Senin, 18 November 2019

Biografi singkat Buya Yahya


Buya Yahya merupakan salah satu tokoh ulama muda yang sangat terkenal terutama di wilayah Cirebon, Jawa Barat. Sebetulnya nama asli beliau adalah Kiai Haji Yahya Zainul Maarif namun lebih terkenal dengan sapaan Buya Yahya. Sosok Buya Yahya memang begitu menarik perhatian di kalangan umat Islam tanah air karena beliau dikenal sebagai ulama muda yang tinggi keilmuannya. Selain itu, Buya Yahya juga merupakan ajeungan sekaligus pengelola ma’had (Pondok Pesantren) Al-Bahjah Cirebon. Dibalik sosok Buya Yahya yang begitu populer ternyata beliau memiliki perjalanan hidup yang menarik untuk disimak yang terangkum dalam biografi Buya Yahya berikut ini.

Profil Biografi Buya Yahya

Sosok Buya Yahya yang begitu populer di wilayah Jawa Barat mungkin banyak yang mengira bahwa beliua lahir di Jawa Barat. Namun siapa sangka beliua justru lahir di wilayah Jawa Timur. Ustad Yahya Zainul Ma’arif atau Buya Yahya lahir pada tanggal 10 Agustus 1973 di Kabupaten Blitar. Buya Yahya merupakan putra dari Mbah Jamzuri atau yang akrab disapa Mbah Kakung. Sejak kecil ayah beliau mendidik sedangkan sang ibu yang akrab disapa dengan Mbah Uti yang paling banyak memberikan Tarbiyah. Dengan demikian tak heran bila kini sosok Buya Yahya menjadi sosok besar pemersatu umat. Buya Yahya memiliki seorang istri bernama Fairuz ar-Rohbini dan dari pernikahannya tersebut beliau dikaruniai 4 orang anak.

Riwayat Pendidikan Buya Yahya

Beliau menempuh pendidikan Sekolah Dasar sampai dengan Sekolah Menengah Pertama di Blitar sambil mengikuti Madrasah Diniyah yang diasuh oleh KH. Imron Mahbub. Pada tahun 1988 sampai 1993, Buya Yahya kembali melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah di Bangil. Kala itu pesantren tersebut diasuh oleh Habib Hasan bin Ahmad Baharun.
Pada tahun 1993 sampai 1996, Buya Yahya pernah mengajar di Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah Bangil.Namun di tahun 1996 Buya Yahya berangkat ke Universitas Al Ahgaff Yaman atas perintah dari Habib Hasan Bin Ahmad Baharun. Beliau menempuh pendidikan di Yaman selama 9 tahun atau tepatnya sampai tahun 2005. Tidak hanya menempuh pendidikan di Universitas Ahgaff, Buya Yahya juga belajar di Rubath Tarim yang diasuh oleh Habib Salim Asyasyatiri.
Ketika Buya Yahya menempuh pendidikan di Yaman, beliau memang banyak belajar mengenai ilmu fiqih dari para Mufti Hadramaut diantaranya adalah Habib Ali Masyur bin Hafid, Syekh Fadhol Bafadhol, dan Syekh Muhammad Al Khotib. Selain ilmu fiqih, beliau juga belajar mengenai ilmu hadist dari para ahli hadist diantaranya Sayyid Amad bin Husin Assegaf, Habib Salim Asysyatiri serta DR. Ismail Kadhim Al Aisawi. Selain itu Buya Yahya juga mengambil ilmu ushul fiqih dari ulama-ulama ahli. Selain belajar, Buya Yahya juga pernah mengajar di Fakultas Tarbiyah dan Dirosah Ilamiah di Universitas Ahgaff Yaman selama 3 tahun.

