Rabu, 24 Agustus 2016

Nur Muhammad


Pahami betul metafor yang digunakan, agar tidak terjebak pada makna-makna simbolnya.

Shurah (Citra) Muhammad adalah tajalli al Haq dengan nama-Nya al Mannan (Yang memberi nikmat). Darinya al Haq menciptakan surga-surga, kemudian Dia bertajalli dengan nama-Nya al-Lathiif (Yang lemah lembut). Yang dijadikan tempat bagi segenap manusia mulia dan insan-insan yang dimuliakan oleh-Nya. Surga itu terbagi atas delapan tingkatan, setiap tingkat memiliki taman-taman surga yang banyak sekali, setiap taman memiliki tingkatan yang tidak terbilang jumlahnya.

Tingkat Pertama : Surga Salaam, surga ini dinamakan juga surga al Mujazah (balasan), al Haq menciptakan pintu surga ini dari amal shaleh (laku kabaikan), di dalamnya Dia bertajalli dengan nama-Nya al-Hasiib (Yang menghitung-hitung). Penghuni surga ini murni karena perolehan pahala dari laku kebaikan, sabda Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Orang seorang tidak akan masuk surga dengan amalnya, adalah beliau maksudkan khusus untuk surga Mawahib (pemberian), adapun surga al-Mujazah, untuk memasukinya adalah dengan amal-amal shaleh (perbuatan baik), terkait dengan hak penghuni surga ini al-Haq berfirman : Bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan kepadanya. Kemudian diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna. (Q.s. an Najm 53 : 39 – 41). Dengan demikian tidak seorangpun bisa memasuki surga ini, kecuali dengan amal (perbuatan) baik. Semantis logikanya barang siapa yang tidak berbuat amal shaleh, tidak akan bisa memasukinya. Surga ini juga dinamakan al-Yusrah, al-Haq berfirman : Adapun orang-orang yang menafkahkan hartanya dijalan Allah, dan bertaqwa. Dan membenarkan adanya pahala yang baik. Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. (Q.s. al Lail 92 : 5 – 7) maksudnya adalah laku perbuatan yang sedikit, tapi diterima oleh-Nya, keterkabulan itu membuat pelakunya dimudahkan memasuki surga.

Tingkat Kedua : Surga Khuldi atau surga al Makasib (perolehan). Perbedaan antara surga al Mujazah dan surga al Makasib. Surga al Mujazah terkait dengan kadar perbuatan baik yang membuahkan balasan dari-Nya, sedang surga al Makasib merupakan keberuntungan murni, karena surga ini produk daripada aqidah (keyakinan) dan prasangka baik kepada al Haq. Esensinya surga balasan hasil kerja fisik sedang surga perolehan murni karena pemberian tanpa kerja fisik, al Haq menampakkan diri-Nya kepada penghuni surga ini dengan nama-Nya al Badi’ (Yang menjadikan). Dia tampakkan diri-Nya kepada para pemeluk keyakinan yang lurus dan benar yang tidak menciptakan bid’ah-bid’ah ketuhanan. Pintu surga ini terbuat dari aqidah yang benar dan prasangka baik kepada al Haq, serta Rajaa’ (Harapan) kepada-Nya, tidak akan bisa masuk surga ini kecuali mereka yang terkait dengan ketiga hal tersebut. Surga ini dinamakan dengan al Makasib, sebab lawan dari perolehan adalah kerugian, yang disebabkan oleh prasangka buruk kepada al Haq, Dia berfiman :
" Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka terhadap Tuhanmu, Dia telah membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orangyang merugi. " (Q.s. Fushshilaat 41 : 23) Insan yang mentradisikan prasangka buruk kepada al Haq, akan terjerembab ke dalam api kerugian tak bertepi, sedangkan orang yang mentradisikan prasangka baik kepada al Haq, akan menjadi penghuni surga al Makasib.

Tingkat Ketiga: Surga Mawahib (pemberian). Ketahuilah pemberian al Haq tidak berpenghabisan, Dia Maha Memberi, kadang pemberian-Nya jamak lebih banyak kepada hamba yang tiada beramal dan tidak berkeyakinan, ketimbang kepada hamba-Nya yang beramal dan berkeyakinan, ada hikmah berserak dibalik realita tersebut, yang patut direnungkan. Dalam surga ini terdapat para pemeluk setiap agama, dan jenis manusia dari berbagai bangsa dari anak cucu Adam as, mereka yang memasuki surga ini akan tampak dihadapan mereka nama-Nya al Wahhab (Yang memberi). Tidak ada satupun yang memasuki surga ini, kecuali atas pemberian al Haq, dialah sejatinya surga yang disabdakan Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam , " Surga itu tiada satupun yang bisa masuk karena amalnya ". Para sahabat bertanya, " sampai engkau sekalipun wahai rasul,?" Rasul saw menjawab " bahkan aku sendiripun tidak bisa, kecuali orang-orang yang beroleh rahmat pemberian-Nya," surga ini paling luas dari surga-surga yang ada, surga ini pula sejatinya dari firman-Nya, Rahmat Ku, meliputi segala sesuatu, tidak ada satupun yang mampu menjangkau rahasia dibalik kehendak pemberian-Nya, kepada mereka-mereka yang dimasukkan ke dalam surga ini sejalan dengan kehendak-Nya. Bahkan akal dan estimasi tidak akan mampu menakarnya, siapa saja yang akan beroleh nikmat pemberian-Nya dimasukkan surga ini, karena hal itu murni hak preogratif al Haq, akal dan estimasi manusia tidak mampu menakarnya. Warta ketuhanan mengabarkan, penghuni surga ini terdiri atas pemeluk agama-agama dari segala generasi (kurun) dari berbagai bangsa yang ada dalam makro kosmos, bukan semua pemeluknya tapi sebagian pemeluk agama-agama tersebut, ini jelas berbeda dengan surga al Mujazah yang dikhususkan bagi insan-insan pelaku amal shaleh. Surga al Makasib disebut surga terluas, karena tiket masuknya adalah al Ribh (keberuntungan), sedang modal keberuntungan itu diperoleh dengan prasangka baik kepada al Haq, dan kelurusan aqidah, surga ini (al Mawahib) adalah yang terluas dari surga-surga yang ada. Surga inilah sejatinya yang disebut dalam firman Qur’ani dengan al Ma’wah. al Haq berfirman : “Orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, maka bagi mereka surga-surga tempat kediaman, sebagai pahala terhadap apa yang telah mereka kerjakan”. (Qs. as Sajdah 32 : 19). Penyebutan surga dengan redaksi tempat kediaman bukan balasan, sebagai bentuk pewartaan bahwasanya Dia memasukkan mereka ke surga pemberian, bukan surga balasan ataupun surga perolehan. Proses penurunan mereka ke surga itu adalah dengan prosedur ketuhanan yang diatur dalam pundi-pundi rahasia al Haq. Kasih pemberian dan apresiasi-Nya tidak terbatas melalui laku kebaikan, terlebih hanya dikhususkan bagi pelaku kebaikan saja, Pahami ini dengan jeli dan betul !.
