Jumat, 06 November 2015

JALINAN YANG PENUH MAKNA

Oleh : Buya Yahya
Pengasuh LPD Al-Bahjah
Dalam sebuah kebersamaan ada terjalin sebuah persahabatan dan pertemuan. Akan tetapi, tidak semua dari yang bersahabat adalah sama-sama beruntung. Keberuntungan seseorang tersembunyi di balik kalbunya disaat bersahabat. Dua orang yang bersahabat, ada kalanya satu dari keduanya selalu berharap kemuliaan di akhirat dibalik persahabatan ini, sementara yang satu lagi tidak menjalin pesahabatan kecuali untuk keuntungan di dunia. Biarpun semuanya sama-sama ke masjid, makan bersama atau bahkan tidur bersama, yang satu adalah orang beruntung dan yang satu lagi adalah orang yang celaka. Siapapun dari kita harus mencermati apa yang tersembunyi di balik kalbunya. Apa di balik kedekatan kita dengan seorang sahabat? Jika seorang pejabat menjalin persahabatan dengan seoarang ustadz yang paling beruntung adalah yang memanfaatkan kedekatan tersebut untuk mendapatkan kemulyaan di hadapan Allah SWT. Alangkah celakanya jika sang ustadz dekat dengan penguasa atau pejabat hanya mengharap keuntungan dunia, begitu juga jika seorang pejabat yang dekat dengan ustadz hanya untuk kepentingan dunianya.
Rasulullah pernah bersabda "Barangsiapa yang merendah kepada orang kaya (berpangkat di dunia) karena dunianya, maka telah hilang dua pertiga (nilai) agamanya." Ini adalah petunjuk yang amat jelas dari Rasulullah SAW agar kita memahami makna sebuah kedekatan. Karena kejahatan hati amatlah tersembunyi dan tidak ada yang bisa mengoreksinya kecuali diri sendiri.
Dalam kesempatan lain Rasulullah SAW juga pernah bercerita. Ada dua orang yang berbeda dalam menjalani hidupnya. Yang pertama adalah orang yang terlihat baik karena kesehari-hariannya adalah hanya beribadah di atas gunung. Yang satu lagi adalah seorang pemuda preman pasar yang secara lahir adalah kotor dan jahat karena pekerjaannya hanya membuat keributan dan mengganggu orang-orang di pasar. Akan tetapi suatu ketika dipertemukan oleh Allah SWT pada suatu tempat. Sang ahli ibadah saat itu kehabisan bekal sehingga ia harus membeli bekal di tengah pasar. Dalam saat yang bersama, sang preman pasar berkeinginan untuk bisa dekat dengan ahli ibadah yang di atas gunung. Keduanya pun menuju tempat yang mereka tuju. Yang ahli ibadah turun ke pasar dan sang preman pasarpun menuju ke atas gunung. Akhirnya keduanya bertemu disuatu tempat, dan disaat itu ternyata Allah SWT mencabut hidayah dari sang ahli ibadah dan memindahkannya kepada sang preman pasar. Dalam kisah tersebut Rasulullah SAW menjelaskan bahwa itu terjadi disebabkan oleh sesuatu yang tersembunyi di hati mereka berdua. Yang ada di hati sang preman disaat bertemu adalah makna pengagungan kepada ulama Allah SWT dengan penuh harap agar pertemuan tersebut menjadi sebab Allah SWT mencintainya. Sementara itu, yang dirasakan hati sang ahli ibadah bukanlah makna kerinduan kepada Allah SWT, akan tetapi hatinya penuh dengan kesombongan sebagai ahli ibadah. Yang ada adalah rasa meremehkan kepada sang preman, bukan melihatnya dengan kasih sayang dan sebagai lahan untuk amal baik dengan mengajaknya kepada kebenaran dan menjauhkanya dari kejahatan.
Maka disini kita harus bisa mencermati setiap jalinan yang kita rajut. Anda yang ustadz, apa makna kedekatan Anda dengan para pejabat dan saudagar ? Anda yang pejabat, apa makna kedekatan Anda dengan para ulama, saudagar dan fakir miskin? Anda yang saudagar, apa makna kedekatan Anda dengan para pejabat ulama dan fakir miskin? Sudahkah Allah SWT hadir dalam jalinan Anda? 
Wallahu a'lam bissawab.

