Selasa, 10 November 2015

Biografi Imam Tirmidzi

Imam Tirmidzi

NamaMuhammad bin 'Isa bin Saurah bin Musa bin adl Dlahhak
Kunyah beliau: Abu 'Isa

Nasab beliau:
  1. As Sulami ; yaitu nisbah kepada satu kabilah yang yang di jadikan sebagai afiliasi beliau, dan nisbah ini merupakan nisbah kearaban
  2. At Tirmidzi; nisbah kepada negri tempat beliau di lahirkan (Tirmidz), yaitu satu kota yang terletak di arah selatan dari sungai Jaihun, bagian selatan Iran. 
    Tanggal lahir: 
    para pakar sejarah tidak menyebutkan tahun kelahiran beliau secara pasti, akan tetapi sebagian yang lain memperkirakan bahwa kelahiran beliau pada tahun 209 hijriah. Sedang Adz Dzahabi berpendapat dalam kisaran tahun 210 hijriah.
    Ada satu berita yang mengatakan bahwa imam At Tirmidzi di lahirkan dalam keadaan buta, padahal berita yang akurat adalah, bahwa beliau mengalami kebutaan di masa tua, setelah mengadakan lawatan ilmiah dan penulisan beliau terhadap ilmu yang beliau miliki.
    Beliau tumbuh di daerah Tirmidz, mendengar ilmu di daerah ini sebelum memulai rihlah ilmiah beliau. Dan beliau pernah menceritakan bahwa kakeknya adalah orang marwa, kemudian berpindah dari Marwa menuju ke tirmidz, dengan ini menunjukkan bahwa beliau lahir di Tirmidzi.


    Aktifitas beliau dalam menimba ilmu

    Berbagai literatur-literatur yang ada tidak menyebutkan dengan pasti kapan imam Tirmidzi memulai mencari ilmu, akan tetapi yang tersirat ketika kita memperhatikan biografi beliau, bahwa beliau memulai aktifitas mencari ilmunya setelah menginjak usia dua puluh tahun. Maka dengan demikian, beliau kehilangan kesempatan untuk mendengar hadits dari sejumlah tokoh-tokoh ulama hadits yang kenamaan, meski tahun periode beliau memungkinkan untuk mendengar hadits dari mereka, tetapi beliau mendengar hadits mereka melalui perantara orang lain. Yang nampak adalah bahwa beliau memulai rihlah pada tahun 234 hijriah.
    Beliau memiliki kelebihan; hafalan yang begitu kuat dan otak encer yang cepat menangkap pelajaran. Sebagai permisalan yang dapat menggambarkan kecerdasan dan kekuatan hafalan beliau adalah, satu kisah perjalan beliau menuju Makkah, yaitu;
    Pada saat aku dalam perjalanan menuju Makkah, ketika itu aku telah menulis dua jilid berisi hadits-hadits yang berasal dari seorang syaikh. Kebetulan Syaikh tersebut berpapasan dengan kami. Maka aku bertanya kepadanya, dan saat itu aku mengira bahwa "dua jilid kitab" yang aku tulis itu bersamaku. Tetapi yang kubawa bukanlah dua jilid tersebut, melainkan dua jilid lain yang masih putih bersih belum ada tulisannya. aku memohon kepadanya untuk menperdengarkan hadits kepadaku, dan ia mengabulkan permohonanku itu. Kemudian ia membacakan hadits dari lafazhnya kepadaku. Di sela-sela pembacaan itu ia melihat kepadaku dan melihat bahwa kertas yang kupegang putih bersih. Maka dia menegurku: "Tidakkah engkau malu kepadaku ?" maka aku pun memberitahukan kepadanya perkaraku, dan aku berkata; "aku telah mengahafal semuanya."  Maka syaikh tersebut berkata; " bacalah !". Maka aku pun membacakan kepadanya seluruhnya, tetapi dia tidak mempercayaiku, maka dia bertanya: "Apakah telah engkau hafalkan sebelum datang kepadaku?",  "Tidak," jawabku. Kemudian aku meminta lagi agar dia meriwayatkan hadits yang lain. Ia pun kemudian membacakan empat puluh buah hadits, lalu berkata:"Coba ulangi apa yang kubacakan tadi," Lalu aku membacakannya dari pertama sampai selesai tanpa salah satu huruf pun.


    Rihlah beliau

    Imam At Tirmidzi keluar dari negrinya menuju ke Khurasan, Iraq dan Haramain dalam rangka menuntut ilmu. Di sana beliau mendengar ilmu dari kalangan ulama yang beliau temui, sehingga dapat mengumpulkan hadits dan memahaminya. Akan tetapi sangat di sayangkan beliau tidak masuk ke daerah Syam dan Mesir, sehingga hadits-hadits yang beliau riwayatkan dari ulama kalangan Syam dan Mesir harus melalui perantara, kalau sekiranya beliau mengadakan perjalanan ke Syam dan Mesir, niscaya beliau akan mendengar langsung dari ulama-ulama tersebut, seperti Hisyam bin 'Ammar dan semisalnya.
    Para pakar sejarah berbeda pendapat tentang masuknya imam At Tirmidzi ke daerah Baghdad, sehingga mereka berkata; kalau sekiranya dia masuk ke Baghdad, niscaya dia akan mendengar dari Ahmad bin Hanbal. Al Khathib tidak menyebutkan at Timidzi (masuk ke Baghdad) di dalam tarikhnya, sedangkan Ibnu Nuqthah dan yang lainnya menyebutkan bahwa beliau masuk ke Baghdad. Ibnu Nuqthah menyebutkan bahwasanya beliau pernah mendengar di Baghdad dari beberapa ulama, diantaranya adalah; Al Hasan bin AshShabbahAhmad bin Mani' dan Muhammad bin Ishaq Ash shaghani.
    Dengan ini bisa di prediksi bahwa beliau masuk ke Baghdad setelah meninggalnya Imam Ahmad bin Hanbal, dan ulama-ulama yang di sebutkan oleh Ibnu Nuqthah meninggal setelah imam Ahmad. Sedangkan pendapat Al Khathib yang tidak menyebutkannya, itu tidak berarti bahwa beliau tidak pernah memasuki kota Baghdad sama sekali, sebab banyak sekali dari kalangan ulama yang tidak di sebutkan Al Khathib di dalam tarikhnya, padahal mereka memasuki Baghdad.
    Setelah pengembaraannya, imam At Tirmidzi kembali ke negrinya, kemudian beliau masuk Bukhara dan Naisapur, dan beliau tinggal di Bukhara beberapa saat.

    Negri-negri yang pernah beliau masuki adalah ;
    1. Khurasan
    2. Bashrah
    3. Kufah
    4. Wasith
    5. Baghdad
    6. Makkah
    7. Madinah
    8. Ar Ray

      Guru-guru beliau

      Imam at Tirmidzi menuntut ilmu dan meriwayatkan hadits dari ulama-ulama kenamaan. 
      Di antara mereka adalah
      1. Qutaibah bin Sa'id
      2. Ishaq bin Rahuyah
      3. Muhammad bin 'Amru As Sawwaq al Balkhi
      4. Mahmud bin Ghailan
      5. Isma'il bin Musa al Fazari
      6. Ahmad bin Mani'
      7. Abu Mush'ab Az Zuhri
      8. Basyr bin Mu'adz al Aqadi
      9. Al Hasan bin Ahmad bin Abi Syu'aib
      10. Abi 'Ammar Al Husain bin Harits
      11. Abdullah bin Mu'awiyyah al Jumahi
      12. 'Abdul Jabbar bin al 'Ala`
      13. Abu Kuraib
      14. 'Ali bin Hujr
      15. 'Ali bin sa'id bin Masruq al Kindi
      16. 'Amru bin 'Ali al Fallas
      17. 'Imran bin Musa al Qazzaz
      18. Muhammad bin aban al Mustamli
      19. Muhammad bin Humaid Ar Razi
      20. Muhammad bin 'Abdul A'la
      21. Muhammad bin Rafi'
      22. Imam Bukhari
      23. Imam Muslim
      24. Abu Dawud
      25. Muhammad bin Yahya al 'Adani
      26. Hannad bin as Sari
      27. Yahya bin Aktsum
      28. Yahya bun Hubaib
      29. Muhammad bin 'Abdul Malik bin Abi Asy Syawarib
      30. Suwaid bin Nashr al Marwazi
      31. Ishaq bin Musa Al Khathami
      32. Harun al Hammal.
        Dan yang lainnya