Tingkatan Keempat: Surga al Istihqoq (kepemilikan), Surga al Na’im (kenikmatan), Surga al Fitroh (fitrah). Surga ini bukan merupakan balasan atau pemberian, surga ini diperuntukkan bagi orang-orang khusus, yang eksis pada ketentuan hakiki kodrat penciptaan mereka karenanya surga ini merupakan hak dan milik asli insan-insan yang pergi dari alam dunia ini sedang ruh mereka tetap pada fitrah penciptaan dasar, surga ini juga milik mereka yang menjalani kehidupan transendental sepanjang umurnya di dunia ini, sementara ruh mereka dalam naungan fitrah, yakni mereka adalah para Bahlul (cacat mental), anak-anak yang belum menginjak akil balig, orang-orang yang tidak waras (gila). Surga ini diperuntukkan bagi mereka-mereka yang mensucikan dirinya dengan amal shaleh, laku Mujahadah, Riyadlah, dan Mua’amalah yang baik bersama al Haq, sehingga ruh mereka terjernihkan dari kisi-kisi keburukan sifat kemanusiaan, dan kembali ke fitrah penciptaannya. Sedang fitrah dasar penciptaan manusia itu seperti yang difirmankan al Haq. “Sesungguhnya Kami telah ciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. (Q.s. at Tiin 95 : 4) namun ketika manusia mengotori dirinya,” Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya”. (Q.s. at Tiin 95 : 5), sedangkan manusia-manusia yang mensucikan dirinya, merekalah itulah yang diapresiasikan al Haq dalam firman-Nya,” Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh : maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya”. (Q.s. at Tiin 95 : 6). Surga ini dinamakan surga kepemilikan, karena mereka memang berhak masuk kedalamnya, tanpa proses, ganjaran, pemberian, perolehan dari laku amal kebaikan. Manusia-manusia yang mensucikan jiwa mereka hingga bisa kembali ke fitrah penciptaan, itulah yang disebut al Abraar, (para pembakti) al Haq berfirman : “Sesungguhnya orang-orang banyak berbakti, benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan”. (Q.s. al Infithaar 82 : 4) makna yang tersirat dari ayat ini adalah, bahwasanya al Haq bertajalli kepada para penghuni surga ini dengan nama-Nya al Haq, mereka yang tidak mensucikan fitrah penciptaannya, tidak berhak memasuki surga ini. Mereka yang berusaha mensucikan jiwanya lantas dipanggil keharibaan-Nya, ia berhak memasuki surga ini, diantara penghuninya ada juga insan yang telah dimasukkan neraka-Nya, hingga dosa-dosanya tersterilkan, dan kembali ke fitrahnya, setelah itu al Haq memasukkannya ke dalam surga ini. Atap surga ini bernama Arsy, berbeda dengan atap-atap surga sebelumnya, surga al A’lah atapnya bernama al Adna, surga Salaam atapnya bernama Khuldi, sedangkan surga Khuldi atapnya bernama surga al Ma’wah, adapun surga Ma’wah atapnya bernama surga al Istihqoq, surga al Fitrah atau surga al Na’im atapnya adalah Arsy.

Tingkatan Kelima: Surga Firdaus, ia adalah surga makrifat, buminya membentang luas tak bertepi, semakin tinggi penghuninya mendaki semakin mengerucut keluasannya, bahkan puncaknya lebih kecil dibandingkan lubang jarum, tidak ada pepohonan, sungai, istana, bidadari, kecuali jika sang penghuni melihat ke surga di tingkatan bawahnya, jika mereka menginginkan kenikmatan surgawi itu ia bisa turun ke surga ditingkat bawah. Di surga makrifah ini tidak didapati bidadari, para muda tampan atau istana-istana surgawi, surga ini berada didepan pintu Arsy, penghuni surga ini selalu Musyahadah (dalam nuansa penyaksian), karena penghuninya merupakan para penyaksi, yakni penyaksi keagungan dan keindahan, serta kebagusan serta kasih kebaikan Ilahiyah (ketuhanan), mereka gugur dalam naungan rasa kasih cinta dijalan al Haq, dan Dia mencintai mereka, para penghuni surga ini adalah para pecinta al Haq yang gugur dengan pedang fana’ (ekstase) atas nasfsu-nafsu diri mereka, sehingga tidak menyaksikan kecuali kekasih sejati (al Haq) mereka. Surga ini dinamakan pula dengan surga’ Wasilah’ (penghubung) karena makrifah merupakan penghubung antara orang yang arif dengan yang dimakrifahi Dia-lah al Haq, penghuni surga ini paling sedikit dibanding surga-surga lainnya, demikian halnya semakin tinggi dakian surga ini semakin sedikit pula penghuni puncaknya.

Tingkat Keenam: Surga Fadhilah (Keutamaan). Penghuninya adalah para Shidiqin (insan-insan yang mentradisikan kebenaran dan kelurusan), al Haq memberi apresiasi yang tinggi kepada mereka dan menempatkan mereka di Sisi Tuhan Yang Berkuasa, surga ini disebut surga asma (nama-nama)-Nya, yang terhamparkan diatas tingkatan-tingkatan Arsy, penghuninya lebih sedikit ketimbang surga Firdaus atau Makrifat, namun kedudukannya paling tinggi dihadapan al Haq, karenanya penghuninya disebut penikmat kelezatan Ilahiyah (ketuhanan).

