Selasa, 04 Februari 2020

RM Sundoro


====== Raden Mas Sundoro ======
 (Sang Penantang 3 Imperium Eropa)

Sejak usia muda, Sultan Hamengku Buwono II telah menunjukkan diri sebagai seorang bangsawan yang berintegritas dihadapan musuh utama Belanda, Perancis dan Inggris. Selama hidupnya, beliau mengalami dua kali pemakzulan (tahun 1811 oleh Daendels, tahun 1812 oleh Raffles), dan tiga kali pembuangan (Penang 1812, Ambon 1817, dan Surabaya 1825).

Sultan HB II dilahirkan pada hari Sabtu Legi tanggal 7 Maret 1750 di lereng gunung Sindoro, daerah Kedu Utara. Ketika lahir, Sultan HB II diberi nama Raden Mas (RM) Sundoro. Nama ini diberikan sesuai dengan nama tempat kelahirannya yang berada di lereng gunung Sindoro.

RM Sundoro adalah putra Pangeran Mangkubumi, raja pertama di Kesultanan Yogyakarta pada tahun 1755 dengan gelar Sultan Hamengku Buwono I. Meskipun berstatus sebagai putra raja, masa kecil RM Sundoro tidak dialaminya dengan penuh fasilitas dan kebahagiaan layaknya seorang pangeran.

Pada saat dilahirkan, ayahnya sedang bergerilya untuk melawan VOC dan Kerajaan Mataram Surakarta di bawah Susuhunan Paku Buwono III. Medan perang Mangkubumi yang terbentang dari Kedu di utara sampai pesisir selatan dan dari Banyumas di barat hingga Madiun di timur membuat RM Sundoro hampir tidak pernah bertemu dengan ayahnya.

Sejak lahir hingga usia lima tahun, RM Sundoro diasuh oleh ibunya, Kanjeng Ratu Kadipaten, permaisuri kedua Pangeran Mangkubumi. Ketika perjuangan Mangkubumi berakhir dengan ditandatanganinya Perjanjian Giyanti tanggal 13 Pebruari 1755, Kerajaan Mataram dibagi menjadi dua (palihan nagari).

Sebagian kerajaan dikuasai oleh Sunan Paku Buwono III di Surakarta, dan sebagian lagi diperintah oleh Mangkubumi yang menjadi raja baru. Kerajaan yang baru diberi nama Kesultanan Yogyakarta.

Setelah peristiwa palihan nagari ini, Sultan HB I membangun kompleks kraton baru di Yogyakarta dan membawa seluruh keluarganya ke kraton, termasuk GKR Kadipaten bersama putranya RM Sundoro. Sejak saat itu, RM Sundoro mulai tinggal di kraton dengan status sebagai seorang putra raja.

Kecintaan dan kepercayaan Sultan HB I terhadap RM Sundoro mulai tampak sejak mereka tinggal bersama. Ini terbukti dengan keinginan Sultan HB I menunjuk RM Sundoro sebagai putra mahkota pada saat ia dikhitan pada tahun 1758.

Sultan HB I mengetahui sifat putranya yang memiliki kekerasan jiwa sebagai akibat dari pengalaman hidupnya di wilayah pengungsian. Pengalaman hidup inilah yang membentuk watak RM Sundoro yang kelak dianggap sebagai pribadi yang keras dan tegas dalam pengambilan keputusan.

Meskipun ada beberapa orang calon lain, khususnya dari permaisuri pertama GKR Kencono yang berputra dua orang, Sultan HB I tetap memilih RM Sundoro sebagai putra mahkota. Keyakinan ini semakin kuat ketika dua putra dari GKR Kencono dianggap tidak memenuhi syarat sebagai putra mahkota.

Setelah Sundoro mulai tumbuh dewasa, Sultan HB I mulai berpikir tentang calon pendamping hidup. Untuk itu Sultan HB I berniat menjodohkan putranya dengan putri Sunan PB III. Ketika RM Sundoro berkunjung ke kraton Surakarta, tahun 1763 dan 1765, Sundoro disambut langsung oleh Sunan PB III.

Harapan yang ada dari kedua orang raja Jawa itu adalah bahwa dengan ikatan perkawinan ini, ketegangan politik yang selama ini terjadi antara Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta akan berkurang.

Akan tetapi, usaha tersebut gagal akibat adanya campur tangan Pangeran Adipati Mangkunegoro I yang juga menginginkan putri yang sama. Akibatnya RM Sundoro tidak berhasil mempersunting putri PB III.

Kejadian ini membuat hubungan kedua raja Jawa ini menjadi renggang. Faktor lain yang memicu ketegangan antara Kesultanan Yogyakarta dan Kesunanan Surakarta adalah sengketa perbatasan daerah.

RM Sundoro mulai menyadari bahwa baik dalam Perjanjian Giyanti tahun 1755 maupun Perjanjian Semarang tahun 1774, kekuasaan dan wilayah raja-raja Jawa semakin sempit. Sebaliknya, wilayah VOC menjadi semakin luas.

Dengan adanya pembagian wilayah baru, VOC memperoleh kesempatan semakin besar untuk melakukan eksploitasi ekonomi yang berbentuk pemborongan sumber-sumber pendapatan raja-raja Jawa seperti tol, pasar, sarang burung, penambangan perahu, pelabuhan laut dan penjualan candu. 

Tekanan ekonomi dan politik VOC semakin intensif ketika kondisi fisik Sultan HB I maupun Sunan PB III semakin merosot setelah tahun 1780. Hal tersebut menumbuhkan kebencian RM Sundoro kepada VOC khususnya dan orang asing pada umumnya.

Pandangan ini memperkuat tekad Sultan HB I untuk mengukuhkan status Sundoro sebagai putra mahkota. Meskipun ada penentangan dari para pejabat VOC yang sudah menyadari sikapnya, Sultan HB I tetap menjadikan RM Sundoro sebagai calon pewaris tahta pada tahun 1785.

Dengan statusnya yang baru, RM Sundoro memiliki wewenang yang lebih besar. Hampir semua tindakan yang berhubungan dengan Kesultanan Yogyakarta disetujui oleh ayahnya.

Setelah diangkat menjadi putra mahkota, langkah pertama yang diambilnya adalah melindungi kraton Yogyakarta terhadap ancaman VOC, terutama dengan pembangunan benteng Rustenburg oleh Komisaris Nicolaas Harstink pada tahun 1765.

Setelah memperoleh izin dari ayahnya, RM Sundoro memerintahkan pembangunan tembok baluwarti yang mengelilingi alun-alun baik utara maupun selatan kraton Yogyakarta.

Di bagian depan bangunan ini diperkuat dengan pemasangan 13 buah meriam. Senjata ini diarahkan ke depan menghadap benteng Rustenburg. Pembangunan yang dimulai pada tahun 1785 itu terus berlangsung hingga RM Sundoro naik tahta menjadi Sultan HB II.

Ketika Sultan HB I wafat pada tanggal 24 Maret 1792. Perhatian para pejabat VOC kembali beralih ke Yogyakarta. Sesuai tradisi dan kesepakatan yang dibuat dengan VOC, Gubernur Pantai Timur Laut Jawa Pieter Gerard van Overstraten  mengukuhkan dan melatik RM Sundoro sebagai Sultan Hamengku Buwono II pada tanggal 2 April 1792.

Berbeda dengan Sunan PB IV yang hanya berambisi untuk memulihkan kekuasaan ayahnya sebagai raja Mataram, tujuan utama Sultan HB II adalah menjadikan Kesultanan Yogyakarta sebagai suatu kerajaan Jawa yang besar, berwibawa dan disegani oleh para penguasa Eropa.

Bertolak dari konsep ini, Sultan HB II bertekad untuk menolak semua intervensi Belanda yang mengakibatkan merosotnya kewibawaan raja Jawa dan berkurangnya wilayah kekuasaan raja-raja Jawa.

Konflik terbuka pertama terjadi antara Sultan HB II dan VOC. Peristiwa ini berlangsung tidak lama setelah  pelantikannya. Gubernur van Overstraten meminta kepada Sultan HB II agar dalam setiap acara pertemuan dengan sultan, kursinya disejajarkan dan diletakkan di sebelah kanan kursi sultan.

Sultan HB II dengan tegas menolak tuntutan Overstraten itu. Karena tidak berhasil memaksakan kehendaknya, Overstraten melaporkan hal itu ke Batavia. Sebaliknya pemerintah VOC di Batavia yang sedang berada dalam kondisi kesulitan keuangan dan menghadapi blokade Inggris bermaksud mencegah insiden yang bisa menimbulkan konflik dengan raja-raja Jawa.

Gubernur Jenderal Arnold Alting melarang Van Overstraten bertindak lebih jauh. Sampai ia diganti oleh J.R. Baron van Reede tot de Parkeler pada tanggal 31 Oktober 1796, tuntutan itu tidak pernah dikabulkan oleh Sultan HB II. Utusan Belanda tetap diperlakukan seperti seorang utusan para penguasa taklukan di depan Sultan HB II.

Parkeler yang mengetahui diri Sultan HB II dari van Overstraten bertindak hati-hati. Pertemuan politik pertama dengan sultan ini terjadi pada bulan Agustus 1799 ketika Parkeler menghadiri acara pemakaman Patih Danurejo I.

Menurut perjanjian tahun 1743, raja Mataram wajib meminta pertimbangan VOC sebelum menunjuk seseorang menjadi patih. Sultan HB II berusaha menghindari hal itu dengan alasan bahwa Kesultanan Yogyakarta bukan Kerajaan Mataram dan Sultan berhak mengangkat patihnya sendiri.

Tetapi melalui perundingan dan pembicaraan yang dilakukan, akhirnya Parkeler berhasil membujuk Sultan HB II untuk memperbaharui perjanjian itu. Pada bulan September 1799 Sultan HB II bersedia menandatangani perjanjian baru yang memuat pengangkatan patih baru.

Setelah perjanjian ini disahkan, Sultan HB II mengangkat Tumenggung Mangkunegoro, cucu Patih Danurejo I, yang bergelar Patih Danurejo II.

Meskipun terdapat perjanjian baru, sikap Sultan HB II kepada orang-orang Belanda tidak berubah. Sultan HB II dengan tegas menolak intervensi para pejabat Belanda di dalam kehidupan kraton Yogyakarta.

Para pejabat Republik Bataf yang berkunjung ke Yogyakarta, baik sebagai Gubernur Pantai Timur Laut Jawa maupun sebagai residen Yogyakarta, mengeluhkan sikap keras Sultan HB II yang tidak bisa diajak bekerjasama kepada pemerintah pusat di Batavia.

Akan tetapi kondisi perang di Eropa yang semakin meluas ke perairan Asia telah mencegah para petinggi Belanda di Batavia untuk terseret dalam konflik baru di dalam wilayah mereka yang menguras tenaga dan biaya.

Sejauh ini mereka hanya bertugas mengawasi dan menjaga hubungan baiknya dengan Kesultanan Yogyakarta.

Kondisi baru berubah setelah serah terima Gubernur Jenderal dari Albertus henricus Wiese kepada Herman Willem Daendels pada tanggal 14 Januari 1808 sebagai wakil Petancis di Hindia-Belanda.

Langkah politik pertama Daendels khususnya terhadap raja-raja pribumi ditunjukkan dengan tuntutannya bahwa semua raja pribumi di Jawa harus tunduk kepada Raja Belanda, Louis Napoléon, yang berada di bawah perlindungan Kaisar Napoléon Bonaparte.

Bertolak dari kebijakan ini, Daendels mengubah hubungan antara pemerintah kolonial dan raja-raja Jawa sama seperti dengan raja Belanda, karena pemerintah Belanda di Batavia mewakili raja Belanda.

Langkah yang diambil oleh Daendels untuk mewujudkan maksud ini adalah dengan mengeluarkan dua peraturan baru. Pertama adalah menghapuskan jabatan residen di masing-masing kerajaan Jawa dan menggantikannya dengan pejabat baru, yaitu minister.

Berbeda dengan residen yang merupakan pegawai pemerintah kolonial, minister adalah utusan dari Raja Belanda di Batavia yang mewakili kepentingan penguasa Belanda di kraton-kraton Jawa.

Yang kedua, adalah dikeluarkannya peraturan baru oleh Daendels tentang tata upacara penyambutan minister di setiap kraton Jawa. Karena statusnya sebagai wakil penguasa Eropa, minister harus diperlakukan sejajar dengan raja Jawa dalam hal status dan kedudukannya.

Minister berhak memakai simbol-simbol kekuasaan serta kebesaran seperti yang dipakai oleh raja-raja Jawa di dalam kraton. Minister juga tidak perlu melakukan aturan menurut tradisi Jawa yang merendahkan martabatnya seperti melepas topi, bersila dan duduk lebih rendah dari raja atau mempersembahkan sirih dan tuak kepada raja Jawa.

Daendels memerintahkan agar segera menggantikan peraturan tata upacara lama dengan yang baru di kraton Jawa. Di Kesunanan Surakarta, Sunan PB IV segera menyanggupi untuk melaksanakannya.

Sebaliknya di kraton Yogya, peraturan baru yang hakekatnya mirip dengan tuntutan Van Overstraten tahun 1792 itu ditolak oleh Sultan HB II. Pieter Engelhard, Minister pertama di Yogyakarta, tetap diperlakukan seperti residen Belanda sebelumnya.

Ketika Pieter Engelhard menuntut agar peraturan itu dilaksanakan, Sultan HB II tidak bersedia menemuinya. Engelhard melaporkan hal ini kepada Daendels pada kesempatan kunjungan Daendels ke Semarang.

Setelah mendengar laporan Engelhard tentang sikap Sultan HB II, Daendels bermaksud untuk datang sendiri ke Yogya dengan maksud memaksa Sultan HB II untuk melaksanakannya.

Hamengkubuwono II marah, Hamengkubuwono II minta nasihat kepada patihnya Danuredjo : “Apa yang akan saya lakukan?” Danuredjo berkata singkat : “Sinuwun tidak boleh melawan, karena Daendels ini perwakilan Napoleon, Maharaja terkuat di dunia sekarang. Kita pasti kalah, baiknya kita permainkan saja Perancis, Inggris dan Belanda”. Hamengkubuwono II setuju.

Ketika Sultan HB II mendengar berita bahwa Daendels bermaksud datang ke Yogyakarta dengan membawa sejumlah besar pasukan, Patih Danurejo II diperintahkan untuk menemuinya dan menyampaikan bahwa Sultan bersedia menerapkan aturan itu.

Pertemuan Daendels dan Danurejo II berlangsung di Kemloko. Ketika mendengar laporan Danurejo II, Daendels membatalkan maksudnya untuk berkunjung ke Yogyakarta dan kembali ke Batavia melalui Surakarta.

Persoalan kedua yang menimbulkan ketegangan antara Daendels dan Sultan HB II adalah tuntutan Daendels untuk pengambilalihan hak pengelolaan hutan dan penyerahan monopoli penebangan kayu milik raja-raja Jawa.

Daendels menghendaki agar monopoli penebangan kayu dikuasai oleh pemerintah mengingat persediaan kayu di hutan-hutan pemerintah tidak lagi mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pembangunan infrastruktur pertahanan Jawa.

Bagi Kesunanan Surakarta yang tidak memiliki banyak hutan, tuntutan itu bukan merupakan masalah. Sebaliknya, bagi Kesultanan Yogyakarta hal ini menjadi masalah besar, mengingat kayu menjadi salah satu sumber pendapatan utama kraton Yogyakarta.

Wilayah hutan Yogyakarta terletak di Monconegoro wetan, yaitu daerah Madiun sampai ke Mojokerto (dahulu bernama Japan). Wilayah ini diperintah oleh menantu Sultan HB II yang sekaligus menjadi panglima pasukan Kesultanan Yogyakarta, Raden Ronggo Prawirodirjo.

Ketika Ronggo mendengar tuntutan Daendels, ia mengusulkan kepada Sultan HB II agar menolak tuntutan itu. Ronggo siap menjamin keselamatan Sultan dan Kesultanan apabila Daendels marah terhadap penolakan tersebut. Ronggo yang dianggap sering mengganggu penduduk di Delanggu (perbatasan Kraton Surakarta dan Yogyakarta) dianggap sebagai pemberontak oleh Daendels.

Oleh karena itu, ia mendesak sultan untuk segera menyerahkan Ronggo kepada Daendels pada bulan November 1810. Ronggo yang merasa memperoleh dukungan dari kraton Yogyakarta, khususnya dari kalangan kerabat kraton (Pangeran Notokusumo, Tumenggung Notodiningrat dan Tumenggung Sumodiningrat) menolak menyerahkan diri.

Akibat tekanan yang terus menerus, akhirnya HB II bersedia memenuhi tuntutan Daendels untuk mengirim Ronggo, Notokusumo dan Notodiningrat ke Batavia. Tetapu di tengah perjalanan, Ronggo memisahkan diri dengan rombongan untuk kembali memberontak.