        Murid-murid beliau

        Kumpulan hadits dan ilmu-ilmu yang di miliki imam Tirmidzi banyak yang meriwayatkan, diantaranya adalah;
        1. Abu Bakr Ahmad bin Isma'il As Samarqandi
        2. Abu Hamid Abdullah bin Daud Al Marwazi
        3. Ahmad bin 'Ali bin Hasnuyah al Muqri`
        4. Ahmad bin Yusuf An Nasafi
        5. Ahmad bin Hamduyah an Nasafi
        6. Al Husain bin Yusuf Al Farabri
        7. Hammad bin Syair Al Warraq
        8. Daud bin Nashr bin Suhail Al Bazdawi
        9. Ar Rabi' bin Hayyan Al Bahili
        10. Abdullah bin Nashr saudara Al Bazdawi
        11. 'Abd bin Muhammad bin Mahmud An Safi
        12. 'Ali bin 'Umar bin Kultsum as Samarqandi
        13. Al Fadhl bin 'Ammar Ash Sharram
        14. Abu al 'Abbas Muhammad bin Ahmad bin Mahbub
        15. Abu Ja'far Muhammad bin Ahmad An Nasafi
        16. Abu Ja'far Muhammad bin sufyan bin An Nadlr An Nasafi al Amin
        17. Muhammad bin Muhammad bin Yahya Al Harawi al Qirab
        18. Muhammad bin Mahmud bin 'Ambar An Nasafi
        19. Muhammad bin Makki bin Nuh An Nasafai
        20. Musbih bin Abi Musa Al Kajiri
        21. Makhul bin al Fadhl An Nasafi
        22. Makki bin Nuh
        23. Nashr bin Muhammad biA Sabrah
        24. Al Haitsam bin Kulaib
          Dan yang lainnya.


          Persaksian para ulama terhadap beliau

          Persaksian para ulama terhadap keilmuan dan kecerdasan imam Tirmidzi sangatlah banyak, diantaranya adalah;
          1. Imam Bukhari berkata kepada imam At Tirmidzi; " ilmu yang aku ambil manfaatnya darimu itu lebih banyak ketimbang ilmu yang engkau ambil manfaatnya dariku."
          2. Al Hafiz 'Umar bin 'Alak menuturkan; " Bukhari meninggal, dan dia tidak meninggalkan di Khurasan orang yang seperti Abu 'Isa dalam hal ilmu, hafalan, wara' dan zuhud."
          3. Ibnu Hibban menuturkan; "Abu 'Isa adalah sosok ulama yang mengumpulkan hadits, membukukan, menghafal dan mengadakan diskusi dalam hal hadits."
          4. Abu Ya'la al Khalili menuturkan; "Muhammad bin 'Isa at Tirmidzi adalah seorang yang tsiqah menurut kesepatan para ulama, terkenal dengan amanah dandan keilmuannya".
          5. Abu Sa'd al Idrisi menuturkan; "Imam Tirmidzi adalah salah seorang imam yang di ikuti dalam hal ilmu hadits, beliau telah menyusun kitab al jami', tarikh dan 'ilal dengan cara yang menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang alim yang kapabel. Beliau adalah seorang ulama yang menjadi contoh dalam hal hafalan."
          6. Al Mubarak bin al Atsram menuturkan; "Imam Tirmidzi merupakan salah seorang imam hafizh dan tokoh."
          7. Al Hafizh al Mizzi menuturkan; "Imam Tirmidzi adalah salah seorang imam yang menonjol, dan termasuk orang yang Allah jadikan kaum muslimin mengambil manfaat darinya".
          8. Adz Dzahabi menuturkan; Imam Tirmidzi adalah seorang hafizh, alim, imam yang kapabel
          9. Ibnu Katsir menuturkan: “Imam Tirmidzi adalah salah seorang imam dalam bidangnya pada zaman beliau."

          Keteledoran Ibnu Hazm;

          Dalam hal ini Ibnu Hazm melakukan kesalahan yang sangat fatal, sebab dia mengira bahwa At Tirmidzi adalah seorang yang tidak dikenal, maka serta merta para ulama membantah setatemennya ini, mereka berkata; " Ibnu Hazm telah menghukumi dirinya sendiri dengan keminimannya dalam hal penelaahan, sebenarnya kapabalitas Imam Tirmidzi tidak terpengaruh sekali dengan statemen Ibnu Hazm tersebut, bahkan kapabilitas Ibnu Hazm sendiri yang menjadi tercoreng karena dia tidak mengenali seorang imam yang telah tersebar kemampuannya. Dan ini bukan pertama kali kesalahan yang dia lakukan, sebab banyak dari kalangan ulama hafizh lagi tsiqah yang terkenal yang tidak dia ketahui."
          Semua ini kami paparkan dengan tidak sedikitpun mengurangi rasa hormat dan pengakuan kami terhadap keutamaan dan keilmuannya, akan tetapi agar tidak terpedaya dengan statemen-statemen yang nyeleneh darinya.

          Hasil karya beliau

          Imam Tirmizi menitipkan ilmunya di dalam hasil karya beliau, diantara buku-buku beliau ada yang sampai kepada kita dan ada juga yang tidak sampai.

          Di antara hasil karya beliau yang sampai kepada kita adalah:
          1. Kitab Al Jami', terkenal dengan sebutan Sunan at Tirmidzi.
          2. Kitab Al 'Ilal
          3. Kitab Asy Syama'il an Nabawiyyah.
          4. Kitab Tasmiyyatu ashhabi rasulillah shallallahu 'alaihi wa sallam.
            Adapun karangan beliau yang tidak sampai kepada kita adalah;
            1. Kitab At-Tarikh.
            2. Kitab Az Zuhd.
            3. Kitab Al Asma` wa al kuna.

              Wafatnya beliau:

              Di akhir kehidupannya, imam at Tirmidzi mengalami kebutaan, beberapa tahun beliau hidup sebagai tuna netra, setelah itu imam atTirmidzi meninggal dunia. Beliau wafat di Tirmidz pada malam Senin 13 Rajab tahun 279 H bertepatan dengan 8 Oktober 892, dalam usia beliau pada saat itu 70 tahun.

              Biografi Imam Abu Dawud

              Imam Abu Dawud 

              Nama:
              - Menurut Abdurrahman bin Abi Hatim, bahwa nama Abu Daud adalah Sulaiman bin al Asy'ats bin Syadad bin 'Amru bin 'Amir.
              - Menurut Muhammad bin Abdul 'Aziz Al Hasyimi Sulaiman bin al Asy'ats bin Basyar bin Syadad.
              Ibnu Dasah dan Abu 'Ubaid Al Ajuri berkata ; Sulaiman bin al Asy'ats bin Ishaq bin Basyir bin Syadad. Pendapat ini di perkuat oleh Abu Bakr Al Khathib di dalam Tarikhnya. Dan dia dalam bukunya menambahi dengan ; Ibnu 'Amru bin 'Imran al Imam,Syaikh as SunnahMuqaddimu al huffazhAbu Daud al-azadi as-Sajastanimuhaddits Bashrah.


              Nasab beliau
              Al Azadi, yaitu nisbat kepada Azd yaitu qabilah terkenal yang ada di daerah Yaman.
              Sedangkan as-Sijistani, ada beberapa pendapat dalam nisbah ini, diantaranya:
              Ada yang berpendapat bahwasan as Sijistani merupakan nisbah kepada daerah Sijistan, yaitu daerah terkenal. Ada juga yang berpendapat bahwa as sijistani merupakan nisbah kepada sijistan atau sijistanah yaitu suatu kampung yang ada di Bashrah. Tetapi menurutMuhammad bin Abi An Nashr bahwasannya di Bashrah tidak ada perkampung yang bernama as-Sijistan. Namun pendapat ini di bantah bahwa di dekat daerah Ahwaz ada daerah yang disebut dengan Sijistan
              As Sam'ani mengutip satu pendapat bahwa as-sijistan merupakan nisbah kepada sijistan, yaitu salah suatu daerah terkenal yang terletak di kawasan Kabul
              Abdul Aziz menyebutkan bahwasannya sijistan merupakan nisbah kepada Sistan, yaitu daerah terkenal yang sekarang ada di Negri Afganistan.

              Tanggal lahir:
              Tidak ada ulama yang menyebutkan tanggal dan bulan kelahiran beliau, kebanyakan refrensi menyebutkan tahun kelahirannya. Beliau dilahirkan pada tahun 202 H. disandarkan kepada keterangan dari murid beliau, Abu Ubaid Al Ajuri ketika beliau wafat, dia berkata: aku mendengar Abu Daud berkata : “Aku dilahirkan pada tahun 202 Hijriah"

              Aktifitas beliau dalam menimba ilmu 
              Ketika menelisik biografi imam Abu Daud, akan muncul paradigma bahwasanya beliau semenjak kecil memiliki keahlian untuk menimba ilmu yang bermanfaat. Semua itu ditunjang dengan adanya keutamaan yang telah di anugerahkan Allah kepadanya berupa kecerdasan, kepandaian dan kejeniusan, disamping itu juga adanya masyarakat sekelilingnya yang mempunyai andil besar dalam menimba ilmu.