Tingkat Ketujuh : dinamakan surga al Darajah al Rafi’ah (tingkatan tinggi). la merupakan surga sifat-sifat-Nya dari dimensi nama-nama-Nya, ia surga dzat-Nya dari dimensi bentuk, buminya adalah dasar Arsy, penghuninya disebut ahli hakekat dan ahli makrifah hakekat-hakekat ke-Tuhan-an, penghuninya paling sedikit dibanding surga-surga-Nya yang lain, penghuninya merupakan al Muqorrobin (insan-insan paling dekat) dengan al Haq dan para khalifah (pengganti) ketuhanan. Mereka adalah insan-insan yang menyembunyikan diri dan memiliki hasrat kuat dalam mengarungi samudera kehakikian al Haq. Dalam pengembaraan ruhiyah ku, aku melihat Ibrahim al Kholil (sang terkasih) berdiri disebelah kanan surga ini, melihat ke arah tengah, aku melihat komunitas para rasul dan nabi serta para kekasih Allah (wali), di sebelah kiri surga ini, mereka memfokuskan perhatian mereka ke arah tengah surga ini, aku melihat Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di tengah-tengah surga ini, sambil mengarahkan pandangan ke tiang pancang Arsy, memohon keharibaan-Nya maqom Mahmud (kedudukan mulia) dan al Haq mengabulkan permohonan baginda Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Tingkat Kedelapan : dinamakan surga Maqom Mahmud (Kedudukan Mulia). Ia merupakan surga dzat, buminya dari atap Arsy, yang tiada seorangpun bisa sampai kepadanya, setiap penghuni surga ini berusaha bisa Wushul (sampai) ke atap Arsy ini, sebagian orang berasumsi surga ini ditegakkan hanya dengan hakekat asma-Nya, prediksi mereka tidaklah salah, surga ini diperuntukkan bagi Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam , sejalan dengan sabdanya dalam sebuah hadist “Sesungguhnya Maqom Mahmud, merupakan tempat tertinggi di dalam surga, ia diperuntukkan hanya untuk satu orang saja, aku berharap satu-satunya orang itu adalah diriku”. al Haq lantas mewartakan bahwasanya Dia mengabulkan permintaan Muhammad saw tersebut, dan mengkhususkan surga untuk beliau seorang. Kita wajib percaya dengan sabda Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tersebut, Dan tiadalah yang dia ucapkan itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya. (Q.s. an Najm 53 : 4 – 5) Bahwa al Haq menciptakan dari citra Muhammad ini surga yang multi kenikmatan bagi para mukminin dan neraka dengan ragam siksa yang ada di dalamnya, al Haq juga menciptakan dari citra Muhammad ini citra Adam, sebagai bentuk duplikat dari citra Muhammad tersebut, ketika Adam diusir dari surga-Nya, maka terpisah pula citra dirinya, karena keterpisahannya dengan alam ruh. Pahamilah ketika Adam berada disurga, eksistensi fisiknya belum diwujudkan secara Lahiriyah seperti tubuh yg digunakan didalam dunia, ia hanya di-ada-kan al Haq dalam bentuk rasa, karenanya orang seorang tidak akan bisa memasuki surga-Nya, kecuali bila ia bisa menemukan rasa fitri-nya, ketika Adam diusir ke bumi rasa fitri-nya tetap tinggal di surga, karena kehidupan-nya di surga bercitrakan rasa yang lahir dari nafs-nya, sedang kehidupannya di dunia bercitrakan ruh, ia bakal mati kecuali yang dikekalkan al Haq, melihat kepada-Nya dengan pandangan dzat-Nya, hak-hak-Nya, sifat-sifat-Nya dan asma-asma-Nya. Nasibnya dalam kehidupan dunia ini bercitrakan Qudrah al Haq yang menentukan wajah kehidupannya di kampung akhirat, al Haq tidak memberi citra kepada nafs (jiwa) hamba-Nya, kecuali dalam ‘rasa’



Tingkat Kesembilan : Disebut surga Musyahadah ( Memandang Wajah Allah ” Kadzuljalali Wal Ikram “ )

Rabu, 17 Agustus 2016

Kiyai Marogan

” Sejarah Singkat Kiai Muara Ogan ”
1227-1319 H. 1811-1901 M.
Kiai Muara Ogan nama aslinya adalah Kiai Masagus Haji Abdul Hamid bin Masagus Haji Mahmud Alias Kanang, menurut sejarah beliau lahir di fajar hari tahun 1227 H. bersamaan dengan tahun 1811 M. Beliau lahir di kampung Karang Berahi (sekarang Kelurahan Kertapati). Oleh karena beliau berdomisili di tepi sungai Musi dipertemuan antara sungai Ogan dan sungai Musi tepatnya di muara sungai Ogan beliau lebih dikenal dengan sebutan Kiai Muara Ogan atau Kiai Marogan atau Kiai Merogan. Nama ini juga dipakai sebagai nama jalan dari Simpang Empat jembatan sungai Ogan Kertapati 1 Ulu sampai kearah Simpang Empat Kemang Agung arah jembatan Musi II Palembang. Ayah Kiai Muara Ogan juga seorang ulama, merupakan salah seorang murid dari Syekh Abdusshomad Al Falembani sedangkan ibunya bernama Verawati seorang wanita Siam (Cina). Kiai Muara Ogan mempunyai seorang adik laki-laki yang bernama Kiai Masagus Haji Abdul Aziz lebih dikenal sebagai Kiai Mudo, karena usianya lebih muda dari Kiai Muara Ogan. Kiai Muara Ogan merupakan keturunan dari Maulana Malik Ibrahim dan Raden Fatah , dua orang diantara Wali Songo yang terkenal (silsilah terlampir).
Kiai Muara Ogan wafat malam Rabu tanggal 17 Rajab 1319 H. bersamaan tanggal 31 Oktober 1901 M. dan dimakamkan dihalaman sebelah Selatan Masjid beliau dalam usia lebih kurang 90 tahun, dan sampai sekarang makam beliau ini masih ramai diziarahi orang dari berbagai kalangan baik dari dalam kota maupun dari luar kota Palembang, lebih-lebih pada hari Minggu dan hari Jum’at.
Masa kecil dan remaja.
Pada masa kanak-kanak beliau mendapat pendidikan agama langsung dari ayahnya Masagus Haji Mahmud. Kemudian pada usia lebih kurang 9 (sembilan) tahun beliau ikut ayahnya menunaikan ibadah haji ke Mekah namun pada waktu perjalanan pulang dengan menumpang kapal laut, ayahandanya jatuh sakit dan meninggal dunia pada waktu melewati Laut Aden Yaman Selatan. Menurut kisah pada waktu meninggalnya ayah Kiai Muara Ogan ini, kapal yang ditumpangi Kiai Muara Ogan dan ayahnya ini tidak mau bergerak ahirnya setelah jenazah ayah Kiai Muara Ogan dimakamkan di daratan yaitu di Gubah Al Jawi Aden Yaman Selatan, barulah kapal tersebut dapat meneruskan perjalanan pulang ke Indonesia.
Kiai Muara Ogan dimasa mudanya sangat giat berusaha dan belajar agama Islam. Beliau giat berusaha dibidang perkayuan (sawmill), sehingga dalam usia yang relatip muda beliau telah terkenal sebagai tauke (Saudagar) kayu disamping juga seorang ulama.
Dari hasil usaha bisnis perkayuan inilah beliau dapat mendirikan beberapa masjid terutama Masjid Muara Ogan dab Masjid Lawang Kidul dengan dana pribadi seratus persen, dan kedua masjid ini dapat kita saksikan sampai sekarang.
Guru-guru beliau antara lain :
Ayahnya sendiri Masagus Haji Mahmud alias Kanang.
Pangeran Suryo Alim
Syekh Muhammad Akib bin Hasabuddin.
Syekh Muhammad Azhari bin Abdullah (ayah dari Kiai Pedatuan)
Syekh Sambas Mufti Masjidil Haram di Mekah.
Dan lain-lain.
Peranan Kiai Muara Ogan dalam Dakwah Agama Islam.
Dalam hal perjuangan telah diakui oleh banyak kalangan, tidak saja dari masyarakat kota Palembang tetapi juga luar Palembang mengakui eksistensi perjuangan beliau seperti masyarakat Pemulutan, Pedu, Jejawi, Batun, Lingkis sampai ke hulu sungai Rotan dan lain-lain umumnya masyarakat Batang hari Sembilan. Selain mengajarkan agama Islam, beliau juga mendirikan dan memperbaiki masjid-masjid didaerah tempat beliau berdakwah.seperti di dusun Pedu, dusun Pemulutan Ulu, Ogan Komering Ilir dan sebagainya.
Peninggalan dan Karya Kiai Muara Ogan.
  • Masjid Muara Ogan Kertapati Palembang.
  • Masjid Lawang Kidul 5 Ilir Palembang.
  • Pulau Kemaro.
  • Tiga Gedung Penginapan jema’ah haji di Mekah Saudi Arabia.
  • Masjid Kiai Muara Ogan Kertapati Palembang, Ketuanya : Mgs.Usman Ahmad.