Awal Mula Berdakwah di Cirebon

Sesudah menghadap Al Murobbi di Yaman lalu memperoleh izin di tahun 2006, Buya Yahya mulai berdakwah dengan penuh kesabaran dan tawakkal kepada Allah SWT. Dakwah tersebut beliau mulai dari mushola ke mushola kecil dengan menjadi pengisi berbagai majelis ilmu hingga berlanjut ke majelis-majelis taklim. Bahkan kala itu beliua juga sempat hadir di Majid At-Taqwa Alun-Alun Cirebon untuk mengisi majelis ilmu.

Pada mulanya saat Buya Yahya menyampaikan majelis taklim, hanya sekitar 20 rang saja yang hadir. Tetapi lama kelamaan jumlah jamaah yang hadir semakin banyak dan memnuhi ruangan maupun halaman masjid. Selanjutnya Buya Yahya sering menghadiri majelis taklim yang ada di berbagai tempat mulai dari Kota Cirebon, Kuningan, Majalengka, Indramayu, serta Jabodetabek. Bahkan beliau juga tidak pernah membatasi dalam berdakwah hanya di masjid saja. Sebab beliau juga berdakwah di toserba maupun swalayan.
Selanjutnya majelis asuhan Buya Yahya tersebut diberi nama Majelis Al-Bahjah yang juga merupakan nama pesantren yang beliau rintis. Hadirnya pesantren Al-Bahjah ini bagi Buya Yahya merupakan bagian dari upaya untuk menyampaikan dakwah Rasullulah SAW. Dipilihnya nama Al-Bahjah sebagai nama pondok pesantren juga tidak terlepas dari makna indah yang terkadang dalam nama tersebut. Sebab Al-Bahjah berarti kemilau sinar atau cahaya yang mempunyai harapa agar nantinya pesantren tersebut menjadi penerang untuk umat Nabi Muhammad SAW.
Selain berdakwah di mushola, masjid dan tempat-tempat lainnya, Buya Yahya juga pernah berjuang selama satu tahun di stasiun radio Salma 101 FM. Kala itu Buya Yahya merupakan direktur operasional radio Salma kemudian beliau mencoba menghadirkan dakwah melalui radio. Dakwah tersebut dilakukan dengan membuat program pesantren udara dengan mengisi acara radio melalui pengajian-pengajian. Selain itu saat bulan Ramadhan tiba, Buya Yahya ikut terlibat dalam media cetak dengan mengasuh rubrik tanya jawab di koran harian Radar Cirebon dan tetap aktif mengisi artikel di hari Jumat dalam Oase Iman. Beliau juga mengasuh rubrik masail diniyah di sebuah majalah Islami Al-Basyirah yang terbit di wilayah Jawa Timur.
Dalam setiap majlis ilmu yang beliau hadiri, selalu dipenuhi oleh para mustami’ dan thullabul ‘ilmi pada malam senin dan selasa. Kehadiran mereka tersebut hanya untuk hadir di roudhotul jannah atau majlis ilmu yang diampu oleh Buya Yahya. Namun beliau selalu meyakini bahwa keberhasilan tersebut tidak terlepas dari izin Allah SWT. Bahkan sikap hormat beliau kepada para masyaikh ketika masih berada di Yaman dahulu kini membuahkan hasil. Sebab atas izin Allah SWT, kini para mustami’ dan thullab menampakkna sikap hormat pada Buya Yahya.

Buya Yahya Mendirikan Pondok Pesantren

Dalam perjalanan dakwahnya, majelis Al-Bahjah yang dirintis oleh Buya Yahya akhirnya berkembang menjadi pesantren yang berdiri pada tahun 2008. Pesantren yang bernama Al-Bahjah tersebut didirikan di Kelurahan Sendang, Kecamatan Sumber, Cirebon. Berdirinya pesantren ini merupakan permintaan dari warga sekitar yang sangat ingin menitipkan anak-anaknya di pesantren. Setelah proses pembangunan selama kurang lebih 1,5 tahun akhirnya pesantren tersebut diresmikan tepatnya pada Januari 2010.