              Dia semenjak kecil memfokuskan diri untuk belajar ilmu hadits, maka kesempatan itu dia gunakan untuk mendengarkan hadits di negrinya Sijistan dan sekitarnya. Kemudian dia memulai rihlah ilmiahnya ketika menginjak umur delapan belas tahun. Dia merupakan sosok ulama yang sering berkeliling mencari hadits ke berbagai belahan negri Islam, banyak mendengar hadits dari berbagai ulama, maka tak heran jika dia dapat menulis dan menghafal hadits dengan jumlah besar yaitu setengah juta atau bahkan lebih dari itu. Hal ini merupakan modal besar bagi berbagai karya tulis beliau yang tersebar setelah itu keberbagai pelosok negri islam, dan menjadi sandaran dalam perkembangan keilmuan baik hadits maupun disiplin ilmu lainnya.


              Rihlah beliau
              Iman Abu Daud adalah salah satu Iman yang sering berkeliling mencari hadits ke negri-negri Islam yang ditempati para Kibarul Muhadditsin, beliau mencontoh para syaikhnya terdahulu dalam rangka menuntut ilmu dan mengejar hadits yang tersebar di berbagai daerah yang berada di dada orang-orang tsiqat dan Amanah. Dengan motivasi dan semangat yang tinggi serta kecintaan beliau sejak kecil terhadap ilmu-ilmu hadits, maka beliau mengadakan perjalanan (Rihlah) dalam mencari ilmu sebelum genap berusia 18 tahun.

              Adapun negri-negri islam yang beliau kunjungi adalah ;
              • Iraq; Baghdad merupakan daerah islam yang pertama kali beliau masuki, yaitu pada tahun 220 hijriah 
              • Kufah; beliau kunjungi pada tahun 221 hijriah. 
              • Bashrah; beliau tinggal disana dan banyak mendengar hadits di sana, kemudian keluar dari sana dan kembali lagi setelah itu. 
              • Syam; Damsyiq, Himsh dan Halb. 
              • AL Jazirah; masuk ke daerah Haran, dan mendengar hadits dari penduduknya. 
              • Hijaz; mendengar hadits dari penduduk Makkah, kemungkinan besar saat itu perjalanan beliau ketika hendak menunaikan ibadah haji. 
              • Mesir 
              • Khurasan; Naisabur dan Harrah, dan mendengar hadits dari penduduk Baghlan. 
              • Ar Ray 
              • Sijistan; tempat tinggal asal beliau, kelaur dari sana kemudian kembali lagi, kemudian keluar menuju ke Bashrah. 


              Guru-guru beliau
              Diantara guru beliau yang terdapat di dalam sunannya adalah;
              1. Ahmad bin Muhammmad bin Hanbal as Syaibani al Bagdadi 
              2. Yahya bin Ma'in Abu Zakariya 
              3. Ishaq binIbrahin bin Rahuyah abu ya'qub al Hanzhali 
              4. Utsman bin Muhammad bin abi Syaibah abu al Hasan al Abasi al Kufi. 
              5. Muslim bin Ibrahim al Azdi 
              6. Abdullah bin Maslamah bin Qa'nab al Qa'nabi al Harits al Madani 
              7. Musaddad bin Musarhad bin Musarbal 
              8. Musa bin Ismail at Tamimi. 
              9. Muhammad bin Basar. 
              10. Zuhair bin Harbi (Abu Khaitsamah) 
              11. Umar bin Khaththab as Sijistani. 
              12. Ali bin Al Madini 
              13. Ash Shalih abu sarri (Hannad bin sarri). 
              14. Qutaibah bin Sa'id bin Jamil al Baghlani 
              15. Muhammad bin Yahya Adz Dzuhli .     
                Dan masih banyak yang lainnya .


              Murid-murid beliau

              Diantara murid-murid beliau, antara lain;
              1. Imam Abu 'Isa at Tirmidzi 
              2. Imam Nasa'i 
              3. Abu Ubaid Al Ajuri 
              4. Abu Thayyib Ahmad bin Ibrahim Al Baghdadi (Perawi sunan Abi Daud dari beliau). 
              5. Abu 'Amru Ahmad bin Ali Al Bashri (perawi kitab sunan dari beliau). 
              6. Abu Bakar Ahmad bin Muhammad Al Khallal Al Faqih. 
              7. Isma'il bin Muhammad Ash Shafar. 
              8. Abu Bakr bin Abi Daud (anak beliau). 
              9. Zakaria bin Yahya As Saaji. 
              10. Abu Bakar bin Abi Dunya. 
              11. Ahmad bin Sulaiman An Najjar (perawi kitab Nasikh wal Mansukh dari beliau). 
              12. Ali bin Hasan bin Al 'Abd Al Anshari (perawi sunsn dari beliau). 
              13. Muhammad bin Bakr bin Daasah At Tammaar (perawi sunan dari beliau). 
              14. Abu 'Ali Muhammad bin Ahmad Al Lu'lu'i (perawi sunan dari beliau). 
              15. Muhammad bin Ahmad bin Ya'qub Al Matutsi Al Bashri (perawi kitab Al Qadar dari beliau). 

              Persaksian para ulama terhadap beliau
              Banyak sekali pujian dan sanjungan dari tokoh-tokoh terkemuka kalangan imam dan ulama hadits dan disiplin ilmu lainnya yang mengalir kepada imam Abu Daud Rahimahullah, diantaranya adalah;
              • Abdurrahman bin Abi Hatim berkata : Abu daud Tsiqah 
              • Imam Abu Bakr Al Khallal berkata: Imam Abu Daud adalah imam yang dikedepankan pada zamannya. 
              • Ibnu Hibban berkata: Abu Daud merupakan salah satu imam dunia dalam bidang ilmu dan fiqih. 
              • Musa bin Harun menuturkan: Abu Daud diciptakan di dunia untuk hadits dan di akhirat untuk Syurga, dan aku tidak melihat seorangpun lebih utama daripada dirinya. 
              • Al Hakim berkata: Abu Daud adalah imam bidang hadits di zamannya tanpa ada keraguan. 
              • Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An Nawawi menuturkan: Para ulama telah sepakat memuji Abu Daud dan mensifatinya dengan ilmu yang banyak, kekuatan hafalan, wara', agama (kesholehan) dan kuat pemahamannya dalam hadits dan yang lainnya. 
              • Abu Bakr Ash Shaghani berkata: Hadits dilunakkan bagi Abi Daud sebagaimana besi dilunakkan bagi Nabi Daud. 
              • Adz Dzahabi menuturkan:Abu Daud dengan keimamannya dalam hadits dan ilmu-ilmu yang lainnya,termasuk dari ahli fiqih yang besar,maka kitabnya As Sunan telah jelas menunjukkan hal tersebut. 


              Sifat kitab sunan Abi Daud

              Imam abu Dawud menyusun kitabnya di Baghdad. Prioritas penysusnan kitabnya adalah masalah hukum, jadi kumpulan haditsnya lebih terfokus kepada hadits tentang hukum. Sebagaimana yang di ungkapkan oleh as Suyuthi bahwasannya Abu Daud hanya membatasi dalam bukunya pada hadits-hadits yang berkaitan dengan hukum saja.

              Abu Bakar bin Dasah menuturkan; aku mendengar Abu Daud berkata: "Aku menulis dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebanyak lima ratus ribu hadits, kemudian aku pilah-pilah dari hadits-hadits tersebut dan aku kumpulkan serta aku letakkan dalam kitabku ini sebanyak empat ribu delapan ratus Hadits. Aku sebutkan yang shahih, yang serupa dengannya dan yang mendekati kepada ke shahihan. Cukuplah bagi seseorang untuk menjaga agamanya dengan berpegangan terhadap empat hadits, yaitu; yang pertama; 'segala perbuatan harus di sertai dengan niat,' yang kedua; 'indikasi baik islamnya seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya.' Yang ketiga; 'tidaklah seorang mu'min menjadi mu'min yang hakiki, sehingga dia rela untuk saudaranya sebagaimana dia rela untuk dirinya sendiri.' Dan yang kelima; 'yang halal itu sudah jelas.."