Masjid ini pertama kali dibangun, diarsiteki dan dibiayai sendiri oleh Kiai Muara Ogan. Masjid ini dibangun pada tahun 1871 Masehi, direnovasi pada tahun 1959 M. Dengan menambah dak cor beton bagian depan, mustaka Limas diganti dengan kubah seng bulat.
Pada tahun 1987 direnovasi lagi secara besar-besaran dibiayai seluruhnya oleh Bapak Kemas Haji Abdul Halim Ali dan selesai pada tahun 1989. Kubah seng bulat dikembalikan kembali menjadi bentuk semula dengan tidak merubah unsur aslinya, Mustaka bentuk Limas dengan tanduk kambing, atap genteng belah bambu diganti dengan seng asbes, plafondnya ditinggikan, lantainya diganti keramik. Renovasi ini menelan biaya lebih dari Rp 325.000.000,-. Peresmiannya dilakukan oleh Menteri Kehutanan pada waktu itu yaitu Bapak Ir.Haji Hasyrul Harahap.
Oleh karena atapnya banyak yang bocor, maka pada tahun 2006 dilakukan lagi renovasi juga dibiayai oleh Kemas H. Abdul Halim Ali atas persetujuan zuriat Kiai Muara Ogan, atap seng asbes diiganti dengan genteng Sakura roof, kusen pintu dan jendela diganti dengan bentuk yang baru yang lebih bagus, semua daun pintu dan jendela diganti kaca, dengan tidak merubah unsur aslinya.
  • Masjid Lawang Kidul, Ketuanya : Kiai Haji Ali Umar Toyib.
Masjid ini terletak di kampung 5 Ilir Lorong Lawang Kidul Laut ditepi sungai Musi.
Masjid ini didirikan pada tahun 1881 Masehi juga dibangun, dibiayai dan diarsiteki sendiri
oleh Kiai Muara Ogan. Pada masa Ketua Yayasan Masjid Lawang Kidul ini dipegang oleh
Almarhum Prof.dr.KHO Gajah Nata dilakukan renovasi pada tahun 1987 Masehi dengan
biaya swadaya masyarakat setelah selesai renovasi diresmikan oleh Menko Kesra pada
waktu itu yaitu Bapak Haji Alamsyah Ratu Prawiranegara dan beliau menyumbang uang
sebesar Rp. 5.000.000,pada waktu itu.
Masjid Lawang Kidul ini pernah dilarang melaksanakan sholat jum’at oleh Raad
Agama sampai dengan tahun 1914 Masehi atas desakan Snouck Hurgronye dengan alasan
jarak yang berdekatan dengan Masjid Agung Palembang. Kasus perselisihan dua masjid ini
sempat mencuat kedunia internasional dengan melibatkan dua ulama yang berpolemik yaitu
Syekh Ahmad Khatib Minang Kabau (Mufti Masjidil Haram) dengan Sayyid Usman Ulama
Penghulu Residen Belanda dari Betawi. Sampai Kiai Muara Ogan meninggal dunia pada
tanggal 31 Oktober 1901 belum juga diizinkan untuk melaksanakan sholat Jum’at di masjid
Lawang Kidul ini.
Perjuangan untuk memperoleh izin melaksanakan sholat Jum’at dilanjutkan oleh
Masagus Haji Abumansyur putra sulung Kiai Muara Ogan dan ahirnya pada tahun 1914
Masehi setelah Organisasi Syarikat Islam di Jakarta turun tangan menengahi masalah ini
dengan menyelenggarakan satu rapat pengurus (besteur vergadering) pada bulan Oktober
1914 dan membuat keputusan yaitu :
Boleh berbilang jum’at disatu negeri, artinya Masjid Lawang Kidul boleh juga
melaksanakan ibadah sholat Jum’at.
Untuk menghilangkan sangka, Masjid Lawang Kidul diminta melaksanakan sholat
Jum’at dengan diundur 30 menit sesudah sholat Jum’at di Masjid Agung.
Dengan adanya surat Rekes dari Organisasi Syarikat Islam, maka Raad Agama
kemudian bersidang dan memutuskan untuk mengizinkan Masjid Lawang Kidul boleh
melaksanakan sholat Jum’at asal waktunya tidak mendahului waktu sholat Jum’at di Masjid
Agung sebagai satu-satunya masjid Jami’ yang sah.
Kedua masjid ini yaitu masjid Muara Ogan dan Masjid Lawang Kidul, beserta semua
isinya diwakafkan oleh Kiai Muara Ogan dengan “ Surat Nazar Munjaz Wakaf Lillahita’ala
Nomor 14” tanggal 6 Syawal 1310 H. bersamaan tanggal 23 April 1893 M.
  • Pulau Kemaro
Selama ini banyak yang menganggap bahwa Pulau Kemaro tempat masyarakat
Etnis Tionghoa mengadakan perayaan keagamaan atau Cap Go Me adalah tanah tak
bertuan alias tanah negara bahwa sesungguhnya adalah milik Kiai Muara Ogan yang dibeli
oleh Masagus Haji Abdul Hamid bin Mahmud (Kiai Muara Ogan) dari Adjidin bin Syafi’i
seharga 534,30 Rupiah (Lima ratus Tigapuluh Empat rupiah Tiga puluh Sen) surat jual
beli tertanggal bulan Syawal 1301 H. (tahun 1883 Masehi). Sampai sekarang Pulau Kemaro
ini belum pernah diperjual belikan oleh ahli Waris Kiai Muara Ogan.
Sebelum dibeli oleh Kiai Muara Ogan, Pulau Kemaro ini adalah milik Syafi’i bin
Abubakar yang membelinya dari Abdul Halik bin Burhanuddin tertanggal 2 September 1840
Masehi. Adjidin bin Syafe’i (Putra Syafe’i bin Abubakar) punya hutang kepada Kiai Muara
Ogan sebesar 334,30 (Tiga Ratus Tiga puluh Empat rupiah Tiga puluh Sen). Untuk melunasi
hutang ini Adjidin bin Sayfe’i memberikan Pulau Kemaro kepada Kiai Muara dan Kiai
Muara Ogan menambah uang sebesar F.200 rupiah (Dua ratus Rupiah ). Sehingga resmilah
Pulau Kemaro ini menjadi milik Kiai Muara ogan, menurut surat segel bertulisan Arab
tertanggal bulan Syawal tahun 1301 H. atau tahun 1883 Masehi.
  • Tiga Gedung Pemondokan Jema’ah Haji di mekah.
Selain meninggalkan masjid Muara Ogan dan masjid Lawang Kidul, dan Pulau
Kemaro Kiai Muara Ogan juga meninggalkan tiga buah gedung pemondokan jema’ah haji
di Syamiyah dan Jabal Qubais Mekkah Saudi Arabia, sampai sekarang masih ada dan diurus
oleh keturunan Kiai Muara Ogan yang bermukim di Mekah Saudi Arabia.
Sesuai dengan terjemahan isi kandungan Wakaf Munjaz Syekh Masagus Haji
Abdul Hamid bin Mahmud Al-Falembani Al Jawi (Kiai Muara Ogan) tertanggal 5 Jumadil
Akhir tahun 1313 H. beliau telah mewakafkan dan menahan tiga Gedung yang tidak dapat
dimiliki dan tidak dijual dan tidak dapat digadaikan berlaku abadi sepanjang masa sampai
seluruh waris bumi dan siapa diatasnya kembali kepada Allah (Hari Kiamat) dan Allah-lah
sebaik-baik pewaris.