Ronggo kembali ke Madiun dengan membakar desa-desa wilayah Kesunanan Surakarta. Ketika pada akhir November 1810 Daendels mendengar berita kembalinya Ronggo ke Madiun, ia memerintahkan agar pasukan gabungan dibentuk di bawah Letnan Paulus dengan tujuan menangkap Ronggo hidup atau mati.

Melalui Pieter Engelhard (Minister Yogyakarta), Daendels mendesak Sultan HB II agar ikut mengirim pasukan. Sultan HB II kemudian mengirim pasukan di bawah pimpinan Tumenggung Purwodipuro.

Pasukan dari Yogyakarta mulai berangkat ke Madiun pada awal Desember 1810. Pasukan gabungan Belanda, Kesultanan, Kesunanan dan Legiun Prangwedanan ini berhasil merebut pusat pertahanan Ronggo di Maospati pada tanggal 5 Desember 1810.

Ronggo yang terdesak mundur bersama sisa pasukannya melarikan diri ke Kertosono. Setelah dilakukan pengepungan oleh Letnan Paulus, akhirnya Ronggo berhasil ditembak mati pada tanggal 19 Desember 1810 dan jenazahnya dibawa ke Yogyakarta.

Atas perintah Daendels, jenazah Ronggo dipamerkan di alun-alun Yogyakarta sebagai peringatan bagi setiap orang yang menentang perintahnya. Setelah Ronggo terbunuh, Daendels melihat bahwa pemerintah kolonial telah mengalami kerugian yang besar akibat dari pemberontakan yang dilakukan oleh Ronggo, dan curiga keterlibatan Sultan HB II dalam peristiwa tersebut.

Oleh karena itu, Daendels memutuskan untuk berangkat ke Yogyakarta dengan membawa 3.300 tentara. Pasukan sejumlah itu dibawa oleh Daendels untuk memaksa Sultan agar bersedia melakukan perubahan di Kraton sekaligus menurunkan Sultan HB II dan mengangkat putranya menjadi Sultan.

Berita kekalahan Ronggo baru diterima oleh Sultan tanggal 26 Desember 1810. Kematian Ronggo dilaporkan kepada Gubernur Jenderal yang saat itu sudah sampai di Kemloko yang jaraknya beberapa kilometer dari Yogyakarta. Dari Kemloko Daendels membalas surat

HB II yang intinya Sultan tidak perlu merasa takut karena ia hanya membawa 3.200 tentara yang digunakan untuk melindungi Sultan dari musuh-musuhnya. Dalam surat itu juga dijelaskan bahwa 15 hingga 16 ribu tentara telah disiapkan untuk menuju ke Yogyakarta.

Pada tanggal 28 Desember Sultan membalas surat Daendels yang intinya Sultan bersedia menjalankan nasehat persahabatan Daendels.

Setelah sampai di Yogyakarta, Daendels mengadakan pembicaraan dengan para pangeran kraton Yogyakarta yang intinya meminta dukungan untuk menurunkan Sultan HB II dari tahtanya dan menggantikannya dengan putra mahkota RM Surojo. 

Pada tanggal 31 Desember 1810 Sultan HB II turun tahta. Ia tetap diizinkan tetap tinggal di kraton Yogyakarta. Putra mahkota diharuskan untuk menandatangani beberapa perjanjian dan kontrak politik baru.

Dalam kontrak itu disebutkan bahwa penguasa Yogyakarta bersedia melaksanakan aturan-aturan penyambutan Minister, membayar biaya pengiriman pasukan, menyerahkan hak monopoli kayu dan pertukaran beberapa daerah Kesultanan dengan wilayah pemerintah.

Selain itu, Daendels juga menuntut agar Pangeran Notokusumo dan Tumenggung Notodiningrat diserahkan kepadanya. Kedua orang ini kemudian dibawa oleh Daendels sebagai tawanan perang dan dimaksudkan akan dihukum mati.

Untuk sementara keduanya ditawan di Cirebon di bawah pengawasan Residen Waterloo. Perjanjian baru yang dibuat pada bulan Januari 1811 ini tidak sempat dilaksanakan, mengingat pada bulan Mei 1811 Daendels digantikan oleh Jan Willem Janssens.

Janssens memusatkan perhatian pada pertahanan Jawa dari serangan Inggris. Meskipun dibantu oleh pasukan dari raja-raja Jawa, pertahanan Janssens tidak mampu menghadapi serbuan Inggris yang mendaratkan pasukannya pada tanggal 4 Agustus 1811.

Setelah bertahan sekitar satu setengah bulan, Janssens menyerah pada tanggal 18 September 1811 di Tuntang. Sejak itu Jawa berada di bawah penguasaan kolonial Inggris dengan Thomas Stamford Raffles sebagai letnan Gubernur Jenderal.

Pergantian rezim kolonial yang berlangsung cepat ini diketahui oleh Sultan HB II yang juga disebut Sultan Sepuh, yang masih tinggal di kraton Yogyakarta.

Dengan dukungan menantunya yang lain, Tumenggung Sumodiningrat, panglima pasukan kraton, Sultan Sepuh mengambil alih kembali tahtanya dan menurunkan status putra mahkota menjadi pangeran kembali yang tidak memiliki kekuasaan sama sekali.

Langkah berikutnya setelah ini adalah menyingkirkan orang orang yang dianggap membahayakan kedudukannya. Patih Danurejo II, yang juga menantunya, diperintahkan untuk dibunuh karena dianggap menjadi kaki-tangan Daendels di dalam kraton. Begitu juga Minister P. Engelhard akan dibunuhnya melalui cara diracun, tetapi Engelhard yang menyadari situasi ini telah melarikan diri ke Kedu dan lolos dari usaha pembunuhan.

Pada awal Oktober 1811 utusan Raffles, Mayor Robison tiba di kraton Yogyakarta. Dalam pertemuan dengan Sultan HB II, Robison menyatakan bahwa kondisi lama tetap berlaku. Ini berarti semua perjanjian yang telah dibuat dengan Daendels tetap dipertahankan.

Sultan HB II mengajukan tuntutan kepada Robison agar dirinya diakui sebagai raja Yogyakarta dan wilayah yang telah dirampas oleh Daendels dikembalikan kepadanya. Robison bisa menerima tuntutan pengakuan sebagai raja tetapi tidak berhak memutuskan pengembalian wilayah itu dan harus menunggu kedatangan Raffles. Ini merupakan awal kekecewaan Sultan HB II terhadap pemerintah Inggris.

Raffles yang tiba di Yogyakarta pada awal Januari 1812 bersama Pangeran Notokusumo dan Tumenggung Notodiningrat yang telah dibebaskan oleh tentara Inggris, untuk bertemu dengan Sultan HB II di rumah Residen Yogyakarta, John Crawfurd.

Dalam pertemuan pertama ini terjadi insiden kecil ketika tempat duduk Raffles di kraton Yogya dibuat lebih rendah daripada Sultan HB II. Raffles lalu datang dan hanya diiringi sepuluh pengawal pasukan khusus.

Bukannya disambut dengan rasa hormat oleh Hamengkubuwono II, Raffles malah dibentak “Kami turunan Sultan Agung, mengepung Batavia berbulan-bulan dan membuat orang Belanda gemetar ketakutan, maka kami tidak takut juga dengan Inggris..!!” teriak Hamengkubuwono II di dalam Siti Hinggil.

Setelah insiden berhasil diatasi, Raffles menjelaskan bahwa Sultan HB II tetap berkuasa di Yogyakarta tetapi wilayah dan hak-hak monopoli yang telah diserahkan kepada rezim kolonial sebelumnya seperti pemborongan pajak pantai, kayu dan hutan tidak bisa dikembalikan kepada Sultan HB II.

Sebaliknya Raffles meminta agar Sultan HB II tetap menjaga keselamatan putra mahkota, Pangeran Notokusumo dan Tumenggung Notodiningrat.

HB II tidak puas dengan hasil pertemuannya dengan Raffles. Bahkan Sultan HB II semakin kecewa terhadap pemerintah Inggris. Hal ini diketahui oleh Sunan PB IV yang juga mengharapkan kembalinya wilayah Kesunanan akibat rampasan oleh Daendels.

Secara diam-diam Sunan PB IV mengutus Tumenggung Ronowijoyo untuk menghadap Sultan HB II dengan membawa surat. Dalam surat itu Sunan PB IV mengusulkan kerjasama untuk melawan Inggris dan bila berhasil akan membagi dua wilayah yang telah dirampas oleh orang-orang Eropa.

Sultan HB II menyetujui hal itu dengan mengirimkan Tumenggung Sumodiningrat. Kesepakatan kemudian tercapai di Klaten pada awal Mei 1812 antara Ronowijoyo dan Sumodiningrat.

Akan tetapi tanpa sepengetahuan Sultan HB II, Sunan PB IV mengutus Patih Cokronegoro untuk menemui putra mahkota Yogya. Dalam pertemuan yang juga dihadiri oleh Pangeran Notokusumo dan Tumenggung Notodiningrat ini, Cokronegoro menyampaikan bahwa Sunan PB IV menghendaki putra mahkota Surojo naik tahta dan bersedia membantunya.

Untuk itu, Sunan menawarkan kerjasamanya bangkit melawan Inggris dan ketika orang-orang Inggris berhasil diusir dari Jawa, wilayah Jawa akan dibagi dua antara Surakarta dan Yogyakarta.

Rencana konspirasi ini tercium oleh John Crawfurd yang segera mengirimkan berita itu kepada Raffles. Setelah menerima berita dari Crawfurd, Raffles memerintahkan Mayor Jenderal Gillespie untuk berangkat ke Yogya dan menyerbu kraton Yogyakarta.

Pada tanggal 20 Juni 1812 pasukan Inggris yang dibantu Legiun Mangkunegaran berhasil menduduki kraton Yogyakarta. Setelah pendudukan dan penjarahan isi kraton, Raffles memerintahkan penangkapan Sultan HB II.

Atas perintah Raffles, Sultan HB II dibawa ke Batavia dan selanjutnya menunggu pengadilan di sana. Menurut keputusan pengadilan Inggris, Sultan HB II dijatuhi hukuman pembuangan ke Pulau Penang.

Pada tanggal 16 Juli 1812. Ia disertai oleh putranya Pangeran Mangkudiningrat dan Pangeran Mertosono berangkat menuju Penang. Di pulau Penang, Sultan HB II dan keluarganya ditempatkan di bawah pengawasan Residen Inggris Mayor Farquhar.

Tempat penahanan mereka berada di benteng Fort Cornwallis dan untuk biaya hidupnya, pemerintah Inggris membebankannya pada Kesultanan Yogyakarta.

Selama masa penahanannya, sejumlah pengikut Sultan HB II di kraton Yogyakarta menunjukkan reaksi yang bisa mengancam keamanan dan ketertiban. Tokoh yang memberikan reaksi atas pembuangan ini adalah Tumenggung Mangkuwijoyo. Mangkuwijoyo adalah putra Mangkudiningrat yang menjadi menantu Sultan HB III.

Bersama-sama saudaranya, Mangkuwijoyo menyusun rencana untuk melakukan pemberontakan terhadap pemerintah Inggris. Rencana Mangkuwijoyo ini terdengar oleh Sultan HB III (Sultan Rojo) yang kemudian membujuknya agar Mangkuwijoyo mengurungkan niatnya.

Menurut nasehat Sultan HB III kepadanya, Mangkuwijoyo akan disiapkan menggantikan kedudukan ayahnya, Pangeran Mangkudiningrat. Oleh karena itu, ia disarankan untuk membatalkan niatnya untuk pemberontakannya.

Setelah mendengar nasehat  Sultan HB III, Mangkuwijoyo bersedia menggagalkan rencana pemberontakan itu dan kembali hidup tenang di Yogyakarta.

Pada awal tahun 1815 di Eropa diadakan kongres Wina. Kongres ini dihadiri oleh semua wakil negara Eropa yang terlibat dalam peperangan Napoleon, termasuk Prancis. Salah satu keputusan kongres itu adalah pemulihan wilayah seperti kondisi sebelum tahun 1795.

Dengan adanya kesepakatan ini, Inggris wajib mengembalikan Jawa kepada Belanda. Sebagai konsekuensi keputusan Kongres Wina, pada bulan April 1815, Raffles menerima berita ini dan ia mulai bersiap- siap meninggalkan Jawa.

Agar tidak menimbulkan kesulitan bagi pemerintah Inggris, Raffles memutuskan untuk mengembalikan semua tawanan termasuk Sultan HB II. Atas instruksinya, Mayor W.P. Kree komandan Fort Cornwallis mengirim kembali Sultan HB II ke Batavia pada tanggal 10 April 1815.

Berita kembalinya Sultan HB II ke Jawa ini terdengar sampai ke Yogyakarta. Beberapa bangsawan Yogyakarta termasuk Raden Brontokusumo akan berangkat ke Batavia untuk menyambutnya.

Pada awal Mei 1815 kapal Naulitius yang membawa Sultan HB II tiba di pelabuhan Batavia. Brontokusumo bertemu dengan Sultan HB II dan mengadukan nasibnya sebagai wedono yang dipecat oleh Sultan HB III. Atas perintah Raffles yang marah kepada Brontokusumo, Brontokusumo ditangkap tetapi kemudian dibebaskan atas permohonan Sultan HB II.

Sejak itu setiap hari para bangsawan Yogyakarta datang untuk menemui Sultan HB II. Raffles tidak lagi mau berpikir tentang itu mengingat pada bulan tersebut ia harus meninggalkan Jawa dan kembali ke India.

Penggantinya John Fendall juga lebih memikirkan penyerahan Jawa kepada Belanda. Oleh karena itu, agar tidak muncul masalah baru, Fendall memerintahkan penahanan Sultan HB II di Batavia sampai penyerahan wilayah Jawa kepada Belanda.

Pada tanggal 9 Agustus 1816, setelah pembicaraan awal selama dua minggu, serah terima kekuasaan dari Inggris kepada Belanda berlangsung. Komisaris Jenderal Belanda yang menjadi penguasa baru memutuskan untuk membuang kembali Sultan HB II dari Jawa agar tidak mengganggu keamanan dan ketertiban politik di Jawa.

Pada 10 Januari 1817 Komisaris Jenderal memutuskan mengasingkan Sultan HB II ke Ambon. Sultan HB II berangkat bersama rombongannya pada awal Pebruari 1817 dengan kapal Naulitius ke Ambon. Rombongan itu tiba di Ambon pada akhir Maret 1817, HB II langsung dibawa ke Fort Victoria.

Atas keputusan Residen van der Wijck, Sultan dan keluarganya menempati perumahan yang sudah disiapkan di Batu Merah, dekat Fort Victoria. Sebulan kemudian di Ambon terjadi pemberontakan Saparua.

Meskipun pemberontakan berhasil ditumpas, ada tanda-tanda keterlibatan Pangeran Mangkudiningrat dalam pemberontakan tersebut. Ketika dilakukan pemeriksaan pada akhir Mei 1817, tidak terbukti bahwa Mangkudiningrat ikut terlibat.

Namun peristiwa lain menimbulkan kecurigaan Belanda ketika Mangkudiningrat menyatakan dirinya sebagai ratu adil dan mulai mengumpulkan orang-orang setempat untuk diberitahu tentang ilmu kesaktian yang dimilikinya.

Kendati tidak menimbulkan kerusuhan, Belanda tetap mengawasi Mangkudiningrat sampai kematiannya bulan Maret 1824. Sementara itu di Kesultanan Yogyakarta sejak tahun 1815 terjadi sejumlah pergantian kekuasaan.

Sultan HB III mendadak wafat dan digantikan oleh putranya, Sultan HB IV yang memerintah sampai tahun 1821. Mangkatnya Sultan HB IV secara tiba-tiba mengakibatkan kekosongan tahta.

Mengingat Sultan HB V (RM. Menol) masih berumur 2 tahun, pemerintahan sementara dipegang oleh para wali. Krisis politik yang diakibatkan oleh konflik kepentingan baik di antara para wali Sultan maupun antara mereka dan Belanda diperparah dengan eksploitasi ekonomi kolonial di Kesultanan Yogyakarta.

Hal ini mengakibatkan terjadinya pengunduran diri para wali pada awal Maret 1824. Residen Smissaert kemudian mengusulkan pengangkatan wali baru kepada Gubernur Jenderal van der Capellen.

Calon yang diusulkan adalah Tumenggung Mertosono yang ikut dalam pembuangan ke Ambon. Van der Capellen menyetujui dan pada tanggal 17 Maret 1824 Mertosono dibawa dari Ambon ke Yogyakarta.

Ketika Mertosono berangkat menuju Yogyakarta, Sultan HB II mendesak kepada Gubernur Maluku P. Merkus diperkenankan ikut pulang ke Jawa.