              Hasil karya beliau
              Adapun hasil karya beliau yang sampai kepada kita adalah;
              1. As Sunan 
              2. Al marasil 
              3. Al Masa'il 
              4. Ijabaatuhu 'an su'alaati Abi 'Ubaid al Ajuri 
              5. Risalatuhu ila ahli Makkah 
              6. Tasmiyyatu al Ikhwah alladziina rowaa 'anhum al hadits 
              7. Kitab az zuhd 
              Adapun kitab beliau yang hilang dari peredaran adalah;
              1. Ar Radd 'ala ahli al qadar 
              2. An Nasikh wal Mansukh 
              3. At Tafarrud 
              4. Fadla'ilu al anshar 
              5. Musnad Hadits Malik 
              6. Dala'ilu an nubuwwah 
              7. Ad du'aa' 
              8. Ibtidaa'u al wahyi 
              9. Akhbaru al Khawarij 
              10. Ma'rifatu al awqaat 
              Wafatnya beliau
              Abu 'Ubaid al Ajuri menuturkan; 'Imam abu daud meninggal pada hari jum'at tanggal 16 bulan syawwal tahun 275 hijriah, berumur 73 tahun. Beliau meninggal di Busrah. Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat-Nya dan meridlai beliau.

              Sabtu, 07 November 2015

              Biografi Imam Muslim

              Imam Muslim

              Pertumbuhan beliau

              Nama: Muslim bin al Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz al-Qusyairi an-Naisaburi
              Kuniyah beliau: Abdul Husain
              Nasab beliau:

              1. Al Qusyairi; merupakan nisbah kepada Qabilah afiliasi beliau, ada yang mengatakan bahwa Al Qusyairi merupakan orang arab asli, dan ada juga yang berpendapat bahwa nisbah kepada Qusyair merupakan nisbah perwalian saja

              2. An Naisaburi; merupakan nisbah yang di tujukan kepada negri tempat beliau tinggal, yaitu Naisabur. Satu kota besar yang terletak di daerah Khurasan

              Tanggal lahirpara ulama tidak bisa memastikan tahun kelahiran beliau, sehingga sebagian mereka ada yang berpendapat bahwa tahun kelahirannya adalah tahun 204 Hijriah, dan ada juga yang berpendapat bahwa kelahiran beliau pada tahun 206 Hijriah.

              Ciri-ciri beliaubeliau mempunyai perawakan yang tegap, berambut dan berjenggot putih, menjuntaikan ujung ‘imamahnya diantara dua punggungnya.


              Aktifitas beliau dalam menimba ilmu

              Sesungguhnya lingkungan tempat tumbuh imam Muslim memberikan peluang yang sangat luas untuk menuntut ilmu yang bermanfa’at, karena Naisabur merupakan negri hidup yang penuh dengan peninggalan ilmu dari pemilik syari’at. Semua itu terjadi karena banyaknya orang-orang yang sibuk untuk memperoleh ilmu dan mentransfer ilmu, maka besar kemungkinan bagi orang yang terlahir di lingkungan masyarakat seperti ini akan tumbuh dengan ilmu juga. Adanya kesempatan yang terpampang luas di hadapan Imam Muslim kecil untuk memetik dari buah-buah ilmu syariat tidak di sia-siakannya.
              Maka dia mendengar hadits di negrinya tinggal pada tahun 218 Hijriah dari gurunya Yahya bin Yahya At Tamimi, pada saat itu umurnya menginjak empat belas tahun.
              Dan bisa juga orang tuanya serta keluarganya mempunyai andil dalam memotifasinya untuk menuntut ilmu. Para ulama telah menceritakan bahwa orang tuanya, Al Hajaj adalah dari kalangan masyayikh, yaitu termasuk dari kalangan orang yang memperhatikan ilmu dan berusaha untuk memperolehnya.
              Muslim mempunyai kesempatan untuk mengadakan perjalanan hajinya pada tahun 220 Hijriah. Pada saat keluar itu dia mendengar hadits dari beberapa ahli hadits, kemudian dia segera kembali ke negrinya Naisabur.


              Rihlah beliau

              Rihlah dalam rangka menuntut hadits merupakan syi’ar ahlul hadits pada abad-abad pertama, karena terpencarnya para pengusung sunnah dan atsar di berbagai belahan negri Islam yang sangat luas. Maka Imam Muslim pun tidak ketinggalan dengan meniti jalan pakar disiplin ilmu ini, dan beliau pun tidak ketinggalan dalam ambil bagian, karena dalam sejarah beliau tertulis rihlah ilmiahnya, diantaranya;
              Rihlah pertama; rihlah beliau untuk menunaikan ibadah haji pada tahun 220 hijriah, pada saat dia masih muda belia, pada saat itu beliau berjumpa dengan syaikhnya, Abdullah bin Maslamah al Qa’nabi di Makkah, dan mendengar hadits darinya, sebagaimana beliau juga mendengar hadits dari Ahmad binYunus dan beberapa ulama hadits yang lainnya ketika di tengah perjalanan di daerah Kufah. Kemudian kembali lagi ke negrinya dan tidak memperpanjang rihlahnya pada saat itu.
              Rihlah kedua; rihlah kedua ini begitu panjang dan lebih menjelajah kenegri Islam lainnya. Rihlah ini di mulai sebelum tahun 230 Hijriah. Beliau berkeliling dan memperbanyak mendengar hadits, sehingga beliau mendengar dari bayak ahli hadits, dan mengantarkan beliau kepada derajat seorang imam dan kemajuan di bidang ilmu hadits.

              Beberapa negri yang beliau masuki, diantaranya ;
              1.  Khurasan dan daerah sekitarnya
              2.  Ar Ray
              3.  Iraq; beliau memasuki Kufah, Bashrah dan Baghdad.
              4.  Hijaz; memasuki Makkah dan Madinah
              5.  Asy Syam
              6.  Mesir

              Guru-guru beliau

              Perjalanan ilmiah yang dilakukan imam Muslim menyebabkan dirinya mempunyai banyak guru dari kalangan ahlul hadits. Al Hafizh Adz Dzahabi telah menghitung jumlah guru yang diambil riwayatnya oleh imam Muslim dan dicantumkan di dalam kitab shahihnya, dan jumlah mereka mencapai 220 orang, dan masih ada lagi selain mereka yang tidak di cantumkan di dalam kitab shahihnya

              Diantara guru-guru beliau yang paling mencolok adalah ;
              1. Abdullah bin Maslamah Al Qa’nabi, guru beliau yang paling tua
              2. Al Imam Muhammad bin Isma’il Al Bukhari
              3. Al Imam Ahmad bin Hambal
              4. Al Imam Ishaq bin Rahuyah al Faqih al Mujtahid Al Hafizh
              5. Yahya bin Ma’in, imam jarhu wa ta’dil
              6. Ishaq bin Manshur al Kausaj
              7. Abu Bakar bin Abi Syaibah, penulis buku al Mushannaf
              8. Abdullah bin Abdurrahman Ad Darimi
              9. Abu Kuraib Muhammad bin Al ‘Alaa`
              10. Muhammad bin Abdullah bin Numair
              11. Abd bin Hamid

              Murid-murid beliau

              Al Imam Muslim sibuk menyebarkan ilmunya di negrinya dan negri-negri Islam lainnya, baik dengan pena maupun dengan lisannya, maka beliau pun tidak terlepas untuk mendektekan hadits dan meriwayatkannya, sehingga banyak sekali para penuntut ilmu mengambil ilmu dari beliau.

              Diantara murid-murid beliau antara lain ;
              1. Muhammad bin Abdul wahhab al Farra`
              2. Abu Hatim Muhammad bin Idris ar Razi
              3. Abu Bakar Muhammad bin An Nadlr bin Salamah al Jarudi
              4. Ali bin Al Husain bin al Junaid ar Razi
              5. Shalih bin Muhammad Jazrah
              6. Abu Isa at Tirmidzi
              7. Ibrahim bin Abu Thalib
              8. Ahmad bin Salamah An Naisaburi
              9. Abu Bakar bin Khuzaimah
              10. Makki bin ‘Abdan
              11. Abdurrahman bin Abu Hatim ar Razi
              12. Abu Hamid Ahmad bin Muhammad bin Asy Syarqi
              13. Abu Awanah al-Isfarayini
              14. Ibrahim bin Muhammad bin Sufyan al Faqih az Zahid.