Pandangan Masyarakat terhadap Kiai Muara Ogan.
Kiai Muara Ogan yang meninggal dunia pada tanggal 17 Rajab 1319 H. Bersamaan
tanggal 31 Oktober 1901 M. Dalam usia lebih kurang 90 tahun, ini dipandang masyarakat
sebagai ulama yang besar dan kharismatis, sampai-sampai pemerintah Hindia Belanda
waktu itu enggan membongkar atau menggusur makam dan masjidnya, padahal kalau dilihat
dari sudut ekonomi jelas tanjungan tempat makam dan masjid Kiai Muara Ogan ini sangat
setrategis untuk setasiun kereta api.
Sosok Kiai Muara Ogan adalah seorang Ulama yang pantas menjadi teladan para da’i
dan ulama masa kini karena beliau berjuang, berdakwah, mengajarkan agama Islam,
membangun masjid adalah dengan biaya sendiri karena beliau juga seorang pengusaha kayu
(swamill) yang sukses dimasa itu disamping juga beliau mendalami ilmu Fiqih, ilmu Falaq,
ilmu Tasawuf dan tarekat Samaniyah.
Beberapa Kisah Menarik seputar Kiai Muara Ogan.
Menurut cerita orang tua-tua Palembang, ada beberapa kisah menarik seputar
kehidupan maupun sesudah wafatnya Kiai Muara Ogan, beliau termasuk seorang wali seperti
halnya Wali Songo, diantara kisah-kisah itu antara lain :
Kisah Perahunya Dihanyutkan Orang.
Suatu hari Kiai Muara Ogan sedang memberikan ceramah/pelajaran agama diseberang
sungai Musi mungkin di daerah Tangga Buntung sekarang, perahunya ditambatkan
/diikatkan ditepi sungai Musi. Tiba-tiba ada yang memanggil Kiai… Kiai … perau Kiai
dikanyutke wong la jao (perahu Kiai dihanyutkan orang, sudah jauh). Kiai Mura Ogan
berhenti sebentar memberikan ceramah lau berdo’a memohon kepada Allah. Lalu
melanjutkan ceramahnya. Tidak lama kemudian ada yang memanggil lagi.
Kiai….Kiai…perau yang dikanyutke wong tadi balik lagi (perahu yang dihanyutkan
orang tadi sudah kembali lagi). Perahu yang hanyut tadi kembali dengan sendirinya tanpa
kurang suatu apa. Alhamdulillah kata Kiai Muara Ogan bersyukur kepada Allah.
Kisah sayur mayur menjadi emas.
Pada waktu Kiai Muara Ogan berdakwah mengajar agama kearah pedalaman sungai Musi waktu pulang ada yang memberi sayur mayor. Oleh Kiai Muara Ogan sayur mayor itu disuruh letakkan dibawah petak (lantai) perahu. Setelah sampai di Palembang ketika dibuka petak untuk mengambil sayur mayor tadi oleh murid-murid Kiai Muara Ogan, mereka terkejut seraya mengucap Subhanallah. Mereka melihat sayur mayur tadi telah menjadi emas murni lalu mereka melapor kepada Kiai Muara Ogan.
Oleh Kiai Muara Ogan sayur yang telah menjadi emas tadi disuruh buang ke sungai Musi. Murid Kiai merasa heran kenapa harus dibuang, lalu dijelaskan oleh Kiai bahwa hal ini mengandung filosofis bahwa kita harus bekerja keras dan berjuang untuk mendapatkan hasil yang baik, kita tidak boleh dengan tidak berusaha tetapi ingin mendapatkan hasil yang banyak.
Kisah Kiai Muara Ogan Besuk Kiai Pedatu’an sakit.
Kiai Pedatuan atau Kiai Kemas Abdullah Azhari adalah salah seorang murid sekaligus sahabat karib Kiai Muara Ogan. Suatu hari Kiai Pedatuan menderita sakit. Lalu Kiai Muara Ogan datang membesuk. Lalu Kiai Pedatuan berkata kepada Kiai Muara Ogan bahwa beliau ingin makan buah anggur segar. Setelah mendengar keinginan Kiai Pedatuan ini, Kiai Muara Ogan langsung membuka jendela dan muncullah setangkai buah anggur dari pohonnya.
  • Kisah tentang ikan
Pada suatu hari seorang pedagang ikan dari Ogan Komering Ilir membawa ikan-ikannya untuk dijual di pasar ikan di Palembang. Ikan ikan itu dimasukkannya didalam bagian dasar perahunya lau dikayuhkanlah perahu menuju Palembang. Mendekati kota Palembang sipedagang tiba-tiba menyaksikan bahwa hampir semua ikannya dalam keadaan mati. Sipedagang telah membayangkan bahwa dia akan menderita kerugian yang cukup besar kalau ikan-ikan yang mati itu dijual di Palembang, maklum ikan yang telah mati harganya jauh lebih murah dari ikan yang hidup dan segar.
Tiba-tiba ia teringat akan kemasyhuran dan kekeramatan Kiai Marogan, maka tanpa berpikir panjang diarahkanlah perahunya menuju Masjid Kiai Marogan untuk meminta nasihat dari Kiai Marogan. Setelah perahunya diikatkan ditangga tempat wudluk masjid maka diapun segera naik untuk menemui Kiai yang biasanya pada pagi hari seperti itu selalu memberikan pelajaran agama kepada murid-muridnya. Tetapi aneh sekali sebelum dia sempat menyapa dan mengemukakan maksudnya, maka Kiai pun menegurnya : ” Ki sanak, ikan-ikan yang kau bawa dalam perahumu tidaklah mati, Insya Allah ikanmu hidup, juallah dia ke pasar, hidupilah dan peliharalah keluargamu baik-baik”. Sampbil mengcapkan salam dan terima kasih sipedagang menuju ke perahunya sambil terheran-heran. Benar saja setelah tiba diperahunya dilihatnya semua ikan yang dibawanya
Selain dari kisah-kisah di atas masih banyak lagi kisah tentang kekeramatan atau karomah yang diberikan Allah kepada Kiai Muara Ogan seperti kisah dua anak yatim, kisah buah kelapa berisi ikan, kisah mengangkat balok dengan sebelah tangan, kisah berjalan di atas air, kisah buah memabukkan, kisah menahan perahu tidak karam, kisah ikan mati hidup kembali, kisah sedekah dengan nasi sebakul kecil untuk menjamu empat puluh orang, kisah kiriman ikan yang dipotong ekornya dan lain-lain.
Kebanyakan kisah-kisah teladan Kiai Muara Ogan bersifat pendidikan dan keutamaan akhlak budi pekerti dan kejujuran. Kisah-kisah yang penuh nuansa magis dan keajaiban yang pada masa ini sulit dibuktikan dengan akal atau logika.
Didalam Al Qur an surat Yunus ayat 62-64 telah dijelaskan yang artinya :”Ingatlah sesungguhnya Wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia ini dan dalam kehidupan akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.