Pesantren Al-Bahjah sendiri mempunai beberapa kampus yaitu kampus utama yang terletak di Cirebon yang dibangun tahun 2008. Selain itu Al-Bahjah juga mempunyai banyak unit usaha diantarana mini market AB Mart, Radio_QU, Al-Bahjah TV, SDIQU Al Bahjah, SMPIQU Al Bahjah, SMAIQU Al Bahjah, dan lain-lain. Unit-unit usaha yang dimiliki oleh Al Bahjah tersebut rata-rata memang digerakkan oleh santri atau yang disebut dengan santri khusus. Tak hanya bergerak dalam bidang dakwah dan sosial, santri khusus tersebut juga ada yang bertugas di dapur umum.
Pesantren Al Bahjah memang begitu kental dengan nuansa Nahdliyin padahal sebetulnya pesantren ini bukanlah milik dari ormas Nahdatul Ulama. Uniknya, pesantren Al-Bahjah ini juga menerapkan peraturan bagi santrinya untuk wajib berbahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari. Tak perlu khawatir untuk santri baru karena akan diberikan waktu selama tiga bulan untuk berdaptasi dengan lingkungan pesantren.

Jaringan Pendukung Dakwah

Bila dibandingkan ustad pesantren lainnya, Buya Yahhya memang selangkah lebih modern. Hal tersebut bisa terlihat dari perubahan dakwah Buya Yahya dengan LPD Al-Bahjah yang semakin melebarkan sayap. Untuk itulah beliau menggunakan jaringan radio dan TV Al Bahjah dengan aktif menyiarkan ceramah maupun pengajiannya. Bahkan video-video pengajian dari Buya Yaha tersebut bisa dibuka melalui situs maupun Youtube. Seiring dengan semakin populernya Buya Yahya, dakwah beliau kini semakin merambah ke mancanegara. Selain itu, Buya Yahya juga pernah ikut berdakwah di media televisi nasional diantaranya TV One, TVRI, MNCTV dan tetap aktif mengisi acara dialog interaktif di Cirebon TV.

Diskusi Dengan Wahabi

Buya Yahya merupakan tokoh kultural Aswaja yang memang begitu gigi dalam membela faham Ahlusunnah yang telah digerakkan oleh sebagian besar umat muslim di Indonesia. Meskipun begitu ada saja faham dari aliran lain yang agresif serta bertabrakan dengan menyebarkan pahamnya dalam berbagai media. Untuk menghindari adanya perseteruan tersebut maka beberapa tokoh mengadakan diskusi dengan duduk bersama dengan mengedepankan pada dalil maupun landasan pemahaman masing-masing.
Untuk itulah Buya Yahya mengadakan diskusi terbuka dengan mengajak toko-tokoh salaf wahabi. Video tersebut kemudian diupload ke youtube dan tampak memperlihatkan kealiman dan kearifan Buya Yahya dalam berdiskusi maupun berdebat. Hal tersebut bisa terlihat dari diskusi yang dilakukan dengan Profesor Salim Bajri dan Ustad Ahmad Thoharoh. Dimana perbincangan mereka tersebut ditayangkan di TV lokal Cirebon.

