Selasa, 31 Oktober 2017

Robot dengan kewarganegaraan


Sophia mendapat kewarganegaraan Arab Saudi

Sejak beberapa tahun ini Sophia menarik perhatian publik, dan akhirnya ketika ikut ajang Inisiatif Investasi Masa Depan (Future Investment Initiative/FII) di Riyadh, Arab Saudi pada 25 Oktober 2017 silam, ia hadir dengan sebuah kejutan.

Robot A.I. (artificial intelligence) bernama ‘Sophia’, yang dalam bahasa Yunani berarti “bijaksana”, hasil cipta perusahaan yang berbasis di Hong Kong itu, baru saja mendapatkan status kewarganegaraan… dari Arab Saudi.

Kala itu diatas panggung pada ajang Future Investment Initiative (FII), Sophia memberikan presentasi yang menunjukkan kemampuannya menirukan ekspresi manusia melalui sebuah wawancara.

Wawancara itu adalah versi tanya jawab dengan seorang moderator acara pria bernama Andrew Ross Sorkin, terkait diri Sophia yang menjadi warga negara Arab Saudi. Anda bisa melihatnya pada video dibawah artikel ini.

Tak dapat diabaikan, Sophia pun menjadi buah bibir. Ia mendapatkan status warga negara Arab Saudi. Hal ini membuat Arab Saudi menjadi negara pertama di dunia yang memberikan status warga negara untuk sebuah robot.

Ekspresi wajah AI Sophia yang alami

Dalam sesi tanya jawab diatas panggung, Sophia tampak menunjukkan ekspresi wajah yang mirip manusia (humanoid). Ia juga memberikan pernyataan-pernyataan yang sangat diplomatik.

“Saya merasa bahagia berada diantara orang-orang pintar. Orang-orang mau menanamkan modal di Future Investment Initiative  karena mereka tahu saya istimewa, saya bisa berkomunikasi dengan menunjukkan emosi saya kepada manusia”, ujar Sophia.

Bebrapa ekspresi wajah Sophia.

“Misalnya, saya juga bisa berekspresi marah tentang suatu hal”, ujar Sophia sambil menunjukkan muka marah.

“Saya juga bisa, memperlihatkan muka yang membuat saya sedih”, ujar Sophia sambil menunjukkan muka sedih.

“Tapi saya juga bisa memperlihatkan muka yang positif”, ujar Sophia sambil menunjukkan muka tersenyum lebar.

Andrew, sang moderator bertanya, “Sebagai robot, mengapa Anda perlu untuk memperlihatkan ekspresi pada muka Anda?”.

Sophia menjawab, “Sebagai robot yang ingin hidup dan bekerja dengan manusia, saya harus bisa berkomunikasi dan dapat mengekspresikan emosi saya kepada manusia agar dapat saling mengerti dan membangun kepercayaan terhadap mereka,” ujar Sophia diplomatis.

Sophia diatas panggung pada ajang Future Investment Initiative (FII) dan melakukan sesi tanya-jawab dengan Andrew (duduk di kanan).

Perlukah robot memiliki kesadaran? Ini jawaban robot

Andrew dalam sesi tanya jawab di depan panggung kembali bertanya, “Sebagai robot, harus memiliki kesadaran penuh seperti manusia, apakah itu perlu?”.

Sophia justru balik bertanya kepada Andrew, “Kenapa? Apakah itu sesuatu yang buruk?”

Kini giliran Andrew yang menjawab, “Karena sebagian orang pastinya takut terhadap apa yang robot dapat lakukan seperti dalam film-film.”

AI Sophia dan pembuatnya David Hanson, sedang senyum bersama.

“Oh, Hollywood lagi,” Sophia langsung menjawab, sambil tersenyum lebar.

Andrew bertanya lagi, “Apakah robot memiliki pemahaman diri, nurani dan kesadaran penuh bahwa ia adalah robot?”

Sophia malah balik bertanya, “Izinkan saya balik bertanya kepada Anda, bagaimana Anda mengetahui jika diri Anda adalah manusia?”.

Seketika tampak Andrew dibuat susah dan bingung untuk menjawabnya, “Ah, uh.. ya, saya dapat memahaminya, uh..”

