููŠ ุงู„ุฃูˆู„ูŠุงุก، ุต 76)

3 Macam Tawakal

Tawakal ada tiga macam; tawakal orang awam yaitu tawakal atas syafaat, tawakal orang khosh yaitu tawakal atas ketaatan, tawakal orang akhosh yaitu tawakal atas pertolongan. (Jami’ al-Ushul fi al-Auliya’, hlm. 76)

ูˆَุงู„ุชَّูˆَูƒُّู„ُ ูˆَู‡ُูˆَ ุนَู„َู‰ ุซَู„ุงَุซَุฉِ ุฃَู‚ْุณَุงู…ٍ: ุชَูˆَูƒُّู„ُ ุงู„ْุนَุงู…ِّ ูˆَู‡ُูˆَ ุนَู„ู‰َ ุงู„ุดَّูَุงุนَุฉِ، ูˆَุชَูˆَูƒُّู„ُ ุงู„ْุฎَุงุตِّ ูˆَู‡ُูˆَ ุนَู„َู‰ ุงู„ุทَّุงุนَุฉِ، ูˆَุชَูˆَูƒُّู„ُ ุงْู„ุฃَุฎَุตِّ ูˆَู‡ُูˆَ ุนَู„َู‰ ุงู„ْุนِู†َุงูŠَุฉِ
 (ุฌุงู…ุน ุงู„ุฃุตูˆู„ ููŠ ุงู„ุฃูˆู„ูŠุงุก، ุต 76)


 3 Macam Taubat

1.    Taubat orang awam yaitu taubat dari dosa dan keburukan

2.    Taubat orang khash adalah mengosongkan hatinya dari makrifat selain Allah

3.    Taubat orang akhash adalah dengan menenggelamkan ruhnya dalam mahabbah(cinta) Allah, bukan mahabbah selain-Nya.
 (Jami’ al-Ushul fi al-Auliya’, hlm. 76)

ูَุงู„ุชَّูˆْุจَุฉُ ูˆَู‡ِูŠَ ุนَู„ู‰َ ุซَู„ุงَุซَุฉِ ุฃَู‚ْุณَุงู…ٍ: ุชَูˆْุจَุฉُ ุงู„ْุนَุงู…ِّ ูˆَู‡ِูŠَ ู…ِู†َ ุงู„ุฐُّู†ُูˆْุจِ ูˆَุงู„ุณَّูŠْุฆَุงุชِ، ุชَูˆْุจَุฉُ ุงู„ْุฎَุงุตِّ ูˆَู‡ِูŠَ ุฃَู†ْ ูŠُุฎَู„ِّูŠَ ู‚َู„ْุจَู‡ُ ู…ِู†ْ ู…َุนْุฑِูَุฉِ ู…َุง ุณِูˆَู‰ ุงู„ู„ู‡، ูˆَุชَูˆْุจَุฉُ ุงْู„ุฃَุฎَุตِّ ูˆَู‡ِูŠَ ุฃَู†ْ ุชَุณْุชَุบْุฑِู‚َ ุฑُูˆْุญُู‡ُ ุจِู…َุญَุจَّุฉِ ุงู„ู„ู‡ِ ู„ุงَ ุจِู…َุญَุจَّุฉِ ุบَูŠْุฑِ ุงู„ู„ู‡ِ
. (ุฌุงู…ุน ุงู„ุฃุตูˆู„ ููŠ ุงู„ุฃูˆู„ูŠุงุก، ุต 76 )

Catatan:

Pembagian-pembagian tersebut didasarkan pada tingkatan (maqam) orang awam ุนَุงู…ّ, orang khash ุฎَุงุตّ(khusus), dan orang akhashshul khusus ุฃَุฎَุตُّ ุงู„ْุฎُุตُูˆْุตِ(di atas kriteria khusus). Orang awam adalah orang biasa pada umumnya. Sedangkan orang khash ada yang menyebutkan bahwa ini adalah tingkatan para ulama, dan para wali kekasih Allah. Dan orang akhashshul khash atau akhashshul khusus adalah tingkatan bagi para nabi dan rasul.

3 Macam Taqwa

Taqwa ada tiga macam; taqwa orang awam dengan lisan, yaitu lebih mendahulukan menyebut Allah daripada menyebut makhluk. Taqwa orang khosh dengan anggota tubuh, yaitu lebih mendahulukan untuk melayani Allah daripada melayani makhluk. Taqwa orang akhosh dengan hati, yaitu lebih mendahulukan cinta kepada Allah daripada cinta kepada makhluk. (Jami’ al-Ushul fi al-Auliya’, hlm. 76)

ูˆَุงู„ุชَّู‚ْูˆَู‰ ูˆَู‡ِูŠَ ุนَู„َู‰ ุซَู„ุงَุซَุฉِ ุฃَู‚ْุณَุงู…ٍ: ุชَู‚ْูˆَู‰ ุงู„ْุนَุงู…ِّ ุจِุงู„ِّู„ุณَุงู†ِ ูˆَู‡ُูˆَ ุฅِูŠْุซَุงุฑُ ุฐِูƒْุฑِ ู…َู†ْ ู„َู…ْ ูŠَุฒَู„ْ ูˆَู„ุงَ ูŠُุฒَุงู„ُ ุนَู„َู‰ ุฐِูƒْุฑِ ู…َู†ْ ู„َู…ْ ูŠَูƒُู†ْ ูَูƒَุงู†َ، ูˆَุชَู‚ْูˆَู‰ ุงู„ْุฎَุงุตِّ ุจِุงْู„ุฃَุฑْูƒَุงู†ِ ูˆَู‡ِูŠَ ุฅِูŠْุซَุงุฑُ ุฎِุฏْู…َุฉِ ู…َู†ْ ู„َู…ْ ูŠَุฒَู„ْ ูˆَู„ุงَ ูŠُุฒَุงู„ُ ุนَู„َู‰ ุฎِุฏْู…َุฉِ ู…َู†ْ ู„َู…ْ ูŠَูƒُู†ْ ูَูƒَุงู†َ، ูˆَุชَู‚ْูˆَู‰ ุงْู„ุฃَุฎَุตِّ ุจِุงู„ْุฌِู†َุงู†ِ ูˆَู‡ِูŠَ ุฅِูŠْุซَุงุฑُ ู…َุญَุจَّุฉِ ู…َู†ْ ู„َู…ْ ูŠَุฒَู„ْ ูˆَู„ุงَ ูŠُุฒَุงู„ُ ุนَู„َู‰ ู…َุญَุจَّุฉِ ู…َู†ْ ู„َู…ْ ูŠَูƒُู†ْ ูَูƒَุงู†َ. (ุฌุงู…ุน ุงู„ุฃุตูˆู„ ููŠ ุงู„ุฃูˆู„ูŠุงุก، ุต 76)

3 Macam Syukur

Syukur ada tiga macam; syukur orang awam dengan ucapan, yaitu pujian, syukur orang khoshitu dengan perbuatan dan pengorbanan, syukur orang akhosh adalah dengan mengetahui semua nikmat itu dari Allah sang Pemberi nikmat.(Jami’ al-Ushul fi al-Auliya’, hlm. 76)

ูˆَุงู„ุดُّูƒْุฑُ ูˆَู‡ُูˆَ ุนَู„ู‰َ ุซَู„ุงَุซَุฉِ ุฃَู‚ْุณَุงู…ٍ: ุดُูƒْุฑُ ุงู„ْุนَุงู…ِّ ุจِุงู„ْู‚َูˆْู„ِ ูˆَู‡ُูˆَ ุงَู„ْุญَู…ْุฏُ، ูˆَุดُูƒْุฑُ ุงู„ْุฎَุงุตِّ ูˆَู‡ُูˆَ ุจِุงู„ْูِุนْู„ِ ูˆَู‡ُูˆَ ุงู„ْุจَุฐْู„ُ، ูˆَุดُูƒْุฑُ ุงْู„ุฃَุฎَุตِّ ูˆَู‡ُูˆَ ู…َุนْุฑِูَุฉُ ุงู„ู†ِّุนَู…ِ ู…ِู†َ ุงู„ْู…ُู†ْุนِู…ِ. (ุฌุงู…ุน ุงู„ุฃุตูˆู„ ููŠ ุงู„ุฃูˆู„ูŠุงุก، ุต 76)


3 Macam Ruh

Ruh ada tiga macam; ruh para musuh Allah disiksa di neraka Jahim, ruh para kekasih Allah diberi kenikmatan di surga Na’im, dan ruh para nabi dimuliakan di sisi-Nya. (Jami’ al-Ushul fi al-Auliya’, hlm. 78)

ูˆَุงู„ุฑُّูˆْุญُ ูˆَู‡ُูˆَ ุนَู„َู‰ ุซَู„ุงَุซَุฉِ ุฃَู‚ْุณَุงู…ٍ: ุฃَุฑْูˆَุงุญُ ุงْู„ุฃَุนْุฏَุงุกِ ูˆَู‡ِูŠَ ูِู‰ ุงู„ْุฌَุญِูŠْู…ِ ู…ُุนَุฐَّุจَุฉً، ูˆَุฃَุฑْูˆَุงุญُ ุงْู„ุฃَูˆْู„ِูŠَุงุกِ ูˆَู‡ِูŠَ ูِู‰ ุงู„ู†َّุนِูŠْู…ِ ู…ُู†ْุนَู…َุฉً، ูˆَุฃَุฑْูˆَุงุญُ ุงْู„ุฃَู†ْุจِูŠَุงุกِ ูˆَู‡ِูŠَ ุนِู†ْุฏَ ุงู„ْูƒَุฑِูŠْู…ِ ู…ُูƒْุฑَู…َุฉً (ุฌุงู…ุน ุงู„ุฃุตูˆู„ ููŠ ุงู„ุฃูˆู„ูŠุงุก، ุต 78)

3 Macam Ridha

Ridha ada tiga macam; ridha orang awam kepada agama Allah yaitu dengan upayanya untuk bertindak sesuai agama. Ridha orang khosh kepada pahala Allah, yaitu dengan beramal karena Allah, dan berharap pahala-Nya. Dan ridha orang akhosh adalah Allah saja, yaitu ridho kepada Allah semata. (Jami’ al-Ushul fi al-Auliya’, hlm. 77)

ูˆَุงู„ุฑِّุถَุง ูˆَู‡ُูˆَ ุนَู„ู‰َ ุซَู„ุงَุซَุฉِ ุฃَู‚ْุณَุงู…ٍ: ุฑِุถَุง ุงู„ْุนَุงู…ِّ ุจِุฏِูŠْู†ِ ุงู„ู„ู‡ِ ูˆَู‡ُูˆَ ู…ُูˆَุงูَู‚َุชُู‡ُ ูِู‰ ุงู„ุฏِّูŠْู†ِ، ูˆَุฑِุถَุง ุงู„ْุฎَุงุตِّ ุจِุซَูˆَุงุจِ ุงู„ู„ู‡ِ ูˆَู‡ُูˆَ ุฃَู†ْ ูŠَุนْู…َู„َ ู„ِูˆَุฌْู‡ِ ุงู„ู„ู‡ِ ุฑَุฌَุงุกَ ุซَูˆَุงุจِู‡ِ، ูˆَุฑِุถَุง ุงْู„ุฃَุฎَุตِّ ูˆَู‡ُูˆَ ุงู„ู„ู‡ُ ุจِุงู„ู„ู‡ِ. (ุฌุงู…ุน ุงู„ุฃุตูˆู„ ููŠ ุงู„ุฃูˆู„ูŠุงุก، ุต 77)

3 Macam Istiqamah

Istiqamah ada tiga macam; istiqamah orang awam yaitu dengan pengabdian, istiqamah orang khosh yaitu dengan niat yang kuat, dan istiqamah orang akhosh yaitu dengan mengagungkan semua kebesaran Allah. (Jami’ al-Ushul fi al-Auliya’, hlm. 77)

ูˆَุงْู„ุงِุณْุชِู‚َุงู…َุฉُ ูˆَู‡ِูŠَ ุนَู„َู‰ ุซَู„ุงَุซَุฉِ ุฃَู‚ْุณَุงู…ٍ: ุงِุณْุชِู‚َุงู…َุฉُ ุงู„ْุนَุงู…ِّ ูˆَู‡ِูŠَ ุจِุงู„ْุฎِุฏْู…َุฉِ، ูˆَุงุณْุชِู‚َุงู…َุฉُ ุงู„ْุฎَุงุตِّ ูˆَู‡ِูŠَ ุจِุตِุฏْู‚ِ ุงู„ْู‡ِู…َّุฉِ، ูˆَุงุณْุชِู‚َุงู…َุฉِ ุงْู„ุฃَุฎَุตِّ ูˆَู‡ِูŠَ ุจِุชَุนْุธِูŠْู…ِ ุงู„ْุฌِู‡َّุฉِ ุฃَูŠِ ุงู„ْุญُุฑْู…َุฉِ. (ุฌุงู…ุน ุงู„ุฃุตูˆู„ ููŠ ุงู„ุฃูˆู„ูŠุงุก، ุต 77)