              Persaksian para ulama terhadap beliau

              1. Ishak bin Mansur al Kausaj pernah berkata kepada imam Muslim: “sekali-kali kami tidak akan kehilangan kebaikan selama Allah menetapkan engkau bagi kaum muslimin.”
              2. Muhammad bin Basysyar Bundar berkata; “huffazh dunia itu ada empat; Abu Zur’ah di ar Ray, Muslim di An Naisabur, Abdullah Ad Darimi di Samarkand, dan Muhammad bin Isma’il di Bukhara.”
              3. Muhammad bin Abdul Wahhab Al Farra` berkata; “(Muslim) merupakan ulama manusia, lumbung ilmu, dan aku tidak mengetahuinya kecuali kebaikan.”
              4. Ahmad bin Salamah An Naisaburi menuturkan; “Saya me­lihat Abu Zur’ah dan Abu Hatim selalu mengutamakan Muslim bin al-Hajjaj dalam perkara hadits shahih ketimbang para masyayikh zaman keduanya.
              5. Ibnu Abi Hatim mengatakan: ” Saya menulis hadits darinya di Ray, dan dia merupakan orang yang tsiqah dari kalangan huffazh, memiliki pengetahuan yang mendalam dalam masalah hadits. Ketika ayahku di Tanya tentang dia, maka dia menjawab; (Muslim) Shaduuq.”
              6. Maslamah bin Qasim al Andalusi berkata; ” tsiqah, mempunyai kedudukan yang agung, termasuk dari kalangan para imam.”
              7. Abu Ya’la Al Khalili berkata; “dia sangat familier sekali untuk di sebutkan keutamaannya.”
              8. Al Khatib Al Baghdadi berkata; “(dia) merupakan salah seorang a`immah dan penghafal hadits.”
              9. As Sam’ani menuturkan; “termasuk salah seorang imam dunia.”
              10. Ibnul Atsir berkata; “termasuk salah seorang dari para imam penghafal hadits.”
              11. Ibnu Katsir berkata; “termasuk salah seorang dari para imam penghafal hadits.”
              12. Adz Dzahabi berkata; ” Imam besar, hafizh lagi mumpuni, hujah serta orang yang jujur.”

              Hasil karya beliau

              Imam Muslim mempunyai hasil karya dalam bidang ilmu hadits yang jumlahnya cukup banyak. Di antaranya ada yang sampai kepada kita dan sebagian lagi ada yang tidak sampai.

              Adapun hasil karya beliau yang sampai kepada kita adalah ;
              1. Al Jami’ ash Shahih
              2. Al Kuna wa Al Asma’
              3. Al Munfaridaat wa al wildan
              4. Ath Thabaqaat
              5. Rijalu ‘Urwah bin Az Zubair
              6. At Tamyiz
              Sedangkan hasil karya beliau yang tidak sampai kepada kita adalah ;
              1. Al Musnad al Kabir ‘Ala ar Rijal
              2. Al Jami’ al Kabir
              3. Al ‘Ilal
              4. Al Afraad
              5. Al Aqraan
              6. Su`alaat Muslim
              7. Hadits ‘Amru bin Syu’aib
              8. Al Intifaa’ bi`ahabbi as sibaa’
              9. Masyayikhu Malik
              10. Masyayikhu Ats Tsauri
              11. Masyayikhu Syu’bah
              12. Man laisa lahu illa raawin waahid
              13. Kitab al Mukhadldlramin
              14. Awladu ash shahabah
              15. Dzikru awhaami al Muhadditsin
              16. Afraadu Asy Syamiyyin

              Wafatnya beliau

              Imam Muslim wafat pada hari Ahad sore, dan dikebumikan di kampung Nasr Abad, salah satu daerah di luar Naisabur, pada hari Senin, 25 Rajab 261 H bertepatan dengan 5 Mei 875. dalam usia beliau 55 tahun.

              Jumat, 06 November 2015

              Imam Bukhari [Biografi]

              Nama: Muhammad bin Isma'il bin Ibrahim bin al Mughirah bin Bardizbah.
              Kuniyah beliau: Abu Abdullah
              Nasab beliau:
              Al Ju'fi; 
              nisabah Al Ju'fi adalah nisbah arabiyyah. Faktor penyebabnya adalah, bahwasanya al Mughirah kakek Bukhari yang kedua masuk Islam berkat bimbingan dari Al Yaman Al Ju'fi. Maka nisbah beliau kepada Al Ju'fi adalah nisbah perwalian
              Al Bukhari;
              yang merupakan nisbah kepada negri Imam Bukhari lahir
              Tanggal lahir: Beliau dilahirkan pada hari Jum'at setelah shalat Jum'at 13 Syawwal 194 H
              Tempat lahir: Bukhara
              Masa kecil beliau
              Bukhari dididik dalam keluarga yang berilmu. Bapaknya adalah seorang ahli hadits, akan tetapi dia tidak termasuk ulama yang banyak meriwayatkan hadits, Bukhari menyebutkan di dalam kitab tarikh kabirnya, bahwa bapaknya telah melihat Hammad bin Zaid dan Abdullah bin Al Mubarak, dan dia telah mendengar dari imam Malik, karena itulah dia termasuk ulama bermadzhab Maliki. Ayahnya wafat ketika Bukhari masih kecil, sehingga dia pun diasuh oleh sang ibu dalam kondisi yatim. Akan tetapi ayahnya meninggalkan Bukhari dalam keadaan yang berkecukupan dari harta yang halal dan berkah. Bapak Imam Bukhari berkata ketika menjelang kematiannya; "Aku tidak mengetahui satu dirham pun dari hartaku dari barang yang haram, dan begitu juga satu dirhampun hartaku bukan dari hal yang syubhat."
              Maka dengan harta tersebut Bukhari menjadikannya sebagai media untuk sibuk dalam hal menuntut ilmu. Ketika menginjak usia 16 tahun, dia bersama ibu dan kakaknya mengunjungi kota suci, kemudian dia tinggal di Makkah dekat dengan baitulah beberapa saat guna menuntut ilmu.

              Kisah hilangnya penglihatan beliau
              Ketika masa kecilnya, kedua mata Bukhari buta. Suatu ketika ibunya bermimpi melihat Khalilullah Nabi Ibrahim 'Alaihi wa sallam berujar kepadanya; "Wahai ibu, sesungguhnya Allah telah memulihkan penglihatan putramu karena banyaknya doa yang kamu panjatkan kepada-Nya." Menjelang pagi harinya ibu imam Bukhari mendapati penglihatan anaknya telah sembuh. Dan ini merupakan kemuliaan Allah subhanahu wa ta'ala yang di berikan kepada imam Bukhari di kala kecilnya.

              Perjalan beliau dalam menuntut ilmu
              Kecerdasan dan kejeniusan Bukhari nampak semenjak masih kecil. Allah menganugerahkan kepadanya hati yang cerdas, pikiran yang tajam dan daya hafalan yang sangat kuat, sedikit sekali orang yang memiliki kelebihan seperti dirinya pada zamannya tersebut. Ada satu riwayat yang menuturkan tentang dirinya, bahwasanya dia menuturkan; "Aku mendapatkan ilham untuk menghafal hadits ketika aku masih berada di sekolah baca tulis." Maka Muhammad bin Abi Hatim bertanya kepadanya; "saat itu umurmu berapa?". Dia menjawab; "Sepuluh tahun atau kurang dari itu". Kemudian setelah lulus dari sekolah aku pun bolak-balik menghadiri majelis hadits Ad-Dakhili dan ulama hadits yang lainnya. Ketika sedang membacakan hadits di hadapan murid-muridnya, Ad-Dakhili berkata; "Sufyan meriwayatkan dari Abu Zubair dari Ibrahim." Maka aku menyelanya; "Sesungguhnya Abu Zubair tidak meriwayatkan dari Ibrahim." Tapi dia menghardikku, lalu aku berkata kepadanya, "kembalikanlah kepada sumber aslinya, jika anda punya."  Kemudian dia pun masuk dan melihat kitabnya lantas kembali dan berkata, "Bagaimana kamu bisa tahu wahai anak muda?" Aku menjawab, "Dia adalah Az Zubair. Nama aslinya Ibnu 'Adi yang meriwayatkan hadits dari Ibrahim"Kemudian dia pun mengambil pena dan membenarkan catatannya. Dan dia pun berkata kepadaku, "Kamu benar".  Maka MuhammadA bin Abi Hatim bertanya kepada Bukhari; "Ketika kamu membantahnya berapa umurmu?". Bukhari menjawab, "Sebelas tahun."
              Hasyid bin Isma'il menuturkan: bahwasanya Bukhari selalu ikut bersama kami mondar-mandir menghadiri para masayikh Bashrah, dan saat itu dia masih anak kecil. Tetapi dia tidak pernah menulis (pelajaran yang dia simak), sehingga hal itu berlalu beberapa hari. Setelah berlalu 6 hari, kami pun mencelanya. Maka dia menjawab semua celaan kami; "Kalian telah banyak mencela saya, maka tunjukkanlah kepadaku hadits-hadits yang telah kalian tulis." Maka kami pun mengeluarkan catatan-catatan hadits kami. Tetapi dia menambahkan hadits yang lain lagi sebanyak lima belas ribu hadits. Dan dia membaca semua hadits-hadits tersebut dengan hafalannya di luar kepala. Maka akhirnya kami mengklarifikasi catatan-catatan kami dengan berpedoman kepada hafalannya.