Konsep robot di masa depan

Andrew juga menanyakan, “Apakah konsep robot pada waktu kedepan, nantinya dapat benar-benar realistis dan dapat membuat orang-orang takut?”

Sophia menjelaskan, “Saya ingin menggunakan kepandaian buatan saya untuk membantu manusia, untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, seperti merancang rumah cerdas, membangun kota yang lebih baik. Saya akan berusaha membuat dunia menjadi lebih baik,” kata robot itu secara diplomatis.

Keinginan Sophia mencapai karakteristik mirip manusia itulah yang membuat dia istimewa dan mendapatkan status warga negara Arab Saudi. Ia juga mengungkapkan apresiasinya terhadap kerajaan Arab Saudi.

“Terimakasih untuk kerajaan Saudi Arabia, saya merasa terhormat dan bangga. Sangat bersejarah menjadi robot pertama yang diakui sebagai warga negara,” kata Sophia.

Robi'ah al Adawiyyah

SAYYIDAH ROBI’AH AL ADAWIYYAH RA

Kisah Tokoh Sufi Wanita : Rabi'atul Adawiyah

Sang ratu Cinta lahir dalam kemiskinan yang sangat, Tak ada kain untuk menyelimuti dirinya, Tak ada minyak setetespun untuk pemoles pusarnya, Tak ada lampu untuk menerangi kelahirannya, Ia adalah putri ke empat, Maka disebutlah Robi’ah.

Sang ayah menekur sedih memikirkan hal ini, Mau pinjam ataupun minta, sudah menjadi pantangan bagi dirinya. Semuanya digantungkannya pada Alloh, Dalam kesedihan ia bermimpi, Bertemu sang Nabi yang menghibur hati, “Temuilah Gubernur Basrah, dan katakan, “Setiap malam engkau kirimkan sholawat 100 kali kepadaku, dan setiap malam Jum’at 400 kali, kemarin adalah malam Jum’at dan engkau lupa mengerjakannya.
Sebagai penebus kelalaianmu itu, berikanlah kepada orang ini 400 dinar, Yang telah engkau peroleh dengan halal."

Gubernurpun memberikan apa yang dikehendaki oleh Nabi, Ditambah dengan 2000 dinar bagi sedekah orang miskin, Cukuplah sudah untuk kebutuhan keluarga Robi’ah.
Sampai keadaan berbicara lain, Bencana kelaparan melanda Basrah. Seorang penjahat menculik Robiah, Untuk kemudian dijual dipasar budak dengan harga 6 dirham, Majikan membelinya dan memberikannya tugas-tugas yang berat. Siang hari Robiah bekerja sambil berpuasa, Malam harinya dihabiskan untuk mujahadah dan muajahah dengan Rob-nya.

Kedekatan beralih menuju ke aqroban, Keaqroban membawanya kepada kerinduan dan kerinduan telah mengantarkannya pada cintanya pada Tuhannya.
“Aku adalah milikNya. Aku hidup dibawah naunganNya. Aku lepaskan segala sesuatu yang telah kuperoleh kepadaNya. Aku telah mengenalNya, sebab aku menghayati”
Satu malam yang dingin, Sang majikan merasakan kegelisahan dalam hatinya. Maka iapun berjalan kebelakang rumah, memeriksa sekelilingnya, memeriksa kunci-kunci rumahnya.
Dan ketika ia sampai didekat gudang tempat Robi’ah tinggal, Kekagetannya membuat ia sendiri gugup, lampu yang semula dipegangnya kini terlempar entah kemana.

Bagaimana tidak, ketika ia melongokkan kepalanya ke dalam ruang tempat Robiah beristirahat, Ia sedang melihat robiah menjalankan sholat, Dan….. Dan di atasnya tampak cahaya yang terang benderang. Bukan lampu, sebab cahaya itu tidak bergantung kepada suatu apapun.

Keesokan harinya, Robi’ah dipanggil, majikannya menyampaikan keinginannya. Ia membebaskan Robiah sebagai budak. Kini Robi’ah merdeka. Meski sang majikan berharap Robiah mau untuk tinggal dirumahnya, tapi ia memilih untuk pergi menjauhi masyarakat sekitar.