Meskipun pada mulanya van der Capellen menolak, seminggu kemudian Sultan HB II diizinkan kembali ke Jawa tetapi tidak diperkenankan tinggal di Yogyakarta mengingat kondisi politik memanas saat itu.

Atas izin van der Capellen, Sultan HB II diangkut dengan kapal Mastoza dan tiba di Surabaya pada bulan Juli 1824. Setibanya di pelabuhan Surabaya, Residen Surabaya menyambutnya dan segera membawa Sultan HB II ke sebuah rumah tahanan yang telah disiapkan di kampung Cina.

Sultan HB II diizinkan tinggal di sana dengan wajib lapor selama dua kali seminggu ke kantor residen di Surabaya. Kondisi Kesultanan Yogyakarta semakin tidak menentu, yang memuncak dengan meletusnya Perang Diponegoro tanggal 21 Juli 1825.

Minggu-minggu pertama peperangan menunjukkan kelemahan kekuatan Belanda di Jawa di bawah Jenderal M. De Kock. Laskar-laskar yang tergabung dalam pasukan Diponegoro berhasil meraih sejumlah kemenangan di berbagai medan pertempuran.

Korban yang jatuh tidak hanya terdiri atas orang-orang Eropa tetapi juga bangsawan pribumi yang bersekutu dengan Belanda. Salah satunya adalah Tumenggung Mertosono yang menjadi wali Sultan. Mertosono yang bergelar Pangeran Murdaningrat, terbunuh dalam pertempuran di Nglengkong bulan September 1826.

Hal ini mengkhawatirkan de Kock dan ia memutuskan untuk menyelesaikan pemberontakan ini secara politis dan bukan secara militer. Atas saran Residen Yogyakarta Nahuys van Burgst, de Kock harus memulihkan kepercayaan di kraton Yogyakarta.

Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa banyak bangsawan Yogyakarta yang ikut bergabung dengan Diponegoro dan wibawa kraton merosot setelah terbunuhnya para wali Sultan HB V.

Mengingat tidak ada lagi yang layak diangkat menjadi wali, kekuasaan  Sultan HB V tidak mungkin dipertahankan. Nahuys menyarankan agar Sultan HB II dikembalikan di atas tahta.

Tujuannya adalah mengangkat penguasa yang sah agar memerintah Yogyakarta sekaligus menggunakan pengaruhnya untuk mengajak para bangsawan pemberontak kembali ke kraton Yogyakarta karena keseganan mereka terhadap Sultan Sepuh.

Usul Nahuys disetujui De Kock, yang kemudian membicarakannya dengan Van der Capellen. Meskipun ada beberapa pejabat Belanda yang tidak setuju dan van der Capellen digantikan oleh Du Bus, pengembalian Sultan HB II dari Surabaya tetap berlangsung.

Du Bus memutuskan agar Sultan HB II dilantik kembali sebelum dipulangkan ke Yogyakarta. Pelantikan akan diadakan di istana Gubernur Jenderal Belanda di Buitenzorg.

Pada tanggal 11 Agustus 1826 Sultan HB II dan rombongan meninggalkan Surabaya dan berangkat ke Buitenzorg. Pada tanggal 18 Agustus 1826, Sultan HB II memasuki istana Buitenzorg dan oleh Du Bus dikukuhkan kembali sebagai penguasa Yogyakarta.

Setelah upacara berlangsung, Du Bus memerintahkan De Kock membentuk komisi yang akan membantu penataan kembali pemerintahan di Yogyakarta.

Bersama komisi ini pada tanggal 10 September 1826 Sultan HB II meninggalkan Buitenzorg menuju ke Yogyakarta. Pada tanggal 20 September 1826 rombongan Sultan HB II memasuki kraton Yogyakarta dan diumumkan bahwa sejak itu Sultan HB II memegang pemerintahan kembali.

Berita kembalinya Sultan HB II kemudian disebarluaskan oleh Nahuys agar terdengar oleh para bangsawan yang memberontak. Harapan Nahuys dan para pejabat Belanda lainnya adalah agar pengaruh Sultan HB II masih bisa digunakan untuk menarik kembali para bangsawan ke kraton.

Hal ini ternyata terasa pengaruhnya. Pada bulan November 1826 Pangeran Mangkudiningrat (Mangkuwijoyo) mendengar kabar bahwa kakeknya telah kembali ke kraton.

Mangkudiningrat yang bergerilya di daerah Kedu kemudian menyerahkan diri kepada Residen F.G. Valck dan komandan militer setempat Kolonel Cleerens bahwa ia akan kembali ke Yogyakarta.

Alasannya bahwa Mangkudiningrat hanya mengakui kakeknya sebagai raja yang sah di kraton. Pada tanggal 11 Desember 1826 Mangkudiningrat secara resmi kembali ke kraton dan meninggalkan Diponegoro. 

Kini Sultan Sepuh menuntut janji pemerintah Belanda yang akan memberikan tunjangan f 100.000 per tahun kepadanya. Residen Belanda van Sevenhoven menolak mengabulkan permintaan itu dan menyerahkannya kepada De Kock.

Untuk menenangkan Sultan HB II, De Kock memindahkan van Sevenhoven dan menggantinya dengan van Lawicks van Pabst. Pada bulan Maret 1827 pengaruh Sultan HB II kembali terasa di antara para pemberontak.

Meskipun Pangeran Mangkubumi tetap menolak menyerah, putra-putrinya menyatakan dirinya bersedia kembali ke kraton. Ini diikuti dengan penyerahan Pangeran Notoningrat tanggal 29 Maret 1827, Pangeran Notoprojo dan Pangeran Sumowijoyo pada bulan Juni 1827.

Para pangeran ini menyatakan kesetiaannya kepada Sultan HB II dan bersedia menghentikan perlawanan. Atas desakan Sultan HB II, para pangeran yang menyerah ini tidak dihukum oleh de Kock tetapi sebaliknya menerima penghargaan berupa pemberian tanah apanage.

Sejak Oktober 1827 kondisi fisik Sultan HB II yang berusia 77 tahun semakin merosot. Beban batin yang ditimbulkan oleh posisinya sebagai seorang Raja Yogyakarta dan harus berhadapan dengan anak dan cucunya sendiri semakin memperparah penyakitnya.

Akhirnya setelah mengalami radang tenggorokan, pada tanggal 2 Januari 1828 Sultan HB II wafat. Dua hari kemudian jenazahnya dimakamkan di pemakaman raja-raja di Imogiri.

Sumber:

Djoko Marihandono, Harto Juwono, Sultan Hamengku Buwono II : pembela tradisi dan kekuasaan Jawa.

Di Singapura-lah Rahasia Kekayaan Inggris Berada, theglobal-review.com

Senin, 18 November 2019

Biografi singkat Buya Yahya


Buya Yahya merupakan salah satu tokoh ulama muda yang sangat terkenal terutama di wilayah Cirebon, Jawa Barat. Sebetulnya nama asli beliau adalah Kiai Haji Yahya Zainul Maarif namun lebih terkenal dengan sapaan Buya Yahya. Sosok Buya Yahya memang begitu menarik perhatian di kalangan umat Islam tanah air karena beliau dikenal sebagai ulama muda yang tinggi keilmuannya. Selain itu, Buya Yahya juga merupakan ajeungan sekaligus pengelola ma’had (Pondok Pesantren) Al-Bahjah Cirebon. Dibalik sosok Buya Yahya yang begitu populer ternyata beliau memiliki perjalanan hidup yang menarik untuk disimak yang terangkum dalam biografi Buya Yahya berikut ini.

Profil Biografi Buya Yahya

Sosok Buya Yahya yang begitu populer di wilayah Jawa Barat mungkin banyak yang mengira bahwa beliua lahir di Jawa Barat. Namun siapa sangka beliua justru lahir di wilayah Jawa Timur. Ustad Yahya Zainul Ma’arif atau Buya Yahya lahir pada tanggal 10 Agustus 1973 di Kabupaten Blitar. Buya Yahya merupakan putra dari Mbah Jamzuri atau yang akrab disapa Mbah Kakung. Sejak kecil ayah beliau mendidik sedangkan sang ibu yang akrab disapa dengan Mbah Uti yang paling banyak memberikan Tarbiyah. Dengan demikian tak heran bila kini sosok Buya Yahya menjadi sosok besar pemersatu umat. Buya Yahya memiliki seorang istri bernama Fairuz ar-Rohbini dan dari pernikahannya tersebut beliau dikaruniai 4 orang anak.

Riwayat Pendidikan Buya Yahya

Beliau menempuh pendidikan Sekolah Dasar sampai dengan Sekolah Menengah Pertama di Blitar sambil mengikuti Madrasah Diniyah yang diasuh oleh KH. Imron Mahbub. Pada tahun 1988 sampai 1993, Buya Yahya kembali melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah di Bangil. Kala itu pesantren tersebut diasuh oleh Habib Hasan bin Ahmad Baharun.
Pada tahun 1993 sampai 1996, Buya Yahya pernah mengajar di Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah Bangil.Namun di tahun 1996 Buya Yahya berangkat ke Universitas Al Ahgaff Yaman atas perintah dari Habib Hasan Bin Ahmad Baharun. Beliau menempuh pendidikan di Yaman selama 9 tahun atau tepatnya sampai tahun 2005. Tidak hanya menempuh pendidikan di Universitas Ahgaff, Buya Yahya juga belajar di Rubath Tarim yang diasuh oleh Habib Salim Asyasyatiri.
Ketika Buya Yahya menempuh pendidikan di Yaman, beliau memang banyak belajar mengenai ilmu fiqih dari para Mufti Hadramaut diantaranya adalah Habib Ali Masyur bin Hafid, Syekh Fadhol Bafadhol, dan Syekh Muhammad Al Khotib. Selain ilmu fiqih, beliau juga belajar mengenai ilmu hadist dari para ahli hadist diantaranya Sayyid Amad bin Husin Assegaf, Habib Salim Asysyatiri serta DR. Ismail Kadhim Al Aisawi. Selain itu Buya Yahya juga mengambil ilmu ushul fiqih dari ulama-ulama ahli. Selain belajar, Buya Yahya juga pernah mengajar di Fakultas Tarbiyah dan Dirosah Ilamiah di Universitas Ahgaff Yaman selama 3 tahun.

Awal Mula Berdakwah di Cirebon

Sesudah menghadap Al Murobbi di Yaman lalu memperoleh izin di tahun 2006, Buya Yahya mulai berdakwah dengan penuh kesabaran dan tawakkal kepada Allah SWT. Dakwah tersebut beliau mulai dari mushola ke mushola kecil dengan menjadi pengisi berbagai majelis ilmu hingga berlanjut ke majelis-majelis taklim. Bahkan kala itu beliua juga sempat hadir di Majid At-Taqwa Alun-Alun Cirebon untuk mengisi majelis ilmu.

Pada mulanya saat Buya Yahya menyampaikan majelis taklim, hanya sekitar 20 rang saja yang hadir. Tetapi lama kelamaan jumlah jamaah yang hadir semakin banyak dan memnuhi ruangan maupun halaman masjid. Selanjutnya Buya Yahya sering menghadiri majelis taklim yang ada di berbagai tempat mulai dari Kota Cirebon, Kuningan, Majalengka, Indramayu, serta Jabodetabek. Bahkan beliau juga tidak pernah membatasi dalam berdakwah hanya di masjid saja. Sebab beliau juga berdakwah di toserba maupun swalayan.
Selanjutnya majelis asuhan Buya Yahya tersebut diberi nama Majelis Al-Bahjah yang juga merupakan nama pesantren yang beliau rintis. Hadirnya pesantren Al-Bahjah ini bagi Buya Yahya merupakan bagian dari upaya untuk menyampaikan dakwah Rasullulah SAW. Dipilihnya nama Al-Bahjah sebagai nama pondok pesantren juga tidak terlepas dari makna indah yang terkadang dalam nama tersebut. Sebab Al-Bahjah berarti kemilau sinar atau cahaya yang mempunyai harapa agar nantinya pesantren tersebut menjadi penerang untuk umat Nabi Muhammad SAW.
Selain berdakwah di mushola, masjid dan tempat-tempat lainnya, Buya Yahya juga pernah berjuang selama satu tahun di stasiun radio Salma 101 FM. Kala itu Buya Yahya merupakan direktur operasional radio Salma kemudian beliau mencoba menghadirkan dakwah melalui radio. Dakwah tersebut dilakukan dengan membuat program pesantren udara dengan mengisi acara radio melalui pengajian-pengajian. Selain itu saat bulan Ramadhan tiba, Buya Yahya ikut terlibat dalam media cetak dengan mengasuh rubrik tanya jawab di koran harian Radar Cirebon dan tetap aktif mengisi artikel di hari Jumat dalam Oase Iman. Beliau juga mengasuh rubrik masail diniyah di sebuah majalah Islami Al-Basyirah yang terbit di wilayah Jawa Timur.
Dalam setiap majlis ilmu yang beliau hadiri, selalu dipenuhi oleh para mustami’ dan thullabul ‘ilmi pada malam senin dan selasa. Kehadiran mereka tersebut hanya untuk hadir di roudhotul jannah atau majlis ilmu yang diampu oleh Buya Yahya. Namun beliau selalu meyakini bahwa keberhasilan tersebut tidak terlepas dari izin Allah SWT. Bahkan sikap hormat beliau kepada para masyaikh ketika masih berada di Yaman dahulu kini membuahkan hasil. Sebab atas izin Allah SWT, kini para mustami’ dan thullab menampakkna sikap hormat pada Buya Yahya.

Buya Yahya Mendirikan Pondok Pesantren

Dalam perjalanan dakwahnya, majelis Al-Bahjah yang dirintis oleh Buya Yahya akhirnya berkembang menjadi pesantren yang berdiri pada tahun 2008. Pesantren yang bernama Al-Bahjah tersebut didirikan di Kelurahan Sendang, Kecamatan Sumber, Cirebon. Berdirinya pesantren ini merupakan permintaan dari warga sekitar yang sangat ingin menitipkan anak-anaknya di pesantren. Setelah proses pembangunan selama kurang lebih 1,5 tahun akhirnya pesantren tersebut diresmikan tepatnya pada Januari 2010.

Pesantren Al-Bahjah sendiri mempunai beberapa kampus yaitu kampus utama yang terletak di Cirebon yang dibangun tahun 2008. Selain itu Al-Bahjah juga mempunyai banyak unit usaha diantarana mini market AB Mart, Radio_QU, Al-Bahjah TV, SDIQU Al Bahjah, SMPIQU Al Bahjah, SMAIQU Al Bahjah, dan lain-lain. Unit-unit usaha yang dimiliki oleh Al Bahjah tersebut rata-rata memang digerakkan oleh santri atau yang disebut dengan santri khusus. Tak hanya bergerak dalam bidang dakwah dan sosial, santri khusus tersebut juga ada yang bertugas di dapur umum.
Pesantren Al Bahjah memang begitu kental dengan nuansa Nahdliyin padahal sebetulnya pesantren ini bukanlah milik dari ormas Nahdatul Ulama. Uniknya, pesantren Al-Bahjah ini juga menerapkan peraturan bagi santrinya untuk wajib berbahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari. Tak perlu khawatir untuk santri baru karena akan diberikan waktu selama tiga bulan untuk berdaptasi dengan lingkungan pesantren.

Jaringan Pendukung Dakwah

Bila dibandingkan ustad pesantren lainnya, Buya Yahhya memang selangkah lebih modern. Hal tersebut bisa terlihat dari perubahan dakwah Buya Yahya dengan LPD Al-Bahjah yang semakin melebarkan sayap. Untuk itulah beliau menggunakan jaringan radio dan TV Al Bahjah dengan aktif menyiarkan ceramah maupun pengajiannya. Bahkan video-video pengajian dari Buya Yaha tersebut bisa dibuka melalui situs maupun Youtube. Seiring dengan semakin populernya Buya Yahya, dakwah beliau kini semakin merambah ke mancanegara. Selain itu, Buya Yahya juga pernah ikut berdakwah di media televisi nasional diantaranya TV One, TVRI, MNCTV dan tetap aktif mengisi acara dialog interaktif di Cirebon TV.

Diskusi Dengan Wahabi

Buya Yahya merupakan tokoh kultural Aswaja yang memang begitu gigi dalam membela faham Ahlusunnah yang telah digerakkan oleh sebagian besar umat muslim di Indonesia. Meskipun begitu ada saja faham dari aliran lain yang agresif serta bertabrakan dengan menyebarkan pahamnya dalam berbagai media. Untuk menghindari adanya perseteruan tersebut maka beberapa tokoh mengadakan diskusi dengan duduk bersama dengan mengedepankan pada dalil maupun landasan pemahaman masing-masing.
Untuk itulah Buya Yahya mengadakan diskusi terbuka dengan mengajak toko-tokoh salaf wahabi. Video tersebut kemudian diupload ke youtube dan tampak memperlihatkan kealiman dan kearifan Buya Yahya dalam berdiskusi maupun berdebat. Hal tersebut bisa terlihat dari diskusi yang dilakukan dengan Profesor Salim Bajri dan Ustad Ahmad Thoharoh. Dimana perbincangan mereka tersebut ditayangkan di TV lokal Cirebon.