Respon Pada Gosip Kontroversial

Buya Yahya merupakan sosok yang banyak dijadikan referensi oleh umat muslim. Namun tak dapat dipungkiri bahwa Buya Yahya juga pernah dihadapkan pada pertanyaan dari jamaah yang berkaitan dengan gosip agama yang sedang berkembang. Dalam beberapa permasalahan, beliau juga menentang statemen kontroversial yang disampaikan oleh sesama ustad. Dari beberapa gosip kontroversial yang pernah ia tanggapi yaitu yang diucapkan oleh K.H Said Aqil Siradj yang berhubungan dengan jenggot. Ungkapan dari K.H Said memang kerap dipelintir dan disalahpahami oleh orang lain. Namun hal tersebut disikapi keras oleh Buya Yahya.
Selain itu Buya Yahya juga pernah menyikapi pernyataan dari Prof. Quraish Shihab yang berkaitan dengan jaminan surga untuk Nabi Muhammad SAW. Dari beberapa gosip yang bermunculan tersebut intinya beberapa ustad tersebut sama-sama memperjuangkan eksistensi Aswaja yang tidak sama-sama menyalahkan. Hanya saja terkadang ungkapan yang multitafsir dan sepintas bisa diartikan berbeda oleh oranglain. Hal tersebut bisa dimanfaatkan oleh oranglain yang tak bertanggungjawab untuk mengadu pendapat dan sanggahan antar ustad. Tetapi fenomena sama-sama sanggahan lewat video tersebut tidak ada tindak lanjut tanpa adanya pertemuan langsung dari pihak-pihak yang saling berkaitan. Hal tersebut menjadi senjata bagi pihak tertentu untuk semakin menjatuhkan wibawa dan citra ustad.
Sumber:
https://ponemoslamusica.org/biografi-buya-yahya/

Minggu, 21 April 2019


ﺑِﺴْــــــــــــــﻢِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ِﺍﻟﺮَّﺣِﻴـــــﻢ

  1. “ KISAH SAYYDAH FATIMAH AZ ZAHRA 

رضي الله عنها  
Binti RASULULLAH S.A.W “

Pemimpin wanita pada masanya ini adalah putri ke 4 dari anak anak Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, dan ibunya adalah Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwalid Radyallah’anhum, Sesungguhnya allah Subhanahu wa ta’ala menghendaki kelahiran Fathimah yang mendekati tahun ke 5 sebelum Muhammad diangkat menjadi Rasul, bertepatan dengan peristiwa besar yaitu ditunjuknya Rasulullah sebagai menengah ketika terjadi perselisiha antara suku Quraisy tentang siapa yang berhak meletakan kembali Hajar Aswad setelah Ka’abah diperbaharui. Dengan kecerdasan akalnya beliau mampu memecahkan persoalan yang hampir menjadikan peperangan diantara kabilah-kabilah yang ada di Makkah.

Kelahiran Fahimah disambut gembira oleh Rasulullahu alaihi wassalam dengan memberikan nama Fathimah dan julakannya Az-Zahra, sedangkan kunyahnya adalah Ummu Abiha (Ibu dari bapaknya).

Ia putri yang mirip dengan ayahnya, Ia tumbuh dewasa dan ketika menginjak usia 5 tahun terjadi peristiwa besar terhadap ayahnya yaitu turunnya wahyu dan tugas berat yang diemban oleh ayahnya. Dan ia juga menyaksikan kaum kafir melancarkan gangguan kepada ayahnya.sampai cobaan yang berat dengan meninggal ibunya Khadijah. Ia sangat pun sedih dengan kematian ibunya.

Pada saat kaum muslimin hijrah ke madinah, Fathima R.a, dan kakanya Ummu Kulsum R.a, tetap tinggal di Makkah sampai Nabi mengutus orang untuk menjemputnya.Setelah Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam menikah dengan Aisyah binti Abu Bakar R.a, para sahabat berusaha meminag Fathimah. Abu Bakar dan Umar R.a, maju lebih dahulu untuk meminang tapi nabi menolak dengan lemah lembut.Lalau Ali bin Abi Thalib R.a, datang kepada Rasulullah saw,untuk melamar, lalu ketika nabi bertanya ; “Apakah engkau mempunyai sesuatu ?”, Tidak ada ya Rasulullah,” jawabku. “ Dimana pakaian perangmu yang hitam, yang saya berikan kepadamu,” Tanya beliau. “ Masih ada padaku wahai Rasulullah,” jawabku. “Berikan itu kepadanya (Fatihmah) sebagai mahar,”.kata beliau.