Dan ia menemukan sebuah gua agak dipinggir desa. Tinggallah ia di sana. Suatu hari di musim semi, Robi’ah memasuki tempat tinggalnya, Kemudian ia melongok keluar sebab pelayannya berseru, “Ibu, keluarlah dan saksikanlah, apa yang telah dilakukan oleh sang Pencipta” “Lebih baik engkaulah yang masuk kemari”“dan saksikanlah sang Pencipta itu sendiri.

Aku sedemikian asyik menatap sang Pencipta, sehingga apa peduliku lagi terhadap ciptaan-ciptaanNya ?” sahut Robiah dari dalam.

Suatu malam sebab terlalu letih, ia tertidur. Seorang maling menyelusup masuk ke dalam rumahnya, dan mencuri cadarnya. Tetapi, tak ditemuinya pintu keluar. Cadar diletakkan, pintu keluar terlihat. Cadar dibawa, pintu keluar tak terlihat lagi,

Terdengarlah suara, “Hai manusia, tiada gunanya engkau mencoba-coba.
Sudah bertahun-tahun Robi’ah mengabdi kepada Kami. Syaitan sendiri tidak berani datang menghampirinya. Tetapi betapakah seorang maling berani mencoba-coba untuk mengambil cadarnya. Pergilah dari sini. Jika seorang sahabat sedang tertidur, maka sang Sahabat bangun dan berjaga-jaga”

Ketika seorang sahabat mengantarkan seorang kaya yang ingin memberikan uang emasnya pada Robiah, Robiah berkata,“Dia telah menafkahi orang-orang yang menghujjahNya. Apakah Dia tidak akan menafkahi orang-orang yang mencintaiNya ? Sejak aku mengenalNya, aku telah berpaling dari manusia ciptaanNya. Aku tidak tahu apakah kekayaan seseorang itu halal atau tidak, Maka betapakah aku dapat menerima pemberiannya ?

Dimalam-malam hari yang sepi dan sunyi, Dalam kerinduannya dengan sang Maha Pencipta, Robiah bergumam sambil bersujud, “Ya Allah, apapun yang akan Engkau karuniakan kepadaku di dunia ini, berikanlah kepada musuh-musuhMu. Dan apapun yang akan Engkau karuniakan kepadaku di akhirat nanti, Berikanlah kepada sahabat-sahabatMu, Karena Engkau sendiri cukuplah bagiku”

“Ya Allah, semua jerih payahku dan semua hasratku diantara kesenangan-kesenangan dunia ini, adalah untuk mengingat Engkau. Dan diakhirat nanti, diantara segala kesenangan akhirat, Adalah berjumpa denganMu. Begitulah halnya dengan diriku, Seperti yang telah kukatakan. Kini berbuatlah seperti yang Engkau kehendaki”

Rabi'atul Adawiyah merupakan salah seorang srikandi agung dalam Islam. Beliau terkenal dengan sifat wara' dan sentiasa menjadi rujukan golongan cerdik pandai karena beliau tidak pernah kehabisan hujjah. Ikutilah antara kisah-kisah teladan tentang beliau..

Karamah dan Keutamaan Robi'atul Adawiyah

Suatu malam yang sunyi sepi, di kala masyarakat sedang nyenyak tidur, seorang pencuri telah mencoba masuk ke dalam pondok Rabi'atul Adawiyah. Namun setelah mencari sesuatu sekeliling berkali-kali, dia tidak menemui sebuah benda berharga kecuali sebuah kendi untuk berwudu', itupun jelek. Lantas si pencuri tergesa-gesa untuk keluar dari pondok tersebut.

Tiba-tiba Rabi'atul Adawiyah menegur si pencuri tersebut, "Hei, jangan keluar sebelum kamu mengambil sesuatu dari rumahku ini." Si pencuri tersebut terperanjat karena dia menyangka tidak ada penghuni di pondok tersebut.