3 Macam Istiqamah

Istiqamah ada tiga macam; istiqamah orang awam yaitu dengan pengabdian, istiqamah orang khosh yaitu dengan niat yang kuat, dan istiqamah orang akhosh yaitu dengan mengagungkan semua kebesaran Allah. (Jami’ al-Ushul fi al-Auliya’, hlm. 77)

ูˆَุงْู„ุงِุณْุชِู‚َุงู…َุฉُ ูˆَู‡ِูŠَ ุนَู„َู‰ ุซَู„ุงَุซَุฉِ ุฃَู‚ْุณَุงู…ٍ: ุงِุณْุชِู‚َุงู…َุฉُ ุงู„ْุนَุงู…ِّ ูˆَู‡ِูŠَ ุจِุงู„ْุฎِุฏْู…َุฉِ، ูˆَุงุณْุชِู‚َุงู…َุฉُ ุงู„ْุฎَุงุตِّ ูˆَู‡ِูŠَ ุจِุตِุฏْู‚ِ ุงู„ْู‡ِู…َّุฉِ، ูˆَุงุณْุชِู‚َุงู…َุฉِ ุงْู„ุฃَุฎَุตِّ ูˆَู‡ِูŠَ ุจِุชَุนْุธِูŠْู…ِ ุงู„ْุฌِู‡َّุฉِ ุฃَูŠِ ุงู„ْุญُุฑْู…َุฉِ. (ุฌุงู…ุน ุงู„ุฃุตูˆู„ ููŠ ุงู„ุฃูˆู„ูŠุงุก، ุต 77)


3 Macam Ikhlas

Ikhlas ada tiga macam; ikhlas orang awam yaitu dengan membersihkan perbuatan dari segala kekotoran. Iklhas orang khosh yaitu dengan menghilangkan unsur makhluk dari semua muamalahnya (perbuatannya). Dan ikhlas orang akhosh, yaitu menghilangkan pandangan makhluk dengan melanggengkan pandangan hati pada Allah. (Jami’ al-Ushul fi al-Auliya’, hlm. 77)

ูˆَุงْู„ุฅِุฎْู„ุงَุตُ ูˆَู‡ُูˆَ ุนَู„َู‰ ุซَู„ุงَุซَุฉِ ุฃَู‚ْุณَุงู…ٍ: ุฅِุฎْู„ุงَุตُ ุงู„ْุนَุงู…ِّ ูˆَู‡ُูˆَ ุชَุตْูِูŠَّุฉُ ุงู„ْุนَู…َู„ِ ู…ِู†َ ุงู„ْูƒَุฏَุฑَุงุชِ، ูˆَุฅِุฎْู„ุงَุตُ ุงู„ْุฎَุงุตِّ ูˆَู‡ُูˆَ ุฅِุฎْุฑَุงุฌُ ุงู„ْุฎَู„ْู‚ِ ู…ِู†َ ุงู„ْู…ُุนَุงู…َู„ุงَุชِ، ูˆَุฅِุฎْู„ุงَุตُ ุงْู„ุฃَุฎَุตِّ ูˆَู‡ُูˆَ ู†ِุณْูŠَุงู†ُ ุฑُุคْูŠَุฉِ ุงู„ْุฎَู„ْู‚ِ ุจِุฏَูˆَุงู…ِ ุฑُุคْูŠَุฉِ ุงู„ْู‚َู„ْุจِ ุฅِู„َู‰ ุนَุงู„ِู…ِ ุงู„ْุฎَูِูŠَّุงุชِ (ุฌุงู…ุน ุงู„ุฃุตูˆู„ ููŠ ุงู„ุฃูˆู„ูŠุงุก، ุต 77)

3 Macam Hati

Hati ada tiga macam; hati orang awam adalah hati yang melayang dalam urusan dunia yang dibarengi dengan ketaatan. Hati orang khoshadalah hati yang melayang dalam urusan akhirat yang diliputi dengan kemuliaan. Hati orangakhosh adalah hati yang melayang dalam Sidratul Muntaha (keagungan Allah yang tanpa batas) dalam keadaan terhibur dan selalu bersama dengan Allah. (Jami’ al-Ushul fi al-Auliya’, hlm. 78)

ูˆَุงู„ْู‚َู„ْุจُ ูˆَู‡ُูˆَ ุนَู„َู‰ ุซَู„ุงَุซَุฉِ ุฃَู‚ْุณَุงู…ٍ: ู‚َู„ْุจُ ุงู„ْุนَุงู…ِّ ูˆَู‡ُูˆَ ูŠَุทِูŠْุฑُ ูِู‰ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง ุญَูˆْู„َ ุงู„ุทَّุงุนَุฉِ، ูˆَู‚َู„ْุจُ ุงู„ْุฎَุงุตِّ ูˆَู‡ُูˆَ ูŠَุทِูŠْุฑُ ูِู‰ ุงู„ْุนُู‚ْุจَู‰ ุญَูˆْู„َ ุงู„ْูƒَุฑَุงู…َุงุชِ، ูˆَู‚َู„ْุจُ ุงْู„ุฃَุฎَุตِّ ูˆَู‡ُูˆَ ูŠَุทِูŠْุฑُ ูِู‰ ุณِุฏْุฑَุฉِ ุงู„ْู…ُู†ْุชَู‡َู‰ ุญَูˆْู„َ ุงْู„ุฃُู†ْุณِ ูˆَุงู„ْู…ُู†َุงุฌَุงุชِ
 (ุฌุงู…ุน ุงู„ุฃุตูˆู„ ููŠ ุงู„ุฃูˆู„ูŠุงุก، ุต 78)

3 Macam Fakir

Fakir ada tiga macam; fakir orang awam, yaitu tidak mencari yang tidak ada sehingga barang yang ada menjadi sirna. Fakir orang khosh yaitu diam ketika tidak adanya sesuatu. Fakir orang akhosh, yaitu dengan mengupayakan dan mengutamakan yang ada. (Jami’ al-Ushul fi al-Auliya’, hlm. 77)

ูˆَุงู„ْูَู‚ْุฑُ ูˆَู‡ُูˆَ ุนَู„َู‰ ุซَู„ุงَุซَุฉِ ุฃَู‚ْุณَุงู…ٍ: ูَู‚ْุฑُ ุงู„ْุนَุงู…ِّ ูˆَู‡ُูˆَ ุฃَู†ْ ู„ุงَูŠَุทْู„ُุจَ ุงู„ْู…َุนْุฏُูˆْู…َ ุญَุชَّู‰ ูŠَูْู‚ُุฏَ ุงู„ْู…َูˆْุฌُูˆْุฏُ، ูˆَูَู‚ْุฑُ ุงู„ْุฎَุงุตِّ ูˆَู‡ُูˆَ ุงู„ุณُّูƒُูˆْุชُ ุนِู†ْุฏَ ุงู„ْุนَุฏَู…ِ، ูˆَูَู‚ْุฑُ ุงْู„ุฃَุฎَุตِّ ูˆَู‡ُูˆَ ุงู„ْุจَุฐْู„ُ ูˆَุงْู„ุฅِูŠْุซَุงุฑُ ุนِู†ْุฏَ ุงู„ْูˆُุฌُูˆْุฏِ.
 (ุฌุงู…ุน ุงู„ุฃุตูˆู„ ููŠ ุงู„ุฃูˆู„ูŠุงุก، ุต 77)

3 Macam Dzikir

Dzikir ada tiga macam; dzikir orang awam yaitu dengan lisan, sedangkan hatinya lupa. Dzikir orang khosh yaitu dengan lisan sedangkan hatinya hadir. Dan dzikir orang akhosh yaitu dengan hati yang hadir (tanpa lisan). (Jami’ al-Ushul fi al-Auliya’, hlm. 78)

ูˆَุงู„ุฐِّูƒْุฑُ ูˆَู‡ُูˆَ ุนَู„َู‰ ุซَู„ุงَุซَุฉِ ุฃَู‚ْุณَุงู…ٍ: ุฐِูƒْุฑُ ุงู„ْุนَุงู…ِّ ูˆَู‡ُูˆَ ุจِุงู„ู„ِّุณَุงู†ِ ูˆَู‚َู„ْุจُู‡ُ ุบَุงูِู„ٌ، ูˆَุฐِูƒْุฑُ ุงู„ْุฎَุงุตِّ ูˆَู‡ُูˆَ ุจِุงู„ู„ِّุณَุงู†ِ ูˆَู‚َู„ْุจُู‡ُ ุญَุงุถِุฑٌ، ูˆَุฐِูƒْุฑُ ุงْู„ุฃَุฎَุตِّ ูˆَู‡ُูˆَ ุจِุงู„ْู‚َู„ْุจِ ุญَุงุถِุฑٌ. 
(ุฌุงู…ุน ุงู„ุฃุตูˆู„ ููŠ ุงู„ุฃูˆู„ูŠุงุก،ุต  78)

3 Macam Bala’

Bala’ (ujian, cobaan) ada tiga macam; bala’orang awam sebagai bentuk pelajaran, bala’orang khosh sebagai bentuk perbaikan etika, danbala’ orang akhosh sebagai bentuk taqarrub(mendekatkan diri kepada Allah). (Jami’ al-Ushul fi al-Auliya’, hlm. 77)

ูˆَุงู„ْุจَู„ุงَุกُ ูˆَู‡ُูˆَ ุนَู„َู‰ ุซَู„ุงَุซَุฉِ ุฃَู‚ْุณَุงู…ٍ: ุจَู„ุงَุกُ ุงู„ْุนَุงู…ِّ ูˆَู‡ُูˆَ ู„ِู„ุชَّุฃْุฏِูŠْุจِ، ูˆَุจَู„ุงَุกُ ุงู„ْุฎَุงุตِّ ูˆَู‡ُูˆَ ู„ِู„ุชَّู‡ْุฐِูŠْุจِ، ูˆَุจَู„ุงَุกُ ุงْู„ุฃَุฎَุตِّ ูˆَู‡ُูˆَ ู„ِู„ุชَّู‚ْุฑِูŠْุจِ
 (ุฌุงู…ุน ุงู„ุฃุตูˆู„ ููŠ ุงู„ุฃูˆู„ูŠุงุก، ุต 77)

Copy is right © Juli 2012.Tim Ebook Galak GampilPondok Pesantren Ngalah . Hak cipta hanya milik Allah Swt. Diperbolehkan untuk mengcopy / menggandakan / mendistribusikan ulang demi kemanfaatan dan kemaslahatan seluas-luasnya.

Minggu, 12 November 2017

Dialog Rabi'al al-'Adawiyah dengan Hasan Basri.



Perbandingan Akal dan Syahwat Antara Pria dan Wanita.

๏ปญ๏บฃ๏ปœ๏ปฐ ๏บƒ๏ปณ๏ป€๏บŽ ๏บƒ๏ปง๏ปช ๏ปŸ๏ปค๏บŽ ๏ปฃ๏บŽ๏บ• ๏บฏ๏ปญ๏บ ๏บญ๏บ๏บ‘๏ปŒ๏บ” ๏บ๏ปŸ๏ปŒ๏บช๏ปญ๏ปณ๏บ” ๏บ๏บณ๏บ˜๏บ„๏บซ๏ปฅ ๏ป“๏ปฐ ๏บ๏ปŸ๏บช๏บง๏ปฎ๏ป ๏ป‹๏ป ๏ปด๏ปฌ๏บŽ ๏บ๏ปŸ๏บค๏บด๏ปฆ ๏บ๏ปŸ๏บ’๏บผ๏บฎ๏ปฏ ๏ปญ๏บƒ๏บป๏บค๏บŽ๏บ‘๏ปช، ๏ป“๏บ„๏บซ๏ปง๏บ– ๏ปŸ๏ปฌ๏ปข ๏ป“๏ปฐ ๏บ๏ปŸ๏บช๏บง๏ปฎ๏ป ๏ป‹๏ป ๏ปด๏ปฌ๏บŽ ๏ปญ๏บƒ๏บญ๏บง๏บ– ๏บณ๏บ˜๏บฎ๏บ ๏ปญ๏บŸ๏ป ๏บด๏บ– ๏ปญ๏บญ๏บ๏บ€ ๏บ๏ปŸ๏บด๏บ˜๏บฎ
Di ceritakan bahwasannya ketika suami Rabi'ah al-'Adawiyah telah meninggal dunia, sejumlah Ulama besar diantaranya Hasan Basri dan kawan-kawan minta izin masuk ke rumah-nya, dan iapun mengizinkan mereka masuk, dan sebagaimana layaknya wanita muslimah ia menutup hijab dan duduk dibalik hijab tersebut.