Respon Pada Gosip Kontroversial

Buya Yahya merupakan sosok yang banyak dijadikan referensi oleh umat muslim. Namun tak dapat dipungkiri bahwa Buya Yahya juga pernah dihadapkan pada pertanyaan dari jamaah yang berkaitan dengan gosip agama yang sedang berkembang. Dalam beberapa permasalahan, beliau juga menentang statemen kontroversial yang disampaikan oleh sesama ustad. Dari beberapa gosip kontroversial yang pernah ia tanggapi yaitu yang diucapkan oleh K.H Said Aqil Siradj yang berhubungan dengan jenggot. Ungkapan dari K.H Said memang kerap dipelintir dan disalahpahami oleh orang lain. Namun hal tersebut disikapi keras oleh Buya Yahya.
Selain itu Buya Yahya juga pernah menyikapi pernyataan dari Prof. Quraish Shihab yang berkaitan dengan jaminan surga untuk Nabi Muhammad SAW. Dari beberapa gosip yang bermunculan tersebut intinya beberapa ustad tersebut sama-sama memperjuangkan eksistensi Aswaja yang tidak sama-sama menyalahkan. Hanya saja terkadang ungkapan yang multitafsir dan sepintas bisa diartikan berbeda oleh oranglain. Hal tersebut bisa dimanfaatkan oleh oranglain yang tak bertanggungjawab untuk mengadu pendapat dan sanggahan antar ustad. Tetapi fenomena sama-sama sanggahan lewat video tersebut tidak ada tindak lanjut tanpa adanya pertemuan langsung dari pihak-pihak yang saling berkaitan. Hal tersebut menjadi senjata bagi pihak tertentu untuk semakin menjatuhkan wibawa dan citra ustad.
Sumber:
https://ponemoslamusica.org/biografi-buya-yahya/

Minggu, 21 April 2019


ﺑِﺴْــــــــــــــﻢِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ِﺍﻟﺮَّﺣِﻴـــــﻢ

  1. “ KISAH SAYYDAH FATIMAH AZ ZAHRA 

رضي الله عنها  
Binti RASULULLAH S.A.W “

Pemimpin wanita pada masanya ini adalah putri ke 4 dari anak anak Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, dan ibunya adalah Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwalid Radyallah’anhum, Sesungguhnya allah Subhanahu wa ta’ala menghendaki kelahiran Fathimah yang mendekati tahun ke 5 sebelum Muhammad diangkat menjadi Rasul, bertepatan dengan peristiwa besar yaitu ditunjuknya Rasulullah sebagai menengah ketika terjadi perselisiha antara suku Quraisy tentang siapa yang berhak meletakan kembali Hajar Aswad setelah Ka’abah diperbaharui. Dengan kecerdasan akalnya beliau mampu memecahkan persoalan yang hampir menjadikan peperangan diantara kabilah-kabilah yang ada di Makkah.

Kelahiran Fahimah disambut gembira oleh Rasulullahu alaihi wassalam dengan memberikan nama Fathimah dan julakannya Az-Zahra, sedangkan kunyahnya adalah Ummu Abiha (Ibu dari bapaknya).

Ia putri yang mirip dengan ayahnya, Ia tumbuh dewasa dan ketika menginjak usia 5 tahun terjadi peristiwa besar terhadap ayahnya yaitu turunnya wahyu dan tugas berat yang diemban oleh ayahnya. Dan ia juga menyaksikan kaum kafir melancarkan gangguan kepada ayahnya.sampai cobaan yang berat dengan meninggal ibunya Khadijah. Ia sangat pun sedih dengan kematian ibunya.

Pada saat kaum muslimin hijrah ke madinah, Fathima R.a, dan kakanya Ummu Kulsum R.a, tetap tinggal di Makkah sampai Nabi mengutus orang untuk menjemputnya.Setelah Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam menikah dengan Aisyah binti Abu Bakar R.a, para sahabat berusaha meminag Fathimah. Abu Bakar dan Umar R.a, maju lebih dahulu untuk meminang tapi nabi menolak dengan lemah lembut.Lalau Ali bin Abi Thalib R.a, datang kepada Rasulullah saw,untuk melamar, lalu ketika nabi bertanya ; “Apakah engkau mempunyai sesuatu ?”, Tidak ada ya Rasulullah,” jawabku. “ Dimana pakaian perangmu yang hitam, yang saya berikan kepadamu,” Tanya beliau. “ Masih ada padaku wahai Rasulullah,” jawabku. “Berikan itu kepadanya (Fatihmah) sebagai mahar,”.kata beliau.

Lalu ali bin abi thalib R.a, bergegas pulang dan membawa baju besinya, lalu Nabi menyuruh menjualnya dan baju besi itu dijual kepada Utsman bin Affan R.a, seharga 470 dirham, kemudian diberikan kepada Rasulullah dan diserahkan kepada Bilal untuk membeli perlengkapan pengantin.

Kaum muslim merasa gembira atas perkawinan Fathimah dan Ali bin Abi Thalib R.a, setelah setahun menikah lalu dikaruniai anak bernama Al- Hasan dan saat Hasan genap berusia 1 tahun lahirlah Husein pada bulan Sya’ban tahun ke 4 H. pada tahun kelima H ia melahirkan anak perempuan bernama Zainab dan yang terakhir benama Ummu Kultsum.

Rasullah sangat menyayangi Fathimah, setelah Rasulullah bepergian ia lebih dulu menemui Fathimah sebelum menemui istri istrinya. Aisyah r.a,berkata ;
” Aku tidak melihat seseorang yang perkataannya dan pembicaraannya yang menyerupai Rasulullah selain Fathimah, jika ia dating mengunjungi Rasulullah, Rasulullah berdiri lalu menciumnya dan menyambut dengan hangat, begitu juga sebaliknya yang diperbuat Fathimah bila Rasulullah dating mengunjunginya.”.

Rasulullah mengungkapkan rasa cintanya kepada putrinya takala diatas mimbar:” Sungguh Fathima bagian dariku , Siapa yang membuatnya marah berarti membuat aku marah”. Dan dalam riwayat lain disebutkan,” Fathimah bagian dariku, aku merasa terganggu bila ia diganggu dan aku merasa sakit jika ia disakiti.”.

Setelah Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam menjalankan haji wada’ dan ketika ia melihat Fathima, beliau menemuinya dengan ramah sambil berkata,” Selamat dating wahai putriku”. Lalu Beliau menyuruh duduk disamping kanannya dan membisikan sesuatu, sehingga Fathimah menangis dengan tangisan yang keras, tak kala Fathimah sedih lalu Beliau membisikan sesuatu kepadanya yang menyebabkan Fathimah tersenyum.

Takala Aisyah bertanya tentang apa yang dibisiknnya lalu Fathimah menjawab,” Saya tak ingin membuka rahasia”. Setelah Rasulullah wafat, Aisyah bertanya lagi kepada Fathimah tentang apa yang dibisikan Rasulullah kepadanya sehingga membuat Fathimah menangis dan tersenyum. Lalu Fathimah menjawab,” Adapun yang Beliau kepada saya pertama kali adalah beliau memberitahu bahwa sesungguhnya Jibril telah membacakan al-Qura’an dengan hapalan kepada beliau setiap tahun sekali, sekarang dia membacakannya setahun 2 kali, lalu Beliau berkata “Sungguh saya melihat ajalku telah dekat, maka bertakwalah dan bersabarlah, sebaik baiknya Salaf (pendahulu) untukmu adalah Aku.”. Maka akupun menangis yang engkau lihat saat kesedihanku. Dan saat Beliau membisikan yang kedua kali, Beliau berkata,” Wahai Fathimah apakah engkau tidak suka menjadi penghulu wanita wanita penghuni surga dan engkau adalah orang pertama dari keluargaku yang akan menyusulku”. Kemudian saya tertawa.

Takala 6 bulan sejak wafatnya Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, Fathimah jatuh sakit, namaun ia merasa gembira karena kabar gembira yang diterima dari ayahnya. Tak lama kemudian iapun beralih ke sisi Tuhannya pada malam selasa tanggal 13 Ramadhan tahun 11 H dalam usia 27 tahun.

و السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
وَ الـلَّــــهُ اَعْــلَـــمْ بِالصَّــــوَابِ
بَارَكَ اللّهُ فِيْكُمْ

۞ اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ۞

• Sumber : biografi ahlulhadits
• Foto : Di sini dahulu rumah Sayyidah Fatimah Az Zahra, رضي الله عنها bersama sayidina Ali kwh, hasan & husen R.a. foto: by.sykh mohamad aslam.

Senin, 17 Desember 2018

MARIA AL QIBTIYYAH

Ketika berbicara nama Maria Al Qibtiyah maka ingatan kita akan senantiasa tertuju kepada surat ke 66 ayat pertama :

يا أيها النبي لم تحرم ما أحل الله لك تبتغي مرضات أزواجك والله غفور رحيم
 Artinya : “Hai Muhammad, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “ (QS. At-Tahriim:1)
Seperti halnya Sayyidah Raihanah binti Zaid, Mariyah al-Qibtiyah adalah budak Rasulullah yang kemudian beliau bebaskan dan beliau nikahi. Rasulullah memperlakukan Mariyah sebagaimana beliau memperlakukan istri-istri beliau yang lainnya. Abu Bakar dan Umar pun memperlakukan Mariyah layaknya seorang Ummul-Mukminin. Dia adalah istri Rasulullah satu-satunya yang melahirkan seorang putra, Ibrahirn, setelah Khadijah.

A. Dari Mesir ke Yastrib
Tentang nasab Mariyah, tidak banyak yang diketahui selain nama ayahnya. Nama lengkapnya adalah Mariyah binti Syama’un dan dilahirkan di dataran tinggi Mesir yang dikenal dengan nama Hafn. Ayahnya berasal dan Suku Qibti, dan ibunya adalah penganut agarna Masehi Romawi. Setelah dewasa, bersarna saudara perempuannya, Sirin, Mariyah dipekerjakan pada Raja Muqauqis.
Rasulullah saw. mengirim surat kepada Muqauqis melalui Hatib bin Baltaah, rnenyeru raja agar memeluk Islam. Raja Muqauqis menerima Hatib dengan hangat, namun dengan ramah dia menolak memeluk Islam, justru dia mengirimkan Mariyah, Sirin, dan seorang budak bernama Maburi, serta hadiah-hadiah hasil kerajinan dari Mesir untuk Rasulullah. Di tengah perjalanan Hatib rnerasakan kesedihan hati Mariyah karena harus rneninggalkan kampung halamannya. Hatib rnenghibur mereka dengan menceritakan Rasulullah dan Islam, kemudian mengajak mereka merneluk Islam. Mereka pun menerirna ajakan tersebut.
Rasulullah teläh menerima kabar penolakan Muqauqis dan hadiahnya, dan betapa terkejutnya Rasulullah terhadap budak pemberian Muqauqis itu. Beliau mengambil Mariyah untuk dirinya dan menyerahkan Sirin kepada penyairnya, Hasan bin Tsabit. Istri-istri Nabi yang lain sangat cemburu atas kehadiran orang Mesir yang cantik itu sehingga Rasulullah harus menitipkan Mariyah di rumah Haritsah bin Nu’man yang terletak di sebelah rnasjid.

B. Ibrahim bin Muhammad saw.
Allah menghendaki Mariyah al-Qibtiyah melahirkan seorang putra Rasulullah setelah Khadijah r.a. Betapa gembiranya Rasulullah mendengar berita kehamilan Mariyah, terlebih setelah putra-putrinya, yaitu Abdullah, Qasim, dan Ruqayah meninggal dunia.
Mariyah mengandung setelah setahun tiba di Madinah. Kehamilannya membuat istri-istri Rasul cemburu karena telah beberapa tahun mereka menikah, namun tidak kunjung dikaruniai seorang anak pun. Rasulullah menjaga kandungan istrinya dengan sangat hati-hati. Pada bulan Dzulhijjah tahun kedelapan hijrah, Mariyah melahirkan bayinya yang kemudian Rasulullah memberinya nama Ibrahim demi mengharap berkah dari nama bapak para nabi, Ibrahim a.s.. Kaum muslimin menyambut kelahiran putra Rasulullah saw. dengan gembira.
Akan tetapi, di kalangan istri Rasul lainnya api cemburu tengah membakar, suatu perasaan yang Allah ciptakan dominan pada kaum wanita. Rasa cemburu sernakin tampak bersamaan dengan adanya pertemuan Rasulullah saw. dengan Mariyah di rumah Hafshah sedangkan Hafshah tidak berada di rumahnya. Hal ini menyebabkan Hafshah marah. Atas kemarahan Hafshah itu Rasulullah rnengharamkan Mariyah atas diri beliau. Kaitannya dengan hal itu, Allah SWT telah menegur lewat firman-Nya:

“Hai Muhammad, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “ (QS. At-Tahriim:1)

Aisyah mengungkapkan rasa cemburunya kepada Mariyah, “Aku tidak pernah cemburu kepada wanita kecuali kepada Mariyah karena dia berparas cantik dan Rasulullah sangat tertarik kepadanya. Ketika pertama kali datang, Rasulullah menitipkannya di rumah Haritsah bin Nu’man al-Anshari, lalu dia menjadi tetangga kami. Akan tetapi, beliau sering kali di sana siang dan malam. Aku merasa sedih. Oleh karena itu, Rasulullah memindahkannya ke kamar atas, tetapi beliau tetap mendatangi tempat itu. Sungguh itu lebih menyakitkan bagi karni.” Di dalam riwayat lain dikatakan bahwa Aisyah berkata, “Allah memberinya anak, sementara kami tidak dikaruni anak seorang pun.”
Beberapa orang dari kalangan golongan munafik menuduh Mariyah telah melahirkan anak hasil perbuatan serong dengan Maburi, budak yang menemaninya dari Mesir dan kemudian menjadi pelayan bagi Mariyah. Akan tetapi, Allah membukakan kebenaran untuk diri Mariyah setelah Ali ra. menemui Maburi dengan pedang terhunus. Maburi menuturkan bahwa dirinya adalah laki-laki yang telah dikebiri oleh raja.
Pada usianya yang kesembilan belas bulan, Ibrahim jatuh sakit sehingga meresahkan kedua orang tuanya. Mariyah bersama Sirin senantiasa menunggui Ibrahim. Suatu malarn, ketika sakit Ibrahim bertambah parah, dengan perasaan sedih Nabi saw. bersama Abdurrahman bin Auf pergi ke rumah Mariyah. Ketika Ibrahim dalam keadaan sekarat, Rasulullah saw. bersabda, “Kami tidak dapat menolongmu dari kehendak Allah, wahai Ibrahim.”
Tanpa beliau sadari, air mata telah bercucuran. Ketika Ibrahim meninggal dunia, beliau kembali bersabda,

“Wahai Ibrahim, seandainya ini bukan perintah yang haq, janji yang benar, dan masa akhir kita yang menyusuli masa awal kita, niscaya kami akan merasa sedih atas kematianmu lebih dari ini. Kami semua merasa sedih, wahai Ibrahim… Mata kami menangis, hati kami bersedih, dan kami tidak akan mengucapkan sesuatu yang menyebabkan murka Allah.”

Demikianlah keadaan Nabi saw ketika menghadapi kematian putranya. Walaupun tengah berada dalam kesedihan, beliau tetap berada dalam jalur yang wajar sehingga tetap menjadi contoh bagi seluruh manusia ketika menghadapi cobaan besar. Rasulullah saw. mengurus sendiri jenazah anaknya kemudian beliau menguburkannya di Baqi’.

C. Saat Wafatnya
Setelah Rasulullah wafat, Mariyah hidup menyendiri dan menujukan hidupnya hanya untuk beribadah kepada Allah. Dia wafat lima tahun setelah wafatnya Rasulullah, yaitu pada tahun ke-46 hijrah, pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Khalifah sendiri yang menyalati jenazah Sayyidah Mariyah al-Qibtiyah, kemudian dikebumikan di Baqi’. Semoga Allah menempatkannya pada kedudukan yang mulia dan penuh berkah.

Jumat, 20 Juli 2018

Istri Super Cerewet membawa Berkah

​Kisah Nyata Dari Seorang Wali Alloh…!
 Menjadi Wali Karena Sabar Menghadapi Istri Super Cerewet.