Di dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa : ”Barang siapa membantah atau mengingkari tentang adanya manusia tingkat Wali, maka ia juga mengingkari manusia tingkat Nabi”.
Dzikir Kiai Muara Ogan
Diantara ajaran Kiai Muara ogan yang masih melekat pada sebagian penduduk
Palembang diantaranya adalah dzikir sebagai berikut :
”Laa ilaa haillallah hul malikul haqqul mubiin, Muhammad Rosul Allah shoodiqul
wa’dul amiin”.
Artinya: ” Tidak ada Tuhan selain Allah, Raja yang Benar dan Nyata, Muhammad
Rasulullah, jujur dan Amanah”.
Dzikir tersebut biasa dibaca berulang-ulang oleh Kiai Muara Ogan bersama
murid-muridnya ketika menempuh perjalanan dengan perahu dari Muara Ogan ke
Lawang Kidul atau sebaliknya dan juga ketika beliau berdakwah ke daerah-daerah,
yang ditempuh dengan perahu. Memang itulah satu-satunya kendaraan yang
dipergunakan. Menurut kisah perahu ini selalu didayung oleh murid-muridnya empat
orang dibagian depan dan seorang dibelakang sebagai juru mudi.
Bila terdengar derap pengayuh dan dzikir bersama, maka tahulah penduduk
disekitar sungai bahwa Kiai Muara Ogan sedang lewat di daerahnya. Dengan cara
demikian maka akhirnya penduduk Palembang menjadi amat kenal dengan dzikir
tersebut, mereka lalu dengan mudah menghafalnya. Dzikir ini meskipun singkat namun
mengandung makna yang dalam.

Kyai Marogan terlahir dengan nama Masagus KH. Abdul Hamid bin Masagus H.Mahmud. Namun bagi masyarakat Palembang, julukan “Kiai Marogan” lebih terkenal dibanding nama lengkapnya. Julukan Kiai Marogan dikarenakan lokasi masjid dan makamnya terletak di Muara sungai Ogan, anak sungai Musi, Kertapati Palembang. Mengenai waktu kelahirannya, tidak ditemukan catatan yang pasti. Ada yang mengatakan, beliau lahir sekitar tahun 1811, dan ada pula tahun 1802.
Namun menurut sumber lisan dari zuriatnya, dan dihitung dari tahun wafatnya dalam usia 89 tahun, maka yang tepat adalah beliau lahir tahun 1802, dan meninggal dunia pada 17 Rajab 1319 H yang bertepatan dengan 31 Oktober 1901
Pada waktu Kiai Marogan lahir, kesultanan Palembang sedang dalam peperangan yang sengit dengan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Kiai Marogan dilahirkan oleh seorang ibu bernama Perawati yang keturunan Cina dan Ayah yang bernama Masagus H. Mahmud alias Kanang, keturunan ningrat. Dari surat panjang hasil keputusan Mahkamah Agama Saudi Arabia, diketahui silsilah keturunan Masagus H. Mahmud berasal dari sultan-sultan Palembang yang bernama susuhunan Abdurrahman Candi Walang.
Berikut ini adalah silsilah beliau sampai ke Rasulullah:
Masagus Haji Abdul Hamid (Kiai Marogan) bin
Mgs. H. Mahmud Kanang bin
Mgs. Taruddin bin
Mgs. Komaruddin bin
Pangeran Wiro Kesumo Sukarjo bin
Pangeran Suryo Wikramo Kerik bin
Pangeran Suryo Wikramo Subakti bin
Sultan Abdurrahman Kholifatul Mukminin Sayyidul Imam bin
Pangeran Sedo Ing Pasarean (Pangeran Ratu Sultan Jamaluddin Mangkurat VI ) bin
Tumenggung Manco Negaro bin
Pangeran Adipati Sumedang bin
Pangeran Wiro Kesumo Cirebon (Tumenggung Mintik) bin
Sayyid Muhammad ‘Ainul Yaqin (Sunan Giri) bin
Sayyid Maulana Ishaq (Syeikh Al Umul Islam) bin
Sayyid Ibrahim Akbar bin
Sayyid Husain Jamaluddin Al Akbar bin
Sayyid Achmad Syah Jalal Umri bin
Sayyid Abdullah Azmatkhan bin
Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin
Sayyid Alwi bin
Sayyid Muhammad Shohib Mirbat bin
Sayyid Ali Khaliq Qosam bin
Sayyid Alwi bin Sayyid Muhammad bin
Sayyid Alwi bin Sayyid Abdullah bin
Sayyid Ahmad Al Muhajir bin
Sayyid Isa Arrumi bin
Sayyid Muhammad An Naqib bin
Sayyid Ali Al Ridho bin Sayyid Ja’far Shidiq bin
Sayyid Muhammad Al Baqir bin
Sayyid Ali Zainal Abidin bin
Sayyidina Husain bin (Ali bin Abi Tholib dan Fatimah Az Zahro binti “Rasulullah Salallahu Alaihi Wasallam
Kiai Marogan (Mgs.H. Abdul Hamid) dan saudaranya Mgs.H Abdul Aziz. terlahir dari perkawinan orangtuanya (Ayah) yang bernama Mgs. H. Mahmud dan (ibu) Perawati (keturunan Cina) adapun saudaranya yang lain (Lain Ibu) bernama Msy.Khadijah dan Msy. Hamidah.
Kiai Marogan hanya memiliki seorang adik yang bernama Masagus KH. Abdul Aziz, yang juga menjadi seorang ulama dengan sebutan Kiai Mudo. Sebutan ini dikarenakan ia lebih muda dari Kiai Marogan. Kiai Mudo lebih dikenal di daerah Muara Enim seperti Gumay, Kertomulyo, Betung, Sukarame, Gelumbang, Lembak dan sekitarnya.
Sebagai anak yang lahir dan dibesarkan dari keluarga bangsawan, Kiai Marogan memperoleh pendidikan agama dengan istimewa. Hal ini dikarenakan di dalam lingkungan kesultanan Palembang, agama Islam mempunyai tempat yang terhormat, di mana hubungan antara negara dan agama sangat erat, sebagaimana dibuktikan oleh birokrasi agama di istana Palembang.
Birokrasi ini dipimpin oleh seorang pegawai dengan gelar Pangeran Penghulu Naga Agama. Di samping itu, Kiai Marogan memperoleh pendidikan langsung dari orang tuanya yang ternyata merupakan seorang ulama besar yang lama belajar di Mekah dibawah bimbingan ulama besar seperti Syekh Abdush Shomad al-Falimbani. Setelah wafat, ayah Kiai Marogan dimakamkan di negeri Aden, Yaman Selatan. Melihat kecerdasan Kiai Marogan dalam menyerap ilmu agama kemudian orang tuanya mengirimkannya ke Mekah untuk belajar mendalami ilmu-ilmu agama.
Kiai Marogan tercatat pernah belajar ilmu-ilmu agama seperti ilmu fiqih, hadits dan tasawuf. Hal ini dapat diperoleh dari isnad-isnad yang ditulis oleh Syekh Yasin al-Fadani, mudir (pimpinan) Madrasah Darul Ulum Mekah.
Dasar-dasar pendidikan agamanya diberikan oleh ayahnya sendiri, Ki. Mgs. H. Mahmud Kanang yang juga sebagai sufi kelana dan wafat di Kota Aden –Yaman, yang makamnya terkenal dengan nama “Kubah al-Jawi”.