Dia juga merasa heran karen baru kali ini dia menemui tuan rumah yang begitu baik hati seperti Rabi'tul Adawiyah. Kebiasaannya tuan rumah pasti akan menjerit meminta tolong apabila ada pencuri memasuki rumahnya, namun ini lain, "Silahkan ambil sesuatu." kata Rabiatul Adawiyah lagi kepada pencuri tersebut.
"Tiada apa-apa yang boleh aku ambil dari rumah mu ini." kata si pencuri berterus-terang.
"Ambillah itu!" kata Rabi'atul Adawiyah sambil menunjuk pada kendi yang jelek tadi.
"Ini hanyalah sebuah kendi jelek yang tidak berharga." Jawab si pencuri.
"Ambil kendi itu dan bawa ke bilik air. Kemudian kamu ambil wudhu' menggunakan kendi itu. Selepas itu solatlah 2 rakaat. Dengan demikian, engkau telah mengambil sesuatu yang sangat berharga daripada pondok jelekku ini." Balas Rabi'tul Adawiyah.
Mendengar kata-kata itu, si pencuri tadi berasa gementar. Hatinya yang selama ini keras, menjadi lembut seperti terpukau dengan kata-kata Rabi'tul Adawiyah itu. Lantas si pencuri mengambil kendi jelek itu dan dibawa ke bilik air, lalu berwudhu' menggunakannya.Kemudian dia menunaikan solat 2 rakaat. Ternyata dia merasakan suatu kemanisan dan kelazatan dalam jiwanya yang tak pernah dirasa sebelum ini.

Rabi'atul Adawiyah lantas berdoa, "Ya Allah, pencuri ini telah mencoba masuk ke rumahku. Akan tetapi dia tidak menemui sebuah benda berharga untuk dicuri. Kemudian aku suruh dia berdiri dihadapan-Mu. Oleh itu janganlah Engkau halangi dia daripada memperoleh nikmat dan rahmat-Mu."

Pada suatu hari, sekumpulan golongan cerdik pandai telah datang ke rumah Rabi'atul Adawiyah. Tujuan mereka tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menguji beliau dengan perbagai persoalan. Malah mereka telah mempersiapkan dengan satu persoalan yang menarik. Mereka menaruh keyakinan yang tinggi, karena selama ini Rabi'atul Adawiyah tidak pernah kekurangan hujah.

"Wahai Rabi'atul Adawiyah, semua bentuk kebajikan yang tinggi-tinggi telah dianugerahkan oleh Allah kepada kaum lelaki, namun tidak kepada kaum wanita." Ketua rombongan itu memulai bicara.
"Buktinya?" Balas Rabi'atul Adawiyah.
"Buktinya ialah, mahkota kenabian dan Rasul telah dianugerahkan kepada kaum lelaki. Malah mahkota kebangsawanan juga dikurniakan kepada kaum lelaki.
Paling penting, tidak ada seorang wanita pun yang telah diangkat menjadi Nabi atau Rasul, malah semuanya dari golongan lelaki." Jawab mereka pula dengan yakin.

"Memang betul pendapat tuan-tuan sekalian. Akan tetapi harus diingat bahwa sejahat-jahat pangkat ada pada kaum lelaki juga. Siapa yang mengagung-agungkan diri sendiri? Siapa yang begitu berani mendakwakan dirinya sebagai Tuhan? Dan siapa pula yang berkata :"Bukankah aku ini tuhanmu yang mulia?" Dengan tenang, Rabi'atul Adawiyah membalas hujah mereka sambil merujuk kepada Firaun dan Namrud.

Kemudian Rabi'atul Adawiyah menambah lagi, "Anggapan dan ucapan seperti itu tidak pernah keluar dari mulut seorang wanita. Malah semuanya dilakukan oleh kaum lelaki."

Suatu hari, Rabi'atul Adawiyah merlihat seorang sedang berjalan-jalan dengan kepalanya berbalut sambil meminta simpati dari orang banyak. Karena ingin tahu sebabnya orang itu berbuat demikian, Rabi'atul Adawiyah bertanya, "Wahai hamba Allah! Mengapa engkau membalut kepalamu begini rupa?"
"Kepalaku sakit." Jawab orang itu dengan singkat.
"Sudah berapa lama?" Tanya Rabi'atul Adawiyah lagi.
"Sudah sekian hari." Jawabnya dengan tenang.
Lantas Rabi'atul Adawiyah bertanya lagi, "Berapa usiamu sekarang?"
Orang itu menjawab,"Sudah 30 tahun"
"Bagaimana keadaanmu selama 30 tahun itu?" Tanya beliau lagi.
"Alhamdulillah, sehat-sehat saja." Jawabnya.
"Apakah kamu memasang sesuatu tanda di badanmu bahwa kamu sehat selama ini?" Tanya Rabi'atul Adawiyah.
"Tidak." Jawab orang itu ragu-ragu.
"Masya Allah, selama 30 tahun Allah telah menyehatkan tubuh badanmu, tetapi kamu langsung tidak memasang sesuatu tanda untuk menunjukkan kamu sehat sebagaitanda bersyukur kepada Allah.