HUKUM MENONTON FILM PEMBANGKIT SYAHWAT SEBELUM BERHUBUNGAN

Buya Yahya Menjawab
Assalamualaikum, maaf ustadz saya mau bertanya dan maaf kalo pertanyaan saya agak kurang pantas, biasanya saya dan suami sebelum melakukan hubungan suami-istri kami selalu melihat film yang dapat membangkitkan gairah. Bagaimana hukum tentang hal tersebut. Sekali lagi mohon maaf dan terima kasih.
Jawaban :
Allah SWT mengajarkan kepada orang yang beriman untuk senantiasa menutup matanya dari melihat yang tidak baik dan harom. Masalah yang dipertanyakan, film yang membangkitkan syahwat (film porno) adalah sesuatu yang diharamkan, karena biarpun sekedar gambar akan tetapi gambar yang membuka aurot dan membangkitkan sahwat. Para Ulama menjelaskan kalau melihat apapun yang membangkitkan syahwat adalah haram apalagi gambar tersebut adalah gambar bergerak yang memerankan adegan syahwat. Kemudian lebih dari itu secara Psikologi itu akan merusak kejiwaan orang yang melihatnya, merusak hayal dan pikirannya dan akirnya merusak hubungan suami istri.
Banyak pecandu film kotori tidak bersemangat berhubungan dengan pasangan jika tidak melihat film-film semacam itu lagi, sehingga seorang istri tidak bisa membangkitkan syahwat sang suami atau sebaliknya. Dalam hayalannya adalah adegan-adegan yang mungkin tidak bisa di lakukannya. Sangat bodoh seorang suami yang mengajak istrinya nonton film porno karena secara tidak langsung mengajari sang istri untuk melihat sesuatu yang mungkin secara syahwat dianggap lebih bagus dari yang dimiliki suaminya dan begitu sebaliknya. Maka dalam melihat film porno ada Madhorot Syar’iyah, Madhorot Akhlaqiyah dan Madhorot Nafsiyah. Haram, bertentangan dengan kemulyaan akhlaq dan merusak psikologi. Wallahu a’lam bisshowab

sumber;

KH M MA’SHUM BIN ALI

Kiai Sederhana yang mendunia
Diceritakan, seumur hidup beliau hanya mempunyai satu foto dan ketika akan meninggal beliau membakar fotonya tersebut karena takut identitasnya diketahui orang. isteri beliau Ny Hj Khoiriyah Hasyim yang adalah putri Hadratus syeikh KH Hasyim Asy'ari.
Kesederhanaannya membuat banyak orang tidak mengenal tokoh alim yang satu ini. Padahal beliau adalah pengarang kitab Al-Amtsilah At-Tashrifiyyah. Sebuah kitab ilmu sharaf yang amat masyhur di Nusantara, bahkan di luar negeri.
Nama lengkapnya, Muhammad Ma’shum bin Ali bin Abdul Jabbar Al-Maskumambani. Lahir di Maskumambang, Gresik, tepatnya di sebuah pondok yang didirikan oleh sang kakek.
Setelah belajar pada ayahnya, Ma’shum muda pergi menuntut ilmu di Pesantren Tebuireng Jombang. Ia termasuk salah satu santri generasi awal Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari. Pada masa itu, selain dituntut untuk belajar, para santri juga diharuskan ikut berjuang melawan penjajah. Kedatangannya ke Tebuireng disusul oleh adik kandungnya, Adlan Ali–kelak atas inisiatif Hadratus Syeikh, Kiai Adlan mendirikan pondok putri Wali Songo Cukir.
Bertahun-tahun lamanya pemuda Ma’shum mengabdi di Tebuireng. kemampuannya dalam segala bidang ilmu, terutama bidang falak, hisab, sharaf, dan nahwu, membuat Hadratus Syeikh tertarik untuk menikahkan dengan putrinya, Khairiyah.

Mendirikan Pondok
Seblak adalah sebuah nama dusun yang terletak sekitar 300 m sebelah barat Tebuireng. Penduduk Seblak kala itu masih banyak yang melakukan kemungkaran, seperti halnya warga Tebuireng sebelum kedatangan Hadratus Syeikh. Melihat kondisi ini, Kiai Ma’shum merasa terpanggil untuk menyadarkan masyarakat setempat dan mengenalkan Islam secara perlahan.
Jerih payahnya diridhai Allah SWT. Pada tahun 1913, ketika usianya baru 26 tahun, beliau mendirikan sebuah rumah sederhana yang terbuat dari bambu. Seiring berjalannya waktu, di sekitar rumah tersebut kemudian didirikan pondok dan masjid, yang berkembang cukup pesat.
Meski sudah berhasil mendirikan pondok, Kiai Ma’shum tetap istiqamah mengajar di madrasah Salafiyah Syafiiyah Tebuireng, membantu Hadratus Syeikh mendidik santri. Pada tahun berikutnya, beliau diangkat menjadi Mufattis (Pengawas) di Madrasah tersebut.

Karya Pena
Meskipun jumlah karyanya tak sebanyak Hadratus Syeikh, akan tetapi hampir semua kitab karangannya sangat monumental.
Bahkan, banyak orang yang lebih mengenal kitab karangannya dibanding pengarangnya.
Ada empat kitab karya beliau;

(1)Al-Amtsilah At-Tashrifiyyah
Kitab ini menerangkan ilmu sharaf. Susunannya sistematis, sehingga mudah difaham dan dihafal. Lembaga-lembaga pendidikan Islam, baik di Indonesia atau di luar negeri, banyak yang menjadikan kitab ini sebagai rujukan. Kitab ini bahkan menjadi menjadi pegangan wajib di setiap pesantren salaf. Ada yang menjulukinya kitab ”Tasrifan Jombang”.
Kitab yang terdiri dari 60 halaman ini, telah diterbitkan oleh banyak penerbit, diantaranya Penerbit Salim Nabhan Surabaya.
Pada halaman pertamanya tertera sambutan berbahasa Arab dari (mantan) menteri Agama RI, KH. Saifuddin Zuhri.