Ketika remaja Abdul Hamid belajar berbagai disiplin ilmu agama Islam kepada ulama-ulama besar Palembang waktu itu seperti: Syekh Pangeran Surya Kusuma Muhammad Arsyad (w.1884), Syekh Kemas Muhammad bin Ahmad (w.1837), Syekh Datuk Muhammad Akib (w.1849), dll. Ia berpegang kepada akidah ahlussunnah wal jamaah, bermazhabkan Imam Syafei.
Sedang dibidang tasawwuf, ia mengamalkan dan mendapat ijazah Tarekat Sammaniyah dari ayahnya sendiri dan Tarekat Naqsyabandiyah dari para gurunya. Selanjutnya ia meneruskan studinya ke tanah suci, terutama Makkah dan Madinah kepada gurunya Sayid Ahmad Zaini Dahlan, Sayid Ahmad Dimyati dan Syekh Ahmad Khatib Sambas. Sedangkan kawan seperguruannya saat itu antara lain Imam Nawawi Banten (1813-1897), KH. Kholil Bangkalan (1820-1925), KH. Mahfuz Termas (1824-1920), Kgs. Abdullah bin Ma’ruf, dan lain-lain.
Setelah merampungkan studinya di tanah suci, ia berkeinginan untuk hijrah ke Masjidil Aqsa, namun niat tersebut diurungkannya. Karena ia memperoleh petunjuk bahwa negerinya masih sangat memerlukannya, dimana beliau meninggalkan dua anak yatim yang tak lain Masjid Kiai Merogan dan Masjid Lawang Kidul.
Kiai Marogan memiliki dua orang isteri yang bernama Masayu Maznah dan Raden Ayu salmah. Dari pernikahannya ia dikarunia tiga putra putri yaitu Masagus H. Abu Mansyur, Masagus H. Usman, dan Masayu Zuhro. Pada masa mudanya Kiai Marogan dikenal giat berbisnis di bidang saw-mill atau perkayuan. Ia memiliki dua buah pabrik penggergajian kayu.
Bakat bisnis mungkin diperoleh dari ibunya yang merupakan keturunan Cina. Berkat sukses dalam bisnis kayu ini memungkinkan Kiai Marogan untuk pulang pergi ke tanah suci dan menjalankan kegiatan penyebaran dakwah di pedalaman Sumatra Selatan. Dari hasil usaha kayu ini juga Kiai Marogan mampu mendirikan sejumlah masjid yang diperuntukkan sebagai pusat pengajian dan dakwah.
Banyak ajaran Kiai Marogan yang masih melekat di sebagian penduduk Palembang, di antaranya adalah sebuah dzikir:
لاَاِله الا الله الملك الحق المبين محمد رسول الله صادق الوعد الامين
“La ilaha Illallahul Malikul Haqqul Mubin Muhammadur Rasulullah Shadiqul Wa’dul Amin”,
yang artinya “Tiada Tuhan Selain Allah, Raja Yang Benar dan Nyata, Muhammad adalah Rasulullah Yang Jujur dan Amanah.”
Dzikir yang diamalkan oleh Kiai Marogan di atas, ternyata sumbernya di dalam hadits. Dari Sayyidina Ali Ra Karramallahu wajhahu berkata, Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa setiap hari membaca 100 x Lailahaillah al-Maliku al-Haqqu al-Mubin, maka ia akan aman dari kefakiran, jadi kaya, tenang di alam kubur, dan mengetuk pintu surga."
Konon, amalan zikir ini dibaca oleh Kiai Marogan dan murid-muridnya dalam perjalanan di atas perahu. Sambil mengayuh perahu, beliau menyuruh murid-muridnya mengucapkan zikir tersebut berulang-ulang sepanjang perjalanan dengan suara lantang. Zikir ini dapat menjadi tanda dan ciri khas penduduk apabila ingin mengetahui Kiai Marogan melewati daerahnya.
Amalan zikir ini ternyata sampai sekarang masih dibaca oleh Wong Palembang, khususnya kaum Ibu-ibu ketika menggendong anak bayi untuk menimang atau menidurkan anaknya dengan irama yang khas dan berulang-ulang. Dan dzikir ini juga dipakai oleh penduduk untuk mengantarkan mayit sambil mengusung keranda sampai ke pemakaman.
Di antara karomah yang melegenda Kyai Marogan ketika masih hidup dan masih di ingat sampai sekarang oleh wong Palembang, yaitu:
Kyai Muara Ogan panggilan akrabnya, kemana-mana pergi untuk mengajar dan menyebarkan Agama Islam selalu menggunakan perahu, bila tempat mengajar yang tetap maka ia akan mendirikan mesjid disana. Suatu ketika saat menuju ketempat mengajar, Ki Muara Ogan menasehati pada muridnya,”Murid-muridku sekalian ikuti apa yang akan aku ajarkan ini.”
“Baik guru,”jawab muridnya sambil mendayungkan perahu menuju kelokasi di tempat ia mengajar.
Dalam perjalanan itu Ki Muara Ogan menuturkan ,”Baik demikian amalan itu, La illaha illahu malikul hakul mubin Muhammad Rasulullah Shodikul wa adil Amin,” begitu juga murid mengikuti apa yang disampaikan ulama tersebut. Ki Muara Ogan sepulang dari memberikan petuah-agamanya, ia kembali menuju ketempat tinggalnya, yaitu berada di Kertapati , hingga sekarang mesjid itu masih berdiri kokoh.
Begitu besar keyakinanya pada Allah, ketika itu di tahun 1911, dizaman pemerintahan penjajahan Belanda, seorang dari prajurit Belanda berkata pada Ki Muara Ogan,” tanah untuk kereta api ini harus di perluas.”
Kiyai Muara Ogan dengan tenang menjawab,”Tanah itu akan menggeser tanah pabrik kayu milik kami.”“Kami tahu tuan, tapi perluasan tanah ini untuk kepentingan masarakat banyak,” ungkap prajurit utusan Belanda itu kepada Ki Muara Ogan.Ki Muara Ogan menganggukan kepala , “baik kami ikhlas ini untuk kepentingan masarakat dan negera, silahkan.”
Setelah itu pabrik kayu milik Ki Muara Ogan ini dipindahkan ke Kampung Karang Anyar, dan pabrik ini diberikan pada Mgs H M Abumansur. Tanah wakap milik Ki Muara Ogan itu, hingga kini jadi milik PT Kereta Api. Pada saat itu, Ki Muara Ogan tengah mengadakan ceramah, yaitu berada di Mesjid Ki Muara Ogan Kertapati, sehingga terdengar dengan sangat lantangnya,”Bumi berserta isinya adalah milik Allah ,” Jemaah mendengarkan itu dengan penuh perhatian sekali, sehingga terasa sejuk dan nyaman bagi siapa yang mendengarkan pada waktu itu.
Disaat itu tak lupa beberapa orang Belanda mendengarkan dan menyaksikan ceramah yang disampaikan oleh Ki Muara Ogan tersebut, tentu tugas mereka hanya untuk mengawasi kegiatan yang dilakukan Ki Muara Ogan.Kembali terdengar dengan lantang apa yang disampaikan oleh Ki Muara Ogan, yang menyampaikan petuahnya pada jamaah,”Kekuasaan Allah itu adalah maha besar, jika ia berkata jadi maka jadilah ia.”