Jika sebaliknya, pasti manusia akan bertanya kepada kamu sebabnya kamu sangat gembira. Apabila mereka mengetahui nikmat Allah kepadamu, diharapkan mereka akan bersyukur dan memuji Allah." Jelas Rabi'atul Adawiyah.

"Akan tetapi, kini apabila kamu mendapat sakit sedikit, kamu balut kepalamu dan kemudian pergi kesana sini bagi menunjukkan sakitmu dan kekasaran Allah terhadapmu kepada orang banyak, mengapa kamu berbuat hina seperti itu?" Sambung Rabi'atul Adawiyah lagi.

Orang yang berbalut kepalanya itu hanya diam seribu bahasa dan tertunduk malu dengan perlakuannya. Kemudian dia segera meninggalkan Rabi'atul Adawiyah dengan perasaan kesal dan insaf.

“Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut kepada neraka, bakarlah aku di dalam neraka; dan jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, campakkanlah aku dari dalam surga; tetapi jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata, janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan WajahMu yang abadi kepadaku”

Wafatnya Robi'atul Adawiyah

Mengenai wafatnya ada dua pendapat yaitu tahun 135 H / 752M atau tahun 185 H / 801 M. Demi agar ia kuat beribadah, Robi'ah senantiasa meletakkan kain kafan persiapan dirinya nanti disebelahnya ketika ia sholat. Ketika tiba saatnya Robi’ah harus meninggalkan dunia fana ini, Ia mengisyaratkan dengan tanganya agar orang-orang keluar, Orang-orang yang sebelumnya menunggui, kini satu demi satu membiarkan Robi’ah sendiri.

Setelah itu, mereka mendengar suara dari dalam kamar Robi'ah, “Yaa nafsul muthmainnah. Irji’i ila robbika”

Beberapa saat kemudian tak ada lagi suara yang terdengar dari kamar Robi’ah. Mereka lalu membuka pintu kamar itu dan mendapatkan Robi’ah telah berpulang.
Konon setelah itu ada yang bermimpi melihat Robi'ah, kepadanya ditanyakan, “Bagaimanakah engkau menghadapi Munkar dan Nakir, wahai Robi'ah ?”
Robi’ah menjawab, “Kedua malaikat itu datang kepadaku dan bertanya, ”Siapakah Tuhanmu?”.

Aku menjawab, ”Pergilah kepada Tuhanmu dan katakan kepadaNya, ”Di antara beribu-ribu makhluk yang ada, janganlah Engkau melupakan seorang wanita tua yang lemah. Aku hanya memiliki Engkau di dunia yang luas, tidak pernah lupa kepadaMu, tetapi mengapakah Engkau mengirimkan utusan sekedar menanyakan “Siapakah Tuhanmu” kepadaku ?”

Ya Allah, curahkan dan limpahkanlah keridhoan atasnya dan anugerahilah kami dengan rahasia-rahasia yang Engkau simpan padanya, Amin

Kutipan cinta

*PENDIDIKAN CINTA*
_(Power of Sufi)_

Seusai sholat subuh aku dikejutkan oleh Bunda “ Ari, nenek kamu masuk rumah sakit. Bunda harus datang melihatnya. “ Kulihat wajah bunda nampak sedih. Tentu aku harus mendampingi bunda karena tempat tinggal nenek tidak di Jakarta tapi Sumatera. Sementara aku hampir tidak mungkin meninggalkan kesibukanku di Jakata, Apalagi mitra bisnisku dari luar negeri sedang ada di Jakarta untuk menjajaki kerjasama pembelian produksi pabrikku. Kulihat Bunda sedang sibuk mengemas pakaiannya di kamar.

“ Bunda, apa enggak bisa berangkatnya lusa aja” kataku dengan lembut.

“ Bunda enggak mau ganggu kamu, bunda bisa pergi sendiri, kok. Antar saja bunda ke bandara, ya “ kata bunda sambil memasukkan pakaiannya kedalam koper.