Pada zaman dahulu di sebuah desa bernama Bajalhaban di negeri Hadramout, Yaman tersebutlah seorang shaleh yang dikenal dengan nama Syekh Abdurrahman Bajalhaban, beliau adalah seorang wali yang memeliki derajat yang tinggi di sisi Allah, namun beliau tidak mengetahui dirinya memiliki keistimewaan seperti itu. Beliau dikaruniai oleh Allah SWT seorang istri yang cerewet. Setiap hari kerjaannya hanya marah-marah dan ngomel-ngomel. Sedangkan Syekh Abdurrahman Bajalhaban adalah orang yang sabar beliau selalu menghadapi istrinya dengan kesabaran. Tidak pernah beliau membalas keburukan dengan keburukan, omelan dengan omelan. Seandainya beliau menghadapi sifat keras istrinya dengan kekerasan pula maka rumah tangga itu akan menjadi neraka.

Suatu saat beliau mempunyai keinginan berkholawat (Menyepi) untuk beribadah mendekatkan diri kepada Allah SWT di sebuah tempat bersama orang-orang yang beribadah. Beliau merasa lebih baik aku beribadah dari pada terus-terusan bersama istri yang kerjaannya selalu ngomel melulu. Beliau pun berpamit kepada istrinya dan seperti biasa jawabannya adalah omelan dan omelan. Beliau naik ke gunung terdekat dari kotanya dan di situ beliau menemukan sekelompok orang yang sedang beribadah. Singkat cerita beliau dapat bergabung bersama mereka dengan syarat harus mau piket mencari makan untuk mereka sebagaimana adat mereka menentukan piket para anggota untuk mencari makan secara bergantian setiap harinya.

Ketika pada suatu saat beliau kena giliran piket, beliau bingung harus mencari makanan di mana. “Lebih baik aku meminta kepada Allah” gumam beliau, “Tetapi dengan siapakah aku harus bertawassul? Ah, lebih baik aku bertawassul dengan wali yang ditawassuli oleh teman-temanku itu, meskipun aku tidak tahu siapakah yang mereka tawassuli” kata beliau dalam hati. Maka beliau pun duduk di tempat sepi mengangkat tangan seraya berdo’a, “Ya Allah berkat kemulyaan wali yang ditawassuli oleh teman-temanku itu maka turunkanlah untukku dan teman-temanku makanan yang lezat”. Seketika turunlah makanan-makanan yang lezat, beliau pun kaget serta kagum betapa tinggi kedudukan wali yang ditawassuli oleh teman-temannya sehingga sekali tawassul do’a langsung terkabul.

Teman-teman beliau kaget ketika beliau datang dengan membawa makanan yang demikian lezat mereka bertanya bagaimana kamu bisa mendapatkannya? Beliau pun menceritakan semua kejadian yang beliau alami kemudian beliau bertanya, “Siapakah orang yang kalian tawassuli itu? Demi Allah kalau bukan karena bertawassul dengan beliau belum tentu do’aku akan terkabul dengan spontan seperti yang kalian lihat” mereka pun bercerita, “Ketahuilah di desa Bajalhaban dekat pegunungan ini ada orang yang shaleh nan sabar. Beliau memiliki istri yang cerewet, namun begitu beliau sangat sabar terhadap istrinya dan tidak pernah membalas keburukan istrinya dengan keburukan serupa. Karena kesabarannya inilah Allah mengangkat derajat beliau setinggi-tingginya. Beliau dikenal dengan sebutan Syekh Abdurrahman Bajalhaban dan kami selalu bertawassul kepada Allah dengan kemulyaan beliau”.

Mendengar cerita ini Syekh Abdurrahman Bajalhaban kaget, setinggi inikah nilai kesabaran dirinya di sisi Allah SWT? Maka beliau pun berpamit pulang ke desanya tanpa mengemukakan alasan yang jelas. Karena beliau menganggap hidup bersabar bersama istri cerewet ternyata memiliki nilai lebih besar dari pada berkholwat (Menyepi) bersama orang-orang yang beribadah. Dan teman-temannya mempersilahkan beliau pulang tanpa mengetahui apa alasan beliau dan siapakah beliau sebenarnya, karena memang beliau tidak pernah memperkenalkan nama beliau kepada mereka…

🍃Makam beliau terlihat sebelah kiri jalan sebelum masuk kota Tarim Yaman

Foto maqam beliau yg lebih jelas lihat di story ig @musytaq_tarim

Kamis, 25 Januari 2018

MAULID SIMTHUD DUROR



مَحْلُ الْقِيَام 

اَشْـرَقَ الْكَوْنُ ابْـتِـهَاجَــا بِوُجُوْدِ الْمُصْطَفَى اَحْمَـدْ
Alam bersinar-seminar bersuka ria
menyambut kelahiran Al-Musthafa Ahmad

 وَلِاَهْلِ الْكَـوْنِ اُنْــــسُ وَسُرُوْرٌ قَـدْ تَـجَـدَّدْ
riang gembira meliput penghuninya
sambung-menyambung tiada hentinya

 فَاطْـرَبُـوْا يَااَهْلَ الْمَثَانِـي فَهَـزَارُ الْيُـمْنِ غَـرَّدْ 
Bergembiralah, wahai pengikut Al-Quran
burung-burung kemujuran kini berkicauan

وَاسْتَضِيْؤُا بِـجَـمَـالِ فَاقَ فِى الْحُسْنِ تَـفَـرَّدْ 
bersuluhlah dengan sinar keindahan
mengungguli semua yang indah tiada bandingan

وَلَنَا الْـبُـشْرَى بِـسَـعْدٍ مُسْـتَـمِرٍ لَيـْـسَ يَنْـفَــدْ 
Kini wajiblah bersuka cita
Dengan keberuntungan terus-menerus tiada habisnya

حَيْثُ اُوْتِــيـْنـَا عَـطَاءَ جَمَعَ الْـفَـخْرَالـْمُــؤَبَّـدْ 
Manakala kita beroleh anugerah
Padanya terpadu kebanggaan abadi

فَـلِرَبِّــي كُلُّ حَـمْدٍ جَلَّ اَنْ يَـحـْصُرَهُ الْعَدْ 
Bagi Tuhan segala puji
tiada bilangan mampu mencakupnya

اِذْحَبَـانَابِوُجُوْدِ الــــْ مُصْطَفـَى الْهَادِي مُحَمَّدْ
atas penghormatan dilimpahkan-Nya bagi kita
dengan lahirnya Al-Musthafa Al-Hadi Muhammad

 يَارَسُوْلَ اللهِ اَهْـــلًا بِكَـ اِنَـا بِكَـ نُسْـعَـدْ 
Ya Rasulullah, selamat datang, ahlan wa sahlan
Sungguh kami beruntung dengan kehadiranmu

وَبِـجَاهِه يَـااِلَهِـي جُدْوَبَلِّغْ كُلَّ مَقْـصَدْ
Ya Ilahi, ya Tuhan kami semoga Kau berkenan meberi nikmat karunia-Mu
Menyampaikan kami ke tujuan idaman demi ketinggian derajat Rasul di sisi-Mu

وَاهْدِنَانَهْجَ سَبِــيْلِه كَـيْ بِـــهِ نُسْـعَدْ وَنُرْشَدْ
Tunjukilah kami jalan yang ia tempuh
agar dengannya kami bahagia beroleh kebaikan melimpah

 رَبِّ بَلِّـغْنَا بِـجَاهِه فِـى جِوَارِه خَيْرَ مَقْعَدْ
Rabbi, demi mulia kedudukannya di sisi-Mu
tempatkanlah kami di sebaik tempat di sisinya

 وَصَلَاةُ اللهِ تَغْـشَـى اَشْرَفَ الرُّسْلِ مُـحَـمَّــدْ
Semoga shalawat Allah meliputi selalu
rasul termulia, Muhammad

 وَسَــلَامٌ مُسْتَــمِرٌّ كُلَّ حِيْنٍ يَـــتَــجَــدَّدْ 
serta salam terus-menerus
silih berganti setiap saat…


   والله أعلم بالصواب

Kamis, 04 Januari 2018

BENTUK TUBUH RASULULLAH SAW

"Rasulullah saw. bukanlah orang yang berperawakan terlalu tinggi, namun tidak pula pendek. Kulitnya tidak putih bule juga tidak sawo matang. Rambutnya ikal, tidak terlalu keriting dan tidak pula lurus kaku. Beliau diangkat Allah (menjkadi rasul) dalam usia empat puluh tahun. Beliau tingal di Mekkah (sebagai Rasul) sepuluh tahun dan di madinah sepuluh tahun. Beliau pulang ke Rahmatullah dalam usia enam puluh tahun. Pada kepala dan janggutnya tidak terdapat sampai dua puluh lembar rambut yang telah berwarna putih."
(diriwayatkan oleh Abu Raja' Qutaibah bin Sa'id, dari Malik bin Anas, dari Rabi'ah bin Abi
`Abdurrahman yang bersumber dari *Anas bin Malik r.a)
• Anas bin Malik r.a adalah Abu Nadhr Anas bin Malik al Anshari al Bukhari al Khazraji. Ia
tinggal bersama Rasulullah saw dan membantu Beliau selama sepuluh tahun.Dan ia adalah
sahabat yang paling akhir meninggal dunia di Bashrah, yaitu pada tahun 71 H.
• Perawi menghilangkan bilangan satuannya dari puluhan (digenapkan) . Karena kebanyakan
riwayat menyatakan bahwa Rasulullah saw tinggal di Mekkah sebagai Rasul 13 tahun, dan wafat pada usia 63 tahun.
"Aku tak pernah orang yang berambut panjang terurus rapi, dengan mengenakan pakaian merah, yang lebih tampan dariRasulullah saw. Rambutnya mencapai kedua bahunya.Kedua bahunya bidang. beliau bukanlah seorang yang berperawakan pendek dan tidak pula terlampau tinggi."
(diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, dari Waki',dari Sufyan, Dari Abi Ishaq, yang
bersumber dari al Bara bin `Azib r.a)
"Rasulullah saw. tidak berperawakan terlalu tinggi dan tidak pula terlalu pendek. Beliau berperawakan sedang diantara kaumnya. Rambut tidak keriting bergulung dan tidak pula lurus kaku, melainkan ikal bergelombang. Badannya tidak gemuk, dagunya tidak lancip dan wajahnya agak bundar. Kulitnya putih kemerahmerahan. Matanya hitam pekat dan bulu matanya lentik. Bahunya bidang. beliau memiliki bulu lebat yang memanjang dari dada sampai ke pusat. Tapak tangan dan kakinya terasa tebal. Bila Beliau berjalan, berjalan dengan tegap seakan-akan Beliau turun ke tempat yang rendah. Bila Beliau berpaling maka seluruh badannya ikut berpaling. Diantara kedua bahunya terdapat Khatamun Nubuwah, yaitu tanda kenabian. Beliau memiliki hati yang paling pemurah diantara manusia. Ucapannya merupakan perkataan yang paling benar diantar semua orang. Perangainya amat lembut dan beliau paling ramah dalam pergaulan. Barang siapa melihatnya, pastilah akan menaruh hormat padanya. Dan barang siapa pernah berkumpul dengannya kemudian kenal dengannya tentulah ia akan mencintainya. Orang yang menceritakan sifatnya, pastilah akan berkata: "Belum pernah aku melihat sebelum dan sesudahnya orang yang seistimewa Beliau saw."
(Diriwayatkan oleh Ahmad bin `Ubadah ad Dlabi al Bashri, juga diriwayatkan oleh `Ali bin Hujr dan Abu Ja'far bin Muhammad bin al Husein, dari `Isa bin Yunus, dari `Umar bin `Abdullah, dari Ibrahim bin Muhammad, dari salah seorang putera `Ali bin Abi Thalib k.w. yang bersumber dari `Ali bin Abi Thalib k.w.)
"Telah diperlihatkan kepadaku para Nabi. Adapun Nabi Musa a.s. bagaikan seorang laki laki dari suku Syanu'ah*. Kulihat pula Nabi `Isa bin Maryan a.s. ternyata orang yang pernah kulihat mirip kepadanya adalah `Urwah bin Mas'ud*, Kulihat pula Nabi Ibranim a.s. ternyata orang yang mirip kepadanya adalah kawan kalian ini (yaitu Nabi saw sendiri). Kulihat jibrilternyata orang yang pernah kulihat mirip kepadanya adalah Dihyah*."
(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa'ad dari Laits bin Sa'id, dari Abi Zubair yang bersumber
dari Jabir bin `Abdullah r.a.)
• Suku Syanu'ah terdapat di Yaman perawakan mereka sedang.
• Urwah bin Mas'ud as Tsaqafi adalah sahabat Rasulullah saw ia memeluk islam pada tahun 9 H.
• Dihyah adalah seorang sahabat Rasulullah saw yang mengikuti jihad fi sabilillah setelah perang Badar. Ia pun merupakan salah seorang pengikut Bai'atur Ridlwan yang bersejarah.
"Rasulullah mempunyai gigi seri yang renggang. Bila Beliau berbicara terlihat seperti ada cahaya yang memancar keluar antara kedua gigi serinya itu."
(Diriwayatkan oleh `Abdullah bin `Abdurrahman, dari Ibrahim bin Mundzir al Hizami, dari `Abdul `Aziz bin Tsabit az Zuhri, dari Ismail bin Ibrahim, dari Musa bin `Uqbah, dari Kuraib yang bersumber dari Ibnu `Abbas r.a.)
kutipan dari kitab assyamail..
https://web.facebook.com/download/preview/152864068675321
MAULID DIBA'

Maulid Diba' adalah Maulid (Sejarah Rasul) yg dinisbatkan kpd pengarangnya, yakni Al Imam Abu Muhammad Abdurrahman bin Ali Addiba'i Asy Syaibani (866-944 H) Ulama Hadist yg berderajat Al Hafidz yaitu hafal 100.000 hadist dgn sanad & matan juga ahli sejarah.
Adapun keutamaan Maulid Diba' , menurut beberapa ulama yg mempunyai bashiroh dan ahli ma'rifat , termasuk Maulana Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim Bin Yahya, bahwa, diantara beberapa Maulid, Maulid Diba' trmasuk merupakan Maulid yg ketika dibaca, Kanjeng Nabi sering hadir. Bahkan sebagian ulama ada yg memastikan kehadlirannya Kanjeng Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.
Sebelum memaparkan tentang makna (terjemah) Maulid Diba' ,  terlebih dahulu akan kami utarakan sejarah penyusunnya. Al Imam Al Hafidz Al Muhaddits Abdurrahman bin Ali bin Muhammad As syaibaniy Addiba'iy Alyamaniy, yang terkenal dengan Ibn Diba' dengan maulidnya addiba'i, beliau adalah perawi hadits besar di zamannya, dan beliau wafat di wilayah Yaman Utara, dekat Zabid, tidak jauh dari Kubur Imam Al Bushiri yg mengarang Qasidah Burdah, dan di dekat itu pula terdapat Ahluttariqah Anbariyyah yg masih menyimpan sehelai rambut Rasulullah saw.
beliau juga dikenal dengan julukan Ibn Diba`. Sebenarnya kata "Diba`" adalah julukan (laqob) kakeknya yang bernama Ali bin Yusuf Diba` yang dalam bahasa Sudan berarti putih. Dalam kitabnya yang berjudul Bughyatul Mustafid, beliau menuliskan di bagaian akhir kitab tersebut tentang sekilas riwayat hidupnya. Disebutkan bahwa beliau dilahirkan di kota Zabid (salah satu kota di Yaman utara) pada sore hari Kamis, 4 Muharram, 866 H.

Sekilas Geografis Zabid
Zabid adalah salah satu kota tua yang terletak di Yaman utara. Sekarang kota Zabid termasuk dalam kawasan propinsi Hudaidah. Letak geografisnya berada di tengah-tengah lembah Zabid, yang berjarak 40 kilometer dari laut merah. Dahulu kota Zabid dikenal juga dengan nama "Hushoib".
Zabid merupakan salah satu kota pusat keilmuan di Yaman, di mana sejarah mencatat banyak ulama-ulama dari berbagai penjuru belahan dunia yang datang untuk menuntut ilmu atau sekedar mencari sanad hadis di kota ini. Bahkan tak jarang dari mereka yang akhirnya enggan kembali ke daerah asalnya dan memilih untuk tinggal di kota Zabid sampai akhir hayatnya.
Kota ini sudah dikenal sejak masa hidupnya Nabi Muhammad SAW, tepatnya pada tahun ke-8 Hijriyah. Di mana saat itu datanglah rombongan suku Asy`ariyah (di antaranya adalah Abu Musa Al Asy`ari) yang berasal dari Zabid ke Madinah Al Munawwaroh untuk memeluk agama Islam dan mempelajari ajaran-ajarannya. Karena begitu senangnya atas kedatangan mereka, Nabi Muhammad SAW. berdoa memohon semoga Allah SWT. memberkahi kota Zabid dan Nabi mengulangi doanya sampai tiga kali (HR. Al Baihaqi). Dan berkat barokah doa Nabi, hingga saat ini, nuansa tradisi keilmuan di Zabid masih bisa dirasakan. Hal ini karena generasi ulama di kota ini sangat gigih menjaga tradisi khazanah keilmuan Islam.
Di Zabid terdapat masjid Asya`ir yang dibangun sejak tahun ke-8 Hijriyah, masjid yang dibangun oleh Shohabat Abu Musa Al Asy`ari ini merupakan salah satu dari ketiga masjid yang dibangun oleh sahabat Nabi di Negeri Saba' (Yaman).