Penuh perhatian sekali jamaah menyimaknya, sehingga kembali terdengar seruannya,”Allah mengetahui apa-apa yang tidak di ketahui oleh manusia.”
Seorang hadirin bertanya,”Guru apa misalnya kekuasaan Allah yang tidak mungkin di ketahui oleh manusia itu ?
“Begini ,”kata Ki Muara Ogan sambil ia berdiri dihadapan para jamaahnya.”Misalnya tiap-tiap ada air didalamnya selalu akan ada ikannya”
Mendengar itu spontan seorang prajurit Belanda yang tengah mengawasi Ki Muara Ogan dari sejak tadi, tiba-tiba berkata,”Bagaimana dengan air kelapa, apakah ada juga ikannya?”
“Insya Allah jika Allah menghendaki maka ikan itu akan ada,” tegas Ki Muara Ogan sembari mulut tetap berkomat- kamit menyebut nama Allah.
Serta merta prajurit itu pandangannya mengarah keluar mesjid,”Ki apakah kelapa itu juga ada ikanya?” kembali prajutit itu menunjukan pada sebuah pohon kelapa yang ada di luar.
Serentak Ki Muara Ogan berserta dengan para jamaahnya menuju keluar, untuk membuktikan kekuasaan Allah tersebut.
Maka di perintahkanlah seorang murid Ki Muara Ogan memanjat sebuah pohon kelapa, sejenak saja sebuah pohon kelapa di letakan di hadapan Ki Muara Ogan juga disaksikan oleh para jamaah lainya yang hadir pada saat itu.Sehingga pada waktu itu juga, di persilahkan oleh Ki Muara Ogan pada prajurit Belanda itu sendiri untuk membuktikan kebesaran Allah pada penciptanya.
Pada saat itu juga dengan tiba-tiba sekali, prajurit Belanda itu segera memotong kelapa yang ada di hadapannya waktu itu, sungguh hal yang sangat tidak dapat di kira dari dalam kelapa yang di potong itu muncullah seekor ikan seluang, sejak saat itu sekitar masjid Ki Muara Ogan terdapat ikan Seluang dan di sekitar mesjid tetap berdiri pohon kelapa.
Pernah juga Kisah aneh terjadi, ketika Ki Muara Ogan bersama dengan ketujuh muridnya pulang dari menyebarkan agama Islam, pada waktu itu mereka terhambat karena tidak ada perahu yang akan menyeberangkan di sungai Ogan .Namun dengan keyakinan yang ada dalam jiwa Ki Muara Ogan , serta merta ia membentangkan syalnya, yang selalu berada di pundaknya itu, ia letakan di atas air.”Silahkan kalian duduk di sal itu.” Perintah Ki Muara Ogan pada muridnya yang sedang ikut serta itu.
Karena itu adalah perintah seorang guru, muridnya yang yakin tanpa banyak komentar segera saja ia duduk di atas sal itu, tetapi bagi muridnya yang merasa ragu ia akan diam, atau ia akan bimbang.
“Naiklah wahai muridku, maka kau tidak akan tenggelam,” kata Ki Muara Ogan, namun ada seorang murid yang tidak mau ikut, tetapi yang sudah ikut serta segera saja mereka berjalan seperti layaknya mereka naik sebuah perahu saja.
Setelah itu kembali ia menjemput muridnya yang tadi tinggal tersbut, barulah muridnya itu merasa yakin, karena ia sudah melihat kenyataan itu. Muridnya yang tinggal itu ikut kembali menyeberang. Ketika hampir saja tiba diseberang muridnya itu masih saja merasa ragu, sehingga ia terjatuh, dan segera ia berenang ketepi sungai itu. Disaat itu Ki Muara Ogan berkata pada muridnya, “Itulah akibat jika seorang hamba belum yakin pada kebesaran Allah, sehingga masih adanya suatu keraguan yang tersimpan dalam pikiran dan hatinya. Untuk itu kamu harus kembali memperkuat iman kepada Allah yang telah menciptakan mahluknya .”
Kisah ini menjadi kisah yang di sampaikan dari mulut kemulut oleh warga kota Palembang, sehingga menjadi warisan kisah turun temurun hingga saat ini.
Dalam berdakwah Kiai Marogan menitikberatkan pada sikap zuhud dan kesufian dengan memperkuat keimanan. Hal ini dikarenakan pengaruh dari ajaran tarekat yang ia amalkan.Di dalam buku, Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat, Martin van Bruinessen memasukkan nama Kyai Marogan (Masagus H. Abdul Hamid) sebagai salah seorang guru dari tarekat Sammaniyah. Ia mempelajari tarekat Sammaniyah dari orang tuanya sendiri, yang berguru kepada Syekh Muhammad Aqib dan Syekh Abdush Shomad Al-Falimbani.
Menurut istilah di dalam ilmu tasawuf, tarekat ialah perjalanan khusus bagi para sufi yang menempuh jalan menuju Allah SWT. Perjalanan mengikuti jalur yang ada melalui tahap dan seluk beluknya.
Dan tujuan dari tarekat adalah menciptakan moral yang mulia. Sebagaimana diketahui bahwa di daerah Palembang sejak masa kesultanan Palembang tarekat Sammaniyah telah menyebar secara luas dibawa oleh Syekh Abdush Shomad Al-Falimbani murid dari pendirinya Syekh Muhammad Abdul Karim Samman.
Hampir seluruh masjid tua di Palembang, membaca ratib Samman yaitu bacaan yang meliputi syahadat, surah al-Qur’an dan bacaan zikir yang disertai gerak dan sikap yang khas tarekat Samman.Tidak ditemukan kitab yang dapat di identifikasi sebagai karya Kiai Marogan. Meskipun menurut penuturan dari zuriyatnya bahwa Kiai Marogan pernah menulis kitab tasawuf. Akan tetapi, yang dapat diketahui adalah Kiai Marogan meninggalkan beberapa bangunan masjid yang besar dan bersejarah. Yaitu masjid Jami’ Muara Ogan di Kertapati Palembang dan masjid Lawang Kidul di 5 Ilir Palembang.
Menurut cicitnya, Masagus H. Abdul Karim Dung, selain kedua masjid di atas, Kiai Marogan juga membangun beberapa masjid lagi seperti masjid di dusun Pedu Pedalaman OKI, masjid di dusun Ulak Kerbau Lama Pegagan Ilir OKI, Mushalla di 5 Ulu Laut Palembang, masjid Sungai Rotan Jejawi, masjid Talang Pangeran Pemulutan. Namun, pernyataan dari cicitnya ini belum dapat dibuktikan secara empiris, perlu dilakukan penelitian dan peninjauan lebih lanjut. Sedangkan kedua masjid yaitu masjid Jami’ Muara Ogan dan masjid Lawang Kidul yang berada di kota Palembang, dapat dibuktikan melalui surat Nazar Munjaz atau surat Wakaf yang ditandatangani oleh Kiai Marogan langsung. itulah bagian Silsilah Sejarah Dan Riwayat Kiai Merogan Palembang.