๏ป“๏ป˜๏บŽ๏ป ๏ปŸ๏ปฌ๏บŽ ๏บ๏ปŸ๏บค๏บด๏ปฆ ๏ปญ๏บƒ๏บป๏บค๏บŽ๏บ‘๏ปช ๏บ‡๏ปง๏ปช ๏ป—๏บช ๏ปฃ๏บŽ๏บ• ๏บ‘๏ปŒ๏ป ๏ปš ๏ปญ๏ปป๏บ‘๏บช ๏ปŸ๏ปš ๏ปฃ๏ปจ๏ปช
Sahut Hasan kepadanya : "Sungguh, suamimu telah meninggal dunia, maka sebaiknya anda bersuami lagi Rabi'ah".

๏ป“๏ป˜๏บŽ๏ปŸ๏บ– : ๏ปง๏ปŒ๏ปข، ๏ปญ๏ปŸ๏ปœ๏ปฆ ๏ปฃ๏ปฆ ๏บƒ๏ป‹๏ป ๏ปค๏ปœ๏ปข ๏บฃ๏บ˜๏ปฐ ๏บƒ๏บฏ๏ปญ๏บŸ๏ปช ๏ปง๏ป”๏บด๏ปฐ
Jawab Rabi'ah : "Baiklah, tapi aku ingin tahu, siapakah diantara kalian yang paling 'Alim, sehingga aku bersedia menjadi istrinya".

๏ป“๏ป˜๏บŽ๏ปŸ๏ปฎ๏บ : ๏บ๏ปŸ๏บค๏บด๏ปฆ ๏บ๏ปŸ๏บ’๏บผ๏บฎ๏ปฏ
Mereka menjawab : "Dialah Hasan Basri orangnya".

๏ป“๏ป˜๏บŽ๏ปŸ๏บ– : ๏บ‡๏ปฅ ๏บƒ๏บŸ๏บ’๏บ˜๏ปจ๏ปฐ ๏ป“๏ปฐ ๏บƒ๏บญ๏บ‘๏ปŠ ๏ปฃ๏บด๏บŽ๏บ‹๏ปž، ๏ป“๏บ„๏ปง๏บŽ ๏ปŸ๏ปš
Sahut Rabi'ah : "Jika tuan mampu menjawab 4 masalah yang saya ajukan, maka aku bersedia menjadi istri tuan".

๏ป“๏ป˜๏บŽ๏ป : ๏บณ๏ป ๏ปฐ ๏บ‡๏ปฅ ๏ปญ๏ป“๏ป˜๏ปจ๏ปฐ ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปช ๏บ—๏ปŒ๏บŽ๏ปŸ๏ปฐ ๏บƒ๏บŸ๏บ’๏บ˜๏ปš
Jawab Hasan : "Silahkan anda bertanya, Semoga Allah SWT memberi taufik padaku dalam menjawab pertanyaan anda".

๏ป“๏ป˜๏บŽ๏ปŸ๏บ– : ๏ปฃ๏บŽ ๏บ—๏ป˜๏ปฎ๏ป ๏ปŸ๏ปฎ๏ปฃ๏บ– ๏ปญ๏บง๏บฎ๏บŸ๏บ– ๏ปฃ๏ปฆ ๏บ๏ปŸ๏บช๏ปง๏ปด๏บŽ ๏บƒ๏บง๏บฎ๏บ ๏ป‹๏ป ๏ปฐ ๏บ๏ปน๏ปณ๏ปค๏บŽ๏ปฅ ๏บƒ๏ปก ๏ปป
Tanya Rabi'ah : "Menurut tuan, kalau aku meninggal dunia, apakah kematianku dengan membawa ketetapan iman / tidak ?".

๏ป—๏บŽ๏ป : ๏ปซ๏บฌ๏บ ๏ป๏ปด๏บ ๏ปญ๏ปป ๏ปณ๏ปŒ๏ป ๏ปข ๏บ๏ปŸ๏ป๏ปด๏บ ๏บ‡๏ปป ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปช
Jawabnya : "Maaf, hal ini termasuk masalah ghaib, dan tiada yang tahu pasti, kecuali Allah".

๏บ›๏ปข ๏ป—๏บŽ๏ปŸ๏บ– : ๏ปฃ๏บŽ ๏บ—๏ป˜๏ปฎ๏ป ๏ปŸ๏ปฎ ๏ปญ๏บฟ๏ปŒ๏บ– ๏ป“๏ปฐ ๏บ๏ปŸ๏ป˜๏บ’๏บฎ๏ปฏ ๏ปญ๏บณ๏บ„๏ปŸ๏ปจ๏ปฐ ๏ปฃ๏ปจ๏ปœ๏บฎ ๏ปญ๏ปง๏ปœ๏ปด๏บฎ، ๏บƒ๏ป—๏บช๏บญ ๏ป‹๏ป ๏ปฐ ๏บŸ๏ปฎ๏บ๏บ‘๏ปฌ๏ปค๏บŽ ๏บƒ๏ปก ๏ปป
Kemudian tanya Rabi'ah : "Menurut tuan, kalau aku disemayamkan dalam kubur, lalu malaikat Munkar-Nakir bertanya kepadaku, mampukah aku menjawabnya / tidak ?".

๏ป—๏บŽ๏ป : ๏ปซ๏บฌ๏บ ๏ป๏ปด๏บ ๏ปญ๏ปป ๏ปณ๏ปŒ๏ป ๏ปข ๏บ๏ปŸ๏ป๏ปด๏บ ๏บ‡๏ปป ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปช
Jawabnya : "Maaf, itupun termasuk masalah ghaib, dan tiada yang tahu pasti, kecuali Allah".

๏ป—๏บŽ๏ปŸ๏บ– : ๏บ‡๏บซ๏บ ๏บฃ๏บธ๏บฎ ๏บ๏ปŸ๏ปจ๏บŽ๏บฑ ๏ปณ๏ปฎ๏ปก ๏บ๏ปŸ๏ป˜๏ปด๏บŽ๏ปฃ๏บ” ๏ปญ๏บ—๏ป„๏บŽ๏ปณ๏บฎ๏บ• ๏บ๏ปŸ๏ปœ๏บ˜๏บ ๏บƒ๏ป‹๏ป„๏ปฐ ๏ป›๏บ˜๏บŽ๏บ‘๏ปฐ ๏บ‘๏ปด๏ปค๏ปด๏ปจ๏ปฐ ๏บƒ๏ปก ๏บ‘๏บธ๏ปค๏บŽ๏ปŸ๏ปฐ
Tanya Rabi'ah : "Saat manusia dihimpun kelak di hari kiamat dan kitab catatan amal berterbangan. Menurut anda, apakah aku termasuk orang yang menerima kitab amal tersebut dengan tangan kanan / kiri ?".

๏ป“๏ป˜๏บŽ๏ป : ๏ปซ๏บฌ๏บ ๏ป๏ปด๏บ ๏บƒ๏ปณ๏ป€๏บŽ
Jawabnya : "Maaf itu juga masalah ghaib".

๏บ›๏ปข ๏ป—๏บŽ๏ปŸ๏บ– : ๏บ‡๏บซ๏บ ๏ปง๏ปฎ๏บฉ๏ปฏ ๏ปŸ๏ป ๏ปจ๏บŽ๏บฑ ๏ป“๏บฎ๏ปณ๏ป– ๏ป“๏ปฐ ๏บ๏ปŸ๏บ ๏ปจ๏บ” ๏ปญ๏ป“๏บฎ๏ปณ๏ป– ๏ป“๏ปฐ ๏บ๏ปŸ๏บด๏ปŒ๏ปด๏บฎ، ๏ป›๏ปจ๏บ– ๏บƒ๏ปง๏บŽ ๏ปฃ๏ปฆ ๏บƒ๏ปฏ ๏บ๏ปŸ๏ป”๏บฎ๏ปณ๏ป˜๏ปด๏ปฆ
Berikutnya tanya Rabi'ah : "Ketika manusia dipanggil "Segolongan di surga dan segolongan lainnya di neraka". Menurut tuan, aku termasuk golongan manakah ?".

๏ป—๏บŽ๏ป : ๏ปซ๏บฌ๏บ ๏ป๏ปด๏บ ๏บƒ๏ปณ๏ป€๏บŽ
Jawabnya : "Maaf, itu juga masalah ghaib".

๏ป—๏บŽ๏ปŸ๏บ– : ๏ปฃ๏ปฆ ๏ป›๏บŽ๏ปฅ ๏ปŸ๏ปช ๏ป๏ปข ๏ปซ๏บฌ๏ปฉ ๏บ๏ปท๏บญ๏บ‘๏ปŒ๏บ” ๏ป›๏ปด๏ป’ ๏ปณ๏บธ๏บ˜๏ป๏ปž ๏บ‘๏บŽ๏ปŸ๏บ˜๏บฐ๏ปญ๏ปณ๏บž
(Akhirnya) Rabi'ah berkata : "Bagi orang yang tengah kalut memikirkan 4 perkara ini, mana ada kesempatan untuk berumah tangga ???".

๏บ›๏ปข ๏ป—๏บŽ๏ปŸ๏บ– : ๏ปณ๏บŽ ๏บฃ๏บด๏ปฆ ๏บƒ๏บง๏บ’๏บฎ๏ปง๏ปฐ ๏ป›๏ปข ๏บŸ๏บฐ๏บ€ ๏บง๏ป ๏ป– ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปช ๏บ๏ปŸ๏ปŒ๏ป˜๏ปž
Kemudian ia (Rabi'ah) bertanya : "Ya tuan Hasan, berapakah Allah menjadikan akal ?".

๏ป—๏บŽ๏ป : ๏ป‹๏บธ๏บฎ๏บ“ ๏บƒ๏บŸ๏บฐ๏บ๏บ€، ๏บ—๏บด๏ปŒ๏บ” ๏ปŸ๏ป ๏บฎ๏บŸ๏บŽ๏ป، ๏ปญ๏ปญ๏บ๏บฃ๏บช ๏ปŸ๏ป ๏ปจ๏บด๏บŽ๏บ€
Jawabnya : "10 bagian : 9 bagi pria, 1 bagi wanita".

๏บ›๏ปข ๏ป—๏บŽ๏ปŸ๏บ– : ๏ปณ๏บŽ ๏บฃ๏บด๏ปฆ ๏ป›๏ปข ๏บŸ๏บฐ๏บ€ ๏บง๏ป ๏ป– ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปช ๏บ๏ปŸ๏บธ๏ปฌ๏ปฎ๏บ“
Tanya Rabi'ah : "Ya tuan Hasan, lalu berapa bagian pula Allah menjadikan syahwat ?".

๏ป—๏บŽ๏ป : ๏ป‹๏บธ๏บฎ๏บ“ ๏บƒ๏บŸ๏บฐ๏บ๏บ€، ๏บ—๏บด๏ปŒ๏บ” ๏ปŸ๏ป ๏ปจ๏บด๏บŽ๏บ€، ๏ปญ๏ปญ๏บ๏บฃ๏บช ๏ปŸ๏ป ๏บฎ๏บŸ๏บŽ๏ป
Jawabnya : "10 bagian : 9 bagi wanita, 1 bagi pria".

๏บ›๏ปข ๏ป—๏บŽ๏ปŸ๏บ– : ๏ปณ๏บŽ ๏บฃ๏บด๏ปฆ ๏บƒ๏ปง๏บŽ ๏บƒ๏ป—๏บช๏บญ ๏ป‹๏ป ๏ปฐ ๏บฃ๏ป”๏ป† ๏บ—๏บด๏ปŒ๏บ” ๏บƒ๏บŸ๏บฐ๏บ๏บ€ ๏ปฃ๏ปฆ ๏บ๏ปŸ๏บธ๏ปฌ๏ปฎ๏บ“ ๏บ‘๏บ ๏บฐ๏บ€ ๏ปฃ๏ปฆ ๏บ๏ปŸ๏ปŒ๏ป˜๏ปž، ๏ปญ๏บ๏ปง๏บ– ๏ปป ๏บ—๏ป˜๏บช๏บญ ๏ป‹๏ป ๏ปฐ ๏บฃ๏ป”๏ป† ๏บŸ๏บฐ๏บ€ ๏ปญ๏บ๏บฃ๏บช ๏ปฃ๏ปฆ ๏บ๏ปŸ๏บธ๏ปฌ๏ปฎ๏บ“ ๏บ‘๏บ˜๏บด๏ปŒ๏บ” ๏บƒ๏บŸ๏บฐ๏บ๏บ€ ๏ปฃ๏ปฆ ๏บ๏ปŸ๏ปŒ๏ป˜๏ปž
Kemudian iapun berkata : "Ya tuan Hasan, hanya dengan 1 akal, Aku mampu mengendalikan diri dari gejolak nafsu syahwat 9 bagian, tetapi dengan 9 bagian akalnya, kenapa tuan tidak mampu mengekang 1 nafsu syahwat ?".