              Permulaannya dalam menuntut ilmu
              Aktifitas beliau dalam menuntut ilmu di mulai semenjak sebelum menginjak masa baligh, dan hal itu di tunjang dengan peninggalan orang tuanya berupa harta, beliau berkata; "aku menghabiskan setiap bulan sebanyak lima ratus dirham, yang aku gunakan untuk pembiaan menuntut ilmu, dan apa yang ada di sisi Allah itu lebih baik dan lebih eksis."
              Dia bergegas mendatangi majelis-majelis ilmu, ketika dia sudah menghafal Al qur`an dan menghafal beberapa karya tulis para ulama, dan yang pertama kali karya tulis yang beliau hafal adalah buku Abdullah bin Al Mubarak, buku Waki' bin al Jarrah dalam masalah Sunan dan zuhud, dan yang lainnya. Sebagaimana beliau juga tidak meninggalkan disiplin ilmu dalam masalah fikih dan pendapat.
              Rihlah beliau
              Rihlah dalam rangka menuntut ilmu merupakan bagian yang sangat mencolok dan sifat yang paling menonjol dari tabiat para ahlul hadits, karena posisi Bukhari dalam masalah ilmu ini merupakan satu kesatuan pada diri seorang ahlul hadits, maka dia pun mengikuti sunnah para pendahulunya dan dia pun meniti jalan mereka. Dia tidak puas dengan hanya menyimak hadits dari penduduk negrinya, sehingga tidak terelakkan lagi bagi dirinya untuk mengadakan dalam rangka menuntut ilmu, dia berkeliling ke negri-negri Islam. Dan pertama kali dia mengadakan perjalanannya adalah pada tahun 210 hijriah, yaitu ketika umurnya menginjak 16 tahun, pada tahun kepergiannya dalam rangka menunaikan ibadah haji bersama dengan ibundanya dan saudara tuanya.

              Negri-negri yang pernah beliau masuki adalah sebagai berikut;
              Khurasan dan daerah yang bertetangga dengannya
              Bashrah
              Kufah
              Baghdad
              Hijaz (Makkah dan Madinah)
              Syam
              Al Jazirah (kota-kota yang terletak di sekitar Dajlah dan eufrat)
              Mesir
              Bukhari menuturkan tentang rihlah ilmiah yang dia jalani; "Aku memasuki Syam, Mesir dan al Jazirah sebanyak dua kali, ke Bashrah sebanyak empat kali, dan aku tinggal di Hijaz beberapa tahun, dan aku tidak bisa menghitung berapa kali saya memasuki kawasan Kufah dan Baghdad bersama para muhadditsin".

              Guru-guru beliau
              Imam Bukhari berjumpa dengan sekelompk kalangan atba'ut tabi'in muda, dan beliau meriwayatkan hadits dari mereka, sebagaimana beliau juga meriwayatkan dengan jumlah yang sangat besar dari kalangan selain mereka. Dalam masalah ini beliau bertutur; " aku telah menulis dari sekitar seribu delapan puluh jiwa yang semuanya dari kalangan ahlul hadits".

              Guru-guru imam Bukhari terkemuka yang telah beliau riwayatkan haditsnya;
              Abu 'Ashim An Nabil
              Makki bin Ibrahim
              Muhammad bin 'Isa bin Ath Thabba'
              Ubaidullah bin Musa
              Muhammad bin Salam Al Baikandi
              Ahmad bin Hambal
              Ishaq bin Manshur
              Khallad bin Yahya bin Shafwan
              Ayyub bin Sulaiman bin Bilal
              Ahmad bin Isykab 

              Dan masih banyak lagi

              Murid-murid beliau
              Al Hafidz Shalih Jazzarah berkata; "Muhammad bin Isma'il duduk mengajar di Baghdad, dan aku memintanya untuk mendektekan (hadits) kepadaku, maka berkerumunlah orang-orang kepadanya lebih dari dua puluh ribu orang".
              Maka tidaklah mengherankan kalau pengaruh dari majelisnya tersebut menciptakan kelompok tokoh-tokoh yang cerdas yang meniti manhaj, dintara mereka itu adalah;
              Al imam Abu al Husain Muslim bin al Hajjaj an Naisaburi (204-261), penulis buku shahih Muslim yang terkenal
              Al Imam Abu 'Isa At Tirmizi (210-279) penulis buku sunan At Tirmidzi yang terkenal
              Al Imam Shalih bin Muhammad (205-293)
              Al Imam Abu Bakr bin Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah (223-311), penulis buku shahih Ibnu Khuzaimah.
              Al Imam Abu Al Fadhl Ahmad bin Salamah An Naisaburi (286), teman dekat imam Muslim, dan dia juga memiliki buku shahih seperti buku imam Muslim.
              Al Imam Muhammad bin Nashr Al Marwazi (202-294)
              Al Hafizh Abu Bakr bin Abi Dawud Sulaiman bin Al Asy'ats (230-316)
              Al Hafizh Abu Al Qasim Abdullah bin Muhammad bin Abdul 'Aziz Al Baghawi (214-317)
              Al Hafizh Abu Al Qadli Abu Abdillah Al Husain bin Isma'il Al Mahamili (235-330)
              Al Imam Abu Ishaq Ibrahim bin Ma'qil al Nasafi (290)
              Al Imam Abu Muhammad Hammad bin Syakir al Nasawi (311)
              Al Imam Abu Abdillah Muhammad bin Yusuf bin Mathar al Firabri (231-320)

              Karakter imam Bukhari
              Meskipun Imam Bukhari sibuk dengan menuntut ilmu dan menyebarkannya, tetapi dia merupakan individu yang mengamalkan ilmu yang dimilikinya, menegakkan keta'atan kepada Rabbnya, terpancar pada dirinya ciri-ciri seorang wali yang terpilih dan orang shalih serta berbakti, yang dapat menciptakan karismatik di dalam hati dan kedudukan yang mempesona di dalam jiwa.
              Dia merupakan pribadi yang banyak mengerjakan shalat, khusu' dan banyak membaca al Qur`an.
              Muhammad bin Abi Hatim menuturkan: "dia selalu melaksanakan shalat di waktu sahur sebanyak tiga belas raka'at, dan menutupnya dengan melaksanakan shalat witir dengan satu raka'at"
              Yang lainnya menuturkan; " Apabila malam pertama di bulan Ramadlan, murid-murid imam Bukhari berkumpul kepadanya, maka dia pun meminpin shalat mereka. Di setiap rak'at dia membaca dua puluh ayat, amalan ini beliau lakukan sampai dapat mengkhatamkan Al qur`an".
              Beliau adalah sosok yang gemar menafkahkan hartanya, banyak berbuat baik, sangat dermawan, tawadldlu'A dan wara'.

              Persaksian para ulama terhadap beliau
              Sangat banyak sekali para ulama yang memberikan kesaksian atas keilmuan imam Bukhari, diantara mereka ada yang dari kalangan guru-gurunya dan teman-teman seperiode dengannya. Adapun periode setelah meninggalnya bukhari sampai saat ini, kedudukan imam Bukhari selalu bersemayam di dalam relung hati kaum muslimin, baik yang berkecimpung dalam masalah hadits, bahkan dari kalangan awwam kaum muslimin sekali pun memberikan persaksian atas keagungan beliau.

              Diantara para tokoh ulama yang memberikan persaksian terhadap beliau adalah;
              Abu Bakar ibnu Khuzaimah telah memberikan kesaksian terhadap Imam Bukhari dengan mengatakan: "Di kolong langit ini tidak ada orang yang lebih mengetahui hadits dari Muhammad bin Isma'il." 
              'Abdan bin 'Utsman Al Marwazi berkata; "aku tidak pernah melihat dengan kedua mataku, seorang pemuda yang lebih mendapat bashirah dari pemuda ini." Saat itu telunjuknya diarahkan kepada Bukhari
              Qutaibah bin Sa'id menuturkan; "aku duduk bermajelis dengan para ahli fikih, orang-orang zuhud dan ahli ibadah, tetapi aku tidak pernah melihat semenjak aku dapat mencerna ilmu orng yang seperti Muhammad bin Isma'il. Dia adalah sosok pada zamannya seperti 'Umar di kalangan para sahabat. Dan dia berkata; ' kalau seandainya Muhammad bin Isma'il adalah seorang sahabat maka dia merupakan ayat"
              Ahmad bin Hambal berkata; "Khurasan tidak pernah melahirkan orang yang seperti Muhammad bin Isma'il."
              Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Ibnu Numair menuturkan; "kami tidak pernah melihat orang yang seperti Muhammad bin Ism'ail"
              Bundar berkata; "belum ada seorang lelaki yang memasuki Bashrah lebih mengetahui terhadap hadits dari saudara kami Abu Abdillah".
              Abu Hatim ar-Razi berkata: "Khurasan belum pernah melahirkan seorang putra yang hafal hadits melebihi Muhammad bin Isma'il,A juga belum pernah ada orang yang pergi dari kota tersebut menuju Irak yang melebihi kealimannya." 
              Muslim (pengarang kitab Sahih) berkata ketika Bukhari menyingkap satu cacat hadits yang tidak di ketahuinya; "Biarkan saya mencium kedua kaki anda, wahai gurunya para guru dan pemimpin para ahli hadits, dan dokter hadits dalam masalah ilat hadits." 
              al-Hafiz Ibn Hajar yang menyatakan: "Andaikan pintu pujian dan sanjungan kepada Bukhari masih terbuka bagi generasi sesudahnya, tentu habislah semua kertas dan nafas. Ia bagaikan lautan tak bertepi."