Lalu ali bin abi thalib R.a, bergegas pulang dan membawa baju besinya, lalu Nabi menyuruh menjualnya dan baju besi itu dijual kepada Utsman bin Affan R.a, seharga 470 dirham, kemudian diberikan kepada Rasulullah dan diserahkan kepada Bilal untuk membeli perlengkapan pengantin.

Kaum muslim merasa gembira atas perkawinan Fathimah dan Ali bin Abi Thalib R.a, setelah setahun menikah lalu dikaruniai anak bernama Al- Hasan dan saat Hasan genap berusia 1 tahun lahirlah Husein pada bulan Sya’ban tahun ke 4 H. pada tahun kelima H ia melahirkan anak perempuan bernama Zainab dan yang terakhir benama Ummu Kultsum.

Rasullah sangat menyayangi Fathimah, setelah Rasulullah bepergian ia lebih dulu menemui Fathimah sebelum menemui istri istrinya. Aisyah r.a,berkata ;
” Aku tidak melihat seseorang yang perkataannya dan pembicaraannya yang menyerupai Rasulullah selain Fathimah, jika ia dating mengunjungi Rasulullah, Rasulullah berdiri lalu menciumnya dan menyambut dengan hangat, begitu juga sebaliknya yang diperbuat Fathimah bila Rasulullah dating mengunjunginya.”.

Rasulullah mengungkapkan rasa cintanya kepada putrinya takala diatas mimbar:” Sungguh Fathima bagian dariku , Siapa yang membuatnya marah berarti membuat aku marah”. Dan dalam riwayat lain disebutkan,” Fathimah bagian dariku, aku merasa terganggu bila ia diganggu dan aku merasa sakit jika ia disakiti.”.

Setelah Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam menjalankan haji wada’ dan ketika ia melihat Fathima, beliau menemuinya dengan ramah sambil berkata,” Selamat dating wahai putriku”. Lalu Beliau menyuruh duduk disamping kanannya dan membisikan sesuatu, sehingga Fathimah menangis dengan tangisan yang keras, tak kala Fathimah sedih lalu Beliau membisikan sesuatu kepadanya yang menyebabkan Fathimah tersenyum.

Takala Aisyah bertanya tentang apa yang dibisiknnya lalu Fathimah menjawab,” Saya tak ingin membuka rahasia”. Setelah Rasulullah wafat, Aisyah bertanya lagi kepada Fathimah tentang apa yang dibisikan Rasulullah kepadanya sehingga membuat Fathimah menangis dan tersenyum. Lalu Fathimah menjawab,” Adapun yang Beliau kepada saya pertama kali adalah beliau memberitahu bahwa sesungguhnya Jibril telah membacakan al-Qura’an dengan hapalan kepada beliau setiap tahun sekali, sekarang dia membacakannya setahun 2 kali, lalu Beliau berkata “Sungguh saya melihat ajalku telah dekat, maka bertakwalah dan bersabarlah, sebaik baiknya Salaf (pendahulu) untukmu adalah Aku.”. Maka akupun menangis yang engkau lihat saat kesedihanku. Dan saat Beliau membisikan yang kedua kali, Beliau berkata,” Wahai Fathimah apakah engkau tidak suka menjadi penghulu wanita wanita penghuni surga dan engkau adalah orang pertama dari keluargaku yang akan menyusulku”. Kemudian saya tertawa.

Takala 6 bulan sejak wafatnya Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, Fathimah jatuh sakit, namaun ia merasa gembira karena kabar gembira yang diterima dari ayahnya. Tak lama kemudian iapun beralih ke sisi Tuhannya pada malam selasa tanggal 13 Ramadhan tahun 11 H dalam usia 27 tahun.

و السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
وَ الـلَّــــهُ اَعْــلَـــمْ بِالصَّــــوَابِ
بَارَكَ اللّهُ فِيْكُمْ

۞ اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ۞

• Sumber : biografi ahlulhadits
• Foto : Di sini dahulu rumah Sayyidah Fatimah Az Zahra, رضي الله عنها bersama sayidina Ali kwh, hasan & husen R.a. foto: by.sykh mohamad aslam.