๏ป“๏บ’๏ปœ๏ปฐ ๏บ๏ปŸ๏บค๏บด๏ปฆ ๏ปญ๏บง๏บฎ๏บ ๏ปฃ๏ปฆ ๏ป‹๏ปจ๏บช๏ปซ๏บŽ
Maka menangislah Hasan, seraya mohon diri keluar dari rumahnya.

Sumber : Durrotun Nasihin : 22
Wallahu A'lam Bish-Showab.

Hikam matan ke 253_256

 *A L   H I K A M*
Karya Syekh Ibnu Athoillah As Sakandary
ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ูˆุฃุนุงุฏ ุนู„ูŠู†ุง ู…ู† ุจุฑูƒุงุชู‡ ูˆู†ูุนู†ุง ุจุนู„ูˆู…ู‡ ูˆุฃู…ุฏู†ุง ุจู…ุฏุฏู‡

Hikmah 253- 256
TAWADHU' (2)*
(Lanjutan)

٭ ๏ปปَ๏ปณُ๏บจ๏บฎِ๏บŸ๏ปšَ ๏ป‹๏ปฆٍ ๏บ๏ปŸ๏ปฎَ๏บป๏ป’ِ ๏บ๏ปปَ ๏บทُ๏ปฌ๏ปฎ๏บฉُ ๏บ๏ปŸ๏ปฎَ๏บป๏ป’ِ ٭
253. “ Tidak ada sesuatu yang bisa mengeluarkan /melepaskan dari sifat-sifat (nafsu)mu, kecuali jika kamu melihat sifat-sifat Alloh.”
Tidak ada yang bisa mengeluarkan /melepaskan dari sifat-sifatmu yang tercela, kecuali jika kamu melihat kemuliaan Alloh, Tidak ada yang bisa mengeluarkan /melepaskan kamu dari melihat sifat-sifatmu yang baru(sifat makhluk/hadits), kecuali jika kamu melihat sifat Tuhanmu yang qodim (dahulu), Tidak ada yang bisa mengeluarkan /melepaskan kamu dari melihat perbuatanmu, kecuali jika kamu melihat perbuatan Alloh (Fi’lu-lloh), dan dari melihat sifat-sifatmu dengan cara melihat sifat-sifat Alloh, dari melihat dzatmu dengan cara menyaksikan Dzat Alloh.
Al-hasil : Selama engkau tidak melihat/memperhatikan sifat-sifat ketuhanan, kebesaran, kekuasaan dan keagungan
Alloh, maka selama itu juga engkau akan merasa besar, kuasa dan sombong. Dan selama engkau tidak melihat sifat kesempurnaan Alloh, maka selama itu juga engkau tidak merasa dan mengakui sifat kurang, hina dan kehambaan dirimu terhadap
Alloh.

 ٭ ุงู„ู…ُูˆุกู…ู† ُ ูŠُุดุบِู„ُู‡ُ ุงู„ุซู†ุงุกُ ุนู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ِ ุชุนุงู„ู‰ุนู† ุงู† ูŠูƒูˆู†َ ู„ู†ูุณู‡ ุดุงูƒุฑุงً ูˆَุชُุดุบِู„ُู‡ُ ุญู‚ูˆู‚ُ ุงู„ู„ู‡ِ ุนู† ุงู† ูŠูƒูˆู†َ ู„ِุญُุธูˆุธู‡ِ ุฐูƒِุฑุงً ٭

254. “ Orang mukmin yang sempurna ituselalu sibuk memuji syukur kepada Alloh,sehingga lupa dan tidak sempat memujidiri sendiri, dan mereka sibuk menunaikan kewajiban-kewajiban yang menjadi hak Alloh, sehingga lupa akan kepentingannya sendiri.”
Memuji diri itu berarti merasa telah berbuat amal kebaikan. Karena seorang mukmin yang sejati itu, ia tidak merasa mempunyai kebaikan sendiri,ia sadar semua itu semata-mata anugerah dan pemberian dari Alloh, sehingga apabila ada orang yang memuji dia atau berterima kasih pada dia atas perbuatan yang telah ia lakukan, ia langsung mengembalikan pujian itu kepada Alloh pemilik pujian yang hakiki.Orang mukmin yang sejati itu selalu sibuk dengan kewajiban yang menjadi hak Alloh, sehingga ia tidak ingat dengan kepentingannya sendiri, dan kepentingan nafsunya, karena ibadahnya hanya karena mengagungkan dan memuji pada Alloh, tidak karena balasan atau ingin surga dan takut neraka.

٭ ู„ูŠุณ ุงู„ู…ุญุจُّุงู„ุฐูŠ ูŠุฑุฌُูˆู† ู…ู† ู…َุญْْุจُูˆุจู‡ ุนูˆุงุถุงً ุงูˆ ูŠุทู„ُุจُ ู…ู†ู‡ُ ุบุฑุถุงً ูุงِู†َّ ุงู„ู…ุญุจُّ ู…ู† ูŠَุจْุฐู„ُ ู„ูƒ ู„ูŠุณَ ุงู„ู…ุญุจُّู…ู† ุชَุจْุฐ ُู„ُ ู„ู‡ُ ٭

255. “ Orang yang cinta sejati itu bukanlah orang yang mengharapkan balasan dari yang dicintai atau berhasilnya apa yang dimaksud, tetapi sesungguhnya orang yang cinta sejati itu orang yang memberi kepadamu bukan orang yang mengharap pemberianmu kepadanya.”
Alloh benar-benar mencintai hambanya, dengan bukti Alloh telah memberikan kepada hambanya Nikmatnya, yang pertama nikmat Ijad (dijadikan) dan yang kedua nikmat Imdad (kelanjutannya), dan memberikan semua yang menjadi kebutuhan hambanya. Firman Alloh:
ูˆุฃุชู‰ูƒู… ู…ู† ูƒู„ ู…ุง ุณุฃู„ุชู…ูˆู‡
 "Dan Aku berikan kepadamu semua apa yang menjadi permintaanmu.”
Dan firman Allohl agi :
ุฎู„ู‚ ู„ูƒู… ู…ุง ูู‰ ุงู„ุฃุฑุถ ุฌู…ูŠุนุง
 “(Alloh) telah menciptakan untuk kamu semua apa-apa yang ada dibumi semuanya.”
 Dan Alloh sama sekali tidak mengharap balasan/ imbalan dari hambanya sama sekali.Sebaliknya bila kamu mengaku cinta kepada Alloh haruslah sanggup menyerahkan semuanya termasuk ibadah dan amal sholihmu kepada Allohyang tanpa mengharap imbalan apa saja dari Alloh.
Syeikh Abu Abdulloh Al-Qurasyi berkata: Hakikat cinta itu, bila engkau telah dapat memberikan keseluruhanmu kepada yang engkau cintai, sehingga tidak ada sisa apa-apa bagimu.Alloh telah mewahyukan kepada Nabi Isa as. : Apabila aku melihat hati hambaKu, tidak ada padanya cinta duniadan Akhirat, niscaya aku penuhi hati itu dengan dengan cinta kepadaku.
Wahyu Alloh kepada Nabi Dawud as. : Hai Dawud, sungguh Aku telah mengharamkan cinta-Kuuntuk masuk kedalam hati dimana hati itu ada cinta selain Aku.

٭ ู„َูˆู„ุง ู…ูŠุงุฏูŠู†ُ ุงู„ู†ُّููˆุณِ ู…ุง ุชุญู‚ู‚ ุณูŠุฑُ ุงู„ุณุงุกุฑูŠู† ุงุฐู„ุง ู…ุณุงูุฉَ ุจูŠู†ูƒَ ูˆุจูŠู†ู‡ُ ุชุทْูˆِูŠู‡ุงَ ุฑِุญู„ุชู€ُูƒَ ูˆู„ุง ู‚ุทَุนุฉَ ุจูŠู†ูƒَ ูˆุจูŠู†ู‡ُ ุญุชู‰َّ ุชู…ุญُูˆ ู‡ุง ูˆุตู„ุชู€َูƒَ ٭

256. “Andaikan tidak ada lapangan(medan) perjuangan melawan hawa nafsu, pasti tidak dapat terbukti perjalanan suluk menujuAlloh,sebab tidak ada jarak antaramu dengan Alloh sehingga harus ditempuh dengan perjalanan, dan tidak pernah putus antara dirimu dengan Alloh sehingga harus disambung dengan wushulmu.”
Syeikh Ibnu Atoillah ra. berkata : manusia itu dibagi menjadi dua bagian :
1.Manusia yang tidak punya perjalanan, yakni tidak berjalan menuju Alloh. Yaitu orang-orang yang berhenti pada lahirnya syariat, dan semua yang diperbolehkan oleh syariat, baik berat ataupun ringan menurut hawa nafsunya, tetapi mereka hanya memilih yang ringan saja, karena mengharap rukhshoh keringanan dan kemudahan syariat, dan yang demikian itu tidak bisa merubah kebiasaan nafsu dan syahwatnya.
2.Manusia yang selalu mengarahkankan hawa nafsunya kepada Alloh yang maha raja, dan mengalahkan hawa nafsunya, mereka selalu menghadap ke-Hadhrotulloh, selalu sibuk memerangi dan meneliti hawa nafsunya, mereka selalu mengerjakan perintah/ perkara yang berat, dan menjauhi memilih perkarayang ringan, dan selalu mendawamkannya sehingga nafsunya ridho dan lembut.
Syeikh Abu Usman al-Hairy berkata : seseorang itu tidak sempurna kecuali hatinya condong pada empat perkara :
 1. Penolakan(tidak diberi).
 2. Pemberian.
3. Kemulyaan.
4. Kehinaan.
 Yakni : ia dalam kondisi hina tapi merasakan kemulyaan, dan ia tidak diberi (ditolak) tapi ia merasakan pemberian.Hakikat hilagnya hawa nafsu dari hati yaitu: setiap saat/nafasnya selalu cinta/ rindu bertemu denganAlloh, tanpa memilih keadaan yang ada padanya, apabila murid ada tanda-tanda seperti itu dalam nafsunya benar-benar ia telah keluar dari alam jinisnya (hawa nafsu), dan sudah wushul kepada Alloh. Dan apabila tanda itu belum ada pada murid maka ia harus menetapi perjalanannya.
Syeikh Abul qosim Al-Qusyaery berkata : Hakikat membunuh hawa nafsu itu ialah lepas bebas dari tipudayanya, dan tidak memperhatikan sesuatu yang timbul dari padanya, dan menolak segala pengakuan-pengakuannya, dan tidak sibuk untuk mengaturnya, dan tetap menyerahkan segala urusannya kepada Alloh. Dengan melepaskan ikhtiar/usaha dan kehendak sendiri, sehingga lenyap dan terhapus semua pengaruhhawa nafsu itu terhadap kemanusiaannya. Adapun sisa-sisa yang berupa gambaran dan keraangka (hawa nafsu) itu tidak berbahaya. Demikianlah jalan untuk membunuh/mengalahkan hawa nafsu, yang dapat segera dapat mencapai Hadhrotal Qudsy.sebab tidak ada jarak antaramu dengan Alloh sehingga harus ditempuh dengan perjalanan, dan tidak pernah putus antara dirimu dengan Alloh sehingga harus disambung dengan wushulmu, kecuali sebah hijab/ tutup berupa hawa nafsu.

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ
ูˆุงู„ู„ู‡ ูˆู„ูŠ ุงู„ุชูˆููŠู‚ ูˆุงู„ู‡ุฏุงูŠุฉ
ูˆู„ุงุญูˆู„ ูˆู„ุงู‚ูˆุฉ ุฅู„ุงุจุงู„ู„ู‡ ุงู„ุนู„ูŠ ุงู„ุนุธูŠู…

Semoga bermanfaat..