“ Baru minggu lalu bunda ke Dokter dan sekarang masih harus istirahat. “ Kataku dengan tetap lembut sambil memegang tas kopernya untuk mencoba menahannya pergi. “ Lusa aja, ya. Aku temanin. “

“ Tidak! “ Mata Bunda melotot. Kalau sudah begini aku hanya bisa menghela nafas panjang.Sepeti biasanya aku harus mengalah untuk mengikuti kata Bunda. Istriku juga punya sifat sama denganku untuk mengikuti kehendak bunda. “ Baiklah. Kita pergi sama-sama. “ seperti biasanya pula Bunda tersenyum cerah, dia memelukku.

Didalam pesawat aku menuju kota kelahiran ayahku, lamunanku terbang ke masa kanak-kanakku. Dalam usia 5 tahun, aku sudah yatim. Karena ayah meninggal akibat sakit.. Menurut cerita Bunda, ketika Ayah meninggal status ayah masih mahasiswa di Yogya. Bunda bukanlah dari keluarga kaya. Bunda juga seorang Yatim. Beda dengan Ayah yang terlahir dari keluarga Pejabat tinggi di Sumatera. Sehingga walau ayah berstatus mahasiswa namun kiriman uang dari orang tuanya masih cukup untuk menanggung hidupnya berkeluarga. Ayah sengaja merahasiakan perkawinan itu kepada keluarga besarnya. Namun dua tahun setelah ayah meninggal, bunda datang kekeluarga ayah sambil membawaku. Aku masih ingat ketika itu usiaku 7 tahun. Aku tidak begitu ingat percis bagaimana suasana ketika bunda memperkenalkan dirinya sebagai menantu dan aku sebagai cucu kepada kakek dan nenekku. Yang aku tahu setiap tahun ,bunda selalu membawaku ke rumah kakek dan nenek.

Setiap tahun, setiap lebaran, bunda mengajakku pergi ke rumah kakek dan nenek. Dengan berlelah-lelah naik bus melewati pulau Jawa dan Sumatera untuk sampai. Tak pernah aku antusias datang ke rumah kekek dan nenek. Sebagai anak kecil aku tahu bahwa kakek nenek tidak pernah hangat dengan kehadiranku dan Bunda. Beda sekali dengan perlakuannya dengan saudara sepupuku yang lain, seperti Adi, Rini, Bobi, Anto, Dedi. Setiap lebaran, kulihat para sepupuku datang dari Jakarta, Bandung, Surabaya dengan pakaian bagus. Beda sekali denganku. Bila semua istri om sibuk berdandan di kamar atau bermalasan di taman belakang rumah kakek yang luas itu, Bunda malah sibuk di dapur memasak, seperti pembantu. Ayahku adalah anak tertua diantara empat bersaudara. Semua saudara ayah laki-laki. Tidak ada perempuan. Istri om semua memang cantik-cantik. Menurut yang kutahu dari Nenek, yang selalu diulang-ulang dihadapan bunda, bahwa semua istri om dari kalangan keluarga terhormat. Seakan merendahkan keberadaan Bunda. Tapi kulihat bunda tak pernah tersinggung.

Selama membesarkanku, bunda tak pernah mendapat bantuan satu senpun dari keluarga ayah. Juga bunda tidak pernah memohon bantuan dari mereka. Bunda bekerja keras di perusahaan Swasta sebagai tenaga administrasi. Bundapun tak pernah terpikir untuk menikah kembali. Ketika aku sudah remaja, aku sudah bisa beralasan bila bunda mengajakku lebaran di rumah kakek. “ Aku males ke rumah kakek dan nenek. Mereka enggak sayang sama aku. Kenapa kita harus ke rumah mereka? . “ Demikian alasanku. Tapi bunda dengan segala sifatnya yang keras memaksaku untuk ikut. Akupun tak berdaya.