              Hasil karya beliau
              Diantara hasil karya Imam Bukhari adalah sebagai berikut :
              - Al Jami' as Sahih (Sahih Bukhari)
              - Al Adab al Mufrad.
              - At Tarikh ash Shaghir.
              - At Tarikh al Awsath.
              - At Tarikh al Kabir.
              - At Tafsir al Kabir.
              - Al Musnad al Kabir.
              - Kitab al 'Ilal.
              - Raf'ul Yadain fi ash Shalah.
              - Birru al Walidain.
              - Kitab al Asyribah.
              - Al Qira`ah Khalfa al Imam.
              - Kitab ad Dlu'afa.
              - Usami ash Shahabah.
              - Kitab al Kuna.
              - Al Hbbah
              - Al Wihdan
              - Al Fawa`id
              - Qadlaya ash Shahabah wa at Tabi'in
              - Masyiikhah

              Wafat beliau
              Imam Bukhari keluar menuju Samarkand, Tiba di Khartand, sebuah desa kecil sebelum Samarkand, ia singgah untuk mengunjungi beberapa familinya. Namun disana beliau jatuh sakit selama beberapa hari. Dan Akhirnya beliau meninggal pada hari sabtu tanggal 31 Agustus 870 M (256 H) pada malam Idul Fitri dalam usia 62 tahun kurang 13 hari. Beliau dimakamkan selepas Shalat Dzuhur pada Hari Raya Idul Fitri. Semoga Allah selalu merahmatinya dan ridla kepadanya.
              Sumber : Widya Pusaka

              JALINAN YANG PENUH MAKNA

              Oleh : Buya Yahya
              Pengasuh LPD Al-Bahjah
              Dalam sebuah kebersamaan ada terjalin sebuah persahabatan dan pertemuan. Akan tetapi, tidak semua dari yang bersahabat adalah sama-sama beruntung. Keberuntungan seseorang tersembunyi di balik kalbunya disaat bersahabat. Dua orang yang bersahabat, ada kalanya satu dari keduanya selalu berharap kemuliaan di akhirat dibalik persahabatan ini, sementara yang satu lagi tidak menjalin pesahabatan kecuali untuk keuntungan di dunia. Biarpun semuanya sama-sama ke masjid, makan bersama atau bahkan tidur bersama, yang satu adalah orang beruntung dan yang satu lagi adalah orang yang celaka. Siapapun dari kita harus mencermati apa yang tersembunyi di balik kalbunya. Apa di balik kedekatan kita dengan seorang sahabat? Jika seorang pejabat menjalin persahabatan dengan seoarang ustadz yang paling beruntung adalah yang memanfaatkan kedekatan tersebut untuk mendapatkan kemulyaan di hadapan Allah SWT. Alangkah celakanya jika sang ustadz dekat dengan penguasa atau pejabat hanya mengharap keuntungan dunia, begitu juga jika seorang pejabat yang dekat dengan ustadz hanya untuk kepentingan dunianya.
              Rasulullah pernah bersabda "Barangsiapa yang merendah kepada orang kaya (berpangkat di dunia) karena dunianya, maka telah hilang dua pertiga (nilai) agamanya." Ini adalah petunjuk yang amat jelas dari Rasulullah SAW agar kita memahami makna sebuah kedekatan. Karena kejahatan hati amatlah tersembunyi dan tidak ada yang bisa mengoreksinya kecuali diri sendiri.
              Dalam kesempatan lain Rasulullah SAW juga pernah bercerita. Ada dua orang yang berbeda dalam menjalani hidupnya. Yang pertama adalah orang yang terlihat baik karena kesehari-hariannya adalah hanya beribadah di atas gunung. Yang satu lagi adalah seorang pemuda preman pasar yang secara lahir adalah kotor dan jahat karena pekerjaannya hanya membuat keributan dan mengganggu orang-orang di pasar. Akan tetapi suatu ketika dipertemukan oleh Allah SWT pada suatu tempat. Sang ahli ibadah saat itu kehabisan bekal sehingga ia harus membeli bekal di tengah pasar. Dalam saat yang bersama, sang preman pasar berkeinginan untuk bisa dekat dengan ahli ibadah yang di atas gunung. Keduanya pun menuju tempat yang mereka tuju. Yang ahli ibadah turun ke pasar dan sang preman pasarpun menuju ke atas gunung. Akhirnya keduanya bertemu disuatu tempat, dan disaat itu ternyata Allah SWT mencabut hidayah dari sang ahli ibadah dan memindahkannya kepada sang preman pasar. Dalam kisah tersebut Rasulullah SAW menjelaskan bahwa itu terjadi disebabkan oleh sesuatu yang tersembunyi di hati mereka berdua. Yang ada di hati sang preman disaat bertemu adalah makna pengagungan kepada ulama Allah SWT dengan penuh harap agar pertemuan tersebut menjadi sebab Allah SWT mencintainya. Sementara itu, yang dirasakan hati sang ahli ibadah bukanlah makna kerinduan kepada Allah SWT, akan tetapi hatinya penuh dengan kesombongan sebagai ahli ibadah. Yang ada adalah rasa meremehkan kepada sang preman, bukan melihatnya dengan kasih sayang dan sebagai lahan untuk amal baik dengan mengajaknya kepada kebenaran dan menjauhkanya dari kejahatan.
              Maka disini kita harus bisa mencermati setiap jalinan yang kita rajut. Anda yang ustadz, apa makna kedekatan Anda dengan para pejabat dan saudagar ? Anda yang pejabat, apa makna kedekatan Anda dengan para ulama, saudagar dan fakir miskin? Anda yang saudagar, apa makna kedekatan Anda dengan para pejabat ulama dan fakir miskin? Sudahkah Allah SWT hadir dalam jalinan Anda? 
              Wallahu a'lam bissawab.

              HUKUM MENONTON FILM PEMBANGKIT SYAHWAT SEBELUM BERHUBUNGAN

              Buya Yahya Menjawab
              Assalamualaikum, maaf ustadz saya mau bertanya dan maaf kalo pertanyaan saya agak kurang pantas, biasanya saya dan suami sebelum melakukan hubungan suami-istri kami selalu melihat film yang dapat membangkitkan gairah. Bagaimana hukum tentang hal tersebut. Sekali lagi mohon maaf dan terima kasih.
              Jawaban :
              Allah SWT mengajarkan kepada orang yang beriman untuk senantiasa menutup matanya dari melihat yang tidak baik dan harom. Masalah yang dipertanyakan, film yang membangkitkan syahwat (film porno) adalah sesuatu yang diharamkan, karena biarpun sekedar gambar akan tetapi gambar yang membuka aurot dan membangkitkan sahwat. Para Ulama menjelaskan kalau melihat apapun yang membangkitkan syahwat adalah haram apalagi gambar tersebut adalah gambar bergerak yang memerankan adegan syahwat. Kemudian lebih dari itu secara Psikologi itu akan merusak kejiwaan orang yang melihatnya, merusak hayal dan pikirannya dan akirnya merusak hubungan suami istri.
              Banyak pecandu film kotori tidak bersemangat berhubungan dengan pasangan jika tidak melihat film-film semacam itu lagi, sehingga seorang istri tidak bisa membangkitkan syahwat sang suami atau sebaliknya. Dalam hayalannya adalah adegan-adegan yang mungkin tidak bisa di lakukannya. Sangat bodoh seorang suami yang mengajak istrinya nonton film porno karena secara tidak langsung mengajari sang istri untuk melihat sesuatu yang mungkin secara syahwat dianggap lebih bagus dari yang dimiliki suaminya dan begitu sebaliknya. Maka dalam melihat film porno ada Madhorot Syar’iyah, Madhorot Akhlaqiyah dan Madhorot Nafsiyah. Haram, bertentangan dengan kemulyaan akhlaq dan merusak psikologi. Wallahu a’lam bisshowab

              sumber;