42 RAHASIA DAHSYATNYA SHOLAWAT

Dalam Kitab AsSafinah Al Qadir iyah, Syeikh Abdul Qadir Al Jailani menjelaskan tentang keutamaan-keutaman bershalawat kepada Rasulullah SAW dengan merujuk apa yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Furhan dalam kitab Haqa’iq Al Anwar. Beliau menyebut 42 keutamaan dan keuntungan bershalawat kepada Nabi. Menurutnya, Membaca shalawat kepada Nabi membuahkan banyak faedah yang bisa dipetik oleh seorang hamba:
1. Bershalawat untuk Nabi berarti melaksanakan perintah Allah SWT.
2. Bershalawat untuk Nabi berarti meniru Allah yang bershalawat kepada Nabi.
3. Bershalawat untuk Nabi berarti meniru malaikat-malaikat-Nya yang bershalawat kepada Nabi.
4. Mendapat balasan 10 kali lipat shalawat dari Allah SWT untuk diri kita pada setiap shalawat yang kita ucapkan.
5. Allah akan mengangkat derajat orang yang membaca shalawat 10 tingkat lebih tinggi..
6. Mendapat 10 catatan kebaikan.
7. Allah SWT menghapuskan 10 dosa keburukan.
8. Berpeluang besar doanya akan dikabulkan Allah SWT.
9. Shalawat adalah syarat utama mendapat syafaat dari Rasulullah SAW.
10. Shalawat adalah syarat untuk mendapat ampunan Allah dan akan ditutup segala aib.
11. Shalawat adalah syarat untuk memperoleh perlindungan dari segala hal yang ditakutinya.
12. Shalawat adalah syarat seseorang dapat dekat kepada Rasulullah SAW.
13. Nilai shalawat sama dengan nilai sedekah.
14. Shalawat adalah alasan bagi Allah dan para malaikat untuk membacakan shalawat balasan.
15. Shalawat adalah syarat kesucian jiwa dan raga bagi pembacanya.
16. Terpenuhinya segala keinginan.
17. Shalawat adalah alasan seseorang mendapat kabar baik bahwa dirinya kelak akan memperoleh surga.
18. Shalawat adalah faktor memperoleh keselamatan di Hari Kiamat.
19. Shalawat adalah alasan bagi Rasulullah SAW untuk mengucapkan shalawat balasan.
20. Shalawat dapat membuat pembacanya teringat akan semua hal yang dilupakannya.
21. Shalawat dapat membuat harumnya sebuah majelis pertemuan dan orang-orang yang hadir tidak mendapat kerugian di Hari Kiamat kelak.
22. Shalawat dapat menghilangkan kemiskinan dan kefakiran bagi pembacanya.
23. Shalawat dapat menghapus julukan orang kikir ketika shalawat dibacakan.
24. Shalawat menjadi penyelamat dari doa ancaman Rasulullah bagi orang yang membaca shalawat ketika namanya disebutkan.
25. Shalawat akan mengiringi perjalanan pembacanya kelak di atas jembatan menuju surga dan akan menjauh dari orang yang tidak membacanya.
26. Shalawat akan menghilangkan keburukan-keburukan di suatu majelis pertemuan yang tidak dimulai dengan menyebut nama Allah dan Rasul-Nya.
27. Shalawat adalah penyempurna pahala dari sebuah percakapan yang dimulai dengan menyebut nama Allah dan membaca shalawat kepada Rasul-Nya.
28. Shalawat adalah faktor yang dapat menyelematkan seorang hamba ketika berada di atas jembatan menuju surga.
29. Shalawat menghapus status sebagai pembenci shalawat.
30. Shalawat adalah alasan bagi Allah untuk mengumumkan pujian baiknya kepada pembaca shalawat tersebut di hadapan semua makhluk, baik di bumi maupun di langit.
31. Shalawat dapat mendatangkan rahmat Allah.
32. Shalawat dapat mendatangkan berkah.
33. Shalawat dapat melanggengkan dan mempertebal cinta kepada Rasulullah SAW dimana cinta ini merupakan simpul pokok keimanan.Dan, keimanan seseorang belum sempurna tanpa adanya cinta kepada Nabi.
34. Shalawat dapat memikat hati Rasulullah agar mencintai dirinya.
35. Shalawat mendatangkan hidayah dan menghidupkan hati yang telah mati.
36. Shalawat adalah syarat agar nama pembacanya disebut-sebut di hadapan Rasulullah SAW.
37. Shalawat dapat memantapkan iman dan Islam serta membacanya sama dengan memberi hak yang layak diterima oleh Rasulullah SAW.
38. Shalawat merupakan bentuk syukur kita atas segala nikmat dari Allah SWT.
39. Bacaan shalawat mengandung dzikir, syukur dan pengakuan atas nikmat Allah SWT.
40. Shalawat yang dibaca seorang hamba adalah bentuk doa dan permohonan kepada Allah, terkadang doa itu dipersembahkan kepada Nabi SAW dan tak jarang pula untuk dirinya sendiri, karena shalawat dapat mendatangkan tambahan pahala.
41. Shalawat adalah buah yang paling manis dan faedah paling utama yang dapat didatangkan dari pembacaan shalawat atas Nabi adalah melekatnya gambaran seorang Nabi yang mulia di dalam jiwa pembacanya.
42. Memperbanyak bacaan shalawat atas Nabi SAW menjadikan dirinya satu tingkatan dengan derajat seorang Syeikh Murabbi (guru spiritual).

(As Safinah Al Qadiriyah Li Asy Syaikh ‘Abd Qadir Al Jailani Al Hasani)

ALLAHUMMA ShOLLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN WA ‘ALAA AALIHI WA ShOHBIHI WA SALLIM ‘ADADA KULLI DzARROTIN ALFA MARROH.

Artinya: Ya Allah berilah shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan kepada keluarganya dan shahabatnya sebanyak tiap-tiap debu/dzarrah seribu kali.

Bacalah shalawat tersebut sebanyak-banyaknya selama di bulan Rabi’ul Awwal ini, kalau dapat bacalah setiap harinya 300x atau minimal 100x.

Sumber;
Alfaqir (Habib Muhammad Shulfi bin Abunawar Al ‘Aydrus)

Sabtu, 11 November 2017

DETIK-DETIK WAFATNYA SITI KHADIJAH, ISTRI TERCINTA RASULULLAH

Siti Khadijah adalah istri pertama Rasulullah. Orang yang pertama kali beriman kepada ALLAH dan kenabian Rasulullah. Orang yang sangat berjasa bagi dakwah Rasulullah dan penyebaran agama Islam.

Siti Khadijah wafat pada hari ke-11 bulan Ramadlan tahun ke-10 kenabian, tiga tahun sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah. Khadijah wafat dalam usia 65 tahun, saat usia Rasulullah sekitar 50 tahun.

PERMINTAAN TERAKHIR

Diriwayatkan, ketika Khadijah sakit menjelang ajal, Khadijah berkata kepada Rasululllah SAW,

Aku memohon maaf kepadamu, Ya Rasulullah, kalau aku sebagai istrimu belum berbakti kepadamu.

Jauh dari itu ya Khadijah. Engkau telah mendukung dawah Islam sepenuhnya, jawab Rasulullah

Kemudian Khadijah memanggil Fatimah Azzahra dan berbisik,

Fatimah putriku, aku yakin ajalku segera tiba, yang kutakutkan adalah siksa kubur. Tolong mintakan kepada ayahmu, aku malu dan takut memintanya sendiri, agar beliau memberikan sorbannya yang biasa untuk menerima wahyu agar dijadikan kain kafanku.

Mendengar itu Rasulullah berkata,

Wahai Khadijah, ALLAH menitipkan salam kepadamu, dan telah dipersiapkan tempatmu di surga.

Ummul mukminin, Siti Khadijah pun kemudian menghembuskan nafas terakhirnya dipangkuan Rasulullah. Didekapnya istri Beliau itu dengan perasaan pilu yang teramat sangat. Tumpahlah air mata mulia Beliau dan semua orang yang ada disitu.

KAIN KAFAN DARI ALLAH

Saat itu Malaikat Jibril turun dari langit dengan mengucap salam dan membawa lima kain kafan. Rasulullah menjawab salam Jibril dan kemudian bertanya,

Untuk siapa sajakah kain kafan itu, ya Jibril?

Kafan ini untuk Khadijah, untuk engkau ya Rasulullah, untuk Fatimah, Ali dan Hasan jawab Jibril. Jibril berhenti berkata dan kemudian menangis.

Rasulullah bertanya, Kenapa, ya Jibril?

Cucumu yang satu, Husain tidak memiliki kafan, dia akan dibantai dan tergeletak tanpa kafan dan tak dimandikan sahut Jibril.

Rasulullah berkata di dekat jasad Khadijah,

Wahai Khadijah istriku sayang, demi ALLAH, aku takkan pernah mendapatkan istri sepertimu. Pengabdianmu kepada Islam dan diriku sungguh luar biasa. ALLAH maha mengetahui semua amalanmu.

"Semua hartamu kau hibahkan untuk Islam. Kaum muslimin pun ikut menikmatinya. Semua pakaian kaum muslimin dan pakaianku ini juga darimu.

"Namun begitu, mengapa permohonan terakhirmu kepadaku hanyalah selembar sorban?

Tersedu Rasulullah mengenang istrinya semasa hidup.

Seluruh kekayan Khadijah diserahkan kepada Rasulullah untuk perjuangan agama Islam. Dua per tiga kekayaan Kota Mekkah adalah milik Khadijah. Tetapi ketika Khadijah hendak menjelang wafat, tidak ada kain kafan yang bisa digunakan untuk menutupi jasad Khadijah.

Bahkan pakaian yang digunakan Khadijah ketika itu adalah pakaian yang sudah sangat kumuh dengan 83 tambalan diantaranya dengan kulit kayu.

Rasulullah kemudian berdoa kepada ALLAH.

Ya ALLAH, ya Ilahi Rabbi, limpahkanlah rahmat-Mu kepada Khadijahku, yang selalu membantuku dalam menegakkan Islam. Mempercayaiku pada saat orang lain menentangku. Menyenangkanku pada saat orang lain menyusahkanku. Menentramkanku pada saat orang lain membuatku gelisah. Oh Khadijahku sayang, kau meninggalkanku sendirian dalam perjuanganku. Siapa lagi yang akan membantuku?

Tiba-tiba Ali berkata, Aku, Ya Rasulullah!

PENGORBANAN SITI KHADIJAH SEMASA HIDUP

Dikisahkan, suatu hari ketika Rasulullah pulang dari berdakwah, Beliau masuk ke dalam rumah. Khadijah menyambut, dan hendak berdiri di depan pintu. Ketika Khadijah hendak berdiri, Rasulullah bersabda,

Wahai Khadijah tetaplah kamu ditempatmu.

Ketika itu Khadijah sedang menyusui Fatimah yang masih bayi.

Saat itu seluruh kekayaan mereka telah habis. Seringkali makananpun tak punya. Sehingga ketika Fatimah menyusu, bukan air susu yang keluar akan tetapi darah. Darahlah yang masuk dalam mulut Fatimah r.a.

Kemudian Beliau mengambil Fatimah dari gendongan istrinya lalu diletakkan di tempat tidur. Rasulullah yang lelah seusai pulang berdakwah dan menghadapi segala caci maki dan fitnah manusia itu lalu berbaring di pangkuan Khadijah.

Rasulullah tertidur. Ketika itulah Khadijah membelai kepala Rasulullah dengan penuh kelembutan dan rasa sayang. Tak terasa air mata Khadijah menetes di pipi Rasulullah. Beliau pun terjaga.

Wahai Khadijah Mengapa engkau menangis? Adakah engkau menyesal bersuamikan aku, Muhammad? tanya Rasulullah dengan lembut.

Dahulu engkau wanita bangsawan, engkau mulia, engkau hartawan. Namun hari ini engkau telah dihina orang. Semua orang telah menjauhi dirimu. Seluruh kekayaanmu habis. Adakah engkau menyesal wahai Khadijah bersuamikan aku, Muhammad?" lanjut Rasulullah tak kuasa melihat istrinya menangis.

Wahai suamiku. Wahai Nabi ALLAH. Bukan itu yang kutangiskan." jawab Khadijah.

"Dahulu aku memiliki kemuliaan. Kemuliaan itu telah aku serahkan untuk Allah dan RasulNya. Dahulu aku adalah bangsawan. Kebangsawanan itu juga aku serahkan untuk Allah dan RasulNya. Dahulu aku memiliki harta kekayaan. Seluruh kekayaan itupun telah aku serahkan untuk Allah dan RasulNya.

"Wahai Rasulullah. Sekarang aku tak punya apa-apa lagi. Tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini. Wahai Rasulullah. Sekiranya nanti aku mati sedangkan perjuanganmu ini belum selesai, sekiranya engkau hendak menyebrangi sebuah lautan, sekiranya engkau hendak menyebarangi sungai namun engkau tidak memperoleh rakit pun atau pun jembatan.

"Maka galilah lubang kuburku, ambilah tulang belulangku. Jadikanlah sebagai jembatan untuk engkau menyebrangi sungai itu supaya engkau bisa berjumpa dengan manusia dan melanjutkan dakwahmu.

"Ingatkan mereka tentang kebesaran Allah. Ingatkan mereka kepada yang hak. Ajak mereka kepada Islam, wahai Rasulullah.

Karena itu, peristiwa wafatnya Siti Khadijah sangat menusuk jiwa Rasulullah. Alangkah sedih dan pedihnya perasaan Rasulullah ketika itu karena dua orang yang dicintainya yaitu istrinya Siti Khadijah dan pamannya Abu Thalib telah wafat.

Tahun itu disebut sebagai Aamul Huzni (tahun kesedihan) dalam kehidupan Rasulullah.

Ilaa hadlratin Nabiyyil musthafa, wa ilaa Khadijah al Kubra, al Fatihah.