Masa Kecil Syekh  Ibn Diba` ra.
Pengarang Maulid Diba` ini lahir ketika ayahnya sedang bepergian, dan sampai akhir hayatnya beliau tidak pernah bertemu dengan ayahnya. Beliau diasuh oleh kakek dari ibunya yang bernama Syeikh Syarafuddin bin Muhammad Mubariz yang juga seorang ulama besar yang tersohor di kota Zabid saat itu. Meskipun demikian, ketiadaan sosok ayah tidak menjadi penghalang bagi Ibn Diba` untuk menuntut ilmu pada ulama-ulama besar Zabid.
Semenjak kecil, Ibn Diba` sudah sangat giat dalam menimba ilmu kepada para ulama. Beliau belajar membaca Al Quran dibawah bimbingan Syeikh Nuruddin Ali bin Abu Bakar lalu berpindah kepada mufti Zabid Syeikh Jamaluddin Muhammad Atthoyyib yang masih terhitung pamannya sendiri. Setelah gurunya melihat bakat kecerdasan istimewa yang dimiliki Ibn Diba`, maka sang Mufti menyuruhnya untuk membaca Al Quran dari awal hingga akhir. Berkat kecerdasan dan ketekunan, beliau sudah bisa menghafal Al Quran saat masih berusia sepuluh tahun.
Tak lama setelah beliau berhasil menghatamkan Al Quran, Ibn Diba' mendengar berita duka bahwa ayahnya telah meninggal dunia di salah satu daerah di daratan India. Beliau mendapatkan harta warisan sebanyak 8 Dinar. Meninggalnya ayah beliau tak memadamkan motivasi Ibn Diba` dalam menuntut ilmu, malah sebaliknya beliau makin semangat. Setelah peristiwa itu, beliau memutuskan untuk belajar ilmu Qiroat dengan mengaji Nadzom (bait) Syatibiyah dan juga mempelajari ilmu Bahasa (gramatika), Matematika, Faroidl, Fikih, dengan masih di bawah bimbingan pamannya. Atas arahan pamannya, beliau disuruh untuk mengaji kitab Zubad (nadlom Fiqh madzhab Syafi`i) kepada Syeikh Umar bin Muhammad Al Fata Al Asy`ari.

Ibn Diba' Menimba llmu
Kemudian setelah menghatamkan kitab Zubad, dengan bermodal uang harta warisan yang didapat dari ayahnya, Ibn Diba` menempuh perjalanan jauh menuju tanah Haram Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Sepulang dari Makkah, beliau disambut dengan berita duka bahwa kakeknya meninggal dunia. Sepeninggal kakeknya, Ibn Diba` tinggal bersama pamannya sambil tetap mengkaji beberapa ilmu di bawah bimbingan pamannya.
Pada tahun 885 H. beliau berangkat ke Makkah lagi untuk menunaikan ibadah haji yang kedua kalinya. Sepulang dari Makkah, Ibn Diba` kembali lagi ke Zabid. Beliau mengkaji ilmu Hadis dengan membaca Shohih Bukhori, Muslim, Tirmidzi, Al Muwattho` di bawah bimbingan Syeikh Zainuddin Ahmad bin Ahmad Asy Syarjiy. Di tengah-tengah sibuknya belajar Hadis, Ibn Diba' menyempatkan diri untuk mengarang kitab Ghoyatul Mathlub yang membahas tentang kiat-kiat bagi umat Muslim agar mendapat ampunan dari Allah SWT. Tak puas dengan hanya belajar Hadis, Ibn Diba` lalu belajar Fikih dengan membaca kitab Minhajut Tholibin dan Haawi Shoghir kepada Syeikh Jamaluddin bin Ahmad bin Jaghman dan membaca kitab-kitab hadis kepada Syeikh Burhanuddin bin Jaghman.
Pada tahun 896 H. beliau berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji yang ketiga kalinya. Beliau berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW. di Madinah. Setelah itu kembali lagi ke Makkah untuk menuntut ilmu Hadis kepada para ulama tanah Haram, di antara gurunya Syeikh Syamsuddin Muhammad bin Abdurrahman Assyakhowi, seorang ulama Hadis yang tersohor kala itu.
Sepulang dari Makkah beliau mengarang kitab Kasyfu Al Kirbah dan Bughyat Al Mustafid. Karena kehebatan karangannya, beliau mendapat pujian dari Sultan Dhofir `Amir bin Abdul Wahab, dan memintanya untuk hadir ke istananya. Sulthan Dhofir lalu memberikan usulan untuk menambal kekurangan-kekurangan yang ada di kitabnya. Sebelum pulang ke Zabid beliau diberi hadiah sebuah rumah dan sepetak kebun kurma di kota Zabid. Dan Sultan tadi memintanya untuk mengajar ilmu Hadis di masjid Jami` Zabid.

Kebiasaan dan Karya-karya Syekh Ibn Diba'
Beliau adalah salah seorang ulama ahli Hadis yang terkemuka pada abad ke-9 H. kehebatannya dalam bidang Hadis telah diakui oleh para ulama, sehingga banyak yang datang kepadanya untuk meminta sanad Hadis dan mendalami ilmu Hadis. Meskipun demikian, Hal itu tak membuatnya berbesar hati, tapi sebaliknya dia makin tawaddlu` (rendah hati).
Sye S kh Ibn Diba' mempunyai kebiasaan untuk membaca surat Al Fatihah dan menganjurkan kepada murid-murid dan orang sekitarnya untuk sering membaca surat Al Fatihah. Sehingga setiap orang yang datang menemui beliau harus membaca Fatihah sebelum mereka pulang. Hal ini tidak lain karena beliau pernah mendengar salah seorang gurunya pernah bermimpi, bahwa hari kiamat telah datang lalu dia mendengar suara, “ Wahai orang Yaman masuklah ke surga Allah.” Lalu orang-orang bertanya, “Kenapa orang-orang Yaman bisa masuk surga ?” Kemudian dijawab, "karena mereka sering membaca surat Al Fatihah".
Syekh Ibn Diba` termasuk ulama yang produktif dalam menulis. Hal ini terbukti beliau mempunyai banyak karangan baik di bidang Hadis ataupun Sejarah. Karyanya yang paling dikenal adalah syair-syair sanjungan (madah) atas Nabi Muhammad SAW. yang terkenal dengan sebutan Maulid Diba`i, Meskipun ada yang menisbatkan Maulid ini kepada Ibn Jauzi, hanya saja pendapat ini sangat lemah.
Di antara buah karyanya yang lain: Qurrotul `Uyun yang membahas tentang seputar Yaman, kitab Mi`roj, Taisiirul Usul, Bughyatul Mustafid dan beberapa bait syair. Beliau mengabdikan dirinya hinga akhir hayatnya sebagai pengajar dan pengarang kitab. Ibn Diba'i wafat di kota Zabid pada pagi hari Jumat, tanggal 26 Rajab, 944 H.

رب فانفعنا ببركتهم
 واهدنا الحسنى بحرمتهم
وأمتنا في طريقتهم
ومعافاة من الفتن

والله أعلم بالصواب

TARJAMAH MAULID DIBA'

Sholawat Pembuka

Bismillah
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang

Ya Allah, tetapkanlah limpahan rahmat kepada Nabi Muhammad Ya Allah, tetapkanlah limpahan rahmat dan salam kepadanya

Ya Allah sampaikanlah kepadanya sebagai perantara Ya Allah, khususkanlah kepadanya dengan keutamaan

Ya Allah, anugerahkanlah keridaan kepada sahabatnya Ya Allah, anugerahkanlah keridaan kepada keturunannya

Ya Allah, anugerahkanlah keridaan kepada para guru Ya AIlah, rahmatilah orang-orang tua kami

Ya Allah, rahmatilah kami semua
Ya Allah, rahmatilah semua orang islam

Ya Allah, ampunilah semua orang yang berbuat dosa Ya Allah, janganlah Engkau putuskan harapan kami

Ya Allah, wahai Zat Yang Maha Mendengar doa kami Ya Allah, sampaikan kami ziarah ke makamnya

Ya Allah, sinarilah kami dengan nurnya
Ya Allah, aku selalu mengharap pemeliharaan dan keamanan-Mu

Ya Allah, tempatkanlah kami dalam surga-Mu Ya Allah, selamatkanlah kami dari siksaMu

Ya Allah, anugerahilah kematian kami dengan syahid Ya AIIah, liputilah kehidupan kami dengan penuh kebahagiaan

Ya Allah, balaslah kebaikan orang yang berbuat kebaikan Ya Allah, hindarkanlah dari semua orang yang menyakiti

Ya Allah, akhirilah kami dengan mendapat syafaat Nabi Muhammad saw Ya Allah, tetapkanlah limpahan rahmat dan salam kepada Nabi Muhammad

bismillah
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang

Telah datang kepada kamu seorang utusan Allah dari jenis kamu sendiri,ia merasakan apa penderitaanmu, lagi sangat mengharapkan akan keselamatanmu, kepada orang yang beriman senantiasa merasa kasih sayang

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya selalu bersalawat untuk Nabi, wahai orang-orang yang beriman! Bacalah salawat dan mohonkan kesejahteraan untuknya, (Nabi Muhammad saw
****************

allahumma
Ya Allah, tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad saw)

*Sholawat 2

Wahai utusan Allah, semoga keselamatan tetap padamu Wahai yang berbudi luhur dan bermartabat tinggi

Rasa kasihmu wahai pemimpin tetangga
Wahai ahli dermawan dan pemurah hati

Kami tetangga di tanah haram ini
Tanah haram tempat berbuat baik dan memberi kebaikan

Kami dari kaum yang tinggal di tempat itu
Tempat yang mereka merasa aman dari ketakutan

Dengan ayat-ayat Al-Qur’an mereka mendapat inayah Renungkanlah di hati kita, wahai yang berjiwa lemah

Kami mengenal padang pasir dan ia mengenal kami Bukit Shafa dan Baitil-Haram menawan hati kami

Kami punya Ma’la dan masjid Kha’if di kota Mina Ketahuilah ini, beradalah dan beribadahlah di sana

Kami mempunyai ayah sebaik-baik makhluk
Dan adalah keturunan AIi yang diridlai

Kepada kedua cucunya kami berketurunan,
Keturunan suci bersih dari kotoran

Banyak Imam yang menggantikan sesudahnya, Dengan gelar sayyid mereka dikenal

Dengan gelar itu benar-benar mereka disebut
Dari sepanjang tahun dan zaman

Seperti Zainal Abidin yakni Ali
Dan putranya Baqir itu sebaik-baiknya wali

Dan Imam Ja’far Ash-shadiq yang penu keberkahan Dan Ali yang mempunyai ketinggian dan keyakinan

Merekalah kaum yang memperoleh hidayah
Dan dengan karunia Allah mereka benar-benar berbahagia

Kepada selain Allah mereka tak bertujuan
Dan besertaAl-Qur’an mereka berpegangan

Ahli rumah Nabi pilihan yang disucikan
Mereka itu pengaman bumi, maka ingatlah

Mereka itu bagaikan bintang gemerlapan
Perumpamaan itu telah benar-benar datang di dalam hadits Nabi

Dan bagaikan bahtera penyeIamat ketika …
Engkau takut dari topan badai segala duka

Maka selamatlah engkau di dalamnya tiada khawatir lagi Dan berpegang teguhlah kepada Allah serta mohonlah pertolongan

Ya Allah, dengan barokah mereka, berilah kami kemanfaatan Dan dengan kehormatan mereka, tunjukkan kami kepada kebaikan

Dan wafatkanlah kami di jalan mereka
Dan selamat dari segala fitnah

BAB_I

Bismillah
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
Dalam pengaturan susunan perwujudan manusia ini Diciptakan oleh-Nya,otak, tulang, bahu, urat pembuluh darah, daging, kulit dan rambut dengan susunan yang teratur rapi Dari sperma yang terpancar dari tulang rusuk laki-laki dan tulang dada perempuan “(LAA ILAAHA ILLALLAAH)” TiadaTuhan selain Allah, Maha Pemurah kepada makhluk-Nya dengan hamparan karunia dan anugerah-Nya.
Pada setiap malam rahmat Allah turun ke langit dunia, dan memanggil:
Adakah malam ini orang yang mohon ampun serta adakah orang yang bertaubat? Adakah orang yang memohonakan hajatnya maka Aku akan kabulkan hajatnya yang Maka seandainya telah engkau lihat hamba-hamba mengabdi kepada Allah, berdiri tegak di atas telapak-telapak kakinya dengan cucuran air mata Dan di antara segolongan kaum ada yang menyesali dosa-dosanya dan bertaubat Dan ada orang-orang yang khawatir berbuat dosa lagi dan mencerca kepada dirinya sendiri Dan ada orang yang lari menghindar dari perbuatan-perbuatandosa menuju perlindungan Allah Maka tidak ada henti-hentinya mereka mohon ampunan, sehingga berhari-hari lamanya meratapi rentetan kealpaannya Kemudian mereka kembali menekuni ibadah dan mereka benar-benar beruntung dengan apa yang dicari, dan menemui keridaan Allah yang dicintai dan tiada seorang pun dari suatu kaum yang kembali dengan tangan hampa Tiada Tuhan selain Allah, maka Maha suci Allah dan Maha luhur yang telah menciptakan nur Muhammad saw, dari nur-Nya sebelum menciptakan Adam dari tanah liat Dan Allah memperlihatkan keagungan nur Muhammad kepada penghuni surga seraya berfirman; “lnilah pemimpin para nabi dan lebih agung di antara orang-orang pilihan serta lebih mulia di antara para kekasih Allah”
Ditanyakan ol eh malaikat: Adakah nur itu pada Nabi Adam? 
Jawab Allah: Dengan nur ini, Aku anugerahkan kepada Adam martabat yang tinggi
Ditanyakan oleh malaikat: Adakah nur itu pada Nuh?
Jawab Allah: Dengan nur ini Nabi Nuh dapat selamat dari tenggelam dan binasalah orang-orang yang memungkirinya dari ahli keluarga dan kerabatnya 
Ditanyakan oleh malaikat: Adakah nur ini pada Nabi lbrahim?
Jawab Allah: Dengan nur ini Nabi lbrahim sanggup menyampaikan hujjahnya dengan mengalahkan para penyembah berhala dan bintang-bintang 
Ditanyakan oleh malaikat: Adakah nur ini pada Nabi Musa? 
Jawab Allah: Musa itu adalah saudaranya, tetapi nur ini adalah kekasih-Ku dan Musa adalah penerima firman-Ku dan yang berbicara dengan-Ku
Ditanyakan oleh malaikat: Adakah nur ini pada Nabi Isa?
Jawab Allah: Dengan nur ini Nabi lsa membawa kabar akan kelahiran nur ini di antara dengan kenabiannya dalam jarak waktu sangat dekat, bagaikan mata dengan alis
Ditanyakan oleh malaikat: Lantas siapakah kekasih mulia yang telah Engkau hiasi dengan hiasan ketenteraman, Engkau beri mahkota bari mahkota kewibawaan dan kemegahan dan Engkau kibarkan bendera kepemimpinan di atasnya?
Jawab Allah: Dialah seorang nabi yang telah aku pilih dari keturunan Luay bin Ghalib
Yang ayah dan ibunya telah meninggal dunia, kemudian diasuh oleh kakeknya, kemudian oleh pamannya yaitu saudara kandung ayahnya yang bernama Abu Thalib

*******

allahumma Ya Allah, tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad saw)
Nabi saw diutus oleh Allah di negeri Tihamah (Makkah) di antara saat menjelang datang hari kiamat Pada punggungnya ada tanda kenabian BiIa berjalan awan senantiasa melindunginya dan perintahnya dipatuhi oleh awan Dahinya bercahaya cemerlang, rambutnya bagaikan malam gelap gulita / hitam pekat Bagaiknn huruf alif bentuk mancung hidungnya, bagaikan huruf mim bulat mulutnya, bagaikan huruf nun lengkung alisnya Pendengarannya dapat mendengar geritan qalam di Lauh Mahfuzh, penglihatannya sampai ke langit tujuh Kedua telapak kakinya dicium unta, maka lenyaplah rasa sakit serta bala’musibah yang diderita oleh unta itu,Binatang biawak dan lainnya beriman kepadanya dan bersalam kepadanya pepohonan, berbicara dengannya batu-batuan, batang kurma meratap kepadanya bagaikan rintihan kesedihan seorang pecinta Kedua tangannya menatap menampakkan berkahnya pada makanan dan minuman Hatinya tidak lalai dan tidak pula tidur, tetapi senantiasa mengabdi dan ingat kepada Allah
Bila disakiti, beliau mengampuni dan tidak membalas dendam, Bila dihina, beliau hanya diam dan tidak menjawab,Allah mengangkatnya ke martabat yang lebih mulia / tinggi,Dengan kendaraan yang tak pernah dipakai oleh siapa pun, sebelum dan sesudahnya Pada golongan malaikat, ketinggian derajatnya melebihi yang lain
Maka ketika Nabi naik melalui dua alam dan berpisah dari dua alam, sampailah yang ke tempat ketinggian yang bagaikanjarak dua busur panah,maka Aku-lah yang menghibur dan berbicara kepadanya