              KH M MA’SHUM BIN ALI

              Kiai Sederhana yang mendunia
              Diceritakan, seumur hidup beliau hanya mempunyai satu foto dan ketika akan meninggal beliau membakar fotonya tersebut karena takut identitasnya diketahui orang. isteri beliau Ny Hj Khoiriyah Hasyim yang adalah putri Hadratus syeikh KH Hasyim Asy'ari.
              Kesederhanaannya membuat banyak orang tidak mengenal tokoh alim yang satu ini. Padahal beliau adalah pengarang kitab Al-Amtsilah At-Tashrifiyyah. Sebuah kitab ilmu sharaf yang amat masyhur di Nusantara, bahkan di luar negeri.
              Nama lengkapnya, Muhammad Ma’shum bin Ali bin Abdul Jabbar Al-Maskumambani. Lahir di Maskumambang, Gresik, tepatnya di sebuah pondok yang didirikan oleh sang kakek.
              Setelah belajar pada ayahnya, Ma’shum muda pergi menuntut ilmu di Pesantren Tebuireng Jombang. Ia termasuk salah satu santri generasi awal Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari. Pada masa itu, selain dituntut untuk belajar, para santri juga diharuskan ikut berjuang melawan penjajah. Kedatangannya ke Tebuireng disusul oleh adik kandungnya, Adlan Ali–kelak atas inisiatif Hadratus Syeikh, Kiai Adlan mendirikan pondok putri Wali Songo Cukir.
              Bertahun-tahun lamanya pemuda Ma’shum mengabdi di Tebuireng. kemampuannya dalam segala bidang ilmu, terutama bidang falak, hisab, sharaf, dan nahwu, membuat Hadratus Syeikh tertarik untuk menikahkan dengan putrinya, Khairiyah.

              Mendirikan Pondok
              Seblak adalah sebuah nama dusun yang terletak sekitar 300 m sebelah barat Tebuireng. Penduduk Seblak kala itu masih banyak yang melakukan kemungkaran, seperti halnya warga Tebuireng sebelum kedatangan Hadratus Syeikh. Melihat kondisi ini, Kiai Ma’shum merasa terpanggil untuk menyadarkan masyarakat setempat dan mengenalkan Islam secara perlahan.
              Jerih payahnya diridhai Allah SWT. Pada tahun 1913, ketika usianya baru 26 tahun, beliau mendirikan sebuah rumah sederhana yang terbuat dari bambu. Seiring berjalannya waktu, di sekitar rumah tersebut kemudian didirikan pondok dan masjid, yang berkembang cukup pesat.
              Meski sudah berhasil mendirikan pondok, Kiai Ma’shum tetap istiqamah mengajar di madrasah Salafiyah Syafiiyah Tebuireng, membantu Hadratus Syeikh mendidik santri. Pada tahun berikutnya, beliau diangkat menjadi Mufattis (Pengawas) di Madrasah tersebut.

              Karya Pena
              Meskipun jumlah karyanya tak sebanyak Hadratus Syeikh, akan tetapi hampir semua kitab karangannya sangat monumental.
              Bahkan, banyak orang yang lebih mengenal kitab karangannya dibanding pengarangnya.
              Ada empat kitab karya beliau;

              (1)Al-Amtsilah At-Tashrifiyyah
              Kitab ini menerangkan ilmu sharaf. Susunannya sistematis, sehingga mudah difaham dan dihafal. Lembaga-lembaga pendidikan Islam, baik di Indonesia atau di luar negeri, banyak yang menjadikan kitab ini sebagai rujukan. Kitab ini bahkan menjadi menjadi pegangan wajib di setiap pesantren salaf. Ada yang menjulukinya kitab ”Tasrifan Jombang”.
              Kitab yang terdiri dari 60 halaman ini, telah diterbitkan oleh banyak penerbit, diantaranya Penerbit Salim Nabhan Surabaya.
              Pada halaman pertamanya tertera sambutan berbahasa Arab dari (mantan) menteri Agama RI, KH. Saifuddin Zuhri.

              (2) Fathul Qadir
              Konon, ini adalah kitab pertama di Nusantara yang menerangkan ukuran dan takaran Arab dalam bahasa Indonesia. Diterbitkan pada tahun 1920-an, ketika Kiai Ma’shum masih hidup, oleh penerbit Salim Nabhan Surabaya. Halamannya tipis tapi lengkap. Kitab ini banyak dijumpai di pasaran.

              (3) Ad-Durus Al-Falakiyah
              Meskipun banyak orang yang beranggapan bahwa ilmu falak itu rumit, tetapi bagi orang yang
              mempelajari kitab ini akan berkesan ”mudah”, karena disusun secara sistematis dan konseptual. Di dalamnya termuat ilmu hitung, logaritma, almanak Masehi dan Hijriyah, posisi Matahari, dll. Kitab yang diterbitkan oleh Salim Nabhan Surabaya tahun 1375 H ini, terdiri dari tiga juz dalam satu jilid dengan jumlah 109 halaman.

              (4) Badi’atul Mitsal 
              Kitab ini juga menerangkan perihal ilmu falak. Beliau berpatokan bahwa yang menjadi pusat peredaran alam semesta bukanlah Matahari sebagaimana teori yang datang kemudian, melainkan Bumi. Sedangkan Matahari, planet dan bintang yang jumlahnya sekian banyaknya, berjalan mengelilingi Bumi.

              Pribadi yang Sederhana
              Sebagai Kiai yang berilmu tinggi, Kiai Ma’shum dikenal sebagi Kiai yang akrab dengan kalangan bawah. Saking akrabnya, banyak diantara mereka yang tak mengetahui kalau sebetulnya beliau adalah ulama besar. Dalam pandangannya, semua orang lebih pintar darinya. Kiai Ma’shum pernah berguru kepada seorang nelayan di perahu, selama dalam perjalanan haji. Beliau tidak merasa malu, meski orang lain menilainya aneh. Hasilnya, dari situ beliau menulis kitab Badi’ah Al-Mitsal.
              Beliau juga dikenal sufi. Untuk menghindari sikap sombong di hadapan manusia, menjelang wafat, beliau membakar fotonya. Padahal itu adalah satu-satunya foto yang dimiliki. Hal ini tak lain karena beliau takut identitasnya diketahui oleh banyak orang, yang nantinya akan menimbulkan penyakit hati seperti riya’, ujub, dan sombong.

              Hubungan yang Harmonis
              Kehidupan sehari-hari Kiai Ma’shum mencerminkan sosok pribadi yang harmonis, baik bersama masyarakat, keluarga, maupun santri. Khusus kepada Hadratus Syeikh, beliau sering menghadiahkan kitab kepada sang mertua yang juga gurunya itu. Sepulangnya dari Mekkah tahun 1332 H, beliau tak lupa membawakan kitab Al-Jawahir Al-Lawami’ sebagai hadiah untuk Kiai Hasyim. Bahkan kitab As-Syifa’ yang pernah diberikannya, menjadi kitab referensi utama Hadratus Syeikh ketika mengarang kitab.
              (Almh) Nyai Khoiriyah Hasyim menceritakan: Suatu ketika Kiai Ma’sum pernah berdebat dengan Hadratus Syeikh tentang dua persoalan; pertama, soal foto dan penentuan awal Ramadhan. Menurut Kiai Ma’sum, foto tidak haram. Sedangkan Hadratus Syeikh menyatakan haram. (lihat; Heru Sukardi: 1979) Kedua, soal permulaan bulan puasa, Kiai Maksum telah menentukannya dengan hisab (perhitungan astronomis). Sedangkan Hadratus Syeikh memilih dengan teori ru’yat (observasi bulan sabit). Akibat perselisihan ini, keluarga Kiai Maksum di Seblak lebih dahulu berpuasa dari pada keluarga Kiai Hasyim dan para santri di Tebuireng. Walaupun kedua ulama’ ini sering berbeda pendapat, namun hubungan keduanya tetap terjalin akrab. Ini merupakan bukti bahwa perbedaan pendapat di antara ulama merupakan hal yang wajar.

              ”Kepulangan” Sang Teladan
              Pada tangal 24 Ramadhan 1351 atau 8 Januari 1933, Kiai Ma’sum wafat setelah sebelumnya menderita penyakit paru-paru. Beliau wafat pada usia + 46 tahun. Wafatnya Kiai Ma’shum merupakan ”musibah besar” terutama bagi santri Tebuireng, karena beliaulah satu-satunya ulama yang menjadi rujukan dalam segala bidang keilmuan setelah Hadratus Syeikh. Hingga kini, belum ada seorang ulama pun yang mampu menggantikannya. Semoga segala amalnya diterima oleh Allah SWT dan apa yang ditinggalkan bermanfaat. Allahummagfir lahu wa nafa’ana bihi wa bi ulumihi. Amin.

              disadur dari situs NU Online
              oleh,
              Fathurrohman Karyadi
              Santri Pondok Pesantren Tebuireng