Sumber;
Tulisan Ustadz Zainul Hakim pada WA group Masjid Al Istiqomah.
Kitab Al Busyro, yang ditulis Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliky al Hasani.

Selasa, 07 November 2017

Shalawat


Alloohumma sholli wa sallim ‘alaa sayyidinaa
Muhammadinil basyiiril mubasysyiri lil muqorrobiin
Bimaa qoolalloohul azhiim,
Innal ladziina sabaqot lahum minnaal husnaa
Ulaa-ika ‘anhaa mub’aduun.
Laa yasma’uuna hasiisahaa wa hum fii maasytahat
anfusahum khooliduun.
Laa yahzunuhumul faza’ul akbaru
Wa tatalaqqoohumul malaa-ikatu
Haadzaa yawmukumul ladzii kuntum tuu’aduun.

Ya Alloh, limpahkanlah kesejahteraan dan kedamaian
kepada junjungan kami, Muhammad,
sang pembawa dan penyampai kabar gembira
kepada orang – orang yang didekatkan (kepada Alloh),
sebagaimana firman Alloh SWT :
Sesungguhnya orang – orang yang lebih dulu
memperoleh kebaikan dari kami,
mereka itu di jauhkan dari neraka.
Mereka tidak mendengar sedikitpun suara api neraka,
dan mereka kekal dalam menikmati apa mereka inginkan.
Mereka tidak di susahkan oleh kedahsyatan yang besar
( pada hari kiamat ),
dan mereka di sambut oleh para malaikat :
“inilah harimu yang telah di janjikan kepadamu.”
( QS 21 : 101 – 103 )

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1016396508503466&id=100003993801674

Senin, 06 November 2017

Hadits, orang mati dapat mendengar

_*๐Ÿ•ŒRasulullah SAW. Pernah Berbicara Dengan Orang Yang Sudah Mati, Yaitu Kepada Orang-orang Kafir Qurais Yang Mati Dalam Perang Badar๐ŸŒŸ*_
*๐ŸŒŸMereka Dapat Mendengar, Bahkan Lebih Bisa Mendengar Dari Kita, Hanya Saja Mereka Tidak Bisa Menjawab๐Ÿ•Œ*_
===================
ุญَุฏَّุซَู†َุง ู‡َุฏَّุงุจُ ุจْู†ُ ุฎَุงู„ِุฏٍ ุญَุฏَّุซَู†َุง ุญَู…َّุงุฏُ ุจْู†ُ ุณَู„َู…َุฉَ ุนَู†ْ ุซَุงุจِุชٍ ุงู„ْุจُู†َุงู†ِูŠِّ ุนَู†ْ ุฃَู†َุณِ ุจْู†ِ ู…َุงู„ِูƒٍ
ุฃَู†َّ ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุชَุฑَูƒَ ู‚َุชْู„َู‰ ุจَุฏْุฑٍ ุซَู„َุงุซًุง ุซُู…َّ ุฃَุชَุงู‡ُู…ْ ูَู‚َุงู…َ ุนَู„َูŠْู‡ِู…ْ ูَู†َุงุฏَุงู‡ُู…ْ ูَู‚َุงู„َ ูŠَุง ุฃَุจَุง ุฌَู‡ْู„ِ ุจْู†َ ู‡ِุดَุงู…ٍ ูŠَุง ุฃُู…َูŠَّุฉَ ุจْู†َ ุฎَู„َูٍ ูŠَุง ุนُุชْุจَุฉَ ุจْู†َ ุฑَุจِูŠุนَุฉَ ูŠَุง ุดَูŠْุจَุฉَ ุจْู†َ ุฑَุจِูŠุนَุฉَ ุฃَู„َูŠْุณَ ู‚َุฏْ ูˆَุฌَุฏْุชُู…ْ ู…َุง ูˆَุนَุฏَ ุฑَุจُّูƒُู…ْ ุญَู‚ًّุง ูَุฅِู†ِّูŠ ู‚َุฏْ ูˆَุฌَุฏْุชُ ู…َุง ูˆَุนَุฏَู†ِูŠ ุฑَุจِّูŠ ุญَู‚ًّุง ูَุณَู…ِุนَ ุนُู…َุฑُ ู‚َูˆْู„َ ุงู„ู†َّุจِูŠِّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ูَู‚َุงู„َ ูŠَุง ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„َّู‡ِ ูƒَูŠْูَ ูŠَุณْู…َุนُูˆุง ูˆَุฃَู†َّู‰ ูŠُุฌِูŠุจُูˆุง ูˆَู‚َุฏْ ุฌَูŠَّูُูˆุง ู‚َุงู„َ ูˆَุงู„َّุฐِูŠ ู†َูْุณِูŠ ุจِูŠَุฏِู‡ِ ู…َุง ุฃَู†ْุชُู…ْ ุจِุฃَุณْู…َุนَ ู„ِู…َุง ุฃَู‚ُูˆู„ُ ู…ِู†ْู‡ُู…ْ ูˆَู„َูƒِู†َّู‡ُู…ْ ู„َุง ูŠَู‚ْุฏِุฑُูˆู†َ ุฃَู†ْ ูŠُุฌِูŠุจُูˆุง ุซُู…َّ ุฃَู…َุฑَ ุจِู‡ِู…ْ ูَุณُุญِุจُูˆุง ูَุฃُู„ْู‚ُูˆุง ูِูŠ ู‚َู„ِูŠุจِ ุจَุฏْุฑٍ
ุญَุฏَّุซَู†ِูŠ ูŠُูˆุณُูُ ุจْู†ُ ุญَู…َّุงุฏٍ ุงู„ْู…َุนْู†ِูŠُّ ุญَุฏَّุซَู†َุง ุนَุจْุฏُ ุงู„ْุฃَุนْู„َู‰ ุนَู†ْ ุณَุนِูŠุฏٍ ุนَู†ْ ู‚َุชَุงุฏَุฉَ ุนَู†ْ ุฃَู†َุณِ ุจْู†ِ ู…َุงู„ِูƒٍ ุนَู†ْ ุฃَุจِูŠ ุทَู„ْุญَุฉَ ุญ ูˆ ุญَุฏَّุซَู†ِูŠู‡ِ ู…ُุญَู…َّุฏُ ุจْู†ُ ุญَุงุชِู…ٍ ุญَุฏَّุซَู†َุง ุฑَูˆْุญُ ุจْู†ُ ุนُุจَุงุฏَุฉَ ุญَุฏَّุซَู†َุง ุณَุนِูŠุฏُ ุจْู†ُ ุฃَุจِูŠ ุนَุฑُูˆุจَุฉَ ุนَู†ْ ู‚َุชَุงุฏَุฉَ ู‚َุงู„َ ุฐَูƒَุฑَ ู„َู†َุง ุฃَู†َุณُ ุจْู†ُ ู…َุงู„ِูƒٍ ุนَู†ْ ุฃَุจِูŠ ุทَู„ْุญَุฉَ ู‚َุงู„َ ู„َู…َّุง ูƒَุงู†َ ูŠَูˆْู…ُ ุจَุฏْุฑٍ ูˆَุธَู‡َุฑَ ุนَู„َูŠْู‡ِู…ْ ู†َุจِูŠُّ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุฃَู…َุฑَ ุจِุจِุถْุนَุฉٍ ูˆَุนِุดْุฑِูŠู†َ ุฑَุฌُู„ًุง ูˆَูِูŠ ุญَุฏِูŠุซِ ุฑَูˆْุญٍ ุจِุฃَุฑْุจَุนَุฉٍ ูˆَุนِุดْุฑِูŠู†َ ุฑَุฌُู„ًุง ู…ِู†ْ ุตَู†َุงุฏِูŠุฏِ ู‚ُุฑَูŠْุดٍ ูَุฃُู„ْู‚ُูˆุง ูِูŠ ุทَูˆِูŠٍّ ู…ِู†ْ ุฃَุทْูˆَุงุกِ ุจَุฏْุฑٍ ูˆَุณَุงู‚َ ุงู„ْุญَุฏِูŠุซَ ุจِู…َุนْู†َู‰ ุญَุฏِูŠุซِ ุซَุงุจِุชٍ ุนَู†ْ ุฃَู†َุณٍ

Telah menceritakan kepada kami Hadbah bin Khalid telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Tsabit Al Bunani dari Anas bin Malik
*Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam meninggalkan jenazah perang Badar tiga kali, setelah itu beliau mendatangi mereka, beliau berdiri dan memanggil-manggil mereka, beliau bersabda:*
*"Hai Abu Jahal bin Hisyam, hai Umaiyah bin Khalaf, hai Utbah bin Rabi'ah, hai Syaibah bin Rabi'ah, bukankah kalian telah menemukan kebenaran janji Rabb kalian, sesungguhnya aku telah menemukan kebenaran janji Rabbku yang dijanjikan padaku." Umar mendengar ucapan nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam, ia berkata: Wahai Rasulullah, bagaimana mereka mendengar dan bagaimana mereka menjawab, mereka telah menjadi bangkai? Beliau bersabda: "Demi Dzat yang jiwaku berada ditanganNya, kalian tidak lebih mendengar ucapanku melebihi mereka, hanya saja mereka tidak bisa menjawab.*
Setelah itu beliau memerintahkan, mereka diseret lalu dilemparkan di sumur Badar. Telah menceritakan kepadaku Yusuf bin Hammad Al Ma'ni telah menceritakan kepada kami Abdul A'la dari Sa'id dari Qatadah dari Anas bin Malik dari Abu Thalhah. Telah menceritakannya kepadaku Muhammad bin Hatim telah menceritakan kepada kami Rauh bin Ubadah telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Abu Urubah dari Qatadah berkata: Anas bin Malik menyebutkan kepada kami dari Abu Thalhah berkata: Saat perang Badar dan nabi Allah menang mengalahkan mereka, beliau memerintahkan duapuluh sekian orang -hadits Rauh menyebut duapuluh empat pembesar Quraisy- lalu dilemparkan ke salah satu sumur Badar. Ia menyebut hadits yang semakna dengan hadits Tsabit bin Anas.
(HR. Muslim: 5121) - http://hadits.in/muslim/5121

*********๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ*********
Sumber ;

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=870043069838096&id=100004972333273

Terminologi Guru

​8 ISTILAH GURU YANG KITA TEMUI DALAM PERJALANAN KITA MENUNTUT ILMU

Terdapat setidaknya delapan istilah merujuk kepada guru" (semuanya dalam bahasa Arab)

1. Mursyid yaitu guru yang mampu memberikan petunjuk (irsyad) tergantung kepada kemampuan murid" nya.

2. Sheikh yaitu nama yang sering dianggap sebagai pimpinan para guru atau pengarah. Lazimnya gelaran Sheikh juga digunakan kepada guru Senior.

3. Murabbi yaitu orang yang mengajarkan ilmu bersifat pendidikan jiwa (tarbiah).

4. Maulana yaitu gelar guru yang sudah mencapai derajat tinggi atau status tertentu seperti Professor.

5. Mu’alim yaitu guru umum yang memberikan ilmu" peringkat dasar.

6. Mudarris yaitu pengurus suatu pengajian ilmu (darasah, juga dikaitkan dengan madrasah).

7. Mu’addib yaitu guru yang mengajar adab (tata susila). Manusia juga dipanggil addib dalam hubungan dengan Khaliq (Penciptanya).

8. Ustadz yaitu panggilan "mesra" juga agak umum untuk karir guru. Ia lazim digunakan diwilayah terutama diIndonesia, Singapura, Malaysia dan Brunei. Tetapi di Indonesia sering ustadz disebut juga Kiai.

Note: ini bukanlah untuk membeda"kan derajat guru, karena derajat sebenarnya hanya diketahui oleh Allah.