(2) Fathul Qadir
Konon, ini adalah kitab pertama di Nusantara yang menerangkan ukuran dan takaran Arab dalam bahasa Indonesia. Diterbitkan pada tahun 1920-an, ketika Kiai Ma’shum masih hidup, oleh penerbit Salim Nabhan Surabaya. Halamannya tipis tapi lengkap. Kitab ini banyak dijumpai di pasaran.

(3) Ad-Durus Al-Falakiyah
Meskipun banyak orang yang beranggapan bahwa ilmu falak itu rumit, tetapi bagi orang yang
mempelajari kitab ini akan berkesan ”mudah”, karena disusun secara sistematis dan konseptual. Di dalamnya termuat ilmu hitung, logaritma, almanak Masehi dan Hijriyah, posisi Matahari, dll. Kitab yang diterbitkan oleh Salim Nabhan Surabaya tahun 1375 H ini, terdiri dari tiga juz dalam satu jilid dengan jumlah 109 halaman.

(4) Badi’atul Mitsal 
Kitab ini juga menerangkan perihal ilmu falak. Beliau berpatokan bahwa yang menjadi pusat peredaran alam semesta bukanlah Matahari sebagaimana teori yang datang kemudian, melainkan Bumi. Sedangkan Matahari, planet dan bintang yang jumlahnya sekian banyaknya, berjalan mengelilingi Bumi.

Pribadi yang Sederhana
Sebagai Kiai yang berilmu tinggi, Kiai Ma’shum dikenal sebagi Kiai yang akrab dengan kalangan bawah. Saking akrabnya, banyak diantara mereka yang tak mengetahui kalau sebetulnya beliau adalah ulama besar. Dalam pandangannya, semua orang lebih pintar darinya. Kiai Ma’shum pernah berguru kepada seorang nelayan di perahu, selama dalam perjalanan haji. Beliau tidak merasa malu, meski orang lain menilainya aneh. Hasilnya, dari situ beliau menulis kitab Badi’ah Al-Mitsal.
Beliau juga dikenal sufi. Untuk menghindari sikap sombong di hadapan manusia, menjelang wafat, beliau membakar fotonya. Padahal itu adalah satu-satunya foto yang dimiliki. Hal ini tak lain karena beliau takut identitasnya diketahui oleh banyak orang, yang nantinya akan menimbulkan penyakit hati seperti riya’, ujub, dan sombong.

Hubungan yang Harmonis
Kehidupan sehari-hari Kiai Ma’shum mencerminkan sosok pribadi yang harmonis, baik bersama masyarakat, keluarga, maupun santri. Khusus kepada Hadratus Syeikh, beliau sering menghadiahkan kitab kepada sang mertua yang juga gurunya itu. Sepulangnya dari Mekkah tahun 1332 H, beliau tak lupa membawakan kitab Al-Jawahir Al-Lawami’ sebagai hadiah untuk Kiai Hasyim. Bahkan kitab As-Syifa’ yang pernah diberikannya, menjadi kitab referensi utama Hadratus Syeikh ketika mengarang kitab.
(Almh) Nyai Khoiriyah Hasyim menceritakan: Suatu ketika Kiai Ma’sum pernah berdebat dengan Hadratus Syeikh tentang dua persoalan; pertama, soal foto dan penentuan awal Ramadhan. Menurut Kiai Ma’sum, foto tidak haram. Sedangkan Hadratus Syeikh menyatakan haram. (lihat; Heru Sukardi: 1979) Kedua, soal permulaan bulan puasa, Kiai Maksum telah menentukannya dengan hisab (perhitungan astronomis). Sedangkan Hadratus Syeikh memilih dengan teori ru’yat (observasi bulan sabit). Akibat perselisihan ini, keluarga Kiai Maksum di Seblak lebih dahulu berpuasa dari pada keluarga Kiai Hasyim dan para santri di Tebuireng. Walaupun kedua ulama’ ini sering berbeda pendapat, namun hubungan keduanya tetap terjalin akrab. Ini merupakan bukti bahwa perbedaan pendapat di antara ulama merupakan hal yang wajar.

”Kepulangan” Sang Teladan
Pada tangal 24 Ramadhan 1351 atau 8 Januari 1933, Kiai Ma’sum wafat setelah sebelumnya menderita penyakit paru-paru. Beliau wafat pada usia + 46 tahun. Wafatnya Kiai Ma’shum merupakan ”musibah besar” terutama bagi santri Tebuireng, karena beliaulah satu-satunya ulama yang menjadi rujukan dalam segala bidang keilmuan setelah Hadratus Syeikh. Hingga kini, belum ada seorang ulama pun yang mampu menggantikannya. Semoga segala amalnya diterima oleh Allah SWT dan apa yang ditinggalkan bermanfaat. Allahummagfir lahu wa nafa’ana bihi wa bi ulumihi. Amin.

disadur dari situs NU Online
oleh,
Fathurrohman Karyadi
Santri Pondok Pesantren Tebuireng