*******

allahumma Ya Allah, tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad saw)
Kemudian Aku kembalikan dia dari ‘Arsy, sebelum dingin alas semua apa yang tidurnya dan benar-benar telah memperoleh menjadi tujuannya Maka ketika tanah suci Makkah dimuliakan karena sebab kemuliaan Nabi yang merubahnya Telah terbentang keleluasaan untuk tujuan ke Makkah bagi jiwa-jiwa yang mencintainya, baik yang berjalan kaki maupun yang berkendaraan

*******

allahumma Ya Allah, tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad saw)
Selagi bintang masih bercahaya, semoga rahmat AIIah tercurah Kepada Nabi Muhammad yang sebaik-baiknya pengendara unta Selama pengiring unta menyanyikan lagu menyebut nama kekasih terindu Unta mengangguk-angguk menari gembira tertawa irama lagu penunggangnya
Tidakkah engkau lihat, semakin cepat langkah unta?Bercucuran deras dari matanya air mata bagaikan awan tiba Semakin condong langkah untuk kegembiraan merindukan Menuju kandang gembalaan pengembaraannya
Biarkan,jangan kau tarik kendali dan penggiringnya Maka penggembala merasa kesepian merindukan Nabi kemudian menariknya Tunjukkanlah rasa cintamu sebagaimana cintanya unta dan jikalau tidak,Maka jalan cintamu pada nabi adalah dusta Perhatikan, kota Aqiq telah nampak dan inilah Qubah Nabi, gemerlapan cahayanya menyilaukan Itulah qubah hijau dan nabi bermakam di dalamnya Seorang Nabi yang nur-nya menerangi kegelapan
Dan sungguh jelas keridaan Allah, dan pertemuanpun telah dekat Dan sungguh telah datang kegembiraan dari segala penjuru
Maka bisikkan ke dalam hati, tiada seorangpun ku condongkan rasa cinta Maka tiada satupun hari ini kepada kekasih, penghalangnya
Condongkanlah rasa cinta kepada kekasih di segala tujuan, Maka sungguh memperoleh kesenangan dan lenyaplah kedukaan
Nabi Allah yang sebaik-baik makhluk kesemuanya Baginya keluhuran pangkat dan martabat tertinggi
Baginya ketinggian kedudukan, baginya segala keluhuran Kemuliaannya diabadikan dan menjadi kenangan Maka seandainya kami menuju tempat, berjalan setiap hari Di atas pandangan, bukan di punggung-punggung unta Dan seandainya kami beramal setiap saat Pada peringatan kelahiran Ahmad, maka sungguh hukumnya wajib Setiap waktu kumohonkan untuknya dari Allah Rahmat selama bintang-bintang masih bercahaya Kepada keluarga dan para sahabat semuanya Serta semua keturunannya yang baik-baik lagi mulia

allahumma Ya Allah, tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad saw)
Maka Maha suci Allah yang mengkhususkan Nabi Muhnmmad saw dengan kemuliaan pangkat dan martabat Aku menyanjungkan pujian kepada-Nya, atas segala nikmat anugerah dan pemberian-Nya
Dan aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah yang Maha Esa lagi tiada sekutu bagi-Nya, pemilik arah timur dan barat
Dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya penghulu kami Nabi Muhammad itu adalah seorang hamba AIIah dan utusan-Nya yang diutus kepada semua bangsa Ajam dan Arab
Semoga rahmat AIIah dan salam-Nya tetap dilimpahkan kepada Nabi dan keluarga serta sahabatnya yang mempunyai perilaku agung dan sebutan nama baik Dengan rahmat dan salam yang kekal keduanya merata kepada para pembacanya yang datang kelak di hari kiamat tanpa merugi

****************

allahumma Ya Allah, tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad saw)
Pertama kali kami awali hal ini dengan mengemukakan dua buah hadits datang dari Nabi yang berkedudukan agung dan bernasab mulia serta lurus perjalanan hidupnya
Allah berfirman: Demi hak Muhammad Dzat yang tiada terIepas dari sifat Maha Mendengar dan Maha Melihat, bahwasanya Allah dan para malaikat-Nya selalu bersalawat untuk Nabi, wahai orang-orang yang beriman, mohonkan rahmat dan salam dengan kesungguhan untuknya

****************

allahumma Ya Allah, tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad saw)
Hadits pertama dari pancaran seorang ahli ilmu yang menyamudra, tutur katanya dengan Al-Qur’an dan salah seorang ulama yang terkenal, yaitu Sayyid Abdullah bin Sayyid Abbas radhiyallahu ‘anhumaa dari Rasulullah saw bahwasanya beliau telah bersabda: Sesungguhnya seorang Quraisy (Nabi Muhammad saw) ketika masih berwujud nur di hadapan AIIah Yang Maha Perkasa dan Maha Agung sebelum menciptakan Adam kira-kira dua ribu tahun, nur itu selalu bertasbih kepada Allah dan bertasbih pula para malaikat mengikuti bacaan tasbihnya Ketika Allah menciptakan Adam, maka nur itu diletakkan pada tanah liat asal kejadiannya, Telah bersabda Nabi saw: Lalu Allah Azza wa Jalla menurunkan aku ke bumi pada punggung Nabi Adam Dan membawaku kedalam kapal berada pada tulang rusuk Nabi Nuh dan menjadikan aku pada tulang rusuk Nabi lbrahim ketika dilempar ke dalam api,Tiada henti-hentinya Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Agung memindahkan aku dari tulang-tulang rusuk yang suci, sampai pada rahim yang suci dan megah, hingga Allah melahirkan aku dari antara kedua orang tuaku, dan keduanya tidak pernah berbuat zina sama sekali

****************

allahumma Ya Allah, tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad saw)
Hadits kedua riwayat dari ‘Atha’ bin Yasar dari Ka’ab Al-Ahbar telah berkata: Ayah ku telah mengajarkan kepada ku kitab Taurat hingga tamat, kecuali selembar saja yang tidak diajarkan dan memasukkannya ke dalam peti
Maka setelah ayahku meninggal, aku membuka peti itu, ternyata selembar kitab Taurat tadi menerangkan tentang akan Iahirnya nabi akhir zaman yang tempat kelahirannya di kota Makkah dan berpindah ke Madinah serta kekuasaannya meluas ke negeri Syam Beliaum encukur rambutnya dan berkain pada pinggangnya Beliau adalah sebaik-baiknya para nabi, dan umatnya juga sebaik-baik umat Mereka bertakbir mengagungkan kebesaran Allah Yang Maha Tinggi atas segala
kemuliaan Mereka berbaris pada waktu salat sebagaimana barisan mereka di dalam peperangan Hati mereka merupakan tempat kitab nya Mereka selalu memuji dalam keadaan duka dan suka Sepertiga dari mereka masuk surga tanpa dihisab, sepertiga Iagi datang dengan dosa-dosanya, lalu diampuni Dan yang sepertiga lainnya datang dengan dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan besar
Maka Allah Ta’ala berfirman kepada malaikat: Pergilah dan timbanglah amal perbuatan mereka Lalu para malaikat berkata: Wahai Tuhan kami, telah kami dapatkan mereka melampaui batas menyia-nyiakan dirinya sendiri dan kami dapatkan amal-amal mereka penuh dari dosa-dosa bagaikan sebesar gunung-gunung Pada sisi lainnya mereka sungguh bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan sesungguhnya Nabi Muhammnd saw itu adalah utusan Allah

**********

allahumma Ya Allah, tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad saw)
Maka Allah berfirman: Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, tiadalah Aku jadikan orang yang tulus ikhlas bersaksi kepada-Ku itu seperti orang yang mendustakan Aku Mereka Aku masukkan surga dengan rahmat-Ku Wahai orang yang termulia laksana untaian mutiara dan emas murni rahasia
yang ada Orang yang memujimu merasa kekurangan walaupun dengan mengerahkan seluruh kekuatannya Dan orang yang mensifatimu merasa tak berdaya melukiskan apa yang meliputi engkau dari tingkah laku yang mulia dan pemurah Alam semesta isyarat dan engkaulah yang menjadi tujuan, wahai orang termulia yang telah memperoleh kedudukan yang terpuji Dan telah datang para rasul sebelum engkau, tetapi mereka bersaksi atas kemuliaan dan keluhuran serta ketinggian derajatmu

****************

allahumma Ya Allah, tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad saw)
Hadirkanlah hati kalian, wahai golongan orang yang berakal, sehingga aku nyatakan kepadamu bagaikan pengantin yang menjadi kekasih agung yang telah dikhususkan dengan gelar nama yang termulia Yang pernah naik menghadap Raja Yang Maha Pemberi, sehingga dapat melihat keindahan’ Nya tanpa tutup dan tanpa tirai Tatkala tiba saat lahirnya sinar kerasulan di langit keagungan, keluarlah Malaikat jibril dengan membawa nur untuk membuka kerajaan dunia Wahai jibril, serukan kepada seluruh makhluk penghuni bumi dan langit, agar menyambutnya dengan rasa riang dan gembira, Karena sesungguhnya nur yang terpelihara dan rahasia yang tersimpan yang Aku ciptakan sebelum wujudnya sesuatu dan sebelum terciptanya bumi dan langit-langit
Pada malam ini Aku pindah kan nur itu ke dalam perut ibunya dengan merasa kegembiraan Aku penuhi seluruh alam dengan cahayanya Aku pelihara di dalam keadaan yatim-piatu dan Aku sucikan dia beserta para keluarganya dengan kesucian yang sungguh

****************

allahumma Ya Allah, tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad saw)
Maka bergoncanglah ‘Arsy karena gembira dengan adanya kabar gembira Dan kursi Allah bertambah wibawa dan tenang karena memuliakannya Dan langit penuh dengan cahaya serta bergemuruh suara malaikat membaca tahlil, tamjid dan istighfar dan ibunya tiada henti-hentinya melihat bermacam-macam keajaiban hingga dari keistimewaan dan keagungannya hingga sempurna masa kandungannya maka ketika ibunya telah merasakan sakit karena kandungannya akan lahir, dengan izin Tuhannya, Tuhan pencipta makhluk, Iahirlah kekasih Allah Muhammad saw dalam keadaan sujud, bersyukur dan memuji, sedangkan wajahnya bagaikan bulan purnama dalam kesempurnaannya

Mahallul-Qiyaam
Wahai Nabi, semoga keselamatan tetap untuk mu Wahai Rasul, semoga keselamatan tetap untukmu Wahai kekasih, semoga keselamatan tetap untuk mu juga rahmat Allah semoga tetap tercurah untuk mu Telah terbit bulan purnama menyinari kami maka suramlah karenanya purnama-purnama lain Tiadalah pernah kami melihat perumpamaan kebagusan mu hanyalah engkau saja, wahai wajah yang berseri-seri engkaulah matahari, engkaulah purnama engkaulah cahaya di atas segala cahaya engkaulah emas murni dan yang sangat mahal engkaulah pelita penerang daIam dada Wahai kekasihku, wahai Muhammad Wahai mempelai belahan benua timur dan barat Wahai yang dikokohkan, wahai yang dimuliakan Wahai yang menjadi imam di dua kiblat Siapa saja yang memandang wajahmu akan berbahagia Wahai yang mulia kedua orang tuanya Telagamu yang jernih dan menyejukkan Kami datangi di hari kiamat kelak Tak pernah kami lihat seekor unta merindukan, Berjalan menuju selain kepada mu Awan berarak-arakan benar-benar menaungi mu Para malaikat bershalawat untuk mu, Pohon kayu datang menangis kepada mu Tunduk bersimpuh di hadapan mu Mohon selamat, wahai kekasih ku ke hadapan mu kijang berlari diwaktu kafilah berkemas membawa beban Mereka memanggil mu untuk berangkat aku datangi mereka dengan air mata bercucuran aku katakan, tunggulah aku, wahai petunjuk jalan tolong bawakan surat-suratku, Wahai Nabi yang sangat merindukun ke tempat nan jauh di sana, Pada petang dan pagi hari Benar-benar berbahagialah hamba yang memperoleh kesenangan hilang darinya segala kesusahan padamu wahai purnama terang Padamu sifat-sifat yang indah tak seorang pun melebihi kesucianmu…
Sama sekali, wahai Nabi eyangnya sayyid Husain Dan kepadamu curahan rahmat Allah
Kekal selamanya sepanjang masa

*******

Allahumma Ya Allah, tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad saw)
Nabi Muhammad saw, dilahirkan dalam keadaan telah berkhitan dengan pertolongan Allah Bercelak dengan celak petunjuk Allah Pada sahara bersinar terang dengan keindahannya Dari sebab cahayanya keadaan alam semesta menjadi terang benderang Dan termasuk pula dalam ikatan golongannya, orang-orang yang sesudahnya, seperti orang-orang dahulu yang pernah menjumpainya pertama kali yang menjadi keagungan mukjizatnya, adalah padamnya api persembahan negeri Persi dan runtuhnya panggung kehormatannya Dilemparnya setan-setan dari langit dengan bintang-bintang yang membakar Raja jin yang angkuh menguasai kerajaannya, seketika menjadi hina dan tunduk Ketika cemerlang cahaya Nabi yang menerangi dan nur keelokan Nabi bersinar menerangi segenap penjuru, sehingga Nabi diserahkan kepada wanita-wanita yang menyusui

allahumma Ya Allah, tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad saw)
Diserukan oleh malaikat: Siapakah yang ingin mengasuh anak yatim yang bagaikan permata yang tiada banding harganya
Berkatalah sekelompok burung: Kamilah yang sanggup mengasuh dan mengambil keuntungan cita-citanya yang agung
Berkatalah bintang-bintang liar: Kamilah yang lebih berhak mengasuhnya agar memperoleh kemuliaan dan keagungannya,
Diserukan oleh malaikat: Hai golongan umat, tenanglah kalian, karena sesungguhnya Allah benar-benar telah memutuskan sejak zaman dahulu kala,bahwasanya Nabi Muhammad saw adalah hendak menyusu kepada seorang wanita bernama Siti Halimah ynng penuh rasa kasih sayang

allahumma Ya Allah, tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad saw)
Kemudian berpalinglah dari Nabi saw para wanita yang biasa menyusui bayi-bayi karena suratan takdir telah menentukan kebahagiaan kepada Halimah binti Abi Dzu’aib
Tatkala pandangan Halimah tertuju kepada Nabi saw, maka segeralah Halimah mengambilnya dan diletakkan di pangkuannya dan dirangkul ke dadanya Lantas Nabi menampakkan kegembiraan dengan tersenyum kepadanya Lalu keluarlah dari gigi depannya pancaran cahaya yang menembus ke langit Kemudian Nabi dibawa ke kendaraannya, dan berangkatlah Halimah beserta Nabi menuju ke kampung halaman keluarganya
Maka ketika Halimah beserta Nabi sampai pada tempat tinggalnya tampaklah keberkahan menyelimuti kambing-kambingnya dan adalah Halimah setiap hari dapat melihat daripada Nabi tanda-tanda luar biasa dan meningkatlah kehidupan dan kedudukan Halimah karenanya, sehingga semakin meningkat dalam kehidupan yang berhias suasana tenteram dan aman dan Nabi dapat bergaul bebas dengan anak-anak asuhnya

Allahumma Ya Allah, tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad saw)
Pada suatu hari di mana ketika Nabi sedang bermain di suatu tempat yang agak jauh dari tempat tinggalnya, tiba-tiba datang kepada beliau tiga orang yang berwajah laksana matahari dan rembulan, Maka anak-anak menjauhkan diri, lari ketakutan, sedangkan Nabi saw tetap diam keheran-heranan Kemudian tiga orang itu membaringkan Nabi di atas tanah dengan perlahan-lahan dan mereka membedah perut Nabi secara halus tidak terasa Kemudian mereka mengeluarkan hati Nabi saw dan melapangkannya dengan diisi kebaikan-kebaikan serta membuangnya yang menjadi bagian bisikan setan Di isinya dengan ketabahan, ilmu pengetahuan, keyakinan dan keridaan Mereka lalu mengembalikan hati Nabi ke tempat semula lalu berdirilah Nabi saw tegak seperti sedia kala