Minggu, 05 November 2017

Hikam

 *A L   H I K A M*
Karya Syekh Ibnu Athoillah As Sakandary
ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ูˆุฃุนุงุฏ ุนู„ูŠู†ุง ู…ู† ุจุฑูƒุงุชู‡ ูˆู†ูุนู†ุง ุจุนู„ูˆู…ู‡ ูˆุฃู…ุฏู†ุง ุจู…ุฏุฏู‡

             HIKMAH 243-245
*ILMU YANG BERMANFAAT*

٭ ุงู„ุนู„ู…ُ ุงู„ู†َّุงูุนُ ู‡ُูˆَุงู„َّุฐู‰ ูŠَู†ْุจَุณِุทُ ูู‰ِ ุงู„ุตَّุฏْุฑِ ุดุนุงุนู‡ُ ูˆَูŠَู†ูƒَุดِูُ ุจู‡ِ ุนู† ุงู„ู‚ู„ุจِ ู‚ู†ุงุนู‡ُ ٭

243 “ Ilmu yang bermanfaat yaitu ilmu yang sinarnya bisa meluas dalam dada, dan bisa membuka penutup hati.
”Ilmu yang manfaat yaitu ilmu hati, yang bisa membersihkanhati dari kotoran-kotoran hati, mulai dari aibnya nafsu, aibnya hati, aibnya ruh, dan aibnya sir, dan setelah bersih akan terisi dengan sifat kamal, seperti iman, yaqin,tumu’ninah, muroqobah, musyahadah dan akhlaq-akhlaq hasanah lainnya.
Sinarnya ilmu yang meluas didada yaitu munculnya yaqin, ridho, taslim (pasrah), merasakan manisnya iman, dan munculnya ma’rifat, dan itu semua akan menimbulkan rasa takut dan malu kepada Alloh, tenang dan tumu’ninah dan akhlaq-akhlaq hasanah lainnya.
Dan ilmu yang bisa membuka penutup hati seperti ghoflah (lupa kepada Alloh), adapun sebabnya ghoflah yaitu : ridho dengan hawa nafsunya, sebabnya ridho dengan hawa nafsu yaitu : cinta pada dunia,dan cinta dunia itu pangkal daripada dosa/ kesalahan, yang akan menimbulkan hasud, sombong, marah, benci, bakhil, cinta kedudukan, kerasnya hati dansifat-sifat tercela lainnya. Dan barang siapa hatinya telah terbuka dari sifat-sifat tercela tersebut, maka akan muncul sinarnya ilmu. Karena Ilmu billah itu Nur/cahaya dalam hati.
Syeikh Junaid berkata : Ilu itu ialah mengenal Tuhanmu dantidak melampaui kedudukan dirimu (kedudukan hamba).
Nabi Dawud as. Berkata : Ilmudalam dada bagaikan lampu dalam rumah.
 Imam Malik ra berkata : Yang bernama ilmu itu bukannya kepandaian ataubanyaknya meriwayatkan, tetapi ilmu itu hanya Nur yang diturunkan Alloh kedalam hatimanusia, dan berguna untuk mendekatkan diri manusia kepada Alloh, dan menjauhkannya dari kesombaongan

.٭ ุฎูŠุฑُุงู„ุนู„ู…ِ ู…ุงูƒุงู†َุชِ ุงู„ุฎุดูŠَุฉُ ู…ุนู‡ُ ٭

244. “Sebaik-baik ilmu yaitu yang disertai khosyyah( takut yang disertai mengagungkan Alloh).”Ilmu yang tidak disertai khosyyah itu tidak ada kebaikannya sama sekali, sebab khosyyah itu sebagai hujjah/bukinya ilmu.
Alloh berfirman yg artinya : “Sesungguhnya yang benar-benar takut kepada Alloh dari para hambaku itu, hanya orang-orang alim (berilmu)

245. “ Ilmu yang disertai takut kepada Alloh itu yang menguntungkan/manfaat bagimu, dan jika tidak maka itu membahayakan kamu.”
Karena ilmu yang disertai khosyyah (takut dan mengagungkan Alloh), itu akan mencegah manusia dari ghoflah dan semua penyebabnya.
Dan akan menimbulkanb semangat untuk taqorrub kepada Alloh yang akan memperoleh makrifatulloh. Sebaliknya ilmu yang tidak disertai khosyyah, akan menjadi bencana baginya, karena maksiatnya orang berilmu itu jauh lebih jelek dibandingkan maksiatnya orang bodoh.
Rosulullh saw. bersabda : “Kecelakaan bagi orng bodoh itu hanya sekali, dan kecelakaan bagi orang yang berilmu yang tidak mengamalkan ilmunya itu sepuluh kali.”
Beliau juga bersabda : “Akan keluar pada ahir zaman orangyang mencari dunia dengan kedok agama, memperlihatkan dimuka orang bulu domba karena lunak/lemah lembut, lidahnya lebih manis dari madu, tetapi hatinya hati srigala. Alloh akan berkata pada mereka : Apakah kamu akan menentang kepadaKu, atau mempermainkan Aku, maka demi kebesaranKu, Aku akan menurunkan kepada mereka ujian fitnah, sehingga orang yang tenang menjadi kebingungan”.
Sabda Rosul saw. lagi : “Akan tiba suatu masa pada umat manusia, tiada tinggal dari Al-Qur’an kecuali tulisannya saja, dan islam tinggal hanya namanya saja, hati orang-orangnya kosong dari petunjuk hidayah, dan masjid hanya penuh dengan jasad manusia yang tak berhati taqwa, sejahat-jahat manusia waktu itu ialah para ulama’, sebab dari mereka sumber fitnah dan kepada mereka pula kembalinya”
Shohabat Abu-Hurairoh berkata: bersabda Nabi saw. : “Siapa yang belajar ilmu agama, tidak untuk mencapai keridhoan Alloh, tidak mempelajarinya kecuali untuk mencapai kepentingan dunia, maka ia tidak akan mendapat bau surga pada hari kiamat”.
Imam Al-Hasan berkata : Siksa bagi seorang alim yaitu mati hatinya. Ketika ditanya: bagaimana matinya hati itu? Jawabnya : Mencari dunia dengan menjual amal akhirat. Dan lebih jahat lagi jika ia menjilat kepada raja (penguasa) untuk mencari keuntungan dari uang haram atau syubhat, maka yang demikian terang-terangan menantang murka Alloh

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู… ุจุงู„ุตูˆุงุจ
ูˆุงู„ู„ู‡ ูˆู„ูŠ ุงู„ุชูˆููŠู‚ ูˆุงู„ู‡ุฏุงูŠุฉ
ูˆู„ุงุญูˆู„ ูˆู„ุงู‚ูˆุฉ ุฅู„ุงุจุงู„ู„ู‡ ุงู„ุนู„ูŠ ุงู„ุนุธูŠู…

Semoga bermanfaat..

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=869743553201381&id=100004972333273

Jumat, 03 November 2017

Hebron

Hebron adalah nama lain dari al-Khalil, yaitu nama yang disematkan pada Nabi Ibrahim AS. Hebron terkadang disebut pula dengan nama Hebrew. Kota ini terletak di Tepi Barat, Palestina. Ia merupakan salah satu kota terbesar di Tepi Barat, atau sekitar 30 kilometer di selatan Yerusalem.

Hebron merupakan salah satu pusat perdagangan di Tepi Barat. Di wilayah ini banyak diperdagangkan berbagai kebutuhan sehar-hari, seperti anggur, buah ara, kapur, tembikar, dan susu. Kota ini juga
ramai di kunjungi. Sebab, di kota ini terdapat makam Nabi Ibrahim AS dan istrinya, Siti Sarah. Karenanya, Hebron merupakan salah satu kota suci bagi Yahudi, karena Nabi Ishak dan Ya'kub dimakamkan di sini. Juga istri Nabi Ishak yang bernama Ribka, dan istri Nabi Ya'kub, Leah.

Mereka dimakamkam di sebuah gua yang disebut dengan Gua Para Leluhur (Machpelah, Makfilah). Karena itulah, kaum Yahudi menganggap suci kota ini. Di atas gua, dibangun sebuah tempat yang menyerupai masjid dan disebut dengan nama Masjid Ibrahim.

Di dalamnya terdapat makam Ibrahim, Ishak, dan Ya'kub. Setiap makam memiliki bentuk yang berbeda antara makam laki-laki dan makam perempuan. Makam laki-laki berbentuk segi delapan (octagonal) dan persegi enam adalah makam perempuan, seperti makamnya Sarah dan Leah.

Pada era Isa al-Masih, di pemakaman ini dibangun sebuah tembok yang mengelilinginya dan kawasan ini dinamakan dengan Kampung Rumah Ibrahim al-Khalil. Tak salah bila Kota Hebron ini disebut dengan Kota Tiga Nabi, yakni Nabi Ibrahim, Ishak, dan Ya'kub.

Nabi Ibrahim
Sebagaimana disebutkan dalam berbagai buku sejarah para nabi,  sebelum Ibrahim membawa Hajar dan Ismail ke Makkah, mereka tinggal bersama di Hebron. Nabi Ibrahim menetap di kota ini, setelah meninggalkan Kota Babilonia. Di Babilonia, Ibrahim sempat berhadapan dengan Raja Namrudz, karena ia menghancurkan berhala yang menjadi sesembahan masyarakat saat itu.

Saat tinggal di Hebron, istri Nabi Ibrahim, yakni Siti Hajar, melahirkan seorang putra yang diberi nama Ismail. Kelahiran Ismail ini membuat cemburu Siti Sarah, istrinya yang pertama. Maka, demi menjaga keutuhan rumah tangganya, Ibrahim membawa Ismail dan Siti Hajar berhijrah ke Makkah. Di Makkah inilah, Ibrahim merenovasi dan meninggikan bangunan Ka'bah yang telah mengalami kerusakan akibat banjir.

Setelah selesai pembangunan Ka'bah, Ibrahim kembali ke Palestina. Dan kemudian beberapa kali mengunjungi Ismail dan Hajar di Makkah. Dan ketika suatu hari berkunjung ke Makkah, ia tidak bertemu dengan Ismail, kecuali istrinya saja. Ibrahim merasa kurang sreg dengannya, karena kurang sopan santun. Ibrahim berpesan kepada istri Ismail, bila Ismail telah kembali, hendaknya ia segera mengganti daun pintu rumahnya. Maksudnya agar Ismail menceraikan istrinya. Maka, Ismail pun menceraikannya.

Dan pada kesempatan lain, saat berkunjung kembali ke Makkah, ia mendapati seorang perempuan di rumah Ismail, yang akhirnya diketahui sebagai istri Ismail. Perempuan ini tampak lebih sopan dan ramah dalam menjamu Ibrahim. Ibrahim pun berpesan kepada istrinya Ismail, agar bila Ismail telah pulang, hendaknya ia meneguhkan atau menguatkan daun pintunya, agar tambah kokoh. Maksudnya, Ismail hendaknya senantiasa selalu bersama dengan istrinya itu. Setelah peristiwa ini, Ibrahim kembali ke Hebron, hingga wafatnya.

Ishak
Dalam Athlas Al-Qur'an, Syauqi Abu Khalil menjelaskan, sesudah Hajar dan Ismail diungsikan ke Makkah oleh Nabi Ibrahim, maka tak lama kemudian, Siti Sarah pun hamil. Tentu saja, kehamilan ini merupakan anugerah Allah kepada Siti Sarah dan Nabi Ibrahim. Sebab, keduanya sudah berusia lanjut.

Menurut Sami bin Abdullah al-Maghluts dalam bukunya Athlas Tarikh al-Anbiya' wa ar-Rusul, saat itu Siti Sarah telah berusia 90 tahun, sedangkan Ibrahim berusia 120 tahun. "Dan Kami anugerahkan kepada Ibrahim, Ishak, dan Ya'kub, dan Kami jadikan kenabian dan Al-Kitab pada keturunannya." (QS Al-Ankabut [29]: 27).

"Dan istrinya berdiri (di sampingnya) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kelahiran) Ishak, dan sesudah Ishak (lahir pula) Ya'kub." (QS Hud [11]: 71).

Mengetahui kabar gembira ini, maka kagetlah Siti Sarah. Sebab, ia sudah berusia lanjut. Setengah tak percaya, ia berkata kepada Jibril, sebagaimana termaktub dalam ayat selanjutnya.

"Istrinya berkata: "Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku pun dalam keadaan yang sudah tua pula? Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh." Para malaikat itu berkata, "Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait. Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah." (QS Hud [11]: 72-73).

Nabi Ishak dilahirkan di Kota Hebron ini. Menurut al-Maghluts, Nabi Ishak diperkirakan lahir sekitar tahun 1897 SM, sedangkan Ismail empat tahun lebih tua dari Ishak. Nabi Ishak tumbuh dan besar di kota ini pula. Nabi Ishak diangkat menjadi nabi dan diutus kepada kaum Kan'an. Nabi Ishak meneruskan dakwah yang disampaikan oleh Ibrahim kepada kaumnya, untuk senantiasa mengesakan Allah dan meninggalkan sesembahan berhala-berhala.

Nabi Ishak dikenal sebagai seorang nabi yang sangat saleh, jujur, dan berkah. Kepadanya diberikan sejumlah keistimewaan dengan sifat kelembutan, kasih sayang, hilm (tidak emosional), dan penuh perhitungan yang matang.

Tak banyak riwayat mengenai Nabi Ishak. Namun, ketika wafat pada tahun 1717 SM, dalam usia 180 tahun. Demikian keterangan al-Maghluts. Nabi Ishak di makamkan di gua Makfilah, bersamaan dengan kedua orang tuanya, serta istrinya Ribka.

Ya'kub
Sementara itu, Nabi Ya'kub adalah putra dari Nabi Ishak. Ia dilahirkan tahun 1837 SM, dan wafat pada 1690 SM. Ketika Nabi Ishak berdakwah kepada kaumnya di Hebron, Nabi Ya'kub mendapat tugas berdakwah di daerah Syam (Suriah, sekarang). Ia berdakwah kepada kaum atau bangsa Kan'an juga.