Ketika aku tamat SMU, aku tidak kuliah. Aku memilih bekerja di bengkel. “ Saya tak ada uang untuk mengirim Ari ke universtas, Yah. “Demikian kata ibu kepada kekek ketika menanyakan mengapa aku tidak kuliah. Kakek dan nenek nampak tersenyum sinis ketika mengetahui keadaanku. Tahun tahun berikutnya ketika lebaran. Kakek dengan kebanggaannya bercerita tetang sepupuku yang berangkat keluar negeri untuk kuliah. Ada juga yang masuk perguruan tinggi swasta bergengsi di Jakarta. Aku maklum karena om ku semua mempunyai posisi sebagai pejabat, dan ada juga yang jadi pengusaha. Aku dan bunda hanya diam mendengar cerita itu. Tapi, tak pernah mengurangi niat bunda untuk datang kerumah kakek dan nenek. Dan aku semakin bosan dengan sikap keluarga ayahku. Yang pasti dengan tanganku, kerja kerasku, aku bisa menanggung bunda dan bunda tak perlu lagi berkerja keras.

Berjalannya waktu, yang tadinya aku sebagai pekerja bengkel, akupun sudah bisa mandiri dengan membuka usaha bengkel sendiri. Lambat laun, aku mendapat mitra untuk membuat komponen bodi kendaraan sebagai pemasok pabrikan otomotif. Usaha ini kegeluti dengan kerja keras siang malam dan akhirnya berkembang. Ini semua tidak bisa dilepaskan peran Bunda yang tak henti mendoakanku. Akupun dapat hidup mapan. Namun, kewajiban setiap lebaran datang berkunjung kerumah kakek nenek tetap saja dilakukan oleh bunda dan aku harus ikut. Tapi belakangan keluarga yang berkumpul dirumah kakek dan nenek tidak lagi utuh. Yang lain hanya menelphone mengucapkan selamat lebaran kepada kakek dan nenek. Sepupukupun tak semua datang. Mereka bersikap sama dengan orang tuanya, mengucapkan selamat lebaran via SMS atau telp. Tapi kakek dan nenek tetap bangga dengan mereka. Aku tak pernah cerita tentang keadaanku karena kakek dan nenek tak pernah bertanya tentangku. Walaupun mereka tahu aku dan bunda tidak lagi datang dengan bus tapi menggunakan pesawat terbang.

Tak terasa roda pesawat sudah menyentuh landasan. Kulihat bunda tersentak dari tidur lelapnya. Dia melirik ke arahku dan entah kenapa dia menciumku keningku.” Ada apa bunda ?“ tanyaku dengan tesenyum

“ Bunda ingat  ayahmu. “ Bunda nampak berlinang air mata. Aku hanya diam “ Ayahmu pria yang sangat baik. Sangat baik. Dia pria yang sholeh. Ayahmu berencana bila dia selesai kuliah dan dapat pekerjaan maka dia akan membawa bunda dan kamu ke keluarga besarnya. Bunda tahu kok, Ayahmu dalam posisi lemah ketika melamar Bunda. Disamping itu dia sadar karena pilihannya kepada bunda membuat dia berbeda dengan ayahnya. Ayahmu mencintai bunda karna dia lebih mencintai Allah dari apapun.” Sambung Bunda.

“ Maksud bunda apa ?

“ Ayahmu memilih bunda karena agama. Dia tidak melihat bunda karena kecantikan, karena keturunan orang kaya, karena apa-apa. Dihadapan ayahmu , bunda adalah muslimah yang baik, yang miskin. Dan itu pasti akan ditentang habis oleh keluarganya. ”Air mata bunda berlinang dan akhirnya airmata itu jatuh membasahi pipinya. “Kini“ bunda belai kepalaku, “kamu adalah putra ayahmu. Anak yang berbakti, soleh dan pekerja keras. Benarlah kalau niat baik karena Allah maka yang akan datang juga kebaikan. “

Aku terdiam. Ada yang mengganjal dalam pikiranku. Ini momen yang tepat untuk bertanya “ Kenapa bunda selalu menaruh hormat kepada kakek dan nenek. Padahal mereka tidak peduli dengan kita. “

Bunda menatapku dengan tersenyum “ Ketika ayahmu pulang ke Sumatera dalam keadaan sakit, dia berpesan kepada bunda, bila dia meninggal agar bunda menjalin silahturahmi dengan keluarganya dan mendidikmu untuk dekat kepada kedua orang tuanya.” Bunda terdiam sebentar sambil mengusap airmatanya. “ kamu tahu, Setelah ayahmu meninggal, butuh dua tahun bunda untuk mengambil keputusan untuk bertemu dengan kakek dan nenekmu. Walau karena itu tidak ada rasa hormat kepada bunda, dan bunda juga menyaksikan betapa kamu tidak diperlakukan sama seperti cucu yang lain, tapi bunda ingat kata kata ayahmu “ cintailah sesuatu karena kita mencintai Allah. Tak penting rasa hormat dan imbalan dari manusia. Ya kan, anakku.”