Allahumma Ya Allah, tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad saw)
Kemudian malaikat itu berkata: Wahai kekasih Yang Maha kasih seandainya engkau mengetahui kehendak Allah dan kebaikan-kebaikan yang diberikan kepadamu, tentu engkau mengetahui betapa ketinggian kedudukanmu melebihi yang lain dan semakin bertambah gembira dan bersuka cita serta indah dan bercahaya Wahai Muhammad, bergembiralah! Karena sesungguhnya teIah diberitakan dialam raya ini panji-panji ilmu pengetahuanmu Dan semua makhluk menyambut gembira akan kehadiranmu dan tidak tertinggal seorangpun dari makhluk Allah kecuali tunduk dan patuh kepadamu serta mendengarkan sabda-sabdamu Akan datang kepadamu unta yang mohon keselamatan dengan kehormatan dan binatang biawak dan kijang keduanya menyaksikan kerasulanmu Pohon, rembulan dan serigala semuanya menuturkan akan kenabianmu pada waktu yang dekat Kendaraanmu Buraq, keindahanmu selalu dirindukan dan Malaikat jibril yang akan memimpin kerajaanmu, telah mengumandangkan sebutan namamu di
seluruh penjuru dunia Dan rembulan mengikuti perintahmu sebagai mukjizat menjadi terbelah dua

Allahumma Ya Allah, tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad saw)
Dan setiap orang di alam raya ini merindukan akan kelahiranmu menantikan kecemerlangan cahayamu Pada suatu ketika, kekasih Allah yaitu Nabi saw sedang penuh perhatian mendengarkan keterangan malaikat, wajahnya nampak berseri-seri bagaikan sinar di pagi hari Tiba-tiba Halimah menjemputnya dengan memanggil sambil berteriak-teriak: Wahai anakku yang jauh di sana, lalu malaikat menjawabnya: Bukan engkaulah yang jauh, bahkan engkaulah yang dekat dari AIIah, engkaulah pilihan dan kekasih-Nya, Kata Halimah: Wahai anakku yang sendirian di sana 
Malaikat menjawabnya: Hai Muhammad! Bukanlah engkau sendirian, bahkan engkaulah orang yang mempunyai pengokohan Penghiburmu adalah Maha Terpuji, Maha Agung dan teman-temanmu adalah ssudara-saudaramu yang terdiri dari para malaikat dan orang-orang ahli tauhid
Kata Halimah: Wahai anak yatim ku Lalu malaikat menjawab: Sebaik-baik anak yatim adalah engkau wahai Muhammad, karena sesungguhnya derajat mu di sisi Allah sangat agung

Allahumma Ya Allah, tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad saw)
Maka ketika Halimah telah melihatnya dalam keadaan selamat dari marabahaya,maka pulanglah ia bersama Nabi ke rumahnya dengan rasa gembira
Kemudian Halimah menceritakan hal kejadian anaknya kepada orang Kahin peramal dan diulang-ulang ceritanya itu sesuai yang telah terjadi Kemudian peramal berkata kepada Nabi: Wahai anak dari negeri sumur Zamzam dan makam lbrahim dan rukun Yamani serta Baitul-Haram, adalah engkau menyaksikan itu dalam keadaan jaga ataukah tidur? Maka Nabi menjawab: Demi kemuliaan Allah Yang Maha Raja dan Maha Mengetahui, saya menyaksikan dengan nyata berhadapan kepada para malaikat itu dalam keadaan terjaga dan saya tidak meragukan kejadian itu dan tidaklah pandangan mataku itu terhalang
Maka peramal itu berkata kepada Nabi: Bergembiralah engkau wahai anak Engkaulah pembawa panji-panji Kenabian mu menjadi kunci penutup para nabi Akan datang kepadamu Malaikat jibril Di atas hamparan alas yang suci akan engkau peroleh firman Tuhan Yang Maha Agung
Tak seorangpun yang dapat menghitung keutamaan yang engkau miliki untuk menguraikan sebagian sifat-sifatmu, lidah penyanjung sudah tak mampu lagi menuturkan

Allahumma Ya Allah, tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad saw)
Pada suatu hari di mana ketika Nabi sedang bermain di suatu tempat yang agak jauh dari tempat tinggalnya, tiba-tiba datang kepada beliau tiga orang yang berwajah laksana matahari dan rembulan, Maka anak-anak menjauhkan diri, lari ketakutan, sedangkan Nabi saw tetap diam keheran-heranan Kemudian tiga orang itu membaringkan Nabi di atas tanah dengan perlahan-lahan dan mereka membedah perut Nabi secara halus tidak terasa Kemudian mereka mengeluarkan hati Nabi saw dan melapangkannya dengan diisi kebaikan-kebaikan serta membuangnya yang menjadi bagian bisikan setan Di isinya dengan ketabahan, ilmu pengetahuan, keyakinan dan keridaan Mereka lalu mengembalikan hati Nabi ke tempat semula lalu berdirilah Nabi saw tegak seperti sedia kala

Allahumma Ya Allah, tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad saw)
Kemudian malaikat itu berkata: Wahai kekasih Yang Maha kasih seandainya engkau mengetahui kehendak Allah dan kebaikan-kebaikan yang diberikan kepadamu, tentu engkau mengetahui betapa ketinggian kedudukan mu melebihi yang lain dan semakin bertambah gembira dan bersukacita serta indah dan bercahaya Wahai Muhammad, bergembiralah! Karena sesungguhnya teIah diberitakan dialam raya ini panji-panji ilmu pengetahuan mu Dan semua makhluk menyambut gembira akan kehadiran mu dan tidak tertinggal seorangpun dari makhluk Allah kecuali tunduk dan patuh kepada mu serta mendengarkan sabda-sabda mu Akan datang kepada mu unta yang mohon keselamatan dengan kehormatan dan binatang biawak dan kijang keduanya menyaksikan kerasulan mu Pohon, rembulan dan serigala semuanya menuturkan akan kenabian mu pada waktu yang dekat Kendaraan mu Buraq, keindahan mu selalu dirindukan dan Malaikat jibril yang akan memimpin kerajaan mu, telah mengumandangkan sebutan nama mu di seluruh penjuru dunia Dan rembulan mengikuti perintah mu sebagai mukjizat menjadi terbelah dua

Allahumma Ya Allah, tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad saw)
Dan setiap orang di alam raya ini merindukan akan kelahiran mu menantikan kecemerlangan cahaya mu Pada suatu ketika, kekasih Allah yaitu Nabi saw sedang penuh perhatian mendengarkan keterangan malaikat, wajahnya nampak berseri-seri bagaikan sinar di pagi hari Tiba-tiba Halimah menjemputnya dengan memanggil sambil berteriak-teriak: Wahai anakku yang jauh di sana, lalu malaikat menjawabnya: Bukan engkaulah yang jauh, bahkan engkaulah yang dekat dari AIIah, engkaulah pilihan dan kekasih-Nya, Kata Halimah: Wahai anakku yang sendirian di sana Malaikat menjawabnya: Hai Muhammad! Bukanlah engkau sendirian, bahkan engkaulah orang yang mempunyai pengokohan Penghibur mu adalah Maha Terpuji, Maha Agung dan teman-teman mu adalah ssudara-saudara mu yang terdiri dari para malaikat dan orang-orang ahli tauhid, Kata Halimah: Wahai anak yatim ku, Lalu malaikat menjawab: Sebaik-baik anak yatim adalah engkau wahai Muhammad, karena sesungguhnya derajat mu di sisi Allah sangat agung

allahumma Ya Allah, tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad saw) Adalah Nabi Muhammad saw sebaik-baik manusia dalam kejadian bentuk tubuh dan budi pekerti dan paling banyak menunjukkan manusia ke jalan yang benar Budi pekertinya sesuai Al-Qur’an, bertabiat pengampun, pemberi nasihat manusia, Iuas dalam berbuat kebajikan Pemaaf kesalahan, bila memang menjadi haknya Dan bila hak Allah dilanggar, maka tak seorang pun berani berdiri menentang kemarahannya Siapa yang melihatnya sepintas maka akan tampak kewibawaan nya, jikalau diundang oleh orang miskin maka beliau penuhi panggilannya Beliau berkata benar meskipun pahit, kepada orang-orang muslim tidak pernah menyimpan rasa dengki dan sifat membahayakan Siapa yang memandang wajahnya, pasti akan mengerti bahwa sesungguhnya beliau bukanlah wajah pendusta Dan Nabi saw adalah bukan seorang  pengumpat dan pencela Bila Nabi saw gembira, wajahnya bagaikan belahan bulan Apabila berbicara dengan manusia, seolah-olah mereka memetik buah yang manis Bila Nabi saw tersenyum, maka senyumannya laksana belahan awan yang ditembus sinar, dan bila berbicara seakan-akan pembicaraannya permata yang berjatuhan 
Bila bercakap-cakap bagaikan minyak kesturi yang keluar dari mulutnya Bila berjalan di suatu lorong, maka dapat diketahui dari bau harumnya bahwa beliau telah lewat di jalan itu
BiIa Nabi saw duduk dalam satu majlis, maka bau harumnya tetap membekas dalam majlis itu sampai beberapa hari walau beliau telah tiada di situ dan beliau selalu berbau sangat harum meskipun tidak memakai wangi-wangian Dan jika berjalan di antara para sahabatnya, maka bagaikan bulan di antara bintang-bintang yang bergemerlapan Dan bila berjumpa di malam hari, seolah-olah manusia berada di siang hari, disebabkan dari pancaran cahayanya Dan adalah Nabi saw lebih cepat berbuat kebajikan daripada tiupan angin topan, dan beliau selalu belas kasih kepada anak-anak yatim dan wanita janda Sebagian orang yang menyifati beliau telah berkata: Tiada pernah saya melihat seorang berambut hitam dengan hiasan pakaian merah yang lebih indah daripada Rasulullah saw

allahumma Ya Allah, tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad saw)
Pernah ditanyakan oleh sebagian orang: Betulkah wajahnya bagaikan bulan?
Maka jawabnya: Bahkan lebih terang daripada bulan yang tiada tertutup awan Nabi memang memperoleh keagungan dan sifat-sifat yang serba sempurna Kata sebagian orang yang menyifati beliau: Tak pernah saya melihat sebelum dan sesudahnya seorang pun yang menyerupainyaTakkan berdaya lisan yang fasih jika hendak menggambarkan sifat-sifat keutamaannya, Maha suci Tuhan yang telah menentukan Nabi saw pada tempat yang tertinggi dan menjalankannya di waktu malam menghadap Allah sampai sejarak anak panah dengan busurnya atau lebih dekat lagi Dan dikokohkannya dengan berbagai mukjizat yang tak terhitung banyaknya Allah menyempurnakannya dengan pekerti sempurna tak terjangkau banyaknya dan AIIah memberinya lima perkara yang belum pernah diberikan kepada orang sebelumnya Dianugerahkan kepadanya kepandaian menyusun kata-kata yang tidak seorang pun dapat melebihinya dan di tiap-tiap tempat, Nabi saw mengucapkan perkataan yang sesuai, dan setiap kesempurnaan Nabi saw ada kesempurnaan lain Beliau tak pernah berpaling dari pertanyaan dan jawaban dan Iisannya tak pernah bergerak selain ucapan yang benar

allahumma Ya Allah, tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad saw)
Mudah-mudahan kata-kata pujian selalu diucapkan untuk Nabi yang sifat-sifatnya telah disebut dalam Al-Qur’an Telah diuraikan pula tentang keutamaannya dalam Taurat, lnjil, Zabur dan Furqan
Dan AIIah telah mengumpulkan kepada beliau antara memandang Dzat-Nya dan menerima firman-Nya Juga menyertakan sebutan nama-Nya dengan nama Nabi,yang merupakan peringatan akan ketinggian derajatnya Dan Allah menjadikan beliau sebagai rahmat dan cahaya kepada seluruh alam dengan sebab kelahirannya, maka AIIah penuhi hati manusia dengan rasa gembira

allahumma Ya Allah, tetapkanlah limpahan rahmat dan salam serta keberkahan kepadanya (Nabi Muhammad saw)
Wahai purnama yang sempurnanya mencapai puncak kesempurnaan Apakah ungkapan yang aku katakan untuk menguraikan keluhuranmu 
Engkaulah yang terbit di ufuk yang tinggi
Engkaulah pelenyap kesesatan dengan cahayamu
Dan sebab engkau seisi alam menjadi terang-benderang, wahai jalan petunjuk Dengan cahaya dan kenikmatan serta keanugerahan Semoga rahmat Allah Tuhanku dilimpahkan kepadamu dengan abadi selamanya Kekal sepanjang masa di waktu pagi dan sore hari Dan juga kepada semua keluarga dan para sahabat, yaitu orang-orangl Yang benar-benar Allah tentukan dengan sempurna

    Doa Penutup

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang

Segala puji bagi Allah penguasa  alam, wahai Allah limpahkan rahmat dan salam kepada junjungan kami Nabi Muhnmmad saw dan kepada keluarga serta sahabatnya semuanya Semoga AIIah menjadikan kami dan kalian semua,kepada golongan orang yang memperoleh syafaatnya dan mengharapkan rahmat dan kasih sayangnya

Wahai Allah dengan kehormatan Nabi yang mulia ini dan para keluarga serta para sahabatnya yang menempuh jalan lurus Jadikanlah kami sebaik-baik umatnya dan tutuplah segala kecacatan kami serta himpunlah kami besok ke dalam golongannya Jadikanlah lisan kami untuk memuji dan
menolongnya Hidupilah kami selalu berpegang pada sunahnya dan menaatinya Dan matikanlah kami dalam keadaan tetap cinta kepadanya dan termasuk golongannya
Wahai Allah, masukkanlah kami ke surga bersamanya, karena beliaulah orang pertama yang memasukinyaTempatkanlah kami bersama Nabi saw di dalam istana surga, karena beliau-Iah orang yang pertama kali
menempatinya dan berilah kami rahmat kasih sayang pada hari Nabi mensyafaati para makhIuk, lantas Engkau memberi rahmat kasih sayang kepada mereka

Wahai AIIah, berilah kami rezeki untuk dapat berziarah kepadanya setiap tahun  Janganlah kami Engkau jadikan goIongan orang yang
melupakanEngkau dan melupakan Nabi meskipun hanya sejenak
Wahai Allah, janganlah Engkau menjadikan seorang pun yang berada di majlis kami ini, melainkan Engkau bersihkan dosa-dosanya dengan air tobat dan Engkau tutupi aibnya dengan selendang pengampunan

Ya Allah, sesungguhnya ada bersama kami pada tahun yang IaIu yaitu saudara-saudara kami yang telah ditakdirkan ajalnya terlebih dahulu,maka jangan Engkau halangi mereka dari pahala pada saat ini dan keutamaannnya

Wahai Allah, belas kasihilah kami, apabila kami telah menjadi penghuni kubur Berilah kami taufik untuk beramal saleh yang kekal keluhurannya sepanjang masa

Wahai Allah, jadikanlah kami kepada golongannya orang-orang yang selalu
mengingat nikmat-nikmat-Mu dan mensyukurinya serta ingat akan hari
menghadap kepada-Mu HidupkanIah knmi, selalu tekun menaati perintah-Mu Dan bila Engkau matikan kami maka matikanlah kami selamat dari fitnah dan kehinaan Akhirilah kami dengan segala kebaikan diri sisi-Mu

Wahai Allah, hindarkanlah kami dari kejahatan orang-orang zalim Jadikanlah kami orang-orang yang selamatdari fitnah dunia

Wahai Allah, jadikanlah Rasul yang mulia ini, memberikan syafaat kepada kami Berikan kepada knmi karena syafaatnya, suatu kedudukan yang tinggi kelak di hari kiamat

Wahai Allah, berilah kami minuman dari air telaga Nabi Muhammad saw merupakan suatu minuman segar yang menghilangkan rasa haus sesudahnya untuk selama-lamanya Kumpulkanlah kami kelak di hari kiamat di bawah benderanya

Ya Allah, karena Nabi Muhammad saw ampunilah kami dan bapak-bapak serta
ibu-ibu kami, guru-guru kami dan yang mengajar kami serta orang-orang yang mempunyai hak wajib atas kami serta kepada seluruh orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan dan orang-orang islam laki-laki dan
perempuan, baik mereka yang masih hidup dan telah meninggal Sesungguhnya Engkaulah Dzat Yang Maha Pengabul semua doa dan Maha
Pemberi semua hajat, Pengampun semua dosa dan kesalahan Wahai Dzat yang paling penyayang dari para penyayang…

Semoga Allah tetap melimpahkan rahmat-Nya kepada junjungan kami Nabi Muhammad saw dan kepada keluarganya serta sahabatnya dan juga limpahan kesejahteraan

Maha Suci Tuhanmu, Tuhan Yang Maha Agung dari segala yang disifatkan oleh para kafir dan semoga salam tetap dilimpahkan kepada semua Rasul serta segala puji hanya milik Allah, Tuhan sekalian alam