Namun, ia wafat di Kota Hebron ini dan dimakamkan bersama dengan nenek moyangnya, yakni Ibrahim AS. Bangsa Kan'an menyebut Kota Hebron dengan nama Arba, yang dinisbatkan kepada rajanya yang berbangsa Arab Kan'an, suatu kabilah 'Inak. Namun, kemudian kabilah ini dikenal dengan nama Gedron atau Gabarion (Hebron).

Hebron Pada Masa Pemerintah Islam

Kota Hebron masuk dalam wilayah pemerintahan Islam di zaman Khalifah Umar bin Khattab. Yakni, sekitar abad ke-7 Masehi, atau sekitar tahun 25 H/638 M. Pemerintahan Islam berhasil memasuki Kota Hebron tanpa perlawanan.

Selama masa itu, kehidupan masyarakat berjalan damai dan tenteram. Bahkan, pusat perdagangan berkembag pesat. Khususnya dengan orang Badui di Tanah Nageb dan penduduk di sebelah timur dari Laut Mati. Ahli geografi Yerusalem, George A Makdisi, menggambarkan keindahan kota itu pada tahun 985 M.

"Habra (Hebron) adalah desa Ibrahim al-Khalil. Di sana terdapat sebuah bangunan yang sangat indah, berbentuk persegi empat. Di dalamnya terdapat kuburan Nabi Ibrahim, Ishak, Ya'kub, Sarah, Ribka, dan Leah. Di sekitar bangunan tersebut, terdapat perkampungan yang sangat maju dalam bidang pertanian dan perkebunan. Ada banyak kebun anggur, apel, dan lainnya. Buah-buahan itu dikirimkan ke Mesir," tulis Makdisi.

Pada masa pemerintahan Mamluk dan Ayyubiyah, wilayah Hebron berganti nama menjadi al-Khalil. Nama ini diberikan oleh Shalahuddin al-Ayyubi setelah ia merebut kota tersebut pada tahun 1187 M. Kemudian pemerintahan Ayyubiyah digantikan oleh kekuasaan Turki Usmani.

Di masa inilah, dikeluarkan dekrit yang melarang orang Kristen dan Yahudi memasuki kota itu. Dan hingga pertengahan abad ke-14, dekrit tersebut berakhir dengan diberikannya kesempatan kepada semua orang untuk memasukinya, termasuk kompleks perkampungan al-Khalil.

Ekonomi Islami

CARA RASULULLAH SAW. TAKLUKKAN EKONOMI YAHUDI


Oleh: Tiar Anwar Bachtiar

Hijrah Rasulullah Saw. dari Mekah ke Madinah menandai awal baru sejarah dakwah Nabi Saw. Di Mekah selama 13 tahun ibarat kawah candradimuka yang menempanya bersama para sahabat dengan kegetiran dan kepahitan. Sepuluh tahun berikutnya di Madinah Rasulullah mulai menapaki kemenangan demi kemengangan dakwah hingga sampai pada kemenangan terindah Futuh Mekah pada tahun ke-8 dari hijrah. Selain keimanan dan ketaatan pada Allah Swt. yang mutlak serta keikhlasan dalam berjuang yang sulit dicari tandingnya, tentu ada anasir-anasir strategis yang dilakukan Rasulullah Saw. dalam merespon kondisi masyarakat yang dihadapinya.

_Syaikh Ramadhan Al-Buthi menyebutkan tiga strategi Rasulullah Saw. sebagai fondasi awal membangun Madinah_ , yaitu:
1. membangun mesjid,
2. mempersaudarakan kaum Muslim,
dan
3. melakukan perjanjian damai dengan berbagai komunitas yang ada di Madinah.

Ketiga hal ini menandakan bahwa dalam mengawali perjuangannya di Madinah, Rasulullah Saw.
1. mendahulukan membangun keimanan dan mentalitas masyarakat,
2. *membangun persatuan di antara komunitas Muslim* , dan
3. mengamankan komunitas Muslim dari kemungkinan-kemungkinan gangguan dari pihak luar dengan cara membangun harmoni sosial dengan komunitas manapun yang ada di Madinah saat itu.

*Namun, ada satu hal yang mendesak yang dihadapi Rasulullah Saw., yaitu ekonomi Madinah saat itu dikuasai oleh orang-orang Yahudi*.

Penduduk asli Madinah, suku Aus dan Khazraj, walaupun lebih lama tinggal di Madinah, tapi kehidupan ekonomi mereka berada di bawah kontrol orang-orang Yahudi.

_Salah satu yang menyebabkan penguasaan Yahudi terhadap ekonomi Madinah adalah penguasaan mereka atas pasar_.
Bahkan bukan hanya pasar, orang-orang Yahudi, di Madinah ini juga memiliki pusat-pusat pengolahan pertanian yang cukup besar di Madinah seperti di Khaibar. Hal ini semakin memperkuat dominasi Yahudi atas perekonomian Madinah saat itu, karena dari hulu produksi sampai distribusi kepada konsumen semuanya di bawah kendali mereka.

Menghadapi situasi ini, tentu saja Rasulullah Saw. harus mempersiapkan strategi yang tepat dan efektif untuk melemahkan dominasi Yahudi atas ekonomi Madinah.

Selain ketiga hal di atas sebagai pondasi dasar masyarakat Muslim Madinah, Rasulullah Saw. kemudian secara khusus membuat dua strategi penting yang satu sama lain saling berkaitan erat.

Pertama, meningkatkan etos kerja dan produktivitas kaum Muslim; dan

kedua, menciptakan pasar baru untuk transaksi kaun Muslim.

Strategi pertama dilakukan Rasulullah Saw. dengan memerintahkan para sahabat untuk segera menggarap lahan-lahan pertanian Madinah yang banyak ditelantarkan oleh penduduk setempat. Bisa jadi, kebutuhan masyarakat Madinah sudah banyak dipenuhi dari kebun-kebun yang dikembangkan orang Yahudi.
Orang-orang Madinah sendiri bisa jadi lebih senang hanya bekerja untuk orang-orang Yahudi atau hanya menanam untuk kebutuhan sendiri sehingga masih banyak tanah yang tidak tergarap.
Rasulullah Saw. menyeru ketika pertama kali menggulirkan program ini, “Siapa yang menghidupkan tanah yang mati; maka tanah itu menjadi miliknya.” (HR Al-Bukhari).

Pribadi para sahabat yang sudah terbina baik dengan binaan ruhiyyah-islรขmiyyah cara Rasulullah saw. tidak pernah berpikir pilihan lain ketika mendengar seruan Rasulullah Saw., kecuali menaatinya.

Ali ibn Abi Thalib menghidupkan tanah dekat mata air di Yanbu’. Zubair ibn Awwam mengambil sepetak tanah tak terurus lainnya di Madinah. Diikuti kemudian oleh sahabat-sahabat lainnya yang sangat bersemangat untuk dapat hidup mandiri dan produktif.

Bila sebelumnya yang bertani adalah orang Madinah saja, maka karena dorongan perintah Rasulullah Saw. banyak dari kabilah lain yang belajar bertani sehingga pada masa Rasulullah saw. di Madinah muncul kawasan-kawasan pertanian baru yang produktif seperti Wadi Al-Aqiq, Wadi Bathhan, Wadi Mahzuz, Wadi Qanah, Wadi Ranuna, Wadi Al-Qura, Wadi Waj, Wadi Laij, dan sebagainya. Padahal, sebelumnya kawasan-kawasan tersebut adalah kawasan telantar yang hanya ditumbuhi semak belukar.

Produksi adalah bagian paling dasar dalam siklus ekonomi.
Tidak akan ada pasar dan perdagangan tanpa ada barang-barang produksi. Rasulullah Saw. memulainya dari wilayah ini untuk melemahkan dominasi Yahudi. Bila selama ini produk-produk yang digunakan masyarakat Madinah dimonopoli oleh Yahudi dari kawasan-kawasan pertanian mereka, maka Rasulullah Saw. mulai menyainginya dari hasil-hasil produksi lahan baru milik para sahabat. Paling tidak saat panen tiba, kebutuhan kaum Muslim tidak lagi harus bergantung kepada orang-orang Yahudi. Ketika kaum Muslim sudah dapat mandiri, maka posisi tawar kaum Muslim semakin kuat. Apalagi yang mandiri adalah pangan yang merupakan kebutuhan primer manusia.

Kendala yang dihadapi pascaproduksi adalah pemasaran.

Di Madinah pasar-pasar besar adalah milik bangsa Yahudi.
Salah satu pasar paling besar adalah Pasar Banu Qainuqa’ milik Yahudi. Rupanya kekuatan pokok mereka ada di sini.
Dengan cara-cara yang penuh tipuan (gharar dan jahรขlah) disertai dengan praktik riba yang akut, kaum Yahudi berhasil menjerat semua pemilik barang-barang produksi untuk masuk ke pasar mereka.
Masyarakat Madinah sebelum kedatangan Rasulullah Saw. yang tidak terlalu mahir berdagang, tidak sanggup keluar dari lingkaran setan ekonomi ribawi yang dipraktikkan Yahudi di pasar-pasar mereka. Bila tidak mengikuti skema Yahudi ini, para petani tidak dapat memasukkan produk mereka ke pasar.

Agar produk-produk yang sudah dihasilkan umat Islam tidak menjadi makanan baru Yahudi,
*maka Rasulullah Saw. berinisiatif untuk membuat pasar baru, minimal bagi kebutuhan umat Islam sendiri.*

Bersama Rasulullah Saw. dari Mekah ada sahabat-sahabat yang mahir berdagang seperti Usman ibn Affan, Abdurrahman ibn Auf, Abu Bakar, dan beberapa yang lainnya. Rasulullah Saw. adalah pedagang sebelum beliau diangkat menjadi nabi. Keahlian-keahlian semacam inilah yang memungkinkan Rasulullah Saw. dapat menjalankan misinya membangun pasar baru.

Mula-mula Rasulullah Saw. membangun semacam tenda di dekat pasar Bani Qainuqa’ khusus untuk jual beli kaum Muslim. Ka’ab Al-Asyraf pemimpin Yahudi sangat marah atas apa yang dilakukan Rasulullah saw. Ia kemudian menghancurkan tenda tersebut agar kaum Muslim kembali bertransaksi ke pasar Bani Qainuqa’. Rasulullah saw. tidak terpancing oleh Ka’ab, tetapi ia kemudian berkata, “ *Demi Allah, aku akan membangun pasar yang akan membuatnya lebih marah lagi* .”  Setelah Rasulullah Saw. membangun pasar di tempat yang agak jauh dari pemukiman. Kawasan pasar ini kelak dikenal sebagai *pasar “Manakhah”* .

Pasar yang dibuat Rasulullah Saw. ini unik dan sungguh-sungguh membuat Yahudi sangat marah atas keberadaannya, karena akhirnya pasar ini sanggup menggusur dominasi pasar orang-orang Yahudi di seantero Madinah.
Oleh Rasulullah Saw. pasar ini dibuat sangat luas dan tidak dibuat bangunan permanen di sana; hanya berupa tanah lapang.
Rasulullah Saw _melarang untuk memungut pajak dan kutipan apapun di pasar ini untuk menjaga harga tidak naik di tingkat konsumen_ .

Lebih unik lagi, Rasulullah Saw memperlakukannya seperti masjid. Siapa saja kaum Muslim bebas datang ke kawasan ini. Tidak boleh ada yang mengkapling-kapling tanah tersebut untuk sendiri.
Setiap orang berhak berdagang di sebelah mana saja sama seperti orang duduk di mesjid bebas di sudut mana saja.
Pengambilan tempat didasarkan pada urutan datang. Siapa yang pertama kali datang, dia berhak untuk memilih tempat mana yang akan dipergunakan. Keunikan ini bertahan hingga masa Khulafaur-Rasyidin.

Tambahan lagi, yang menyebabkan pasar ini semakin diminati oleh banyak konsumen adalah karena pasar ini sangat ketat memperhatikan implementasi ajaran-ajaran muamalah Islam. Di pasar ini tidak boleh ada riba, gharar, dan perjudian.

Diharamkan pula ada yang melakukan kecurangan-kecurangan seperti pengurangan timbangan dan penipuan lainnya. Untuk menjamin semua ini berjalan baik, maka Rasulullah Saw. menunjuk Umar ibn Khathab sebagai pengawas pasar. Umar diberi kewenangan untuk menindak siapa saja yang melakukan kecurangan di pasar ini. Faktor inilah yang menyebabkan pasar ini menjadi lebih diminati bukan hanya oleh kaum Muslim, tapi juga kaum kafir. Secara perlahan tapi pasti, pasar Rasulullah Saw. berhasil menyingkirkan dominasi pasar Yahudi yang sangat merugikan konsumen.

Wallรขhu A’lam.