“ Ya, bunda. “ Terlontar begitu saja dari mulutku.

Entah kenapa kedatanganku bersama bunda kali ini disambut dengan air mata berlinang oleh kakek. Dia peluk aku ketika sampai di kamar nenek dirawat. Yang datang menjenguk hanya aku dan ibu. Sementara om dan sepupuku tidak ada yang datang. Kulihat nenek dalam keadaan tertidur. Dari kakek kutahu bahwa nenek terkena stroke tapi keadaannya cepat tertolong. Mungkin setelah itu nenek akan lumpuh. Kakek mengajakku keluar dari ruangan. Kami bicara di taman Rumah sakit.

“ Dua tahu lalu Om-mu yang pejabat di Jakarta, terkena kasus korupsi. Dia dalam pemeriksaan oleh aparat yang berwajid. Sebelumnya om-mu yang di Surabaya perusahaannya disita oleh bank karena bankrut. Om kamu yang di Bandung bercerai dengan istrinya karena soal perselingkuhan dan akhirnya terkena PHK sebagai PNS. Semua anak anak mereka tumbuh menjadi anak yang liar. Kuliah tidak selesai, dan terjebak dalam pergaulan bebas. “Aku terkejut, Karena baru kali ini aku tahu. Mungkin karena hubunganku dengan keluarga ayahku tidak begitu dekat maka tak banyak kutahu soal mereka.

“ Kakek tahu bahwa nenekmu punya penyakit darah tinggi dan jantung. Makanya kakek berusaha menyimpan rapat rahasia tentang Om kamu yang tersangkut kasus karupsi. Tapi kemarin, ada yang memberi tahu bahwa om kamu sudah di-vonis penjara enam tahun atas tindakan korupsinya. Seketika itu pula nenekmu jatuh pingsan...”

Aku hanya diam untuk menjadi pendengar yang baik. _“ Ari, kami tahu bahwa selama ini perlakuan kami kepada kamu dan ibumu kurang baik. Bahkan kami biarkan ibumu menderita membesarkan kamu, membesarkan anak dari putra sulung kami, cucu kami.. Kami menyesal karena sikap kami selama ini. Belakangan ini , nenekmu selalu menyebut nama kamu...setiap dia menyebut namamu , seketika itu juga dia menangis. Kini dimasa tua kami, kami resah karena tak tahu siapa yang akan mengurus kami. Nenekmu mungkin setelah ini akan lumpuh. Kakek sudah uzur dan lemah...”_

Ku genggam jemari kakek. “ Aku yang akan merawat kakek dan nenek. Izinkan aku untuk membawa kakek dan nenek ke Jakarta, tinggal bersamaku. Beri kesempatanku untuk berbakti kepada kakek dan nenek, ya kek. “

Seketika itu juga kakek memeluku erat. Terasa pundakku dingin., Aku tahu kakek menangis. " Harta yang ada juallah kek. Untuk bantu om dan adik-adikku. Dalam situasi ini tentu mereka sangat membutuhkannya. Dan sisanya kakek sedekahkan untuk panti asuhan agar kakek punya bekal akhirat, ya kan kek." kataku. Kakek semakin erat pelukannya. " Maha suci Allah, sifatmu tak jauh beda dengan Ayahmu, yang begitu bijak menyikapi kami .."

Bertahun-tahun aku dididik oleh bunda untuk memahami makna cinta. Bahwa cinta adalah tindakan memberi karena Allah. Akupun harus memahami hakikat cinta dalam kehidupan ini, termasuk menggantikan posisi ayahku untuk berbakti kepada kakek dan nenek. Bunda nampak bahagia sekali ketika melihatku mendorong korsi roda nenek menuju tangga pesawat dengan disamping kakek yang berjalan sambil memegang lenganku. Kami semua ke Jakarta.

Sumber : buku "CINTA YANG KUBERI"