Senin, 17 Desember 2018

MARIA AL QIBTIYYAH

Ketika berbicara nama Maria Al Qibtiyah maka ingatan kita akan senantiasa tertuju kepada surat ke 66 ayat pertama :

يا أيها النبي لم تحرم ما أحل الله لك تبتغي مرضات أزواجك والله غفور رحيم
 Artinya : “Hai Muhammad, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “ (QS. At-Tahriim:1)
Seperti halnya Sayyidah Raihanah binti Zaid, Mariyah al-Qibtiyah adalah budak Rasulullah yang kemudian beliau bebaskan dan beliau nikahi. Rasulullah memperlakukan Mariyah sebagaimana beliau memperlakukan istri-istri beliau yang lainnya. Abu Bakar dan Umar pun memperlakukan Mariyah layaknya seorang Ummul-Mukminin. Dia adalah istri Rasulullah satu-satunya yang melahirkan seorang putra, Ibrahirn, setelah Khadijah.

A. Dari Mesir ke Yastrib
Tentang nasab Mariyah, tidak banyak yang diketahui selain nama ayahnya. Nama lengkapnya adalah Mariyah binti Syama’un dan dilahirkan di dataran tinggi Mesir yang dikenal dengan nama Hafn. Ayahnya berasal dan Suku Qibti, dan ibunya adalah penganut agarna Masehi Romawi. Setelah dewasa, bersarna saudara perempuannya, Sirin, Mariyah dipekerjakan pada Raja Muqauqis.
Rasulullah saw. mengirim surat kepada Muqauqis melalui Hatib bin Baltaah, rnenyeru raja agar memeluk Islam. Raja Muqauqis menerima Hatib dengan hangat, namun dengan ramah dia menolak memeluk Islam, justru dia mengirimkan Mariyah, Sirin, dan seorang budak bernama Maburi, serta hadiah-hadiah hasil kerajinan dari Mesir untuk Rasulullah. Di tengah perjalanan Hatib rnerasakan kesedihan hati Mariyah karena harus rneninggalkan kampung halamannya. Hatib rnenghibur mereka dengan menceritakan Rasulullah dan Islam, kemudian mengajak mereka merneluk Islam. Mereka pun menerirna ajakan tersebut.
Rasulullah teläh menerima kabar penolakan Muqauqis dan hadiahnya, dan betapa terkejutnya Rasulullah terhadap budak pemberian Muqauqis itu. Beliau mengambil Mariyah untuk dirinya dan menyerahkan Sirin kepada penyairnya, Hasan bin Tsabit. Istri-istri Nabi yang lain sangat cemburu atas kehadiran orang Mesir yang cantik itu sehingga Rasulullah harus menitipkan Mariyah di rumah Haritsah bin Nu’man yang terletak di sebelah rnasjid.

B. Ibrahim bin Muhammad saw.
Allah menghendaki Mariyah al-Qibtiyah melahirkan seorang putra Rasulullah setelah Khadijah r.a. Betapa gembiranya Rasulullah mendengar berita kehamilan Mariyah, terlebih setelah putra-putrinya, yaitu Abdullah, Qasim, dan Ruqayah meninggal dunia.
Mariyah mengandung setelah setahun tiba di Madinah. Kehamilannya membuat istri-istri Rasul cemburu karena telah beberapa tahun mereka menikah, namun tidak kunjung dikaruniai seorang anak pun. Rasulullah menjaga kandungan istrinya dengan sangat hati-hati. Pada bulan Dzulhijjah tahun kedelapan hijrah, Mariyah melahirkan bayinya yang kemudian Rasulullah memberinya nama Ibrahim demi mengharap berkah dari nama bapak para nabi, Ibrahim a.s.. Kaum muslimin menyambut kelahiran putra Rasulullah saw. dengan gembira.
Akan tetapi, di kalangan istri Rasul lainnya api cemburu tengah membakar, suatu perasaan yang Allah ciptakan dominan pada kaum wanita. Rasa cemburu sernakin tampak bersamaan dengan adanya pertemuan Rasulullah saw. dengan Mariyah di rumah Hafshah sedangkan Hafshah tidak berada di rumahnya. Hal ini menyebabkan Hafshah marah. Atas kemarahan Hafshah itu Rasulullah rnengharamkan Mariyah atas diri beliau. Kaitannya dengan hal itu, Allah SWT telah menegur lewat firman-Nya:

“Hai Muhammad, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “ (QS. At-Tahriim:1)

Aisyah mengungkapkan rasa cemburunya kepada Mariyah, “Aku tidak pernah cemburu kepada wanita kecuali kepada Mariyah karena dia berparas cantik dan Rasulullah sangat tertarik kepadanya. Ketika pertama kali datang, Rasulullah menitipkannya di rumah Haritsah bin Nu’man al-Anshari, lalu dia menjadi tetangga kami. Akan tetapi, beliau sering kali di sana siang dan malam. Aku merasa sedih. Oleh karena itu, Rasulullah memindahkannya ke kamar atas, tetapi beliau tetap mendatangi tempat itu. Sungguh itu lebih menyakitkan bagi karni.” Di dalam riwayat lain dikatakan bahwa Aisyah berkata, “Allah memberinya anak, sementara kami tidak dikaruni anak seorang pun.”
Beberapa orang dari kalangan golongan munafik menuduh Mariyah telah melahirkan anak hasil perbuatan serong dengan Maburi, budak yang menemaninya dari Mesir dan kemudian menjadi pelayan bagi Mariyah. Akan tetapi, Allah membukakan kebenaran untuk diri Mariyah setelah Ali ra. menemui Maburi dengan pedang terhunus. Maburi menuturkan bahwa dirinya adalah laki-laki yang telah dikebiri oleh raja.
Pada usianya yang kesembilan belas bulan, Ibrahim jatuh sakit sehingga meresahkan kedua orang tuanya. Mariyah bersama Sirin senantiasa menunggui Ibrahim. Suatu malarn, ketika sakit Ibrahim bertambah parah, dengan perasaan sedih Nabi saw. bersama Abdurrahman bin Auf pergi ke rumah Mariyah. Ketika Ibrahim dalam keadaan sekarat, Rasulullah saw. bersabda, “Kami tidak dapat menolongmu dari kehendak Allah, wahai Ibrahim.”
Tanpa beliau sadari, air mata telah bercucuran. Ketika Ibrahim meninggal dunia, beliau kembali bersabda,

“Wahai Ibrahim, seandainya ini bukan perintah yang haq, janji yang benar, dan masa akhir kita yang menyusuli masa awal kita, niscaya kami akan merasa sedih atas kematianmu lebih dari ini. Kami semua merasa sedih, wahai Ibrahim… Mata kami menangis, hati kami bersedih, dan kami tidak akan mengucapkan sesuatu yang menyebabkan murka Allah.”

Demikianlah keadaan Nabi saw ketika menghadapi kematian putranya. Walaupun tengah berada dalam kesedihan, beliau tetap berada dalam jalur yang wajar sehingga tetap menjadi contoh bagi seluruh manusia ketika menghadapi cobaan besar. Rasulullah saw. mengurus sendiri jenazah anaknya kemudian beliau menguburkannya di Baqi’.

C. Saat Wafatnya
Setelah Rasulullah wafat, Mariyah hidup menyendiri dan menujukan hidupnya hanya untuk beribadah kepada Allah. Dia wafat lima tahun setelah wafatnya Rasulullah, yaitu pada tahun ke-46 hijrah, pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Khalifah sendiri yang menyalati jenazah Sayyidah Mariyah al-Qibtiyah, kemudian dikebumikan di Baqi’. Semoga Allah menempatkannya pada kedudukan yang mulia dan penuh berkah.